BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Makalah
Berbicara tentang Kalimantan Selatan, berarti berbicara tentang sosok Pangeran Antasari. Sebab, sosok ini merupakan satu-satunya tokoh Banjar dari Kalimantan Selatan, yang kemudian oleh Pemerintah Republik Indonesia diangkat sebagai Pahlawan Kemerdekaan, berdasarkan keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 06/TK/Tahun 1968 tanggal 27 Maret 1968. (Sahriansyah, 2016 : 59). Apalagi semboyan Pangeran Antasari, Haram Manyarah, Waja Sampai Kaputing (Pantang menyerah dan tegar pendirian), sampai hari ini kemudian tetap dijadikan sebagai semboyan bagi masyarakat Banjar, baik yang ada di Kalimantan khususnya, maupun yang ada diperantauan. Bahkan oleh pemerintah Kalimantan Selatan, semboyan Antasari tersebut dijadikan semboyan pemerintah Kalimantan Selatan (Wadja sampai Kaputing). (Tim Penyusun dan Penerbit, 2006)
Mengenang Antasari adalah mengenang sosok seorang pejuang yang tidak kenal lelah dan rela berkorban untuk melawan penjajahan. Yang mana hal ini dilakukan baik semasa dia hidup, dan selanjutnya diteruskan oleh anak keturunannya lama setelah dia meninggal. Sehingga dikenallah perlawanan masyarakat Kalimantan Selantan melawan kolonialisme Belanda, merupakan sebuah perlawanan panjang yang menghabiskan bekal dan biaya yang tidak sedikit bagi Belanda. Bahkan konon
Tidak heran kemudian, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) di Provinsi Kalimantan Selatan, sebagai penghargaan dan mengenang atas jasa besar dan perjuangan Pangeran Antasari tersebut, menggunakan namanya sebagai nama institusi perguruan tinggi keislaman di provinsi tersebut.
Akan tetapi yang menarik dari sosok Pangeran Antasari ini adalah bahwa, namanya justru tidak disebutkan sama sekali dalam Syair Perang Banjarmasin yang dikarang oleh Engku Raja Al-Haji Dawud, Negeri Riau Pulau Penyengat Indrasakti, serta Raden Alhabib Muhammad, Negeri Siak Sri Indrapura (dalam Sunardjo dan Fanani, 1992 : 150 – 403). Apakah karena masa perjuangannya yang terlalu singkat (kurang lebih 3 tahun), sehingga dianggap tidak terlalu urgen dalam perjalanan panjang Perang Banjarmasin yang memakan waktu kurang lebih setengah abad (47 tahun). Berangkat dari fakta-fakta tentang Pangeran Antasari inilah makalah ini penyusun mulai.
B. Rumusan Makalah
Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka masalah utama dalam penelitian ini adalah Bagaimana sosok biografi Pangeran Antasari dan kiprah dalam perjuangan melawan Belanda. Secara operasional masalah utama tersebut dapat dirumuskan dalam bentuk pertanyaan penelitian sebagai berikut :
1. Bagaimana sosok Biografi Pangeran Antasari ?
2. Bagaimana Peran Islam dalam masyarakat Banjar ?
3. Bagaimana perjuangan Pangeran Antasari melawan kolonialisme Belanda ?
4. Faktor–faktor apa saja yang melatarbelakangi perjuangan Pangeran Antasari dalam melawan kolonialisme Belanda ?
5. Bagaimana pembelajaran sejarah berdasarkan biografi Pangeran Antasari ?
C. Tujuan Makalah
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini dapat dinyatakan sebagai berikut :
1. Menjelaskan bagaimana sosok Biografi Pangeran Antasari.
2. Menjelaskan tentang peran Islam dalam masyarakat Banjar.
3. Menjelaskan bagaimana perjuangan Pangeran Antasari melawan kolonialisme Belanda.
4. Menjelaskan faktor–faktor apa saja yang melatarbelakangi perjuangan Pangeran Antasari dalam melawan kolonialisme Belanda.
5. Bagaimana proses pembelajaran .sejarah berdasarkan biografi Pangeran Antasari.
D. Struktur Organisasi Makalah
Isi makalah disajikan dalam tiga bab berikut, sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan satu dengan yang lainnya. Pada bab pertama dipaparkan tentang latar belakang, rumusan masalah, tujuan makalah dan struktur organisasi makalah. Dalam bab kedua pembahasan difokuskan pada pembahasan tentang sosok Pangeran Antasari, hubungan Urang Banjar dan Islam, perjuangannya melawan kolonialisme Belanda, faktor-faktor yang melatarbelakangi perlawanan terhadap kolonialisme Belanda, serta pembelajaran sejarah berdasarkan biografi Pangeran Antasari. Pada bab ketiga atau terakhir, kesimpulan.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Biografi Pangeran Antasari
Untuk tahun kelahiran Pangeran Antasari terdapat beberapa versi yang berbeda. Tamar Djaja mengatakan 1804 (1966 : 443), Helius Sjamsuddin menyebutkan 1809 (2001: 42), Syahriansyah mengatakan 1809 (2016 : 59), dan dalam Wikipedia disebutkan lahir pada tahun 1789 atau 1809. Bagi penyusun, tahun yang paling mendekati kelahiran Pangeran Antasari adalah tahun 1809. Dengan asumsi bahwa sebagaimana banyak ditulis dalam beberapa sumber, ketika meletusnya Perang Banjarmasin pada tahun 1859, usia Pangeran Antasari ketika itu ± 50 tahun. Memang secara keseluruhan, riwayat hidup Pangeran Antasari tidak banyak diungkap, terutama periode sebelum dimulainya Perang Banjarmasin pada tahun 1859. Kecuali beberapa momen saja yang berhasil diungkap berdasarkan sumber sejarah yang ditemukan.
Ayahnya bernama Pangeran Mas’ud dan ibunya bernama Gusti Hadijah, puteri Sultan Sulaiman. Pangeran Antasari mempunyai dua orang saudara, yaitu Pangeran Perbatasari dan Pangeran Mangkusari. Ia adalah keluarga kesultanan Banjar, tetapi hidup dan dibesarkan di luar lingkungan istana, yakni Antasan Senor atau Sungai Batang, Martapura. Sedangkan kakeknya bernama Pangeran Amiruddin bin Sultan Aminullah. Kericuhan-kericuhan yang terjadi khususnya dalam kalangan penguasa kesultanan, menjadikan cicit dari Sultan Aminullah ini tersisih, walaupun ia sebenarnya pewaris pula atas tahta kesultanan Banjar.
Kericuhan terjadi ketika Sultan Aminullah wafat dalam tahun 1761. Ia meninggalkan tiga orang putera yang masih kecil, dan karena itu saudara Sultan Aminullah, yang bernama Pangeran Natanegara diangkat menjadi Wali. Dua orang putera Sultan Aminullah meninggal, dan yang seorang lagi yaitu Pangeran Amir pergi ke Pasir. Sesudah itu Pangeran Natanegara menobatkan diri menjadi sultan dan bergelar Sultan Sulaiman Saidullah.
Tahun 1787, Pangeran Amir melancarkan pemberontakan untuk mengambil tahtanya kembali dengan kekuatan 3.000 orang Bugis. Sultan Sulaiman Saidullah untuk mengatasinya meminta bantuan Belanda. Pasukan Belanda di bawah pimpinan Kapten Christoffel Hoffman berhasil mematahkan perlawanan Pangeran Amir. Dalam suatu pertempuran pada tanggal 14 Mei 1787, Pangeran Amir tertangkap, dan bulan Juni ia dikirim ke Batavia untuk selanjutnya dibuang ke Ceylon (sekarang Srilangka). Salah seorang puteranya bernama Pangeran Mas’ud, yaitu ayah dari Pangeran Antasari. (Sahriansyah, 2016 : 59-60)
Semasa muda nama dia adalah Gusti Inu Kartapati. Pangeran Antasari memiliki 3 putera dan 8 puteri. Pangeran Antasari mempunyai adik perempuan yang bernama Ratu Antasari alias Ratu Sultan Abdul Rahman yang menikah dengan Sultan Muda Abdurrahman bin Sultan Adam tetapi meninggal lebih dulu setelah melahirkan calon pewaris kesultanan Banjar yang diberi nama Rakhmatillah, yang juga meninggal semasa masih bayi. Pangeran Antasari tidak hanya dianggap sebagai pemimpin Suku Banjar, dia juga merupakan pemimpin Suku Ngaju, Maanyan, Siang, Sihong, Kutai, Pasir, Murung, Bakumpai dan beberapa suku lainya yang berdiam di kawasan dan pedalaman atau sepanjang Sungai Barito. (http://www.blog-artikel.com/2014/12/biografi-pangeran-antasari-pahlawan.html#.Vud7oH197Dc)
Tentang gambaran sifat dan sikap Pangeran Antasari, berikut penulis kutipkan deskripsi yang ditulis Amir Hasan Kiai Bondan dalam kitabnya yang berjudul Suluh Sedjarah Kalimantan (dalam Sjamsuddin, 2014 : xiv) :
“ ... Pangeran Antasari mempunyai sifat-sifat murni dan tulus, di antaranya : tauhid mengesakan Tuhan, peramah serta berpandangan tadjam. Pangeran Antasari adalah seorang pendekar jang mempunyai ketetapan dan ketabahan hati, serta tak takut akan segala kedjadian dan tidak pernah terkedjut atas sesuatu peristiwa. Beliau adalah seorang jang teguh kepertjajaannya, sangat menghadjatkan kepada kemerdekaan jang luas dan bersifat demokrat. Dengan sifat jang dianugerahkan Tuhan inilah kesedaran perasaan kebangsaan terus-menerus bergelora. Beliau sekali2 tidak suka diagung2kan turunan kebangsawanannya. Setiap hari bekerdja sebagai orang kampung jang kebanjakan tidak tjanggung2 serta tidak merasa tjape dan pajah. Dengan demikian kemana sadja beliau pergi, senantiasa mendjadi perhatian sepenuhnja dari rakjat segenap golongan dan lapisan. Semendjak ketjil beliau sangat membentji kepada Wolanda (Belanda) jang datang di Kalimantan ini sebagai pendjadjah ....”
Pangeran Antasari mempunyai dua orang isteri, yaitu Ratu Antasari dan Nyai Fatimah. Ratu Antasari berasal dari keluarga raja-raja seperti yang ditunjukkan oleh gelarnya Ratu. Nyai Fatimah berasal dari Tanah Dusun. Karena ia bukan berasal dari kalangan istana Banjarmasin, kemungkinan besar ia anggota keluarga pemimpin utama Dayak dari Tanah Dusun, Temenggung Surapati. Dari perkawinan pertama, Antasari memperoleh putra, Gusti Muhamad Said, dan dari Nyai Fatimah ia memperoleh putra lain, Gusti Muhamad Seman. (Sjamsuddin, 2001 : 42-43)
Tampaknya istri-istri Antasari melahirkan semua anak-anak mereka di Martapura dan membesarkan mereka di ibukota kerajaan Banjarmasin itu. Meskipun Antasari hidup sebagai rakyat biasa bersama anak-anak dan istri-istrinya. Semua orang tahu bahwa ia seorang bangsawan tinggi yang berasal dari keturunan yang sah dari kerajaan itu tetapi hak-haknya telah terenggut dalam perebutan kekuasaan leluhurnya pada abad ke-18. Meskipun hidupnya sederhana, keluarga Antasari tetap dihormati. Apalagi Sultan Adam (1825-1857) yang masih memerintah sampai tahun 1857 masih memberikannya perlindungan dan hak apanase di tanah Mangkauk, berbatasan dengan Banua Ampat (daerah Muning). (Sjamsuddin, 2012a : 80)
Mengenai Antasari, namanya telah disebut pertama kali dalam catatan Belanda dari Residen A. Van der Ven (1853-1855). Pangeran ini adalah salah seorang yang namanya tercantum dalam daftar anggota keluarga Sultan Adam yang mendapat sebuah apanase kerajaan di Mangkauk, yang terletak pada perbatasan Benua Ampat (Tambai Mekah di Muning merupakan bagian dari Benua Ampat). Bangert mengakui bahwa Antasari berasal dari cabang paling murni dari keturunan raja pertama Kesultanan Banjarmasin. Andresen juga memercayai bahwa pangeran itu adalah keturunan sah dari dinasti raja Banjarmasin yang direbut kekuasaannya. Bahkan, ia melukiskan Pangeran Antasari itu sebagai :
Seorang yang tidak pernah terlibat dalam intrik-intrik untuk merebut tahta, yang dalam hubungannya dengan cabang (dinasti) yang kini sedang berkuasa selalu patuh, yang bebas dari nafsu untuk serakah, yang hidup dengan sederhana dari penghasilan tahunan Mangkauk sebesar f300 sampai f400, dan dari keuntungan sebagai pemasok kayu untuk bangunan tambang Pengaron, dan lebih-lebih lagi, berbaik dengan Tamdidillah dan juga dengan ayahnya (Abdul Rakhman) dan kakeknya (Sultan Adam). (Sjamsuddin, 2012b : 514)
Tampilnya Pangeran Antasari sebagai tokoh perlawanan masyarakat Banjar, sebenarnya termasuk sangat terlambat dan tidak diperhitungkan sebelumnya. Sebab, awal mula perlawanannya dilakukan ketika ia sudah berusia kurang lebih 50 tahun. Sampai saat itu, nama Pangeran Antasari hampir-hampir tidak dikenal. Ia tidak memiliki kekayaan yang memungkinkan untuk hidup lebih layak sebagai seorang pangeran, sedang ia merasa prihatin menyaksikan Kesultanan Banjar yang ricuh dan semakin besarnya pengaruh Belanda di Banua Banjar. (Sahriansyah, 2016 : 63). Akibat campur tangan Pemerintah Hindia Belanda terlalu mendalam terhadap kesultanan, maka Kesultanan Banjarmasin semakin melemah. Menempatkan Kesultanan menjadi bawahan Belanda, yang mengakibatkan Kesultanan mengalami kemunduran baik politik maupun ekonomi. Akibatnya Kesultanan Banjarmasin diambang keruntuhannya. (Ahyat, t.t. : 3)
Pada mulanya, rakyat yang sudah banyak menderita di bawah tekanan pemerintahan Belanda, semakin marah ketika Pangeran Tamjidillah yang mereka benci menjadi Sultan. Mereka berontak ingin melawan Sultan dan Belanda. Mereka mengadukan nasibnya kepada Pangeran Antasari yang berdiam di Antasan sebagai rakyat biasa dengan istri dan anak-anaknya, usianya pada tahun 1859 sekitar 50 tahun. Ia membenci Belanda dan mendukung Mangkubumi Hidayatullah. Ia tidak merahasiakan asal-usulnya, tetapi ia pun tidak membesar-besarkan leluhurnya. Orang-orang Antasan dan Martapura menghormatinya, karena mereka mengetahui siapa Pangeran Antasari yang sederhana dan selah itu. Pembesar-pembesar Belanda di Martapura dan di Banjarmasin juga mengenal betul akan dia, oleh sebab itu gerak-geriknya selalu diawasi oleh orang Belanda.
