Kamis, 03 Desember 2020

SULTAN ISKANDAR MUDA

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

Ada dua alasan penulis untuk memilih buku ini, yang keduanya terkait dengan figur. Figur pertama adalah subjek yang menjadi bahasan dalam buku ini, yaitu Sultan Iskandar Muda (selanjutnya disingkat SIM), sebagai Sultan terbesar dari kerajaan Aceh Darussalam. Pembahasan tentang SIM selama ini masih bersifat “permukaan” saja. Hal ini dikarenakan keterbatasan sumber data, sekaligus kekurangan alat analisis dalam melihat sosok  SIM. Sehingga usaha rekonstruksi yang dilakukan terhadap sosok SIM menjadi dangkal dan artifisial. Kalaupun ada pembahasan yang lebih luas, itupun masih bersifat mitos dan kultus individu.

Figur kedua adalah sosok penulis buku, Denys Lombard, seorang Indonesianis Perancis yang banyak menulis sejarah tentang sejarah Indonesia. Lombard yang merupakan Guru besar di Ecole des Hautes Etudes en Sciences Sociales (EHESS), di Paris, merupakan seorang ahli yang telah menulis sebuah karya momumental tentang sejarah Indonesia, dengan judul Nusa Jawa : Silang Budaya (yang diterbitkan oleh Kompas Gramedia), dengan setebal 1027 halaman padat, disertai bibliografi sebanyak 2000 judul, index sebanyak 630 entri, daftar kata sebanyak 1750, plus 2500 catatan, 88 gambar, dan 50 peta dan angka. Angka-angka ini  sedemikian  besar sehingga buku ini dapat dipergunakan sebagai sejenis ensiklopedi tentang sejarah dan kebudayaan Jawa. (Loir dan Ambary, 1999 : 16-25).

Lombard mewakili generasi baru peneliti terhadap Indonesia dari negara Perancis. Yang mana pada masa sebelum-sebelumnya, hal ini banyak dilakukan oleh universitas-universitas di Belanda, Amerika Serikat, dan Australia. Kehadiran Lombard, dan selanjutnya peneliti-peneliti Perancis lainnya, semakin menambah minat dan memperkaya khazanah studi terhadap Indonesia. 

Dengan dua alasan di atas, hal ini sudah menjadi jaminan akan pentingnya pembahasan buku ini, sebagai bagian dari sejarah tokoh lokal Aceh. Selain itu penjelasan tentang Kerajaan Aceh pada zaman Sultan Iskandar Muda masih kurang diekspos oleh banyak sejarawan, baik dalam maupun luar negeri. Kekosongan ini dapat diisi oleh Denys Lombard dengan kajiannya secara mendalam, pada periode yang oleh banyak sejarawan dianggap sebagai periode keemasan kerajaan Aceh tersebut. Tentunya hal ini akan menambah wawasan dan pengetahuan kita akan masa tersebut.

BAB II

PEMBAHASAN

 

A.     Pengertian Sejarah Lokal dan Biografi Tokoh

Menurut Taufik Abdullah (1985 : 14 - 16), istilah sejarah daerah dan sejarah regional cenderung bias, oleh karenanya perlu diciptakan istilah yang bersifat netral dan tunggal, yaitu Sejarah Lokal. Pengertian kata lokal tidak berbelit-belit, hanyalah “tempat, ruang”. Jadi sejarah lokal hanyalah berarti sejarah dari suatu “tempat” suatu “locality” yang batasannya ditentukan oleh “perjanjian” yang diajukan penulis sejarah. Batasan geografinya dapat suatu tempat tinggal suku bangsa yang kini mungkin telah mencakup dua-tiga daerah administratif tingkat dua atau tingkat satu (suku bangsa Jawa, umpamanya) dan juga dapat pula suatu kota, atau malahan suatu desa. Dengan begini “sejarah lokal” dengan sederhana dapat dirumuskan sebagai kisah di kelampauan dari kelompok atau kelompok-kelompok masyarakat yang berada pada “daerah geografis” yang terbatas.

Kamarga (2006 : 1) menjelaskan bahwa istilah sejarah lokal di Indonesia kerap digunakan pula sebagai sejarah daerah, atau neighborhood history, maupun nearby history. Ruang lingkup sejarah lokal ialah keseluruhan lingkungan sekitar yang bisa berupa kesatuan wilayah seperti desa, kecamatan, kabupaten, kota kecil dan lain-lain kesatuan wilayah seukuran itu beserta unsur-unsur institusi sosial dan budaya yang berada di suatu lingkungan itu, seperti : keluarga, pola pemukiman, mobilitas penduduk, kegotongroyongan, pasar, teknologi pertanian, lembaga pemerintahan setempat, perkumpulan keseian, monumen dan lain-lain (Jordan 1968 dalam Widja, 1991 : 14-15).

Karena berkaitan dengan lingkungan sekitar maka kelebihan pengajaran sejarah lokal antara lain kemampuannya untuk membawa murid pada situasi riil di lingkungannya. Pengajaran sejarah lokal seakan-akan mampu menerobos batas antara dunia sekolah dan dunia nyata di sekitar sekolah, dengan demikian proses pembelajaran akan membawa murid secara langsung mengenal serta menghayati lingkungan masyarakatnya, di mana mereka merupakan bagian saja daripadanya. Melalui pembelajaran sejarah lokal diharapkan lebih mudah membawa siswa pada usaha untuk memproyeksikan pengalaman masa lampau masyarakatnya dengan situasi kini, bahkan juga pada arah masa depannya. Dengan kata lain, peserta didik akan lebih mudah menangkap konsep waktu atau perkembangan (perubahan) yang menjadi kunci penghubung masa lampau, masa kini dan masa yang akan datang (Widja, 1991 : 117). Karena sejarah lokal sebagai unit historis kecil, yang seharusnya dari sanalah penulisan sejarah bangsa kita dimulai (Priyadi, 2012 : xii).

Penulisan sejarah Indonesia telah diperkaya dengan adanya Seminar Sejarah Lokal, 17 – 20 September 1984 di Medan. Dalam Seminar itu telah dikemukakan lima tema pokok, yaitu : (1) Dinamika masyarakat pedesaan, (2) Pendidikan sebagai faktor dinamisasi dan integrasi sosial, (3) Interaksi antar suku bangsa dalam masyarakat majemuk, (4) Revolusi nasional di tingkat lokal, dan (5) Biografi Tokoh lokal.

Makalah-makalah dalam Seminar itu menunjukkan adanya semangat interdisipliner di kalangan sejarawan Indonesia masa kini. Kesadaran dalam penggunaan teori dan konsep ilmu-ilmu sosial telah melahirkan tulisan-tulisan yang sanggup menjelaskan sejarah secara struktural dalam pola-pola sosial dan dinamika –dalam yang terdapat di lokalitas yang dibicarakan. (Kuntowijoyo, 1994 : 121)

Hal ini dipertegas lagi oleh S. Hamid Hasan (2015) tentang tema-tema dalam sejarah Indonesia yang meliputi, (1) Politik, ekonomi, sosial, budaya, maritim, teknologi, (2) Daerah (menonjol dalam budaya, ekonomi, menghasilkan tokoh), (3) Tokoh. 

Untuk yang terakhir, Sejarah berbasis tokoh menjadi penting, karena sebagaimana  Renier (1997 : 258) tegaskan :

 Kita tidak bisa mengeluarkan seorang manusia dari sejarah. Dia menjadi penting, dia menjalankan pengaruh sosial, namun dia agaknya tidak masuk hitungan karena aneh. Dia tidak bisa ditangkap melalui suatu formula. Selain itu, dia tidak bisa diingkari, sebab di sini ada sesuatu yang tidak bisa dicapai oleh orang pada umumnya.  Sekarang dan lagi pencerita muncul menentang benih-benih dari seorang individu sebagai faktor pemecah yang bisa dicapai dalam suatu rantai peristiwa-peristiwa.

 

Dari pendapat yang telah dipaparkan, dapat ditarik kesimpulan bahwa pengggunaan tokoh dalam pembelajaran sejarah di kelas memiliki fungsi, yakni : (a) bagi guru, biografi atau autobiografi dapat digunakan untuk memberi masukan dalam mempelajari periodisasi waktu dan tempat dalam lingkup yang lebih kecil, termasuk di dalamnya memahami setting dan jiwa zaman yang berkembang s  esuai latar cerita di mana tokoh berada, dan (b) bagi peserta didik, biografi atau autobiografi dapat memberikan pengalaman yang menyenangkan dengan membaca kisah hidup tokoh-tokoh sejarah teramasuk di dalamnya mengetahui segala peristiwa yang terjadi secara nyata. Akan tetapi, penampilan tokoh ini hanya sebagai contoh “idyllic” dari sebuah narasi puitis sejarah yang di dalamnya jika dimaknai mengandung pembelajaran yang menarik dan berharga. (Sjamsuddin, 2012 : 81).