Pangeran Antasari menanggapi keluhan rakyat tersebut kemudian ia menghimpun mereka menjadi kekuatan fisik yang tangguh pada bulan April 1859. Bagi Pangeran Antasari, yang utama bukanlah Sultan, tetapi Belandalah yang pertama-tama dihancurkan. Karena di Martapura yang langsung berkuasa adalah Belanda di pertambangan dan di perkebunan, yang terasa menyiksa rakyat sebagai kerja rodi. (Ahyat, 291)
Antasari berhasil menghimpun dan menggerakkan pemimpin-pemimpin ini serta pengikut mereka dengan pergi sendiri ke Muning, Benua Lima, Tanah Dusun, dan barangkali juga ke Pesir untuk mencanangkan perjuangan mereka. Oleh sebab itu, bahkan sebelum perang pecah tanggal 28 April 1859, pada pertengahan April 1859 Residen von Bentheim telah menjulukinya “pemimpin pemberontak”. Selama perang, Antasari benar-benar membuktikan dirinya sebagai seorang pemimpin yang tegar dan konsisten. (Sjamsuddin, 2012b : 519)
Di dalam bulan suci Ramadhan 1278 H (Maret 1862) para alim ulama dan pemimpin rakyat dari Barito, Murung, Sihong, Teweh, dan Kepala-Kepala Dayak Kapuas Kahayan berkumpul di Dusun Hulu untuk menobatkan Pangeran Antasaari menjadi penembahan Amiruddin Khalifatul Mukmimin, pemimpin tertinggi agama. Dengan demikian, dalam pengertian rakyat, kedaulatan Banjarmasin sekarang dipegang oleh Pangeran Antasari. (Sahriansyah, 2016 : 65)
Penobatan itu terjadi setelah pengasingan Hidayatullah karena tidak ada lagi kandidat yang sah selain Antasari. Ia adalah keturunan dinasti tua dari Kesultanan Banjarmasin yang berhak atas singasana. Oleh sebab itu, ia menggunakan gelar Penambahan, bukan Sultan. Gelar pertama dianggap lebih tinggi daripada yang kedua. Dari gelar ini, kita ketahui ia tidak saja menjadi penguasa (Panembahan) dan panglima (Amiruddin), tetapi juga pemimpin kaum muslim (Khalifatul Mu’minin), suatu gabungan sebagai pemegang kekuasaan dunia dan agama. (Sjamsuddin, 2012b : 525-526)
Dengan penobatannya ini, Pangeran Antasari memproklamirkan kerajaan Banjar yang bebas merdeka, pengganti kerajaan Banjar yang telah dirampas itu. Proklamasi itu ditandatangani oleh Kiyai Dipati Jaya Raja (Tumenggung Surapati) pelindung seluruh Barito, Murung dan Sihong, Raden Mas Warga Nata Wijaya dan Tumenggung Mangku Sari Kepala Seluruh Teweh, Kapuas dan Kahayan. Tiga yang orang menandatangani proklamasi itu adalah mewakili seluruh rakyat. Ibu kota ditetapkan sementara Teweh, di mana juga menjadi markas besar perjuangannya. (Djaja, 1966 : 451)
Awalnya Belanda kewalahan saat menghadapi perlawanan rakyat. Bahkan, Belanda kehilangan sebuah kapal perang karena ditenggelamkan oleh sekelompok pejuang Banjarmasin. Namun, kematian Pangeran Antasari dan tertangkapnya Pangeran Hidayat melemahkan perlawanan rakyat. Perang Banjarmasin berakhir pada tahun 1863, tetapi perlawanan tetap terjadi di sejumlah tempat hingga tahun 1906. (Iskandar & Gonggong, 2009 : 130).
Setelah terkubur selama lebih kurang 91 tahun di daerah hulu sungai Barito, atas keinginan rakyat Banjar dan persetujuan keluarga, pada tanggal 11 November 1958 dilakukan pengangkatan kerangka Pangeran Antasari. Yang masih utuh adalah tulang tengkorak, tempurung lutut dan beberapa helai rambut. Kemudian kerangka ini dimakamkan kembali Taman Makam Perang Banjar, Kelurahan Surgi Mufti, Banjarmasin.
Pangeran Antasari adalah termasuk keluarga keraton yang berjiwa rakyat. Karena itu ia mengangkat senjata melawan Belanda yang telah melumuri kesucian kerajaan Banjar. Begitu hebatnya perlawanan Antasari, maka sejarah dapat mengangkat beliau menjadi seorang pahlawan Banjar yang utama.(Djaja, 1966 : 443). Pangeran Antasari telah dianugerahi gelar sebagai Pahlawan Nasional dan Kemerdekaan oleh pemerintah Republik Indonesia berdasarkan SK No. 06/TK/1968 di Jakarta, tertanggal 27 Maret 1968. Nama Antasari diabadikan pada Korem 101/Antasari dan julukan untuk Kalimantan Selatan yaitu Bumi Antasari. Kemudian untuk lebih mengenalkan Pangeran Antasari kepada masyarakat nasional, Pemerintah melalui Bank Indonesia (BI) telah mencetak dan mengabadikan nama dan gambar Pangeran Antasari dalam uang kertas nominal Rp 2.000. (Wikipedia)
B. Urang Banjar dan Islam
Kata “Banjar” berasal dari kata Banjarmasih. Banjarmasih adalah nama sebuah kampung di muara sungai Kuwin, sebuah anak sungai Barito. Muara Kuwin terletak antara Pulau Kembang dan Pulau Alalak. Banjarmasih berasal dari dua kata “Banjar” dan “Masih”, “Banjar” berarti kampung, sedangkan kata “Masih” adalah berasal dari nama Kepala Suku Melayu yang oleh orang suku Dayak Ngaju disebut Oloh Masih yang maksudnya adalah Orang Melayu. Disebut Oloh Masih karena kepala sukunya disebut Patih Masih. Dengan demikian Patih Masih berarti Patihnya Orang Melayu.
Dalam sejarah Banjar diketahui bahwa bandar dari Patih Masih yang dikenal pula sebagai “Bandarmasih” yang terletak di kampung “Banjarmasih” merupakan tempat transaksi perdagangan suku Banjar dengan pedagang dari Nusantara, dari Jawa, Palembang, Bugis, Cina, Arab dan India. Kata “Banjarmasih” ini lambat laun berubah menjadi Banjarmasin. Perubahan ini diakibatkan oleh catatan resmi Belanda. Dalam surat tahun 1664 nama Banjarmasih masih dipakai Belanda seperti :
§ Pangeran Suryanata in Banjarmach (masih)
§ Pangeran Ratu ini Banjarmach (masih)
§ Prince Banjarmasch dan sebagainya.
Dalam tahun 1733 kota ini sudah berubah menjadi Banjermasing, dan menjadi Banjarmasin tahun 1845. Kata “Banjar” lambat laun tidak lagi berarti kampung, tetapi menjadi sebutan untuk menyatakan identitas suatu negeri, bahasa, kerajaan, suku, orang dan sebagainya. (Tim Penulis, 1996 : 22-23)
Tanah Banjar adalah istilah yang digunakan untuk daerah yang sekarang menjadi Provinsi Kalimantan Selatan, sedangkan penduduknya disebut Urang Banjar yang dalam istilah Bahasa Indonesia disebut suku Banjar atau etnik Banjar. Selanjutnya ditulis Urang Banjar apabila menunjuk Suku Banjar. Ada dua identitas Urang Banjar, baik yang bermukim di Banua maupun yang Madam, yaitu : Islam dan bahasa Banjar. Para perkembangannya, orang-orang dari berbagai suku-suku Nusantara yang menetap di Kalimantan Selatan, beragama Islam dan penutur bahasa Banjar, melebur identitasnya menjadi Urang Banjar. (Abbas, 2013 : 113)
Seperti pada masyarakat Bugis atau Aceh, agama Islam bagi masyarakat Banjar (terlepas apakah dia taat atau tidak menjalankan syariat) telah menjadi sesuatu yang menyatu dengan dirinya. Ungkapan seperti : “Karena kamu bukan orang Islam maka kamu bukan orang Banjar”; Martapura kota Serambi Mekkah; pengajian rutin yang dihadiri ribuan jamaah, atau salah satu keputusan peserta Musyawarah Banua Banjar Kalimantan Selatan (10-13 Agustus 2000) yang menuntut pelaksanaan syariat Islam di Kalimantan Selatan misalnya, dan haul atas almarhum Syekh Muhammad Arsyad Albanjari dan ulama lainnya yang dihadiri ribuan orang, telah cukup memberi petunjuk betapa telaah atas masyarakat Banjar tidak lengkap tanpa mengkaitkannya dengan Islam. (Husain, 2006 : 90)
Menurut A.A. Cense (dalam Daliman, 2012 : 198), proses islamisasi di kerajaan Banjar itu terjadi sekitar 1550. Sejak saat itu berkembanglah kerajaan Banjar dan banyak pula daerah-daerah lain yang tunduk dan mengakui kekuasaan Banjar. Tidak banyak diketahui tentang keadaan atau proses penyebaran Islam sampai menjelang akhir abad ke-18, kecuali tentang Sultan-Sultan Banjar yang telah memeluk Islam sejak mulai berdirinya kerajaan. Pada waktu Sultan Suriansyah sebagai Sultan pertama berkuasa dan memeluk Islam memang ada usaha untuk mengembangkan ajaran-ajaran Islam. Usaha tersebut dilaksanakan secara bersama dengan penghulu dari Demak, yaitu Khatib Dayan. Baru sekitar akhir abad ke-18 dan seterusnya nampak api Islam memancar ke seluruh wilayah Kesultanan Banjar melalui pusatnya Martapura.
Adalah Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjar, dari Kampung Dalam Pagar di tepian Sungai Martapura, secara intensif bersama-sama murid-muridnya, menyebarkan dan mengembangkan Islam ke seluruh pelosok bumi Kalimantan Selatan. Bahkan, dengan memanfaatkan kedekatannya dengan Sultan (Sultan Tahmidullah I, Sultan Tahmidullah II), Muhammad Arsyad juga turut mengupayakan pemerintahan kesultanan Banjar lebih kuat dengan landasan keislamannya.
Salah satu bukti keterlibatan tersebut adalah dengan diadakannya dua jabatan atau lembaga baru yang cukup penting kedudukannya. Kedua lembaga (jabatan) itu muncul atas dasar saran dan fatwa yang diberikan oleh Muhammad Arsyad kepada Sultan. Saran yang diberikan itu diterima dan disetujui, yaitu diadakannya jabatan Mufti dan Kadhi di dalam struktur pemerintahan Kesultanan Banjar. Jabatan Mufti berfungsi sebagai hakim tertinggi kerajaan yang secara hierarkis mengepalai hakik-hakim tingkat bawahan. Lembaga ini bertugas mengurusi masalah-masala keagamaan dan memberi fatwa-fatwa kepada kerajaan dalam melaksanakan tindakan-tindakan yang menyangkut soal agama yang muncul di dalam masyarakat. Adapun jabatan Kadhi mengurusi dan memutuskan hukum dalam rangka menyelesaikan perselisihan yang timbul dalam urusan mu’amalat (jual beli), nikah, talak, rujuk dan tentang pembagian harta dan warisan. Dengan kata lain, adanya istilah Kadhi dan penghulu dalam Kesultanan Banjar dihubungkan fungsinya sebagai kepala yang menguasai masjid di ibukota Kerajaan. (Subiyakto, 2015 : 100-105).
Begitu pentingnya, kedudukan Muhammad Arsyad, sehingga Azra (2013 : 327) secara yakin menyatakan bahwa :
“.... peranan penting Muhammad Arsyad terletak bukan hanya pada keterlibatannya dalam jaringan ulama, melainkan juga pada kenyataan bahwa dia merupakan ulama pertama yang mendirikan lembaga-lembaga Islam serta memperkenalkan gagasan keagamaan di wilayah kesultanan Banjar di Kalimantan Selatan”
Dalam perkembangnya kemudian, Urang Banjar di dalam menjalani dan mengembangkan kehidupannya senantiasa berlandaskan pada agama Islam. Sehingga muncullah istilah Islam adalah Banjar, dan Banjar adalah Islam. Oleh sebab itu, tidak mengherankan jika pada masyarakat ini sangat menghargai dan menghormati orang-orang yang dianggap mempunyai kelebihan dalam ilmu dan pengetahuan di bidang agama. Setiap Urang Banjar sebagai bagian dari masyarakat Banjar pada dasarnya patuh kepada ulama. Mereka senantiasa meneladani ulama atau tokoh-tokoh agama yang ada di lingkungannya. Bersinergi dengan ini, ulama menyadari betul akan perannya sebagai panutan, sebagai pembimbing masyarakat dan sebagai guru bagi masyarakat dalam menjalani dan memperbaiki kehidupannya yang sesuai dengan tuntunan agama Islam. (Subiyakto, 2015 : 8).