 

B.     Kejayaan Kerajaan Aceh Zaman Sultan Iskandar Muda : Mitos atau Realitas

Dalam buku yang merupakan Disertasi pertama yang dihasilkan Denys Lombard, waktu menempuh ujian Ecole Pratique des Hautes Etudes (EPHE) di Paris pada tahun 1963, yang terdiri atas 5 bab, plus satu bab pendahuluan tentang Aceh dan sejarahnya, serta sumber-sumber yang menjadi rujukan dalam penulisan ini. Adapun 5 bab tersebut terdiri dari, bab pertama, tentang Aceh sekitar tahun 1600, dengan pelabuhannya. Bab kedua membahas tentang tata tertib dalam negeri di bawah pemerintahan Iskandar Muda. Bab ketiga membahas tentang politik penaklukan. Adapun bab keempat membahas tentang politik perdagangan dan bangsa-bangsa Asing. Serta bab kelima atau terakhir, tentang Sultan Iskandar Muda, subyek yang menjadi bahasan buku ini.

Melalui buku ini Lombard menyanggah apa yang selama ini ditulis oleh C. Snouck Hurgronje yang menganggap reputasi zaman gemilang kerajaan Aceh pada awal abad ke-17 sebagai dongeng belaka. Bagi Lombard, bahwa zaman pemerintahan Sultan Iskandar Muda benar-benar merupakan masa pembangunan dan kejayaan dan kejayaan yang hebat. Tidak heran, terjemahan Indonesia buku ini disambut oleh ulama dan sejarawan Aceh terkenal, Ali Hasjmi dengan pujian yang bersemangat. Menurut beliau, buku ini “dalam penampilan dan pelukisannya tentang kerajaan Aceh Darussalam jauh melebihi Snouck, bahkan telah mendustakan Snouck pada bahagian-bahagian tertentu”. Dan lebih lanjut, “buku karangan Prof. Dr. Denys Lombard ini meluruskan sejarah yang telah dibengkokkan oleh ‘kolonialis agung’ Snouck Hurgronje”. (Loir, 2008 : 17)

SIM  adalah putra dari pasangan Mansyur Syah dan Putri Raja Indra Bangsa (Paduka Syah Alam). Tidak diketahui secara pasti kapan dia dilahirkan. Besar dugaan ia lahir sekitar tahun 1583, naik tahta sekitar umur 24 tahun, dan wafat pada umur 54 tahun. Di dalam historiografi tradisional, semisal Hikayat Aceh, nama SIM disebut dengan Pancagah, Johan Alam, dan Perkasa Alam, sedangkan nama Iskandar tidak terdapat di dalamnya. Dalam kronik yang diterjemahkan Dulaurier, dengan jelas disebutkan bahwa sang pangeran diberi nama Iskandar Muda pada hari penobatannya.

Dalam masa pemerintahannya, Iskandar dan para penasihatnya yang dekat telah memikirkan cara terbaik untuk membina rakyat, mereka telah menyusun uraian yang panjang-panjang, tidak hanya mengenai hak-hak raja tapi juga mengenai kewajiban-kewajibannya, mereka laksanakan dengan penuh rasa tanggungjawab apa yang menurut pendapat mereka merupakan tugas mereka.

Untuk lebih memberikan deskripsi tentang kebesaran SIM, berikut penulis kutipkan pernyataan yang ditulis Lombard  (2008 : 244) :

“Paduka Sri Sultan, raja di raja, yang termasyhur karena perang-perang yang pernah dilancarkannya, satu-satunya raja Sumatera, raja yang lebih terkenal dari pendahulu-pendahuluknya, yang disegani dalam kerajaannya, dihormati oleh tetangganya, dalam dirinya terjelma raja idaman, cara pemerintahannya adalah satu-satunya yang benar, yang terbentuk seakan-akan logam yang paling murni, yang dihiasi dengan warna-warna yang paling bagus, raja yang tahtanya tinggi serta sempurna seperti sungai yang bening, hening dan sejernih hablur, raja sumber kebaikan dan keadilan, yang kehadirannya bagaimana emas yang paling murni ....