Sehingga kehidupan Urang Banjar di Kalimantan Selatan, cenderung lebih religius dan islami. Kehidupan mereka seakan tidak jauh dari Islam dan para ulama. Sejak zaman Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari sampai dengan generasi hari ini, Syekh Muhammad Zaini Ghani (Guru Ijai Sekumpul), serta banyak lagi para Ulama/Tuan Guru yang hadir di tengah-tengah Urang Banjar.
Jika dikaji kembali pada dasarnya penguasa kolonial Belanda, sejak masa Kompeni sudah merasa curiga dan tidak suka kepada para alim ulama Islam. Mereka menganggap kelompok ini sebagai tokoh-tokoh yang membahayakan dan selalu merongrong kewibawaan pemerintahannya. Mereka sering menuduh para ulama, baik yang bergelar haji, kiyai, ajengan, teungku atau tuan guru, sebagai pihak yang suka menghasut masyarakat agar memberontak melawan pemerintah. Oleh karena itu pemerintah kolonial Belanda selalu berusaha memojokkan para alim ulama dan berusaha memecah kelompok ini dari masyarakatnya.
Dalam arsif-arsif Kompeni, para alim ulama itu sering disebut sebagai pendeta-pendeta Moor, atau para haji. Mungkin karena banyaknya para haji yang terlibat dalam pemberontakan melawan kompeni, maka kompeni seringkali menahan perjalanan para jamaah haji yang baru pulang dari Mekkah menuju kampung halamannya. Tanpa alasan yang kuat, pihak Kompeni memeriksa atau menginterogasi para jamaah haji yang dicurigainya. Bahkan secara sepihak, tidak jarang penguasa Kompeni membuang seorang haji atau alim ulama tersebut. Misalnya Syeikh Yusuf dari Makassar yang dibuang ke Afrika Selatan. (Departemen, 2000 : 15-36)
Sejauh menyangkut hubungan antara Islam dan perlawanan di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah, peranan yang amat penting dimainkan oleh para haji. Dalam stratifikasi sosial Banjar pada abad ke-19, para haji menjadi elit agama. Sejumlah besar haji di Kalimantan berasal dari kelompok terbesar dan daerah terkaya dari pulau itu – wilayah Amuntai (Banua Lima) dari Kesultanan Banjarmasin. Kemakmuran secara ekonomis para haji memberikan mereka peranan penting, tidak saja dalam perdagangan dan ajaran-ajaran Islam, tetapi juga di dalam mempertahankan tradisi politik dari Kesultanan Banjarmasin. Para haji ini memberikan dimensi keagamaan pada seluruh perlawanan. lebih-lebih lagi, sejumlah haji dan para pemimpin perlawanan menggunakan tarekat tertentu dalam bentuk Beratib Beramal sebagai alat untuk melaksanakan ideologi mereka dan tarekat menjadi suatu ujung tombak yang sangat kuat terhadap musuh selama perlawanan.
Para pemimpin perlawanan Banjar dan haji-haji yang ikut mengambil bagian dalam memimpin perlawanan tahun 1859 menafisirkan jihad itu sebagai Perang Sabil melawan orang-orang Belanda “kafir” dan para pendukungnya. Ekspansi Belanda, yang diikuti dengan pemerintahan kolonial di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah, dianggap sebagai perluasan kekuasaan “orang-orang kafir”. Kehadiran misionaris Kristen, yang dianggap sebagai identik dengan “agama orang-orang kulit putih”, Agama Eropa, atau Agama Barat, atau Agama Belanda, dengan mudah ditafsirkan oleh kaum muslim yang melakukan perlawanan itu sebagai kegiatan Kristenisasi dengan merugikan kaum Muslim. Sebagai konsekuensi dari sikap ini, kaum Muslim mempunyai hak untuk melancarkan suatu perang suci sebagai tindakan ofensif dan defensif. (Sjamsuddin, 2001 271-272)
Alasan ini tidaklah berlebihan. Sebab masyarakat yang sedang prustasi dan putus asa, secara naluriah, pertama-tama akan akan mencari kekuatan ke dalam dirinya, pada kepercayaan yang telah mengakar dalam kehidupannya. Hal ini dapat pula diartikan bahwa masyarakat akan mencari kekuatan-kekuatan keagamaan yang telah mengakar pada tradisi-tradisi setempat. Dalam agama Islam jelas disebutkan apa ganjarannya (reward) bagi orang yang memperjuangkan hak (yang sesuai dengan kepercayaan agama Islam) dan melawan kaum batil, dan apa artinya mati dalam memperjuangkan hak itu, yaitu syahid. Mati syahid adalah mati yang termulia dengan surga sebagai imbalannya, sehingga syahid menjadi dambaan seluruh kaum muslimin di manapun dia berada.
Dengan demikian, Islam tidak saja menjanjikan kemuliaan dan kebahagiaan di dunia, melainkan juga di akhirat nanti. Apalagi dalam agama Islam jelas disebutkan bahwa Allah tidak akan mengubah nasib seseorang (kelompok) jika tidak tidak mengubahnya sendiri. Oleh karena itu tidaklah aneh jika gerakan-gerakan sosial yang muncul di Indonesia banyak menunjukkan ciri keislaman. Karena, bagaimanapun mayoritas penduduk Indonesia adalah beragama Islam, sehingga untuk memperkuat “perjuangannya” itu mereka kembali ke Islam (sudah barang tentu dengan pengertian dan batasannya masing-masing sesuai dengan kedalaman pemahaman mereka dalam menghayati Islam). Di sinilah para ulama, memainkan peranan begitu signifikan. Mereka inilah yang memberikan pengharapan dan penjelasan mengenai berbagai kehidupan beragama dan bermasyarakat, serta kehidupan manusia setelah kematiannya nanti. Dari mereka para petani mendengar makna Jihad fi Sabilillah. (Departemen, 2000 : 38-39)
C. Jalannya Peperangan
Perlawanan yang terjadi di Kalimantan Selatan, di wilayah Kerajaan Banjar, berlangsung hampir setengah abad lamanya. Jika dilihat coraknya, perlawanan dapat dibedakan antara Perlawanan Ofensif yang berlangsung dalam waktu yang relatif pendek (1859-1863), dan Perlawanan Defensif yang mengisi seluruh perjuangan selanjutnya (1863-1905). (Poesponegoro & Notosusanto, 1984 : 217)
Melacak sebab-sebab perang antara Pangeran Antasari melawan Belanda tidak cukup hanya melihat secara sekilas saja. Ada sejarah yang panjang yang bisa dirunut jauh ke belakang, yang menyebabkan terjadinya perang yang berkepanjangan antara Urang Banjar (khususnya Pangeran Antasari) melawan Belanda. Sebagaimana Sjamsuddin (2012: 507), penyebab perlawanan cukup kompleks. Akan tetapi, secara historis akar perlawanan dapat dirunut jauh ke abad XVIII. Secara internal, perlawanan terjadi karena faktor sosial, politis, etnik, dan dinasti yang berhadapan secara eksternal dan diametral dengan kepentingan kolonialisme dan imperialisme Belanda di Pulau Kalimantan.
Hal ini bermula dari mulai ikut campurnya Belanda dalam urusan internal kerajaan Banjar. Sebagai gambaran campur tangan Belanda atas kerajaan Banjar, berikut ilustrasi yang diberikan oleh Tamar Djaja (1966 : 444)
Walaupun kerajaan Banjar sudah berdiri dengan megahnya ratusan tahun akan tetapi setelah Belanda datang, sehari demi sehari nampak menurun juga. Telah banyak hak-haknya pindah ke tangan Belanda dalam kerajaan itu, sehingga sebenarnya kerajaan itu hanya tinggal nama saja lagi. Belandalah yang berkuasa. Apa yang dimaui Belanda, itulah yang harus dijalankan. Tidak saja urusan sehari-hari, tetapi bahkan dalam urusan pengangkatan rajapun sudah berada di bawah pengaruh Belanda. Siapa yang dikehendaki Belanda itulah yang harus dinobatkan menjadi Raja, sekalipun yang dikemukakan itu bukanlah orang yang berhak atasnya.
Secara lebih detail, Sjamsuddin (2001 : 83) mendeskripsikan tentang bentuk-bentuk intervensi Belanda terhadap pemerintahan kesultanan Banjarmasin sebagai berikut :
Penobatan Sultan harus dengan persetujuan Belanda, pemilihan pangeran ratu atau sultan muda (putra mahkota) harus disetujui oleh pemerintah Belanda, di bawah Sultan akan ada Mangkubumi, yang pencalonannya harus juga mendapat persetujuan Belanda dan ia akan menerima gaji tahunan fl. 12.000 dari pemerintah, Mangkubumi akan bertindak sebagai perantara antara Sultan dan Residen, Sultan dan keluarganya tidak diizinkan mengirim atau menerima surat-surat atau utusan-utusan ke atau dari orang-orang asing atau raja-raja dari negara atau kerajaan lain tanpa persetujuan residen.
Kontak pertama antara Banjarmasin dengan Belanda berawal bukan di Banjarmasin melainkan di Banten tahun 1596. Karena alasan-alasan yang tidak jelas, Belanda di bawah Houtman menahan sebuah jung dari “Bandermachin”. Orang-orang dari “Bandermachin” membuat perahu-perahu dan mengekspor lilin, ikan kering, beras, madu, damar dan kapur barus.
Dalam dua abad berikutnya berturut-turut sampai akhir abad ke-18, hubungan-hubungan itu meningkat antara Kompeni Belanda Hindia Timur (VOC) dengan Kesultanan Banjarmasin. Interaksi mereka ditandai dengan silih-berganti antara konflik dan akomoadasi. Perdagangan produk-produk Kalimantan untuk barang-barang asing adalah suatu awal dari perhatian pedagang-pedagang Eropa dan Asia karena peranan Banjarmasin sebagai sebuah entreport. Kompetisi di antara orang-orang Eropa sendiri untuk mendapatkan kontrol ekslusif atas perdagangan Banjarmasin acapkali memuncak pada konflik. Situasi menjadi lebih buruk ketika politik dalam negeri kesultanan Banjarmasin sendiri satu atau lebih faksi mengundang campur tangan asing. Tidak heran jika L.C.D. van Dick, dalam bukunya yang meliput sejarah paling awal dari hubungan-hubungan Banjarmasin dengan VOC antara 1606 sampai 1660, mengutip prinsip J.P. Coen bahwa “perdagangan tidak dapat dipertahankan tanpa perang begitu pula perang tanpa perdagangan”. (Sjamsuddin, 2001 : 72)
Hubungan Belanda dengan kesultanan Banjarmasin yang sering mengalami pasang surut ini disebabkan oleh intervensi Belanda terhadap urusan pemerintahan kesultanan Banjarmasin. Seperti misalnya, pada tahun 1761, tatkala Sultan Aminullah wafat, ia meninggalkan 3 orang putera yang masih kecil, dan karena itu saudara Sultan Aminullah, yang bernama Pangeran Natanegara diangkat menjadi wali. Dua orang putera Sultan Aminullah meninggal, dan yang seorang lagi, yaitu Pangeran Amir pergi ke Pasir. Sesudah itu Pangeran Natanegara menobatkan diri menjadi Sultan dan bergelar Sultan Sulaiman Saidullah.
Tahun 1787, Pangeran Amir melancarkan pemberontakan untuk mengambil tahtanya kembali dengan kekuatan 3.000 orang Bugis. Sultan Sulaiman Saidullah untuk mengatasinya meminta bantuan Belanda. Pasukan Belanda di bawah pimpinan Kapten Christoffel Hoffman berhasil mematahkan perlawanan Pangeran Amir. Dalam suatu pertempuran pada tanggal 14 Mei 1787 Pangeran Amir ditangkap, dan bulan Juni ia dikirim ke Batavia untuk selanjutnya dibuang Ke Ceylon (sekarang Srilangka).
Sebagai imbalan jasa memadamkan pemberontakan Pangeran Amir, maka ditandatanganilah antara pihak Belanda dan penguasa Kesultanan Banjar sebuah tractaat da Acte van Afstand pada tanggal 13 Agustus 1787. Dengan demikian, berarti Sultan Sulaiman Saidullah terpaksa mengurangi kekuasaan, mengurangi kedaulatan Kesultanan Banjar. Ia dan keturunannya masih berhak menyandang gelar-gelar Sultan dan memerintah wilayah Kesultanan, tetapi hanya sebagai pinjaman (vazal) dari Belanda.
Periode tujuh tahun sebelum perang pecah tahun 1859 sangat krusial dalam politik internal kesultanan Banjarmasin, terutama di antara anggota-anggota keluarga dinasti Nata sendiri, keadaan menjadi semakin buruk karena Belanda juga mengail di air keruh dalam politik Banjarmasin. (Sjamsuddin, 2001 : 100 – 101)
Kericuhan terjadi lagi dalam masa pemerintahan Sultan Adam Alwasyiqubillah putera Sultan Sulaiman. Selagi masih bertahta, ia mengangkat anaknya, pangeran Abdurrahman, sebagai Sultan Muda atau Putera Mahkota. Pada tahun 1852, Sultan Muda Abdurrahman meninggal dunia, yang meninggalkan dua orang anak, yaitu Pangeran Hidayatullah anak dari perkawinan dengan Ratu Siti dan Pangeran Tamjidillah anak dari perkawinan dengan Nyai Aminah. Di samping itu, ada lagi pihak ketiga yang juga merasa berhak, yaitu Prabu Anom, putera Sultan Adam Alwasyiqbillah, adik Pangeran Abdurrahman. Sebenarnya Pangeran Hidayatullah yang paling berhak atas tahta kesultanan.
Sekali lagi Belanda ikut campur tangan. Mereka harus menggunakan sebagai alasan campur tangannya, karena investasinya yang sudah ditanamkan dalam pertambangan batu bara “Oranje Nassau” di Pengaron dan “Julia Hermina” di Banyur Irang. Kedua tambang ini mendatangkan hasil yang cukup banyak. Karena itu Belanda memerlukan Sultan yang dapat mereka kendalikan.
Sultan Adam Alwasyiqbillah meninggal dunia dalam tahun 1857. Kemudian secara sepihak, Belanda mengangkat Pangeran Tamjidillah sebagai penggantinya, sedangkan Pangeran Hidayatullah diangkat sebagai Mangkubumi. Peristiwa penobatan ini terjadi pada tanggal 3 Nopember 1875. Seluruh rakyat dan pembesar-pembesar kerajaan (keraton) sendiri sangat menentang keputusan Belanda ini. Hanya sebagian kecil klik Tamjidillah saja yang menyukainya. Pangeran Antasari, adalah orang yang paling tidak menyukai peristiwa penobatan itu. Ia benci kepada Tamjid yang berjiwa budak dan penjilat itu. Karena itu secara terus terang ia memihak kepada Pangeran Hidayat. (Djaja, 1966 : 445-446)
Para bangsawan, ulama dan rakyat tidak menyukai terhadap pengangkatan Pangeran Tamjidillah sebagai Sultan. Keresahan rakyat tampak jelas dengan timbulnya perlawanan di daerah pedalaman, yaitu :
1. Di Benua Lima (Negara, Alabio, Sungai Banar, Amuntai dan Kalua) dipimpin oleh Tumenggung Jalil;
2. Di Muning di bawah pimpinan Aling yang telah menobatkan dirinya menjadi Sultan dengan nama Panembahan Muda. Anaknya yang bernama Sambang diangkat dan bergelar Sultan Kuning. Anak perempuannya Saranti diberi gelar Puteri Junjung Buih. Nama kampungnya diganti menjadi Tambai Makkah.
3. Di daerah Batang Hamandit, Gunung Madang dipimpin Tumenggung Antaluddin.
4. Di Tanah Laut dan di Hulu Sungai dipimpin oleh Demang Lehman.
5. Di Kapuas Kahayan di bawah pimpinan Tumenggung Surapati.
Pangeran Hidayatullah dalam kedudukannya sebagai Mangkubumi mengutus tiga orang untuk menyelidiki gerakan-gerakan rakyat yang sedang bergolak. Salah satu dari utusan itu adalah pamannya sendiri, Pangeran Antasari. Maka terbukalah kesempatan bagi Pangeran Antasari untuk menghubungi pimpinan–pimpinan gerakan rakyat yang siap mengadakan perlawanan, bahkan ia berhasil memperoleh kepercayaan rakyat dan dipilih sebagai pimpinan perlawanan. Cita-cita mereka sesuai dengan sikap dan pendirian Pangeran Antasari. Oleh karena itu, ia dengan keluarganya diam-diam meninggalkan kediamannya di Antasan Senor, Martapura dan menyatukan diri dengan kaum perlawanan di pedalaman. Puteranya yang berama Gusti Panembahan Muhammad Said, dikawinkan dengan Saranti, Putera Panembahan Aling, tokoh yang berpengaruh di kalangan mereka.
Pangeran Antasari berhasil mempersatukan gerakan rakyat yang dipimpin oleh Panembahan Aling dari Muning dengan gerakan rakyat yang dipimpin oleh Tumenggung Jalil di Banua Lima. Wilayah perlawanan bertambah luas, meliputi Tanah Dusun Atas, Tabiao dan Kuala Kapuas, serta Tanah Bumbu. Semua menjadi satu front di bawah pimpinan Pangeran Antasari untuk menentang Belanda dan kekuasaannya yang menggunakan Sultan Tamjidillah. Pengaruh Pangeran Antasari menjadi makin luas, juga di kalangan alim ulama Banjar yang sebagian besar bersedia ikut menempuh jalan kekerasan. Pada permulaannya ia berhasil menghimpun sebanyak 6.000 orang lasykar.
Dengan semboyan hidup untuk Allah dan mati untuk Allah, peperangan ini segera dimulai. Adapun serangan pertama dilakukan pada tanggal 28 April 1859. Dengan serangan itu maka meletuslah Perang Banjar. Pagi-pagi buta 300 orang lasykar yang dipimpin oleh Pangeran Antasari menyerang tambang batu bara dan benteng Belanda di Pengaron. Pertempuran berlangsung hingga pukul 14.00 siang. Baik pihak Pangeran Antasari maupun pihak Belanda berjatuhan korban. (Sahriansyah, 2016 : 61-64).
Secara lebih detail Sjamsuddin (2012b : 521) menulis tentang jalannya peperangan:
“Kira-kira jam tujuh pagi, tanggal 28 April 1859, hampir 300 orang Muning telah menduduki tempat-tempat sekitar pemukiman dan mereka mendekati benteng. Pertempuran berlangsung sampai pukul dua siang, tetapi para pejuang gagal merebut benteng itu. Meskipun demikian, saat itu juga merupakan awal pengepungan. Tanpa kemenangan yang menentukan, orang-orang Muning membakar pemukiman dan tambang sampai menjadi abu”.
Pengaron dikepung rakyat, lasykar Antasari. Komandan Beeckman sangat kuatir karena persediaan makanan sudah menipis. Ia segera mengirim kurir, tetapi kurir itu dapat dibunuh oleh lasykar. Keadan di luar tambang dan benteng Belanda di Pengaron dapat dikuasai lasykar Pangeran Antasari. Dua puluh orang bersenjata parang menyelinap di dalam pos dan benteng tambang batubara Oranje Nassau Pengaron, tetapi diketahui musuh, dan semuanya gugur terbunuh. Dokter Belanda di dalam lokasi itu diamuk dan dibunuh oleh orang hukuman. Pangeran Antasari sebagai pimpinan lasykar perlawanan mengirim surat kepada Beeckman agar ia menyerah. (Sahriansyah, 2016 : 64-65)
Pertempuran Pengaron pada tanggal 28 April 1859 itu dianggap sebagai awal dari Perang Banjarmasin yang kemudian menjalar ke seluruh negeri, baik di tanah Sultan maupun di tanah Gubernemen pada tahun-tahun berikutnya. Melalui pasang surut pertempuran di kedua belah pihak, pengepungan atas Pengaron berlangsung hampir dua bulan sampai berhasil dibebaskan oleh Kolonel Andresen dari pengepungan Antasari dan panglima-panglima lainnya. Pada waktu itu, Antasari dengan sejumlah pemimpin perlawanan lainnya memegang pimpinan setelah mereka menghimpun orang-orang dari Riam, Hulu Sungai, dan Tanah Laut, dan bergabung dengan orang-orang dari Muning. (Sjamsuddin, 2012b : 521)
Pada saat Pangeran Antasari mengepung benteng Belanda di Pengaron, Kyai Demang Lehman dengan pasukannya telah bergerak di sekitar Riam Kiwa dan mengancam benteng Belanda setempat. Bersama-sama dengan Haji Nasrun pada tanggal 30 Juni 1859 ia menyerbu Pos Belanda yang berada di istana Martapura. Dalam bulan Agustus 1859 bersama Haji Buyasin dan Kyai Langlang, Kyai Demang Lehman berhasil merebut benteng Belanda di Tabanio.
Pada tanggal 27 September 1859, pertempuran terjadi juga di benteng Gunung Lawak yang dipertahankan oleh Kyai Demang Lehman dengan kawan-kawan. Dalam pertempuran ini kekuatan pasukan Demang Lehman ternyata lebih kecil dibandingkan dengan kekuatan musuh, sehingga ia terpaksa mengundurkan diri. Karena rakyat berkali-kali melakukan penyerangan gerilya, maka Belanda setelah beberapa waktu lamanya menduduki benteng tersebut kemudian merusak dan meninggalkannya. Waktu meninggalkan benteng, pasukan Belanda mendapat serangan juga dari pasukan Kyai Demang Lehman yang masih aktif melakukan perang gerilya di daerah sekitarnya.
Sementara itu, Tumenggung Surapati menyanggupi Belanda untuk membantu menangkap Pangeran Antasari. Setelah mengadakan perundingan di atas kapal Onrust pada bulan Desember 1859, ia dengan anak buahnya berbalik menyerang tentara Belanda yang berada di atas kapal tersebut, kemudian merebut senjata mereka dan menenggelamkannya. Benteng pertahanan Tumenggung Surapati di Lambang mendapat serangan dari Belanda dalam bulan Februari 1860. Serbuan yang kuat dari pasukan Belanda menyebabkan Tumenggung Surapati meninggalkan benteng tersebut. Tumenggung Jalil yang mengadakan perlawanan di daerah Amuntai dan Negara mendapat serangan dari pasukan Belanda dengan bantuan Adipati Danureja, yang sejak semula setia kepada Belanda. Di sisi lain, Pangeran Hidayat sebagai Mangkubumi, pada dasarnya condong dan berpihak kepada rakyat. Karena sikapnya itu maka ia kemudian diturunkan dari kedudukannya sebagai Mangkubumi.
Dengan kosongnya jabatan Sultan dan Mangkubumi dalam kerajaan Banjarmasin, maka kerajaan dihapus oleh pemerintah Hindia Belanda pada tanggal 11 Juni 1860. Wilayahnya dimasukkan ke dalam kekuasaan pemerintah Hindia Belanda. Karena tindakan pemerintah Hindia Belanda itu, maka di samping perlawanan –perlawanan yang sedang berlangsung, di daerah-daerah timbul perlawanan-perlawanan baru, seperti di daerah Hulu Sungai, Tanah Laut, Barito, dan Kapuas Kahayan. Tempat-tempat seperti : Tembarang, Muning, Amawan, Gadung, dan Barabai dijadikan pusat-pusat perlawanan untuk daerah Hulu Sungai, sedangkan di daerah Tanah Laut pusat perlawanan terdapat antara lain di Riam Kiwa, Riam Kanan, dan Tabanio.
Dengan meluasnya perlawanan rakyat ini pemerintah Hindia Belanda di Banjar menghadapi kesulitan. Meluasnya pengaruh perlawanan di kalangan rakyat diusahakan untuk dibatasi. Kepala-kepala daerah dan para ulama diberi peringatan, agar mereka menunjukkan sikap setia kepada pemerintah Hindia Belanda, dan agar mereka mengecam para pejuang. Namun, kebanyakan di antara mereka tidak mau mengindahkan ancaman tersebut. Bahkan mereka melarikan diri dan bergabung dengan para pejuang.
Sementara di daerah lain, pasukan Pangeran Antasaari masih giat melakukan serangan terhadap pos-pos Belanda. Pada permulaan bulan Agustus 1860 pasukan Antasari berada di Ringkau Katan, dan pada tanggal 9 Agustus terjadi kontak senjata dengan pasukan Belanda. Pasukan Belanda berkekuatan 225 orang tentara bersenjatakan senapan berbayonet dan diperkuat oleh 125 orang hukuman yang dipersenjatai serta 10 orang penembak meriam. Dalam pertempuran itu pasukan Antasari dapat membunuh dan melukai beberapa orang tentara Belanda, dan kemudian Pangeran Antasari bersama pasukannya mengundurkan diri dari Ringkau Katan. Kekalahan Antasari ini terutama karena datangnya bala bantuan Belanda yang bergerak dari Amuntai melalui Awang menuju Ringkau Katan. Di Tameang Layang kemudian didirikan pos penjagaan Belanda yang dimaksudkan untuk menjaga kemungkinan merembesnya kembali pasukan Antasari ke Ringkau Katan.
Kemahiran Antasari dalam pertempuran cukup memberi kepercayaan kepada para pengikut atas kepemimpinannya, seperti misalnya waktu ia mempertahankan benteng Tundakan pada tanggal 24 September 1861 bersama kawan-kawan seperjuangannya, seperti Pangeran Miradipa dan Tumenggung Mancanegara. Demikian pula waktu ia bersama-sama Gusti Umar dan Tumenggung Surapati bertempur mempertahankan benteng di Tongka pada tanggal 8 Nopember 1861. (Poesponegoro & Notosusanto, 1984 : 224 – 227)
Belanda menyadari bahwa selama Antasari bersandar pada Surapati dengan prajurit-prajurit Dayaknya, perang akan berkepanjangan. Oleh sebab itu, mereka mencoba mengisolasi Surapati dan pemimpin-pemimpin Dayak lainnya dari Antasari. Pada tanggal 14 November 1859, kapal api Onrust di bawah komando Letnan J.C.H. van de Velde membawa Bangert dan penerjemah berlayar ke hulu sungai. Namun ekspedisi Onrust itu kembali lagi ke Banjarmasin tanpa membawa hasil apa-apa. Pada bulan Desember 1859, kapal Onrust kembali berangkat mmembawa utusan untuk berunding dengan Surapati. Tujuan dari ekspedisi ini adalah “menggerakkan hati Tumenggung Surapati dengan hadiah besar uang untuk menyerahkan Pangeran Antasari ke dalam tangan kita (Belanda)...”. tanggal 14 Desember 1859, kapal Onruts meninggalkan Banjarmasin menuju Marabahan dengan awak kapal yang terdiri atas 6 orang perwira, 25 orang Eropa, dan 20 orang serdadu pribumi. Di Marabahan, kapal Onrust singgah mengambil Bangert dan penerjemah. Setiba di Lontontuor, kapal Onrust diserang dan ditenggelamkan oleh Surapati dengan prajurit-prajurit Dayaknya, sehingga semua awak kapal Belanda (51 orang) mati terbunuh.