 

Untuk melihat kemajuan dan kejayaan Aceh tersebut, dapat dimulai dari pelabuhan-pelabuhannya, sebagai pintu masuk menuju ke dalam kota. Berbeda dengan kota-kota pelabuhan lainnya, kerajaan Aceh tidak memiliki tembok benteng. Hal ini dikarenakan, bahwa Aceh ketika itu merupakan kekuasaan yang sedemikian besar dan kewibawaannya sedemikian tinggi, sehingga tidak dianggapnya perlu mempertahankan diri terhadap tetangganya di pedalaman yang sudah lama tunduk. Akan tetapi bukan berarti kerajaan ini tidak memiliki pertahanan. Sebab, mereka sudah mempersiapkan meriam-meriam dengan penjaganya, yang siap sedia menjaga segala kemungkinan. Hal ini ditambah dengan gajah-gajah sebagai pasukan pertahanan, sehingga menjadikan kerajaan Aceh sebagai kehidupan yang tenang dan penuh kegiatan.

Selanjutnya, kota Aceh memiliki wilayah yang sangat luas. Bahkan mengutip de Graff, kota ini memiliki 7.000 atau 8.000 rumah. Dan untuk pengamanan dan penjagaannya, SIM dapat mengerahkan sekitar 40.000 serdadu di dalam kota Aceh itu sendiri dan di daerah sekitarnya. Adapun pusat-pusat utama kehidupan umum ialah pasar dan masjid. Untuk pasar, terdapat tiga lapangan besar yang setiap hari menjadi pasar segala macam barang dagangan. Adapun tentang masjid, SIM selalu berusaha membangunnya dalam jumlah besar, dan terutama pada tahun 1614 membangun masjid besar “Bait al Rahman”. SIM tak jemu-jemu memperhatikan pekerjaan bangunan kota dan berusaha supaya jumlahnya  cukup banyak untuk menampung pendatang baru yang tertarik oleh pengembangan kota besar itu.

Gambaran tentang masyarakat Aceh ketika itu, memiliki berbagai profesi. Mulai dari nelayan, pengrajin logam, pandai besi, pandai emas, tukang kayu dan para pedagang. Dapat ditambahkan juga adalah para pengawal dan abdi untuk istana dan pemerintahan, para pengawal pribadi Sultan, anak kapal gelias dan para budak. Dalam hirarki sosial masyarakat ketika itu, di luar Sultan dan keluarganya, adalah orang-orang kaya, yang berada pada puncak jenjang sosial. Barulah di bawahnya para masyarakat awam, dan yang terakhir sekali adalah, kelompok budak. Untuk yang terakhir ini memiliki jumlah yang sangat besar, dikarenakan seorang budak, terkadang memiliki budak sendiri bagi dirinya. Sehingga cukup merepotkan bagi orang asing untuk mengetahui mereka yang menjadi budak dan yang tidak. Mereka semuanya  sedikit banyak saling memperbudak.

Untuk melihat kejayaan kerajaan Aceh pada masa SIM, kita juga dapat melihat dalam politik penaklukan yang pernah dilakukan. Pada waktu  SIM naik tahta, musuh itu bermacam-macam wajahnya. Di Sumatera sendiri pengawasan harus diadakan atau dipertahankan atas pelabuhan-pelabuhan dagang saingannya yang selalu siap memberontak, yaitu Pasai, Pidir, Tiku, Pasaman, Deli, Aru. Di seberang selat, negara-negara Semenanjunglah yang harus diperhitungkan, terutama Malaka yang sudah seabad lamanya di pegang oleh bangsa Portugis.

Supaya bisa mengendalikan atau mengalahkan semua saingannya, Aceh memerlukan armada dan tentara yang ulung, dan SIM dengan tekun mengusahakannya. Di antaranya membentuk armada yang kuat dan besar, mengadakan pasukan gajah (ada 900 ekor), kuda (200 ekor), angkatan darat yang terdiri dari 40.000 laki-laki, dan meriam sebanyak 2000 buah.