Penenggelaman kapal Onrust merupakan simbol kemenangan di kalangan para pejuang. Peristiwa itu meningkatkan semangat perang mereka dan menggiatkan perang gerilya mereka di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. Pada pihak lain, perisitwa itu merupakan suatu pukulan berat bagi reputasi tentara Belanda. Kapal Onruts itu berharga f 92.000, belum terhitung nyawa kru yang hilang. Berita tentang nasib kapal Onrust itu diterima di Den Haag tanggal 28 Februari 1860. Menteri Angkatan laut Kerajaan Belanda langsung melaporkan kepada raja dengan akibat dikeluarkannya perintah untuk melakukan pembalasan. (Sjamsuddin, 2012b : 526-527)
Dalam keadaan semacam ini pemerintah Belanda menganggap bahaya terhadap Pangeran Antasari sehingga dianggap pemberontak yang dikenai premie atau harga kepala 10.000 gulden untuk menangkapnya hidup atau mati. Demikian pula terahdap Pangeran Hidayatullah sebelum diasingkan. Hal ini dilakukan Belanda setelah dihapuskan Belanda Kesultanan Banjar dengan Proklamasi 11 Juni 1860.
Belanda masih berusaha untuk berdamai dengan Pangeran Antasari dan bersedia memberi pengampunan. Tetapi Pangeran Antasari sadar bahwa itu hanya tipu muslihat Belanda saja. Pangeran Antasari menolak ajakan Belanda dengan mengirim surat Gezaghebber (Kepala Daerah/Penguasa) di Marabahan (Bakumpai). Isinya ialah penolakan pengampunan yang dijatuhkan Belanda kepada Pangeran Antasari. Ia tidak percaya kepada janji-janji yang diberikan Belanda dan menganggapnya sebagai tipu muslihat belaka.
Pangeran Antasari sebagai Panembahan Amirudin Khalifatul Mukminin hanya memberi satu jaminan untuk perdamaian, yaitu diserahkannya Kesultanan Banjarmasin, sedangkan Belanda hanya diizinkan untuk menarik pajak. Kalau syarat tersebut tidak dipenuhi, maka Pangeran Antasari memilih jalan meneruskan peperangan.
Ternyata Pangeran Antasari benar-benar menunjukkan jiwa kepahlawanan. Beliau selalu berkata, “Haram Manyarah, Waja Sampai Kaputing” ! Maksudnya haram hukumnya menyerah kepada musuh. Dengan penuh kesadaran dan keyakinan ia memimpin gerakan melawan pemerintah Belanda di Kalimantan Selatan dan Tengah. Sementara itu, wabah penyakit melanda daerah pedalaman. Pangeran Antasari jatuh sakit. Dalam keadaan sakit parah ia diangkut ke pegunungan Dusun Hulu. Akhirnya wafat di Bayan Begok, Hulu Teweh pada tanggal 11 Oktober 1862. (Sahriansyah, 2016 : 65-67)
Pangeran Antasari dan penggantinya melakukan taktik gerilya yang bersifat frontal sehingga merepotkan Belanda. Biaya yang harus dikeluarkan sangat besar, jauh lebih besar dari Perang Jawa (Perang Diponegoro). Sehingga akhirnya pihak Belanda menerapkan strategi perang yang ternyata sangat ampuh membatasi gerak pihak “brandaal”, demikian para pemberontak itu dinamakan. Yaitu apa yang kemudian terkenal dengan sebutan benteng stelsel dan belakangan dilengkapi dengan taktik “penglaparan” (uithongeren). Pada tempat-tempat tertentu didirikan benteng, tempat tentara Belanda bertahan dan menangkis serangan gerilya. Antara benteng yang satu dengan yang lainnya dilakukan patroli secara berkala, dan untuk menunjang sistem jaringan benteng tersebut pada tempat-tempat didirikan gardu, suatu bangunan tempat para serdaduBelanda melepaskan lelahnya ketika berpartoli. Dengan demikian gerak para gerilya menjadi sangat terbatas. Hal inilah barangkali yang menyebabkan Pangeran Antasari membuat taktik lain, yaitu menyebarluaskan berita tentang kematian dirinya, yang kebetulan juga saat itu sedang terjadi wabah penyakit menular, dan berubah siasat untuk hanya berada di belakang layar. Meskipun berita tentang kematiannya sudah tersebar, namun agarknya perlawanan terasa kuat, dan sistem jaringan benteng ini disempurnakan dengan taktik yang disurat-surat kabar Belanda dinamakan Uithongeren.
Dalam melaksanakan siasat perang yang dianggap sangat tidak berperikemanusiaan ini, militer yang sedang berpatroli diperintahkan untuk memusnahkan setiap tumpukan padi yang ditemuinya di tengah hutan. Kaum gerilya yang masih setia pada komitmen perjuangannya akhirnya tidak tahan, lalu menyebar dan membangun pemukiman di tempat-tempat yang jauh dari jangkauan Belanda. (Sahriansyah, 2016 : 69-70)
Perang Banjarmasin sebenarnya tidak benar-benar berakhir setelah Hidayatullah diasingkan dan Antasari wafat pada tahun 1862. Perlawanan berlanjut diberbagai tempat dari kerajaan itu, meskipun dalam bentuk perang gerilya yang terdiri atas kelompok-kelompok kecil perlawanan di bawah pemimpin mereka masing-masing. Dalam perjalanan waktu, di bawah tekanan militer Belanda yang kuat, seorang demi seorang pemimpin-pemimpin perlawanan menyerah atau tewas.
Puncaknya, penyerahan Gusti Berakit pada tahun 1906 adalah benar-benar merupakan akhir dari 47 tahun perlawanan di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah sejak tahun 1859. Gubernur Jenderan van Heutz kini dapat mengatakan bahwa seluruh perlawanan di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah telah berakhir. (Sjamsuddin, 2012b : 529-532)
D. Refleksi Terhadap Pangeran Antasari dan Peperangannya
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002 : 155) biografi berarti riwayat hidup (seseorang) yang ditulis oleh orang lain. Echols dan Shadily (2003 : 65) mendefinisikan sebagai riwayat hidup seseorang. Sementara menurut kamus Webster biografi adalah sejarah tertulis tentang kehidupan seseorang. Oxford English Dictionary nyaris sepakat, namuan tidak seratus persen. “Catatan tertulis tentang kehidupan seorang individu”. (Denzin dan Lincoln, 2009 : 366).
Secara sederhana biografi dapat dikatakan sebagai sebuah kisah riwayat hidup seseorang. Sebuah biografi lebih kompleks daripada sekedar daftar tanggal lahir atau mati dan data-data pekerjaan seseorang, biografi juga bercerita tentang perasaan yang terlibat dalam mengalami kejadian-kejadian tersebut. Dalam biografi tersebut dijelaskan secara lengkap kehidupan seorang tokoh sejak kecil sampai tua, bahkan sampai meninggal dunia. Semua jasa, karya dan segala hal yang dihasilkan atau dilakukan oleh seorang tokoh juga dijelaskan.
Kajian biografi seringkali bercerita mengenai seorang tokoh sejarah, namun tak jarang juga tentang orang yang masih hidup. Banyak biografi ditulis secara kronologis. Beberapa periode waktu tersebut dapat dikelompokkan berdasarkan pada tema-tema utama tertentu (misalnya “masa-masa awal yang susah” atau “ambisi dan pencapaian”). Walaupun begitu, beberapa yang lain berfokus pada topik-topik atau pencapaian tertentu. (http://id.wikipedia.org/wiki/biografi)
Penulisan biografi penting dalam perspektif penyebaran informasi tentang seseorang yang riwayat kehidupannya bermanfaat dan juga peristiwa-peristiwa yang menyertainya. Kriteria kebermanfaatan tersebut ditentukan oleh penulis. Berkenaan dengan seseorang yang terpilih untuk ditulis merupakan wewenang (pilihan) penulis dalam arti penulis biografilah yang menentukan siapa tokoh yang hendak dituliskannya berdasarkan pertimbangan-pertimbangannya. Sebagaimana penulis autobiografi, penulis berkeyakinan bahwa kehidupannya layak untuk ditulis, penulis biografi berkeyakinan bahwa tokoh yang ditulisnya memang pantas ditulis misalnya berdasarkan pertimbangan atas perannya di masyarakat atau karena kharismanya. (Abbas, 2013 : 42)
Dalam konteks ini, Pangeran Antasari, menurut teori Sidney Hook dalam The Hero in History (Wiraatmadja, 2016 : 11), termasuk the Event-making-man, yaitu orang yang membuat atau merubah sejarah melalui tindakannya. Walau sebenarnya secara geneologis keturunan, dia termasuk keturunan raja, akan tetapi kedudukannya dalam pemerintahan hanyalah sebagai rakyat biasa. Namun, sejarah telah “memaksanya” untuk tampil di panggung sejarah, memimpin perlawanan masyarakat Banjar.
Walaupun dalam kenyataannya, Pangeran Antasari hanya sempat memimpin perlawanan lebih kurang 3 tahun. Akan tetapi, “api perlawanan” yang telah disulut olehnya, senantiasa hidup dan berkobar lama. Sehingga jadilah perang Banjarmasin ini merupakan sebuah perlawanan terhadap kolonialisme Belanda yang terlama di Kalimantan Selatan.
Pertanyaannya kemudian, mengapa perlawanan oleh Pangeran Antasari dan anak keturunannya, serta para pengikutnya begitu hebat dan kuat ? Untuk menganalisa ini, kita bisa menggunakan Perspektif Max Weber tentang Kepemimpinan Karismatik. Menurut Peter Burke (2001 : 133), konsep “Karisma” diambil Max Weber dari konsep para ahli sejarah geraja dan dia gunakan untuk kajian-kajian politik. Weber mendefinisikan karisma sebagai “mutu tertentu yang melekat pada kepribadian seseorang yang menyebabkan ia dianggap sangat luar biasa dan diperlakukan orang sebagai seseorang yang dikaruniai kekuatan supranatural (gaib), seorang manusia super atau setidak-tidaknya mempunyai kekuatan atau kualitas sangat istimewa”.
Dalam hal ini sosok Pangeran Antasari menjadi seseorang yang dengan segala kapasitas dan kualitas diri yang dimilikinya, menjadi “daya tarik”, yang membuat orang-orang menjadi setia dan patuh dalam segala perjuangannya. Begitu hebatnya perlawanan Antasari, keturunanan, dan pengikutnya ini, sehingga seraya mengutip Sjamsuddin (2012b : 532) selama hampir setengah abad, kedua bubuhan, keluarga Antasari dan keluarga Surapati- dengan segala pasang surut hubungan simbiotik mereka- erat bersatu melawan kekuasaan Belanda. Sejarah lokal Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah jelas-jelas didominasi oleh sejarah kedua keluarga besar ini.
Kualitas individu tersebut tidak dimiliki oleh Sang Sultan (Tamjidillah), dan juga Sang Mangkubumi (Hidayatullah). Kualitas ini mencakup kepribadian, kedewasaan, dan kesalehan. Sehingga Pangeran Antasari, yang ketika itu “bukan siapa-siapa” mendapatkan momentumnya dalam sejarah untuk tampil ke depan, memimpin perlawanan terhadap Belanda. A. Gazali Usman (dalam Jamalie, 2015) menggambarkan kualitas pribadi Pangeran Antasari dalam kalimat sebagai berikut :
“Seorang tokoh yang tidak ambisius terhadap jabatan dan pangkat dalam kerajaan, tidak menonjolkan diri sebagai seorang bangsawan, tidak menonjolkan kemampuannya sebagai seorang pemimpin, tetapi pada saat diperlukan secara spontan ia muncul sebagai pemimpin yang diharapkan. Seorang pemimpin yang hidup sederhana, sehingga dengan kesederhanaannya itulah ia dikagumi oleh semua orang, dicintai oleh rakyat dan dituruti kata-katanya, sehingga seluruh lapisan masyarakat, bahkan kelompok etnis di pedalaman mengakuinya sebagai pemimpin”.(http://pensa-sb.info/pangeran-antasari-dalam-de-bandjermasinche krijg)
Karisma Pangeran Antasari di atas, diperkuat dan diperkokoh oleh ideologi yang diusung dalam perlawanan ini, berupa ideologi “jihad” melawan kolonialisme Belanda yang kafir. Sebagaimana Harry J Benda (dalam Departemen, 2000 : 38), bahwa pemberontakan-pemberontakan petani yang muncul sepanjang abad ke-19 sebagian besar bercirikan Islam. Adanya corak keislaman dapat diartikan bahwa perasaan keagamaan (Islam) justru telah memperkuat suatu gerakan protes sosial, baik dari segi persatuan, semangat, maupun dalam hal pencapaian tujuan.