Sebagai sebuah negara kerajaan yang besar, tidak jarang kerajaan Aceh melakukan transaksi perdangan dengan negara-negara lain, semisal bangsa Cina, Jawa, Siam, India, Turki, bangsa Perenggi (Perancis, Inggris dan Belanda). Untuk menunjang transaksi perdagangan tersebut, SIM mengeluarkan uang mas sebagai alat pembayarannya. Hanya saja uang mas Aceh tidak berhasil mengambil tempat dalam peredaran internasional dan mereka yang menggantikan SIM tidak pandai dan tidak mampu mempertahankan ekonomi pada tingkat yang dicapai olehnya.

Sebagai puncak dari kejayaan pada masa SIM adalah melihat istana yang diperindah, kemewahan pengiring raja yang besar jumlahnya, kesusastraan yang berkembang dengan amat pesat, perdebatan keagamaan yang sangat rumit yang diikuti oleh alim ulama terpelajar dari India dan dari tempat yang lebih jauh lagi. Kesemuanya ini membuktikan satu hal, bahwa kerajaan Aceh pada SIM benar-benar mengalami masa kejayaan dan keemasannya.

C.     Pembelajaran Sejarah Lokal dengan Menggunakan Biografi Sultan Iskandar Muda

Menurut Helius Sjamsudin (2008 : 269-274), ada beberapa alternatif pendekatan dalam pembelajaran sejarah. Di antaranya pengajaran dan pembelajaran kontekstual (PPK) [ Contextual Teaching & Learning, CTL], strategi mengajarkan sejarah berpusat pada issue, interdisipliner, komparatif, serta analisis teks (textual analysis). Dalam konteks penelitian ini, peneliti akan menggunakan pendekatan yang terakhir (analisis teks /textual analysis). Analisis teks berarti menekuni dokumen-dokumen dari sumber-sumber pertama (primary sources) yang penulisnya dikenal atau tidak dikenal dalam penelitian sejarah sebenarnya, pada hakekatnya untuk mendapatkan dan memahami “makna” (meaning) yang tertulis maupun yang tersirat.

Hal ini perlu juga dilatihkan dan diajarkan kepada para anak didik kendati mereka tidak harus menjadi sejarawan di kemudian hari. Begitu pula dengan karya-karya sejarah (historiografi) perlu dilihat sebagai teks-teks yang maknanya harus digali, ditafsirkan, dan dipahami maksud teks itu sendiri atau maksud sebenarnya dari penulis-penulisnya (sejarawan) dengan tulisannya itu. Analisis teks itu harus merupakan bagian dari pembelajaran sejarah di kelas-kelas sejarah. Untuk itu guru-guru sejarah perlu dilengkapi dengan “ilmu bantu” antara lain hermeneutika yang pada gilirannya dapat ditularkan kepada siswa-siswanya dalam memberikan mereka “indera empati”, kemampuan menafsirkan dan menjelaskan berbagai fenomena sejarah.

Hal yang sama dikatakan oleh Garvey dan Krug, sebagaimana dikutip Isjoni (2007 : 91-95), terdapat model-model pembelajaran dalam pembelajaran sejarah yang dapat mendukung pengembangan kesadaran sejarah, yang meliputi (1) picture study, (2) document study, (3) questioning, (4) text book study, (5) simulation and drama, (6) note-making, dan (7) map study. Khususnya Document Study, merupakan aktivitas pembelajaran dengan menggunakan dokumen. Garvey dan King menyebutkan :

A period of revision directed to a wall map of the area, a period of individual reading of the cyclo styled material, then a teacher directed discussion fo the documents (periode revisi diarahkan pada suatu peta dinding tentang suatu area, suatu periode dari materi, kemudian guru mengarahkan diskusi dokumen)

 

Pembelajaran sejarah dalam bentuk document study adalah to describe, to translate  dan to interpret. Peserta didik melakukan learning by doing dan latihan proses berpikir kesejarahan.

Penggunaan dokumen merupakan model pembelajaran sejarah dengan praktek sejarah. Ide ini direncanakan M.S. Barnes tahun 1904 dan M.W. Keatings tahun 1910. Dasar penggunaan dokumen dalam pembelajaran di dalam kelas adalah argumen Bruner (Garvey dan Krug, 1977) dengan konsepnya tentang “struktur” pengetahuan yang mengajak siswa  berpikir.