Dalam konteks peristiwa perang Banjarmasin yang berlangsung lama ini, faktor agama sangat berperan sebagai penggerak moral dan spiritual bagi masyarakat. Hal ini sebagaimana temuan dan analisa Kolonel Andresen, seorang komandan pasukan Belanda yang dikirim dari Semarang, tentang partai ketiga (di luar Tamjidillah dan Hidayatullah), yang mengambil peranan pula di situ, yaitu “Orang-orang Islam yang fanatik” yang mendukung Hidayatullah. Beberapa bulan sebelumnya (akhir tahun 1858), sejumlah besar jamaah haji telah kembali dari Mekah. Sehubungan dengan ini, ia menyimpulkan bahwa perlawanan itu mempunyai elemen-elemen politik dan agama Islam yang kuat sekali sebagai tenaga penggeraknya. (Sjamsuddin, 2012b : 522)
Tidak heran, Nyoman Dekker (1993 : 113) menyatakan bahwa, golongan yang paling pengaruhnya di Banjarmasin, ialah golongan agama. Pada pertengahan abad XI, orang-orang yang paling banyak naik haji ke Mekkah ialah berasal dari Banjarmasin. Hal ini dimungkinkan oleh adanya kekayaan dari golongan saudagar-saudagar dan pengusaha-pengusaha perkapalan itu. Sebagai gambaran dan perbandingan menurut Kartodirdjo dan Saleh (dalam Subiyakto, 2015 : 87), dapat dikemukakan di sini bahwa pada tahun 1825 -1858 rata-rata 2.000 orang muslim Indonesia pergi hari, tahun 1889 sejumlah 3.100 orang, tahun 1896 meningkat menjadi 11.700 orang. Sedangkan dari seluruh Indonesia jumlah orang yang pergi haji ke Mekkah dalam waktu-waktu tersebut tidak ada yang sebanyak dari Banjarmasin. Sebagaimana Sjamsuddin (2001 : 269), bahkan Rheinische Missionsgesellschaft mencatat terdapat rata-rata tiap tahun 100-200 orang jamaah haji.
Karena itu wajar jika Karel Steenbrink (1989) menyatakan bahwa moral agama memiliki peran yang penting untuk mendorong semangat perlawanan masyarakat Banjar terhadap Belanda, sebagaimana yang terlihat pada: (1) gelar yang diberikan kepada P. Antasari, yakni Panembahan Amiruddin Khalifatul Mu’minin yang bercorak keagamaan dan mengandung arti sebagai pembela agama; (2) pemberontakan pertama terhadap Sultan Tamjidillah II yang terjadi daerah Amuntai di pusatkan di masjid Batang Balangan; (3) perjuangan Datu Aling di daerah Muning Rantau (Maret 1859) menggunakan pendekatan keagamaan untuk menarik dan memotivasi semangat juang rakyat, dan menjadikan masjid pula sebagai sentral perjuangan mereka; (4) perjuangan oleh rakyat daerah Amuntai dan sekitarnya bulan Oktober 1861 dipimpin oleh Penghulu Abdul Rasyid juga dimotivasi oleh semangat keagamaan, bahkan dikenal sebagai peristiwa Baratib Beamal. Ataupula pecahnya peristiwa Amuk Hantarukung tahun 1899 di Kandangan yang dipelopori dua bersaudara Bukhari dan Santar murid Gusti Mat Seman yang rajin mengamalkan zikir dan wirid, serta meneriakan pekik Allahu Akbar dalam perjuangan mereka; (5) tampilnya kalangan ulama di garda depan perjuangan seperti Penghulu Abdul Rasyid, Buhasin, Abdul Gani, Penghulu (Banua Lima), Haji Buyasin (Pelatihan), Gusti Mat Seman (Barito), dan lain-lain yang memberikan semangat, komando, dan nilai-nilai perjuangan Islam.
Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah (1978 : 54) juga menjelaskan, bahwa gerakan perlawanan tani religius ini memuncak setelah raja (Mangkubumi Pangeran Hidayat) menyerah dan dibuang ke Jawa. Selanjutnya perlawanan dipimpin oleh Penghulu Rasyid dari Benua Lawas yang mengembangkan gerakan Beratib-Baamal. Gerakan Beratib-Baamal dikembangkan oleh penghulu Rasyid. Beratib adalah berdzikir. Beramal merupakan kegiatan amaliah dizkir atau jenis-jenis doa yang dilakukan bertahap dan waktu atau tidak terbatas sampai tujuan yang mau dicapai amalan tersebut terhadap diri orang yang menjalankan terwujud atau gagal. Gerakan Beratib Beramal dijalankan dengan satu kelompok orang, dipimpin oleh tetuha, menekankan kepada zikir La Ilaha Illallah sambil perasa. Puncaknya mencapai keadaan lupa diri, bila dua sampai tiga hari non stop dilakukan. Sebelum bertempur pasukan ini Beratib agar mencapai puncak penyatuan dengan zat dan baru menyerbu musuh dengan tombak-tombak panjang.
Sebagaimana Helius Sjamsuddin (2001 : 275-282), dalam Beratib Beamal, misalnya, mereka mengulang-ulang zikir berikut ini :
1. La Ilaha illa ‘Llah, menadah kepada Tuhan, Rizikhi minta murahkan, bahaya minta jauhkan, berumur minta panjangkan, serta iman.
2. La Ilaha illa ‘Llah, tummat di [dari] Mekkah ka Medinah, di situ tampat Rasul Allah.
3. La Ilaha illa ‘Llah, tummat di [dari] Mekkah ka Medinah, di situ tampat Sitti Fatimah.
4. La Ilaha illa ‘Llah, hati yang tsiddikh, iya maulana, iya Muhammad Rasul Allah.
5. La Ilaha illa ‘Llah, hati yang mu’min beit Allah.
6. La Ilaha illa ‘Llah, Nabi Muhammad hamba Allah.
7. La Ilaha illa ‘Llah, Nabi Muhammad pesuruh Allah.
8. La Ilaha illa ‘Llah, Muhammad Rasul Allah.
9. La Ilaha illa ‘Llah, Muhammad tsifat Allah.
10. La Ilaha illa ‘Llah, Muhammad Uliya Allah.
11. La Ilaha illa ‘Llah, Maujud hamba Allah.
12. La Ilaha illa ‘Llah.
Tarekat Islam dari Beratib Beamal dengan ideologi jihad atau perang sabil memainkan peranan penting dalam perlawanan yang panjang di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. Gerakan ini digunakan oleh para pemimpin perlawanan menurut kebutuhan dan keberadaan para pengikutnya.
Poin terakhir, yang menjadikan Perang Banjarmasin pada masa Antasari, dan masa sesudahnya, begitu lama dan dahsyat adalah karena faktor kerabat, sahabat dan pengikut yang ada di sekitar Pangeran Antasari. Sebut saja misalnya :
1. Terutama adalah Tumenggung Surapati, yang lebih dikenal sebagai Datuk Aling. Tumenggung Surapati adalah seorang Kepala suku Dayak yang amat disegani dan ditakuti di pedalaman Kalimantan dan juga kerabat dekat dari Pangeranan Antasari. (Sjamsuddin, 2003 : 34). Tumenggung Surapati telah menjadi seorang pemimpin suku Dayak terkemuka pada tahun 1825. Dari pihak ayahnya ia adalah seorang keturunan kepala suku terkemuka Bakumpai Muslim dan dari sisi ibunya ia adalah seorang keturunan kepala-kepala suku Siang yang masih berpegang teguh kepada kepercayaan asli mereka. Oleh sebab itu, ia merupakan mata rantai yang menghubungkan kaum Muslim yang lebih maju dengan suku-suku Dayak pedalaman yang masih memeluk kepercayaan asli. (Sjamsuddin, 2001 : 51-54). Bagi Andersen, kedudukan Temenggung Surapati merupakan sentral dari semua perlawanan terhadap Belanda. Dia meragukan peranan penting yang dimainkan oleh Antasari dalam menyiapkan dan memobilisasi rakyat di seluruh kerajaan, kecuali sejauh namanya digunakan oleh Aling (Surapati) sebagai titik tumpu untuk menyerap pengikut dari segala lapisan, sejak dari rakyat jelata sampai kepada para pemimpin agama dan bangsawan. (Dalam Sjamsuddin, 2012b : 517). Temenggung Surapati meninggal di Bumban, pada tanggal 19 Juli 1875. Ia dimakamkan di dekat air terjun Batu Bulan, di hulu Sungai Bumban. (Sjamsuddin, 2001 : 319), Sepeninggal Surapati, perlawanan dilanjutkan oleh anak turunannya, seperti Tumenggung Lada (1875-1883), Tumenggung Kornel (1875-1884), dan Tumenggung Ajidan (1875-1889). (Sjamsuddin, 2012a : 84).
2. Pangeran Hidayatullah. Dia adalah anak Sultan Muda Abdurrahman dengan Ratu Siti. Ketika Sultan Muda Abdurrahman, dia seharusnya yang diangkat sebagai Sultan, akan tetapi karena campur tangan Belanda, maka Saudaranya (lain ibu), Pangeran Tamjidillah yang oleh Belanda diangkat sebagai Sultan, sementara dia sendiri menjadi seorang Mangkubumi. Ketika Perang Banjarmasin dimulai, posisi Hidayatullah bersikap mendua. Satu sisi simpati terhadap perlawanan para pejuang, di sisi lain dia terikat akan tugasnya sebagai Mangkubumi. Akan tetapi setelah Kesultanan Banjarmasin dihapuskan, barulah Hidayatullah secara total terjun dalam barisan perlawanan terhadap Belanda. Bagi para pengikut dan pemimpin perjuangan lainnya, Pangeran Hidayatullah lebih merupakan sebuah simbol perjuangan mereka daripada seorang yang aktif dalam perjuangan. Namanya digunakan sebagai sebuah titik tumpu untuk mendapatkan lebih banyak pengikut. Perlawanan Pangeran Hidayatullah berakhir ketika dia dan keluarganya menyerah kepada Belanda. Pada pukul 21.00 tanggal 3 Maret 1862, Kapal api Bali meninggalkan Kalimantan Selatan menuju Jawa membawa Pangeran Hidayatullah, istri-istri, anak-anak, ibu dan anggota keluarga lainnya. Pemerintah memilih Cianjur di Keresidenan Preanger, Jawa Barat, sebagai tempat pembuangannya. (Ahyat, t.t. 285-300)
3. Aling dan gerakan Muning. Aling adalah seorang petani dan menjadi buat ketika usianya mendekati tua. Di desa Kumbayaou, Aling tinggal bersama 4 orang anaknya (atau 5), 2 (atau 3) lakia dan dua perempuan. Ia pernah menjadi seorang tagab (pengawal) dair Sultan Adam untuk hari-hari besar kerajaan. Dia juga pernah menjadi seorang pengawal di keraton Martapura. Setelah betapa selama 40 (160) hari, ia dipercaya memiliki kekuatan supranatural dan badanya dirasuki dan dihidupkan oleh tenaga gaib. Ia memakai gelar Penambahan Aling, dan desanya diganti menjadi Tambai (Serambi) Mekkah. Dan untuk menjalankan tugas kesehariannya, Aling mendelegasikan kepada anaknya, Sultan Kuning. Untuk mengikut hubungannya dengan gerakan Aling dari Muning ini, Pangeran Antasari kemudian menikahkan puteranya, Gusti Muhamad Said dengan putri Aling yang bernama Saranti atau bergelar Putri Jungjung Buih. Andersen menyebutkan, bahwa aksi muning itu sebagai suatu gerakan rakyat yang mempunyai “dimensi politik dan agama”. (Sjamsuddin, 2001 : 133-155)
4. Gusti Muhamad Seman dan Gusti Muhamad Said. Setelah meninggalnya Pangeran Antasari, kedudukannya digantikan oleh anak-anaknya tersebut, yaitu pangeran Muhamad Seman menjadi Sultan, yang dikenal sebagai Sultan Matseman, dan saudara Sultan Matseman, yaitu Pangeran Panembahan Muhamad Said sebagai Mangkubumi. Pusat pemerintahannya berpindah-pindah karena senantiasa dikejar-kejar Belanda. (Syahriansyah, 2016 : 68). Selama 13 tahun dari 1862-1875, perlawanan terhadap pemerintah Belanda di Dusun Hulu dipimpin oleh kedua bersaudara Panembahan Muhamad Said dan Sultan Muhamad Seman. Tetapi setelah Panembahan Muhamad Said dan Temenggung Surapati meninggal berturut-turut pada tahun yang sama 1875, maka praktis Sultan Muhamad Seman menjadi pemimpin dan motor dari seluruh perlawanan. Selama tiga dasawarsa (1875-1905) Sultan Muhamad Seman menjadi pemimpin tunggal yang legitim dari Pegustian dan bubuhannya, ia telah menunjukkan kepemimpinan yang tangguh dan tegar menghadapi Belanda. Pada tanggal 24 Januari 1905, ketika terkepung di rumah ladangnya Kalang Barah Sungai Menawing, terjadi kontak senjata antara Sultan Muhamad Seman dan Komandan ini. Ketika menolak menyerah, Sultan Muhamad seman tewas ditembak bersama dua orang pengawalnya. Mayatnya dimakamkan di Puruk Cahu juga. (Sjamsuddin, 2012a : 81-96)
5. Demang Lehman. Demang Lehman adalah salah seorang pengikut Hidayatullah yang amat setia. Namanya sebenarnya adalah Idis. Sebelum perang, sebagai seorang anak muda dan bersemangat ia telah diangkat oleh Hidayatullah sebagai Lalawangan (Kepala) daerah Sungai Riam Kanan dengan gelar Kiai Demang. Sebelum menyerah, ia telah membuktikan dirinya sebagai seorang pemimpin perlawanan yang amat berani dan oleh sebab itu, selain Antasari, Van Rees menjulukinya “Jenderal Pangeran Hidayatullah”. (Ahyat, tt. 17). Demang Lehman tertangkap melalui pengkhianatan tahun 1864 m, air mukanya tidak berubah dan urat muka tak bergerak menaiki tiang gantungan, yang menunjukkan ketabahan hati. Selesai digantung kepalanya dipotong Belanda. (Sahriansyah, 2016 : 68)
6. Wangkang. Adalah anak Kepala Desa (pembakal) di Palokan, yang pernah melawan Belanda pada tahun 1824/1825. Pernah dibuang ke Jawa, sebelum akhirnya menjadi pedagang. Keikutsertaan dalam Perang Banjarmasin bermula dalam penyerangan atas kapal Onrust, Desember 1859. Untuk selanjutnya, Wangkang selalu terlibat dalam peperangan, sehingga diangkat menjadi Hulubalang atau Panglima Perang. Bahkan menjadi salah seorang panglima perang yang paling terkenal dan ditakuti selama perang gerilya di daerah Bakumpai dan Tanah Dusun. (Sjamsuddin, 2003 : 30-75). Wangkang tewas dalam pertempuran pada tanggal 27 Desember, di bentengnya sendiri, ketika sebuah peluru mengenai kepalanya. Mayatnya diselamatkan oleh para pengikutnya dalam sebuah jukung dan menguburkannya di suatu tempat yang dirahasiakan. (Sjamsuddin, 2001 : 315)
7. Penghulu Rasyid dari Banua Lawas, pemimpin golongan agama, sangat terkenal dengan gerakan “Beratib Beamal”, bertempur dengan gagah berani. Pada tahun 1864 menderita luka-luka dalam pertempuran, lalu berusaha menyembunyikan diri. Namun kaki tangan Belanda selalu membuntutinya. Pengkhianat tersebut dapat membunuhnya, kemudian memotong lehernya dan menyerahkan kepala Penghulu Rasyid kepada Belanda untuk mendapatkan hadiah. (Syahriansyah, 2016 : 68-69)
8. Tokoh-tokoh perlawanan lainnya, seperti Tumenggung Aryapati, Kepala Suku utama Dayak Anga di Teweh (Dusun Hilir), Haji Buyasin, Tumenggung Antaluddin, Tumenggung Cakrawati, Bukhari dan kawan- kawan, serta banyak lagi, yang tidak dapat disebutkan satu persatu.