“Terdapat beberapa cara latihan suatu gaya berpikir. Jika kita membaca suatu monograf yang baik, kita mengikuti baris pikiran. Kita, oleh karena itu, berlatih suatu cara seolah-olah mengalami sendiri struktur pikiran sejarawan professional. Document study menurut Garvey dan Krug (1977)  “ ... to stimulute the imagination and help to develop the iconic stage of historical thinking. (untuk menstimulasi imaginasi dan membantu mengembangkan tahap ikonik tentang berpikir sejarah”

 

Jenis dokumen yang dapat digunakan dalam pembelajaran sejarah adalah “original historical evidence, photographic reproductions of original evidence, printed document”. Dokumen dapat digunakan dalam pembelajaran dalam kelas dengan dua prinsip : as part of project dap as structured exercise and as part of project. Pembelajaran dilakukan dengan latihan yang tidak terstruktur. Peserta didik menyajikan bahan dengan berbagai pertanyaan serta memecahkan permasalahan. As structured excercise dilakukan pada pembelajaran dengan latihan terstruktur dalam bentuk memberikan bahan yang tersedia dengan aktivitas di dalam suatu pelajaran teacher –directed, sebagai kelompok berlatihan, dan sebagai tugas individu untuk dilaksanakan waktu di kelas untuk pekerjaan rumah. Pada pembelajaran sejarah dengan cara documents study guru hendaknya : (1) selection of the document, (2) preparation of the document, dan (3) presentace of the document.

Dalam konteks pembelajaran sejarah lokal kerajaan Aceh, utamanya pada masa SIM, seorang guru bisa saja menggunakan sumber-sumber historiografi tradisional Aceh yang cukup banyak. Sebagaimana yang dilakukan Lombard misalnya, menggunakan Bustan Al Salatin, Hikayat Aceh, Adat Aceh dan sebagainya. Hanya saja yang mungkin menjadi kendala adalah, para peserta didik kebanyakan tidak begitu menguasai tulisan Arab Melayu yang menjadi tulisan dalam karya historiografi tradisional di atas. Untuk ini, sang guru bisa saja menggunakan karya yang sudah ditransliterasikan ke dalam bahasa Indonesia.

Dengan langsung membaca sumber-sumber tersebut, para peserta didik diharapkan tidak hanya mendapatkan fakta sejarah an sich. Tapi melalui pembelajaran ini, mereka juga dapat menggali nilai-nilai yang hidup dan berkembang pada masa lalu tersebut, berdasarkan teks-teks yang menjadi objek kajian para peserta didik. Sehingga diharapkan ini menjadi nilai tambah dalam menggali kearifan lokal (local wisdom) dari masa lalu itu sendiri.

BAB II

KESIMPULAN

 

Salah satu keutamaan Lombard dalam pembahasannya tentang masa tiga puluh tahun pemerintahan Sultan Iskandar Muda ialah penggunaan sumber-sumber Melayu setempat (Bustan al Salatin, Hikayat Aceh, Adat Aceh), di samping sumber-sumber Eropa dan Tionghoa. Dia juga banyak memanfaatkan kesaksian para musafir Eropa yang pernah singgah di Aceh pada masa itu, antara lain Frederik de Houtman, John Davis, dan terutama Augustin de Beaulieu. Beliau itu bermukim di Bandar Aceh setahun lebih pada tahun 1620-1621 dan cerita pengalamannya begitu padat dan menarik sehinggga diedit bertahun-tahun kemudian oleh Lombard sendiri.

Dalam buku ini, Lombard membahas semua aspek kehidupan kerajaan Aceh, baik politik, ekonomi dan ketentaraan, maupun budaya, agama dan filsafat. Keistimewaan lain dari karyanya, dibandingkan dengan pendekatan sejarah Indonesia oleh para sarjana Belanda sebelumnya, ialah pengamatannya atas peran agama dan peradaban Islam dalam masyarakat Aceh pada masa tersebut. Kerajaan  Aceh pada masa Sultan Iskandar Muda, merupakan masa kejayaan dan kemajuan bagi kerajaan tersebut, dibandingkan dengan masa-masa Sultan sebelumnya.

Untuk memberikan materi pembelajaran tentang kerajaan Aceh pada masa Sultan Iskandar Muda, seorang guru bisa menggunakan model pembelajaran menggunakan dokument (teks), dalam hal ini pembelajaran sejarah secara langsung dari karya-karya historiografi tradisional Aceh. Sebagaimana yang dilakukan Lombard terhadap Bustan al Salatin, Hikayat Aceh, dan Adat Aceh. Pembelajaran melalui karya-karya tersebut akan menjadikan kegiatan pembelajaran sejarah menjadi lebih menantang dan menarik, akan tetapi juga membuat siswa tidak hanya mempelajari fakta-fakta sejarah saja, akan tetapai mereka juga bisa menggali nilai-nilai atau ajaran moral yang terkandung dalam karya-karya tersebut. Sehingga kegiatan pembelajaran sejarah menjadi kegiatan pembelajaran yang lebih bermakna.


 

DAFTAR BACAAN

 

SUMBER BUKU :

 

Abdullah, Taufik. (1985). Sejarah Lokal Di Indonesia : Kumpulan Tulisan. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.

Isjoni. (2007). Pembelajaran Sejarah Pada Satuan Pendidikan. Bandung : Alfabeta.

Lombard, Denys. (1967). Le Sultanat d’Atjehau temps d’IskandarMuda (1607-1636). Paris : Ecole francaise d’Extreme-Orient. Dialihbahasakan oleh Winarsih Arifin. (2008). Kerajaan Aceh Zaman Sultan Iskandar Muda (1607-1636). Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.

__________. (1996). Nusa Jawa : Silang Budaya. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.

Loir, Henry Chambert dan Ambary,  Hasan Muarif. (ed). (1999). Pangung Sejarah : Persembahan Kepada Prof. Dr. Denys Lombard. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia.

Loir, Henry Chambert. (2008). Kata Pengantar. Dalam  Le Sultanat d’Atjehau temps d’IskandarMuda (1607-1636). Paris : Ecole francaise d’Extreme-Orient. Dialihbahasakan oleh Winarsih Arifin. (2008). Kerajaan Aceh Zaman Sultan Iskandar Muda (1607-1636). Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.Jakarta : Yayasan Obor Indonesia.

Hasan, S. Hamid. (2015). Kurikulum Pendidikan Sejarah. Presentasi Di Direktorat Sejarah dan Nilai Budaya, di Bandung, pada 6 Agustus 2015

Kuntowijoyo. (1994). Metodologi Sejarah. Yogyakarta : Tiara Wacana.

Priyadi, Sugeng. (2012). Sejarah Lokal : Konsep, Metode dan Tantangannya. Yogyakarta : Penerbit Ombak.

Renier, G.J. (1997). History its Purpose and Method. Dialihbahasakan oleh Muin Umar. Metode dan Manfaat Ilmu Sejarah. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Sjamsuddin, Helijus. (2008). Pembelajaran Sejarah : Refleksi dan Prospek. Dalam Mulyana, Agus dan Supardan, Dadang. Sejarah Sebuah Penilaian : Refleksi 70 Tahun Prof. Dr. H. Asmawi Zainul, M.Ed. Bandung : Jurusan Pendidikan Sejarah FPIPS.

__________. (2012). Metodologi Sejarah. Yogyakarta : Penerbit Ombak.

Widja, I Gde. (1989). Sejarah Lokal Suatu Perspektif Dalam Pengajaran Sejarah. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Proyek Pengembnagan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan.

 

 

SUMBER INTERNET :

 

Kamarga, H. (2006). Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan dan Materi Sejarah Lokal. Tersedia di : http://file.upi.edu/Direktori.

 

 

 

 

 

 

 


KERAJAAN ACEH

ZAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1607-1636)

Oleh : Denys Lombard

 

 

 

 

Tugas UTS Mata Kuliah :

Sejarah Lokal Dalam Pembelajaran Sejarah

 

 

Dengan Dosen Pengampu :

Prof. Dr. Helius Sjamsuddin, M.A

 

 

 

 

 

 

Oleh :

 

 

MOH. ZULHAM ALSYAHDIAN (1503376)

 

 

 

 

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH

SEKOLAH PASCA SARJANA (SPS)

UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA (UPI)

BANDUNG

2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PANDEMI DAN POTRET DUNIA PENDIDIKAN

  PANDEMI DAN POTRET DUNIA PENDIDIKAN Oleh : Moh Zulham Alsyahdian, S.Hum, M.Pd   Pandemi Coronavirus Diseaese 2019 (selanjutnya Co...