Jalinan kekerabatan dan pertemanan inilah yang menjadi pendorong bagi perlawanan terhadap Belanda. Apalagi dalam hubungan ini, tidak jarang dilakukan “pernikahan politik” di antara mereka, sehingga hubungan yang timbul, menjadi lebih kuat dan erat.
E. Pembelajaran Sejarah Lokal Berdasarkan Biografi Pangeran Antasari
Menurut S. Hamid Hasan (2015) tentang tujuan pembelajaran sejarah dalam kuriklum 2013 meliputi : Pertama, Mengembangkan rasa kebangsaan, cinta tanah air dan penghargaan terhadap hasil dan prestasi bangsa. Kedua, Membangun rasa kebangsaan, cinta tanah air, memahami masyarakat dan bangsa, serta menyadari keberlanjutan masa lalu dalam kehidupan masa kini, untuk membangun kehidupan masa depan yang lebih baik. Ketiga, Membangun kesadaran peserta didik tentang pentingnya konsep waktu dan tempat/ruang dalam rangka memahami perubahan dan keberlanjutan dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa di Indonesia. Keempat, Mengembangkan kemampuan berpikir historis (historical thinking) melalui kajian fakta dan peristiwa sejarah. Kelima, Menumbuhkan apresiasi dan penghargaan terhadap peninggalan sejarah sebagai bukti peradaban bangsa Indonesia di masa lampau. Keenam, Menumbuhkan kesadaran dalam diri peserta didik sebagai bagian dari bangsa Indonesia yang memiliki rasa bangga sebagai bangsa, cinta tanah air, melahirkan empati dan perilaku toleran yang dapat diimplementasikan dalam berbagai bidang kehidupan masyarakat dan bangsa.
Untuk implementasi pembelajaran di kelas, ada 6 prinsip-prinsip pembelajaran Sejarah Indonesia dalam kurikulum 2013, berdasarkan pendekatan scientific, yang mesti dilakukan adalah : (1) Berpusat pada peserta didik. (2) Mengembangkan kreativitas peserta didik.(3) Menciptakan kondisi menyenangkan dan menantang. (4) Bermuatan nilai, etika, estetika, logika, dan kinestetika. (5) Pembelajaran harus bergeser dari “diberi tahu” menjadi “aktif mencari tahu”. (6) Menyediakan pengalaman belajar yang beragam melalui penerapan berbagai strategi dan metode pembelajaran yang menyenangkan, kontekstual, efektif, efisien, dan bermakna. (Hasan, 2015).
Berangkat dari prinsip pendidikan sejarah Indonesia dalam kurikulum 2013, yang kemudian dijabarkan dalam prinsip –prinsip pembelajaran, dapat disimpulkan, bahwa sangat mungkin bagi guru untuk mengembangkan pembelajaran sejarah dengan Metode Biografi dalam pembelajaran sejarah di kelas, dalam konteks pembelajaran ini adalah biografi Pangeran Antasari.
Ideologi dibalik metode ini adalah bahwa orang-orang besar mewakili masanya. Mereka memprakarsai dan memengaruhi gerakan-gerakan bersejarah yang hebat, yang berarti di dalam karakter pribadi mereka terkandung pikiran dan tindakan kolektif tentang tatanan sosialnya. Jadi, pelajaran awal tentang kehidupan tokoh-tokoh tersebut melengkapi siswa dengan pengetahuan dan wawasan yang cukup mengenai sejarah untuk mengambil pelajaran tentang pergerakan mereka di tahap selanjutnya. (Kochhar, 2008 : 304-305)
Sebagaimana dalam Buku Guru untuk SMA/MA/SMK/MAK kelas XI, dalam Bab 2 dengan tema Perang Melawan Penjajahan Kolonialis Hindia Belanda, pada pembelajaran kesepuluh sampai dengan dua belas, pembahasan tentang sejarah Pangeran Antasari dapat dimasukkan pada pembelajaran ini.
Dalam hal ini guru bisa menggunakan model pembelajaran sejarah berbasis Proyek. Tujuan pembelajarannya adalah, pertama, untuk memastikan bahwa semua kelompok ikut aktif dalam melaksanakan tugas dan memberikan dorongan positif bagi kelompok yang belum bergerak secara aktif. Kedua, untuk membuat siswa peneliti mengajukan pertanyaan tentang informasi yang telah mereka dapatkan. Selain itu, kegiatan semacam ini juga dapat mengantisipasi agar pengetahuan yang mereka dapatkan tidak hanya menjadi hafalan semata. Tahap pelaporan kepada publik membantu mencapai tujuan yang pertama. Adapun jenis proyek yang dilakukan dalam pembelajaran biografi ini adalah proyek berbasis buku. Proyek jenis ini mengacu pada sebuah penelitian khusus mengenai suatu topik di dalam sumber pustaka atau arsif baik di dalam maupun di luar sekolah. (Garvey & Krug, 2015 : 117-121).
Untuk melaksanakan proyek berbasis buku tersebut, penelitian ini menggunkan Metode Riset atau Penelitian Sejarah. Penggunaan Metode Riset atau Penelitian Sejarah dalam pembelajaran sejarah sepertinya belum banyak digunakan para guru dalam mengajar sejarah. Kecendrungan penggunaan ceramah dan mencatat bahan pelajaran hingga berakhir waktu pelajaran dalam proses belajar mengajar masih mendominasi. Padahal dalam melatih keterampilan, baik itu keterampilan intelektual maupun keterampilan hidup dalam pendidikan sejarah, hanya dapat dilakukan dengan menggunakan menggunakan metode mengajar tersebut.
Merekonstruksi sejarah menggunakan cara tersebut apabila dirasakan sulit diterapkan kepada siswa di mana mereka juga mempunyai beban pelajaran lain, dapat ditempuh juga dengan menugaskan siswa menekuni dokumen atau menganalisis teks sejarah. Perhatian penting yang perlu ditekankan adalah siswa belajar sejarah setidak-tidaknya mampu mengumpulkan data, menganalisis atau menafsirkan, melakukan kritik, menulis dan menyajikan hasil temuan dari pencariaannya serta mampu memecahkan masalah dan mengambil keputusan yang tepat. Karena itu, dapat saja digunakan cara yang lebih sederhana tetapi tidak sampai mengaburkan esensi dari makna penelitian sejarah (Isjoni, 2007 : 79 - 80).
Kaitannya dengan pembelajaran Saintifik dalam kurikulum 2013, pembelajaran dengan metolodogi sejarah justru merupakan metode yang paling dekat dan paling sesuai. Berikut ini perbandingan langkah pembelajaran Saintifik dalam kurikulum 2013 dan metodologi dalam ilmu sejarah.
|
Pembelajaran Saintifik Kurikulum 2013 |
Metode Sejarah (versi Helius Sjamsuddin) |
|
MENGAMATI Kegiatan Belajarnya : Membaca, Mendengar, Menyimak, Melihat (Tanpa atau dengan alat) |
|
|
MENANYA Kegiatan Belajarnya : Mengajukan pertanyaan tentang informasi yang tidak dipahami dari apa yang diamati atau pertanyaan untuk mendapatkan informasi tambahan tentang apa yang diamati (dimulai dari pertanyaan faktual sampai ke pertanyaan yang bersifat hipotetik) |
|
|
MENGUMPULKAN INFORMASI/ EKSPERIMEN Kegiatan Belajarnya : Melakukan Eksperimen § membaca sumber lain selain buku teks § mengamati objek/kejadian/ Aktivitas § wawancara dengan nara sumber |
HEURISTIK Kegiatan mencari sumber- sumber untuk mendapatkan data-data, atau materi sejarah, atau evidensi sejarah |
|
- |
KRITIK (INTERNAL DAN EKSTERNAL) Kritik sumber, baik terhadap materi (ekstern) sumber maupun terhadap substansi (isi) sumber |
|
MENGASOSIASIKAN/ MENALAR/ MENGOLAH INFORMASI Kegiatan Belajarnya : § Mengolah informasi yag sudah dikumpulkan baik terbatas dari hasil kegiatan mengumpulkan/ eksperimen mau pun hasil dari kegiatan mengamati dan kegiatan mengumpulkan informasi. § Pengolahan informasi yang dikumpulkan dari yang bersifat menambah keluasan dan kedalaman sampai kepada pengolahan informasi yang bersifat mencari solusi dari berbagai sumber yang memiliki pendapat yang berbeda sampai kepada yang bertentangan |
|
|
MENGOMUNIKASIKAN Kegiatan Belajarnya : Menyampaikan hasil pengamatan, kesimpulan berdasarkan hasil analisis secara lisan, tertulis, atau media lainnya |
HISTORIOGRAFI Penulisan sejarah yang meliputi penafsiran, penjelasan, dan penyajian
|
|
Sumber : Hasan, 2015. |
Sumber : Sjamsuddin, 2007 : 85-239 |
Berikut rencana pembelajaran sejarah tokoh Pangeran Antasari :
Tema Pembelajaran : Pangeran Antasari
Metode Pembelajaran : Metode Riset /Metode Sejarah
Dengan tahapan (menggunakan langkah-langkah Helius Sjamsuddin) :
1. Heuristik
2. Kritik (internal & eksternal)
3. Historiografi
Waktu pertemuan : 2 Kali tatap muka
|
Pertemuan I
|
§ Pembagian tugas kelompok belajar (5 orang perkelompok). § Memberikan gambaran tugas yang akan dilakukan terkait pembelajaran sejarah tentang tokoh Pangeran Antasari. § Setelah itu melakukan Heuristik atau Kegiatan mencari sumber- sumber untuk mendapatkan data-data, atau materi sejarah, atau evidensi sejarah. Selanjutnya, Kritik (Internal Dan Eksternal), Kritik sumber, baik terhadap materi (ekstern) sumber maupun terhadap substansi (isi) sumber. Langkah terakhir, Historiografi, Penulisan sejarah yang meliputi penafsiran, penjelasan, dan penyajian dalam bentuk tulisan biografi Pangeran Antasari. |
|
Pertemuan II |
§ Presentasi tulisan biografi Pangeran Antasari masing-masing kelompok, yang ditindaklanjuti dengan diskusi atas hasil kerja masing-masing. § Sebagai tahap akhir dari seluruh proses pembelajaran, hasil kerja kelompok dan hasil diskusi dikomparasikan, selanjutnya diambil sebuah konklusi (kesimpulan) yang nantinya akan ditulis menjadi biografi Pangeran Antasari hasil kerja para peserta didik. |
Dengan langkah-langkah pembelajaran tersebut di atas, kegiatan pembelajaran sejarah di kelas, bagi para peserta didik justru akan menjadi lebih “hidup”. Pembelajaran sejarah yang hidup menurut Isjoni (2007 : 90) dikembangkan dengan cara kerja sama dalam bentuk kelompok untuk mencapai tujuan tertentu. Pengalaman dalam kerja dapat membantu mengembangkan kerjasama sosial dengan memberi kesempatan berdiskusi secara bersama-sama masalah-masalah yang lalu, misalnya menyusun diskusi sesuatu pokok penting, dan belajar dalam bentuk proses penyelidikan secara bersama –sama tentang masalah sosial sebagai suatu proses demokrasi. Perdebatan-perdebatan dalam diskusi tentang masalah –masalah sejarah merupakan bentuk latihan kerjasama dan kesabaran yang memungkinkan pembicaraan kelas.
Pada akhirnya, kegiatan pembelajaran sejarah bukan lagi pembelajaran yang kering dan membosankan. Justru pembelajaran sejarah dengan metode riset ini akan memberikan pengalaman berharga dan bermakna bagi peserta didik, terhadap berbagai peristiwa yang terjadi di sekitarnya. Mereka akan tanggap dan peduli, sekaligus ikut andil dalam berbagai peristiwa sejarah yang terjadi. Dengan ini, diharapkan akan muncul kesadaran sejarah dalam diri mereka, sebagai generasi penerus bangsa Indonesia ini di masa yang akan datang.
Sebagai penutup, berikut refleksi oleh Helius Sjamsuddin (2012a : 80) tentang perang Banjarmasin :
Tidak terhitung masa-masa kerajaan sebelumnya, kesultanan Islam Banjarmasin yang berdiri sejak abad ke-16, pada tahun 1860 dibubarkan Belanda, dan seluruh wilayahnya ditempatkan langsung di bawah pemerintahan Hindia- Belanda (Gubernemen). Hingar-bingar setiap suksesi, instrik-intrik istana, pembunuhan-pembunuhan politik dalam persaingan untuk merebut tahta kekuasaannya, serta berbagai cara Machiavellian lainnya yang memuncak pada apa yang disebut Belanda “Perang Banjarmasin” (De Bandjermasinschekrijg) tahun 1859, merupakan plot utama dalam sejarah Banjarmasin yang tampaknya menghabisi riwayat kerajaan besar yang pernah berjaya itu. Seperti pengalaman-pengalaman sejarah dari kerajaan-kerajaan besar Nusantara lainnya, sejarah Banjarmasin adalah sebuah tragedi (sic !). Semua berakhir murung, perlawanan berkesudahan dengan kekalahan. Para pelawan satu-demi-satu, kalau tidak tewas dalam peperangan, mereka menyerah dan diasingkan sebagai pecundang.
BAB III
KESIMPULAN
A. Kesimpulan
Penulis-penulis Belanda umumnya menyebut perlawanan di Kesultanan Banjarmasin dengan istilah Perang Banjarmasin (De Bandjermasinsche Krijg). Perang ini pecah pada tahun 1859 dan dianggap berakhir tahun 1863. Akan tetapi, sesungguhnya perlawanan itu terus berlanjut dan berkepanjangan sampai tahun 1906, meskipun perlawanan itu tidak lagi di wilayah Kesultanan Banjarmasin (Kalimantan Selatan), melainkan telah pindah ke daerah pedalaman, yaitu ke daerah Dusun Hulu (Sekarang temasuk Kabupaten Barito Hulu, Kalimantan Tengah). (Sjamsuddin, 2012b : 507).
Pangeran Antasari adalah salah satu tokoh yang berjasa dalam menggerakkan Perang Banjarmasin yang berkepanjangan di dalam melawan kolonialisme Belanda. Walaupun dalam hal ini, kehadirannya dalam peristiwa yang berlangsung selama setengah abad tersebut bersifat insidental. Di dalam melakukan perjuangannya melawan Belanda, Pangeran Antasari mencoba menjalin komunikasi dan konsolidasi yang intensif, dengan berbagai elemen masyarakat yang juga melakukan perlawanan. Mulai dari masyarakat awam, tokoh masyarakat, sampai dengan kelompok agamawan.
Perlawanan yang begitu teguh dan tangguh, selain didorong oleh keinginan untuk melawan kolonialisme dan penindasan oleh Belanda, juga didorong oleh keinginan untuk mengembalikan kejayaan Kesultanan Banjar seperti sedia kala, serta dalam rangka melawan orang kafir (Belanda) dalam kerangka Jihad fi Sabilillah. Perlawanan Pangeran Antasari memang hanya berlangsung selama ± 3 tahun. Akan tetapi “api perlawanan” tersebut terus hidup dan membesar, oleh perlawanan yang dilakukan oleh anak keturunan dan sahabat-sahabatnya. Sampai perlawanan itu benar-benar berakhir pada tahun 1906.
Pembelajaran berbasis biografi tokoh menjadi penting dalam rangka lebih mendekatkan sebuah peristiwa sejarah melalui tokoh yang sudah dikenal oleh para peserta didik. Untuk lebih memberikan makna dalam pembelajaran biografi tersebut, para peserta didik disarankan mengganakan metode berbasis proyek buku. Di mana para peserta didik diarahkan, untuk merekonstruksi biografi tokoh Antasari dengan melakukan penelitian, berdasarkan Metode Riset atau metode Sejarah, sehingga pembelajaran sejarah ini menjadi lebih bermakna.
DAFTAR BACAAN
SUMBER BUKU :
Azra, Azyumardi. (2013). Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII. Bandung : Mizan.
Burke, Peter. (1993). History and Social Theory. Ithaca : Cornell University Press. Dialihbahasakan oleh Mestika Zed dan Zulfami. (2001). Sejarah dan Teori Sosial. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia.
Dekker, Nyoman. (1993). Sejarah Pergolakan Indonesia Dalam Abad XIX. Malang : Penerbit IKIM Malang.
Departemen Pendidikan Nasional. (2000). Peranan Elit Agama Pada Masa Revolusi Kemerdekaan Indonesia. Jakarta : CV Putra Prima.
Djaja, Tamar. (1966). Pusaka Indonesia : Riwayat Hidup Orang-Orang Besar Indonesia. Djakarta : Bulan Bintang.
Echols, John. Shadily, Hasan. (2010). Kamus Inggris- Indonesia. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.
Garvey, Brian, Krug, Mary. (1977). Models of History Teaching in The Secondary School. London : Oxford University Press. Dialihbahasakan oleh Dian Faradilla. (2015). Model-Model Pembelajaran Sejarah di Sekolah Menengah. Yogyakarta : Penerbit Ombak.
Iskandar, Mohammad, Gonggong, Anhar (ed). (2009). Muatan Lokal Ensiklopedi Sejarah dan Budaya Sejarah Nasional Indonesia. Jakarta : Penerbit Lentera Abadi.
Hasan, S. Hamid. (2012). Pendidika Sejarah Indonesia : Isu dalam Ide dan Pembelajaran. Bandung : Rizqi Press.
__________. (2015). Kurikulum Pendidikan Sejarah. Presentasi Di Direktorat Sejarah Dan Nilai Budaya, di Bandung, pada 6 Agustus 2015
Isjoni. (2007). Pembelajaran Sejarah Pada Satuan Pendidikan. Bandung : Alfabeta.
Kocchar, S.K. Teaching of History. New Delhi : Sterling Publishers Pvt. Ltd. Dialihbahasakan oleh Purwanta dan Yovita Hardiwati. (2008). Pembelajaran Sejarah. Jakarta : Grasindo.
Poesponegoro, Marwati Djoened, Notosusanto. (1984). Sejarah Nasional Indonesia Jilid IV. Jakarta : Balai Pstaka.
Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah. (1977/1978). Sejarah Daerah Kalimantan Selatan. Pusat Penelitian Sejarah dan Budaya Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Sahriansyah. (2016). Sejarah Kesultanan dan Budaya Banjar. Yogyakarta : Aswaja Pressindo.
Sjamsuddin, Helius. (2001). Pegustian dan Temenggung : Akar Sosial, Politik, Etnis, dan Dinasti Perlawanan di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah 1859-1906. Jakarta : Balai Pustaka.
__________. (2003). “Wangkang : Sang Hulubalang (1820-1870)”. Dalam Jurnal Pendidikan Sejarah Historia. Jakarta : Bee Media Indonesia.
__________. (2012). Metodologi Sejarah. Yogyakarta : Ombak.
__________. (2012a). “Sultan Muhamad (Mat) Seman : Raja Air Barito (1835-1905)”. Dalam Kamarga, Hansiswany, Kusmarni, Yani (ed). Pendidikan Sejarah untuk Manusia dan Kemanusiaan. Jakarta : Bee Media Indonesia.
__________. (2012b). “Perlawanan di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah (1852-1908)”. Dalam Gunawan, Restu (ed). Indonesia Dalam Arus Sejarah Jilid 4. Jakarta : PT Ichtiar Baru van Hoeve.
__________.. (2014). Antasari (Sebuah Novel Sejarah). Yogyakarta : Penerbit Ombak.
Smith, Louis M. (2000). “Metode Biografis”. Dalam Denzin, Norman K., Lincoln, Yvonna S. (eds). Handbook of Qualitative Research. California : Sage Publication. Dialihbahasakan oleh Dariyatno, Badrus Samsul Fata, John Rinaldi. Handbook of Qualitative Research. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Sunardjo, Nikmah, Fanani, Muhamad. (1992). Syair Sultan Mahmud Dilingga dan Syair Perang Banjarmasin. Jakarta : Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Steenbrink, Karel S. (1989), Beberapa Aspek tentang Islam di Indonesia Abad ke-19. Jakarta : Bulan Bintang.
Tim Penulis. (1996). Integrasi Nasional Suatu Pendekatan Budaya Daerah Kalimantan Selatan. Banjarmasin : CV Prisma Muda Banjarmasin.
Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa (ed). (2002). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka.
Tim Penyusun dan Penerbit. (2006). Muatan Lokal Ensiklopedia Geografi Indonesia : Mengenal 33 Provinsi Di Indonesia. Jakarta : PT Lentera Abadi.
SUMBER JURNAL/PENELITIAN :
Abbas, Ersis Warmansyah. (2013). Masyarakat dan Kebudayaan Banjar Sebagai Sumber Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (Transformasi Nilai-nilai Budaya Banjar Melalui Ajaran Metode Guru Sekumpul). Program studi Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial SPS Universitas Pendidikan Indonesia. Disertasi Tidak Diterbitkan.
Husain, Sarkawi B. (2006). “Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari : Pemikiran dan Aktivitas Keagamaannya di Kalimantan Selatan”. Dalam Historia : Jurnal Pendidikan Sejarah No. 13. Vol. VII (Juni 2006)
Sjamsuddin, Helius. (2003). “Wangkang : Sang Hulubalang (1820-1870)”. Dalam Historia : Jurnal Pendidikan Sejarah No. 7 Vol. IV (Juni 2003)
Subiyakto, Bambang. (2015). Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari : Upaya dan Ajaran Nilai-nilai Karakter Dalam Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial. Program studi Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial SPS Universitas Pendidikan Indonesia. Disertasi Tidak Diterbitkan.
Wiraatmadja, Rochiati. (2016). Bahan Kuliah/Materi Pendidikan Nilai dalam Pembelajaran Sejarah.. Bandung : Program Studi Sejarah Sekolah Pascasarjana (SPS) Universitas Pendidikan Indoenesia
SUMBER INTERNET :
Ahyat, Ita Syamtasiyah. (t.t.). Pangeran Hidayatullah Melawan Belanda : Kasus Perang Banjarmasin (1859-1863). Prosiding The 5th International Conference on Indonesia Studies : “Ethnicity and Globalization.
Wikipedia. http://id.wikipedia.org/wiki/biografi. Diunduh pada tanggal 14 Maret 2016 Diunduh pada tanggal 14 Maret 2016
Biografi Pangeran Antasari-Pahlawan Nasional di http://www.blog-artikel.com/2014/12/biografi-pangeran-antasari-pahlawan.html#.Vud7oH197Dc Diunduh pada tanggal 14 Maret 2016
Jamalie, Zulfa. (t.t.) Pangeran Antasari Dalam De Bandjermasinche Krijg di http://pensa-sb.info/pangeran-antasari-dalam-de-bandjermasinche krijg Diunduh pada tanggal 14 Maret 2016
LAMPIRAN :
Tabal 1 :
SILSILAH KELUARGA RAJA-RAJA BANJARMASIN
|
SURIANSYAH |
|
RAHMATILLAH |
|
HIDAYATULLAH |
|
MUSTA’IN BILLAH |
|
INAYATILLAH
|
|
SA’IDULLAH |
|
TAHLILULLAH |
|
TAHMIDILLAH I |
|
HAMIDULLAH (Sultan Kuning) |
|
TAMJIDILLAH I (Sultan Sepuh) |
|
MUHAMMAD AMINULLAH |
|
NATA (TAHMIDILLAH II) |
|
SULAIMAN |
|
ABDULLAHH |
|
AMIR |
|
MAS’UD |
|
KHADIJAHH |
|
ADAM |
|
ANTASARI |
|
RATU ABDUL RAKHMAN |
|
ABDUL RAKHMAN |
|
TAMJIDILLAH II |
|
HIDAYATULLAH |
|
Muhamad Seman
|
|
Muhamad Said |
|
Perbatasari |
|
Muhamad Arsyad |
|
Berakit |
|
Sumber : Sjamsuddin, 2001 : 27 |
LAMPIRAN :
Tabel 2
POHON KELUARGA PANEMBAHAN ANTASARI
|
Sumber : Sjamsuddin, 2001 : 244 |
|
ANTASARI (Pangeran/Panembahan) (1809 – 1862) ( |
|
Nyai Fatimah |
|
Ratu Antasari |
|
MUHAMAD SAID (Gusti/Panembahan) (1862 – 1875)
|
|
MUHAMAD SEMAN (Gusti/Sultan) (1862 – 1905)
|
|
Bulan (Putri) |
|
Bulan (Putri) |
|
Salmah (Nyai) |
|
Marianah (Nyai) |
|
BERAKIT (Gusti) |
|
Jaleha (Gusti) |
|
Dijah (Gusti) |
|
Banjarmas (Pangeran) |
|
MUHAMAD ARSYAD (Gusti) |
|
PERBATASARI (Gusti/ Pangeran) |
|
Sarehat (Gusti) |
|
Pracang (Putri) |
|
Kuwing (Antung) |
|
Lantih (Putri) |
|
Durakhman (Antung) |
PANGERAN ANTASARI :
SEJARAH PERLAWANAN TERHADAP KOLONIALISME BELANDA
Makalah Mata Kuliah :
Sejarah Lokal Dalam Pembelajaran Sejarah
Dengan Dosen Pengampu :
Prof. Dr. Helius Sjamsuddin, M.A
Oleh :
ADI APRIYADI (1502354)
MOH. ZULHAM ALSYAHDIAN (1503376)
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH
SEKOLAH PASCA SARJANA (SPS)
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA (UPI)
BANDUNG
2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar