Ketiga Sejarah Berseragam :
Membongkar Ideologi Militer
Dalam Menyusun Sejarah Indonesia
Review Buku :
|
Penulis |
: |
Katharine E. Mcgregor |
|
Judul Buku
|
: |
Ketiga Sejarah Berseragam : Membongkar Ideologi Militer Dalam Menyusun Sejarah Indonesia |
|
Penerjemah |
: |
Djohana Oka |
|
Penerbit |
: |
Syarikat Yogyakarta |
|
Tahun Terbit |
: |
2008 |
|
Halaman |
: |
459 + xxvii |
A. Pendahuluan
Pada Pilpres tahun 2014, yang diikuti oleh hanya 2 pasang calon Presiden dan Wakil Presiden (Prabowo Subianto-Hatta Rajasa dan Joko Widod-Jusuf Kalla), dalam sebuah wawancara dengan beberapa media nasional (cetak maupun elektronik), Ahmad Dhani (yang notebene pendukung Prabowo Subianto-Hatta Rajasa dari kalangan musisi) mengatakan, bahwa dalam konteks hari ini, Indonesia masih membutuhkan seorang pemimpin dari militer. Karena bagi Dhani, Indonesia masih butuh figur seorang militer sebagai sosok yang layak menjadi Presiden di negara ini.
Yang ingin digaris bawahi adalah, bahwa militer adalah sosok yang kompeten untuk menjadi pemimpin di Republik ini. Militerisme, atau orientasi militer, dan segala sesuatu yang terkait dengan militer, merupakan istilah yang menimbulkan banyak kontraversi. Satu sisi dibenci, pada sisi lain dia juga dirindukan. Apalagi jika kita berbicara tentang negara Myanmar, yang sampai hari ini Junta militer di negara tersebut, masih sangat kuat menghegemoni kehidupan pemerintahan negara tersebut. Begitu juga halnya di Mesir, ketika sebuah upaya militer berhasil menggulingkan sebuah pemerintahan yang sah (Abdullah Morsi), yang dipilih oleh rakyat.
Begitu halnya dengan negara Indonesia, yang sepanjang Orde Baru-nya Soeharto, memiliki pengalaman traumatis terkait dengan militer. Sebab sudah menjadi rahasia umum, pemerintahan Soeharto selama 32 tahun bisa eksis karena faktor militer (utamanya Angkatan Darat) di belakangnya. Bahkan militer, melalui doktrin Dwi Fungsi-nya berhasil masuk dan merasuk ke dalam kehidupan politik dan pemerintahan ketika itu.
Review buku ini akan mencoba untuk melihat sampai sejauh mana upaya militer dalam mengintervensi kehidupan politik dan pemerintahan masa Orde Baru, dan media apa saja yang menjadi ‘pintu masuk’ mereka untuk ikut terlibat dalam hiruk pikuk pemerintahan sepanjang 32 tahun .
B. Biografi McGregor
Sebelum kita masuk pada pembahasan buku Sejarah yang Seragam, kita Nama lengkapnya adalah Kate McGregor. Dia merupakan salah satu sejarawan Australia yang memiliki konsen terhadap Indonesia, khususnya kajian tentang historiografi Indonesia pada masa Orde Baru, sejarah kekerasan, militer di Indonesia, Islam dan identitas di Indonesia, hubungan sejarah internasional Indonesia dan dunia. Dia mengajar di bidang Sejarah Asia Tenggara, Sejarah Kekerasan dan Sejarah Tematik Asia. Pada Februari 2014, Kate memulai 4 tahun Dewan Riset Australia untuk Masa Depan pada proyek : Menghadapai Sejarah Ketidakadilan di Indonesia : Sejarah dan Aktivis Hak Asasi Lintas Negara. Kate termasuk salah seorang pendiri forum Keadilan Sejarah dan Jaringan Ingatan, dan dia turut terlibat sebagai Komite Organisasi untuk Konferensi Internasional Pertama-nya yang dilaksanakan di Melbourne pada tahun 2012. Dia juga terlibat dalam mengorganisasi Workshop, Konferensi, dan berbagai Event yang yang berhubungan dengan Kekerasan di Indonesia pada tahun 1965, dan dia juga merupakan Editor Bersama dengan Dr. Jemma Purdey pada Laporan Kekerasan Massa di Indonesia pada tahun 1965 yang disponsori oleh Herbeth Feith Fondation. Saat ini dia merupakan seorang akademisi di University of Melbourne.
Kate banyak melakukan penelitian (khususnya) tentang Indonesia pada tahun 1965, dengan fokus penelitian tentang kekerasan yang terjadi pada 1965 pasca peristiwa G/30/S. Sekalipun demikian, dia juga menulis tentang tema-tema lain tentang sejarah Indonesia, baik yang ditulis dalam bentuk buku maupun jurnal (di Australia maupun di Luar Australia). Di antara tulisannya yang telah diterbitkan, The Countour of Mass Violence in Indonesia 1965-1968 (NUS Press, 2012), A Bridge and a Barrier : Islam, Reconciliation and the 1965 Killings in Indonesia, in Reconciling Indonesia : Grass Roots Agency for Peace (Rootledge, 2009), Mass Violence in the Indonesia Transition from Sukarno to Suharto : Global Dialog, Center for World Dialog, Vol. 15 tahun 2013, Confronting the Past in Contemporary Indonesia : The Anticommunist Killings of 1965-1966 and The Role of the Nahdlatul Ulama’, Critical Asian Studies, Routledge, Vol 41 tahun 2009, The Indonesian Killings of 1965-1966, int The Online Encyclopedia of Mass Violence, Center for International Research and Studies, ed. 1 tahun 2009, The Indonesian Military and the Political Legacies of the 1945-1949 Indefendence Struggle, in Political Legacies of Colonialism in Asia, University of Seoul tahun 2008, Nugroho Notosusanto : The Legacy of a Historian in the Service of an Authoritarian Regime, in Zurbuchen M ed (s), Beggining to Remember : The Past in Indonesia’s Present, University of Washington Press, 2005, dan tentunya buku yang menjadi pembahasan kita kali ini (, History of Uniform : Military Ideology and teh Construction of Indoensia’s Past (NUS Press, 2007).
Pengakuan Internasional terhadap kiprah dan aktivitas Kate sebagai seorang ilmuwan di antaranya, sebagai Peneliti Tamu Senior pada Asia Research Institute, National University fo Singapore, pada Maret – Mei 2008, Peneliti Tamu Senior pada ARC Project Historical Justice and Memory, Institute of Social Research, Swiburne Institute fo Technology, pada Juli 2010 – Januari 2011, dan Peneliti Tamu Senior di Universitas Indonesia Jakarta, Agustus – Desember 2011. (School of Philosophical Studies, 2015).
C. Kajian Pustaka
Buku yang ditulis oleh Katharine E. McGragor bukanlah satu-satunya buku yang menulis tentang penulisan sejarah versi Orde Baru, khususnya tentang peran militer pada masa Orde Baru. Sudah banyak kajian yang dilakukan tentang militer di Indonesia, khususnya pada masa Orde Baru Soeharto. Ada beberapa penulis yang mencoba meneliti dan menulis tentang tema yang sama. Di antaranya Michael Wood yang menulis dengan Judul Sejarah Resmi Indonesia Modern : Versi Orde Baru dan Para Penentangnya (2013). Ada juga sejarawan Indonesia Asvi Marwan Adam, yang dalam beberapa bukunya banyak menulis tentang historiografi masa Orde Baru. Sebagai contoh adalah Soeharto : File Gelap Sejarah Indonesia, Pelurusan Sejarah Indonesia (2009), Seabad Kontroversi Sejarah, Pelurusan Sejarah Indonesia (2009), atau buku Asvi Marwan Adam bersama Bambang Purwanto, Menggugat Historiografi Indonesia (2013). Akan tetapi semua kajian di atas masih sangat luas tema dan spektrum kajiannya, yaitu tentang sejarah Indonesia masa Orde Baru dengan segala lika-likunya. Kalaupun ada kajian tentang militer Indonesia, itu pun perhatiannya lebih terpusat pada peran ganda militer yang menggabungkan perhatian politik dan peran pertahanan. Kebanyakan kajian juga merupakan laporan kronologis mengenai evolusi militer Indonesia dalam ranah politik dan memusatkan diri pada suatu jangka waktu tertentu.
Terdapat juga sejumlah kajian yang memberi perhatian kepada ideologi militer. Ketika Sejarah Berseragam berbeda dengan kajian-kajian sebelumnya mengenai militer karena buku ini mencermati satu lembaga militer yang khusus, yakni Pusat Sejarah ABRI (sekarang TNI) dan proyek-proyeknya. Karena kajian ini menyajikan rekaman dan analisa mengenai daya upaya militer untuk membangun citra yang ditujukan baik kepada anggota militer maupun kepada masyarakat yang lebih luas.
Akan tetapi, kebanyakan kajian tentang militer Indonesia itu memusatkan perhatian terutama pada peran ganda militer yang menggabungkan peran politik dan peran pertahanan. Kebanyakan kajian juga merupakan laporan kronologis mengenai evolusi militer Indonesia dalam ranah politik dan memusatkan diri pada suatu jangka waktu tertentu. Buku ini berbeda dengan kajian-kajian sebelumnya mengenai militer, karena buku ini mencermati satu lembaga militer yang khusus, yaitu Pusat Sejarah ABRI dan proyek-proyeknya. Kajian ini menyajikan rekaman analisis mengenai daya upaya militer untuk membangun citra yang ditujukan baik kepada anggota militer maupun kepada masyarakat yang lebih luas.
Kalau penelitian-penelitian sebelumya tentang militer berpijak sebagaian besar pada wawancara, pidato, surat kabar, doktrin militer, dan sekali waktu pada sejarah militer, guna mengajukan sebuah argumentasi tentang militer. Buku ini, sebaliknya mulai dengan sumber-sumber sejarah militer sebagai fokus utama penelitian ini. Sumber-sumber utama yang digunakan ialah diorama museum serta uraian yang menyertainya dan yang dicetak dalam buku panduan museum. Sumber lain yang digunakan ialah laporan perencanaan museum, terbitan-terbitan sejarah Pusat Sejarah Pusat Sejarah Angkatan Bersenjata, sejarah peringatan Pusat Sejarah Angkatan Bersenjata, buku-buku teks yang dikerjakan Nugroho, artikel-artikel dalam Senakatha, majalah Pusat Sejarah Angkatan Bersenjata, catatan-catatan seminar militer, doktrin militer dan wawancara dengan staf Pusat Sejarah Angkatan Bersenjata. Hasil pengamatan terhadap monumen, buku panduan museum, wawancara dengan seniman dan bahan tulisan peringatan yang lain yang dibuat oleh militer juga digunakan. (McGregor : 2008 : 10-13).
Dengan ini, menurut McGregor, penelitian yang dilakukannya lebih akuntabel, sebab sumber-sumber yang digunakannya diambil dari sumber primer yang otoritatif. Sumber-sumber ini menyiratkan otoritas karena disahkan oleh pemerintah, dan diciptakan untuk khalayak ramai. (McGregor : 2008 : 23).
Buku McGregor ini merupakan sumbangan yang tepat dan esensial bagi perdebatan tentang konstruksi sejarah nasional. Melalui analisisnya yang mendalam terhadap serentetan ‘teks-teks’ sejarah yang beragam, termasuk film, museum, monumen, buku ajar dan latihan-latihan indoktrinasi menunjukkan seberapa jauh militer Indonesia secara bertahap berhasil memonopoli gambaran nasional bangsa, khususnya setelah kebangkitan rezim Soeharto. Ciri dari historiografi nasional yang dibentuk selama Orde Baru Soeharto adalah sentralitas negara yang diejawantahkan oleh militer. Sejarah nasional disamakan dengan sejarah militer dan produksi sejarah dikendalikan oleh negara dan militer. Beberapa dampaknya ialah bahwa, misalnya, cerita tentang revolusi nasional akhirnya memfokuskan pada peran menentukan dari militer dengan menyingkirkan pelaku sejarah yang lain. Menurut pandangan sejarah ini, sepanjang periode tahun 1950-an militerlah yang menyelamatkan bangsa dari “disintegrasi”, dengan mengabaikan fakta bahwa militer memainkan peran penting dalam pemberontakan-pemberontakan di daerah. Pada akhirnya versi militer tentang kejadian di tahun 1965 mendominasi historiografi periode tersebut dan melegitimasi naiknya rezim Orde Baru. (McGregor : 2008 : xvii – xx).
D. Landasan Teori
Konsep sentral dalam buku ini ialah konsep Representasi. Definisi yang dapat dipakai untuk menjelaskan konsep tersebut ialah sebagai berikut :
........ mediasi wacana antara peristiwa dengan kebudayaan yang mengonstruksi ideologi-ideologi nasional. Akhirnya, pentingnya mediasi wacana ini bukan sebagai refleksi, ataupun pembelokan masa lampau, tapi sebagai konstruksi masa kini.(McGregor, 2008 : 8).
Konsep Representasi mencoba menekankan pada pengaruh masa kini dalam menyajikan kembali masa lampau. Menuut Pierra Nora, kecermatan yang semakin meningkat dalam penelitian mengenai proses penyusunan sejarah sejak 1970 dan seterusnya menghasilkan adanya pembedaan baru antara istilah “sejarah” dan “ingatan”. Ia menyiratkan bahwa “sejarah adalah representasi masa lampau”. Sedangkan “ingatan” menggambarkan semua kemungkinan masa lampau –termasuk kemungkinan mengingat, melupakan atau bahkan menghidupkan kembali bagian-bagian yang hilang dari masa lampau. Kata ingatan perntah dianggap sebagai sebagian dari sejarah, maka munculnya sejarah dari sejarah-sejarah memungkinkan sejarah “menyoroti berbagai jenis ingatan, bahkan menjadikan dirinya sebuah laboratorium dari keadaan, kemampuan dan mentalitas dari masa lalu”. Dalam Ketika Sejarah Berseragam, konteks tempat sejarah-sejarah dihasilkan, diteliti dengan cermat. Selain itu, konsep representasi buku ini juga memberikan perhatian kepada masalah siapa yang melakukan representasi. (McGregor : 2008 : 8 – 9).
Barry Schwartz mengusulkan kita sebaiknya (juga) mengkaji bagaimana masa lalu digambarkan, berdasarkan bahwa “masa lalu tidak dapat dikonstruksi secara harpiah, tetapi hanya dapat dimanfaatkan secara selektif”. Ketika Sejarah Berseragam memusatkan perhatian kepada pemanfaatan-, dan dalam beberapa kasus, pada rekayasa masa lalu. Ketika Sejarah Berseragam banyak sekali memanfaatkan pustaka yang membahas sejarah Indonesia pasca kemerdekaan untuk dapat menetapkan konteks dari sebuah museum, monumen, produksi film atau buku pelajaran, maupun konteks sejarah suatu kejadian.
Walaupun tujuan penulis ialah mengungkapkan tulisan-tulisan yang dibuat oleh museum, pembuat monumen dan pembuat buku pelajaran, pen merasa perlu juga mengakui bahwa alasannya sendiri memilih dari banyak dokumen, gambar, wawancara dan sumber-sumber sekunder untuk dapat menyajikan kisahnya sendiri tentang bagaimana militer menggambarkan masa lalu.
Militer menekankan pada sejarah lewat gambar sebagai suatu sumber untuk menyampaikan sejarah, karena itu buku ini mereriksa sejumlah sarana visual. Alasan lain mengapa penulis memusatkan perhatian kepada museum, monumen, buku pelajaran, dan upacara peringatan serta kegiatannya, ialah karena sumber-sumber ini menyiratkan otoritas. Sumber-sumber ini menyiratkan otoritas karena disahkan oleh pemerintah dan diciptakan untuk khalayak ramai. Tambahan lagi, berbeda dengan sejarah tertulis, museum dan monumen biasanya tidak menekankan pada penciptanya. Maka tercipta kesan bahwa sumber-sumber sejarah ini adalah teks-teks tanpa penulis.
Diorama, sebagai representasi masa lalu dalam bentuk gambar, dapat menafsirkan masa lalu jau daripada benda-benda. Klaus Schreiner menyatakan bahwa sangat banyaknya diorama digunakan di museum di Indonesia mungkin dimotivasi oleh keinginan untuk menyediakan “sebuah penafsiran mengenai fakta-fakta sejarah yang tegas dan andal”. Sikap ini sesuai dengan kecendrungan-kecendrungan di dalam historiografi Orde Baru.
Salah satu cara yang dipakai ahli sejarah atau Kepala Museum untuk lebih banyak lagi mengendalikan cara pengunjung menafsirkan diorama ialah melalui judul dan penjelasan yagn menyertai diorama atau monumen. Judul serta penjelasan ini berupaya menentukan cerita yang disampaikan oleh diorama. Menurut catatan Eilean Hooper-Greenhill, pemberian judul dan penjelasan oleh museum adalah cara untuk mengendalikan makna suatu gambar, karena “kita kita memandang benda sesuai dengan apa yang dikatakan tentang benda itu”.
Dari awal perlu dicatat bahwa Ketika Sejarah Berseragam memusatkan perhatian terutama pada militer sebagai pihak yang membuat gambaran tentang masa lalu Indonesia dan bukan sebagai audiens dari gambaran tersebut. Museum, monumen, buku pelajaran dan upacara peringatan adalah beberapa gambaran tentang masa lalu Indonesia. Namun yang paling penting ialah bahwa bentuk-bentuk peringatan ini merupakan catatan dari citra militer Indonesia yang dibuat tentang dirinya sendiri. Sebagaimana dikemukakan oleh Susan Douglan dalam kajiannya tentang audien media :
Kita selalu mengetahui lebih banyak tentang alasan dan asumsi pembuat gambar media –termasuk asumsi mereka tentang audiens – daripada yang akan kita ketahui tentang audiens itu sendiri.
Bagaimana audiens menanggapi representasi militer tentang masa lalu di museum dan dalam bentuk peringatan yang lain, sulit diukur tanpa mensurvey pengunjung museum, peserta dalam kegiatan peringatan, atau siswa. Segi lain taentang tanggapan audiens terhadap media massa dipengaruhi oleh pajanan mereka terhadap pesan-pesan serupa dalam bentuk-bentuk yang lain, seperti film, surat kabar, buku-buku pelajaran sejarah. Kadang apabila audiens terpajan secara berlebihan kepada sejarah-sejarah yang hegemonis, hal ini dapat mendorong mereka untuk menganggap sejarah yang disajikan dalam museum-museum sebagai dongeng belaka.
Satu faktor penting dalam upaya penerimaan audiens terhadap gambaran-gambaran yang dihasilkan oleh militer ialah sikap masyarakat terhadap militer. Militer Indonesia masa Orde Baru sering digambarkan sebagai pihak yang tidak kenal kompromi dan yang memaksakan kehendak mereka pada warga negara melalui kekerasan. Namun demikian, dalam ranah ideologi, kegiatan Pusat Sejarah ABRI membuktikan bahwa mereka memperhatikan citra mereka dan terus-menerus berusaha memperbaiki citra mereka di mata masyarakat. (McGregor : 2008 : 20 – 29).
Adapun tujuan akhir dari berbagai upaya Pemerintah Orde Baru di atas adalah bagaimana ia, bisa menghegemoni masyarakat (bangsa Indoensia) dalam rangka mempertahankan kekuasaannya. Hegemoni, Sebagaimana dimaksud yang Antonio Gramsci (Italia), ide dasarnya ialah bahwa kelas penguasa (Pemerintah Orde Baru Soeharto) memerintah tidak dengan kekerasan (atau dengan kekerasan semata-mata), melainkan dengan persuasi. Persuasi itu tidak langsung, kelas yang diperintah belajar melihat masyarakat lewar cara pandang penguasa, berkat pendidikan, dan juga posisi mereka dalam sistem masyarakat. (Burke, 2001 : 128). Upaya hegemoni Orde Baru ini sangat berhasil, hal ini dibuktikan dengan lamanya masa kekuasaan Orde Baru di bawah pemerintahan Soeharto, yang mencapai 32 tahun.
E. Ringkasan Buku
Sejak akhir abad ke-20, seiring dengan perubahan politik yang terjadi di Indonesia pada tahun 1998, berbagai kritik, tentang penulisan sejarah Indonesia muncul bak cendawan di musim hujan. Kata “pelurusan sejarah” menjadi sangat populer baik di kalangan akademisi, politisi, birokrat, aktivis LSM maupun kelompok-kelompok lain dalam masyarakat (Adam, 2004).
Iklim keterbukaan yang lebih besar memungkinkan ditantangnya secara terbuka kebenaran sejarah yang dibuat oleh negara. Tantangan-tantangan ini merupakan bukti betapa ketatnya sejarah dijaga dalam periode Orde Baru. Tantangan-tantangan ini juga menunjukkkan adanya perbedaan pendapat dengan versi-versi pemerintah tentang masa lalu, yang dilontarkan di lingkungan-lingkungan terbatas yang sebelumnya tidak banyak diketahui karena pers disensor. Tantangan-tantangan tersebut juga menunjukkan bahwa, walaupun masyarakat telah menimbun rasa tidak percaya yang besar terhadap sejarah selama periode Orde Baru, sejarah masih dianggap penting oleh banyak orang. (McGregor : 2008 : 32).
Pasca Orde Baru banyak kajian yang menyoroti keterlibatan militer dalam berbagai ranah kehidupan kenegaraan bangsa ini. Hal ini sebagai konsekuensi logis dari menguatnya peran militer pasca 1965 yang bermetamorfosa menjadi kekuatan, sehingga ada yang mengatakan bahwa pada masa Orde Baru militer Indonesia tak ubahnya seperti, sebuah negara dalam negara.
Dominasi militer tidak hanya tampak physically, tetapi juga mempunyai peranan yang kuat untuk mengonstruksi alam bawah sadar massa rakyat Indonesia, sehingga yang terjadi, ingatan kolektif massa rakyat menjadi terkendalikan oleh nalar militer yang mempengaruhi tindak laku sebagian massa rakyat untuk menciptakan bayangan diri sebagai ‘mirip’mirip’ kaum militer.
Katharine McGregor sebagai penulis buku ini melakukan kajian mendalam tentang bagaimana nalar pikir dikonstruksikan oleh persepsi-persepsi kesejarahan dari beberapa kelompok inti yang mempunyai wilayah kerja untuk memproduksi ingatan sejarah versi penguasa, yang di dalamnya berjalin kelindan antara kepentingan ideologis patriotik dan pelanggengan mitos-mitos kekuasaan militer. Melalui pengkajian simbol-simbol dan penelusuran mitos-mitos wiracarita yang diciptakan penulis buku ini relatif berhasil untuk melakukan pembongkaran dominasi historiografi yang selama Orde Baru telah menjadi narasi resmi.
Dari awal perlu dicatat, bahwa Ketika Sejarah Berseragam memusatkan perhatian utama pada militer sebagai pihak yang memberi gambaran tentang masa lalu Indonesia, dan bukan sebagai audiens dari gambaran tersebut. Museum, monumen, buku pelajaran dan upacara peringatan adalah beberapa gambaran tentang masa lalu Indonesia yang paling mencolok yang diciptakan oleh militer Indonesia. Namun yang paling penting ialah bahwa bentuk-bentuk peringatan ini merupakan catatan dari citra militer Indonesia tentang dirinya sendiri. (McGregor : 2008 : 26). Militer Indonesia masa Orde Baru sering digambarkan sebagia pihak yang tidak kenal kompromi dan yang memaksakan kehendak mereka pada warga negara melalui kekerasan. (McGregor : 2008 : 29). Melalui buku ini Mcgregor, meminjam bahasa Asvi Marwan Adam, seakan ‘menelanjangi’ berbagai aspek militerisasi sejarah Indonesia. Ia menjelaskan untuk apa dan menggunakan alat apa militerisasi itu dilakukan.
Buku yang berjudul aslinya History in uniform : Military Ideology and the Construction of Indonesia’s Past ini terdiri atas enam bab. Dalam bab pendahuluan penulis memperkenalkan ruang lingkup teoritis buku ini, pendekatan yang digunakan dalam menganalisis representasi atau gambaran tentang masa lampau, dan kesenjangan antara maksud pembuat representasi masa lampau ini dengan tafsiran oleh berbagai audiens terhadap representasi-representasi tersebut. Bab Pertama membahas riwayat penulisan sejarah di Indonesia. Pada bab ini dijelaskan tentang seberapa jauh militer mengendalikan gambaran sejarah selama rezim Orde Baru dan seberapa jauh militer dengan sadar menggunakan sejarah sebagai sumber legitimasi untuk dominasi mereka, dengan mengkaji pengambilalihan Museum Sejarah Monumen Nasional (Monas) oleh militer.
Bab Kedua membahas tentang ahli sejarah utama rezim Orde Baru, Nugroho Susanto, dan melacak asal usul Pusat Sejarah ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia), tempat Nugroho menjadi corong historiografi resmi. Pada bab ini juga dibahas tentang inisiatif Jenderal A.H. Nasution untuk mendirikan Pusat Sejarah ABRI pada tahun 1964, yang kelak menjadi think tank bagi pemerintah Orde Baru dalam intervensi penulisan sejarah Indonesia. Bab Ketiga menyajikan tentang pembuatan dan pembubuhan selanjutnya pada versi negara tentang usaha kudeta 1965 dalam serangkaian proyek sejarah. Selain itu dalam bab ini juga dibahas tentang langkah-langkah Orde Baru di bawah arahan Soeharto dan Nugroho Susanto menuju peringatan usaha kudeta sebagai komplotan komunis.
Bab Keempat mengkaji penggunaan sejarah oleh militer Indonesia untuk mengonsolidasi persatuan militer maupun untuk menanamkan keyakinan akan legitimasi dwifungsi, khususnya dalam generasi muda. Tujuan militer untuk melakukan hal-hal ini terutama bertumpu pada gambaran tentang peran militer dalam Perang Kemerdekaan 1945-1949.
Bab Kelima mengkaji dua proyek lain yag diilhami oleh seminar tahun 1927 tentang pengalihan nilai : Buku Sejarah Nasional yang diterbitkan pada akhir tahun 1970-an, dan mata pelajaran Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa (PSPB), yang ditetapkan oleh Nugroho dalam jabatannya sebagai Menteri Pendidikan di awal tahun 1980-an. Baik dalam buku maupun dalam mata pelajaran tersebut, Nugroho mengacu pada gambaran-gambaran perang kemerdekaan untuk meningkatkan rasa hormat pada militer dan nilai-nilai militer.
Bab Keenam mengkaji sejarah Pusat Sejarah ABRI (sekarang TNI) setelah wafatnya Nugroho Notosusanto pada tahun 1985. Bab ini membahas tema-tema baru dan tema-tema yang didaur ulang dalam tiga proyek utama pembuatan museum. Proyek pertama, yang dikerjakan dalam konteks munculnya generasi prajurit baru, adalah Museum Keprajuritan Nasional yang mengedepankan tradisi panjang keprajuritan di Indonesia. Dua proyek terakhir Pusat Sejarah ABRI, yaitu Museum Waspada Purbawisesa dan Museum Pengkhianatan PKI memusatkan perhatian dan ancaman yang terus menerus terhadap filsafat nasional dan karena itu merupakan ancaman terhadap bangsa, yang masing-masing datang dari “islam ekstrim“ dan komunisme.
Bab terakhir (Bab Kesimpulan), penulis mencoba merenungkan pembuatan dan isi ideologi Orde Baru dan implikasinya pada pemahaman terhadap rezim tersebut dan militer Indonesia. Penulis membandingkan upaya militer di Indonesia untuk mempertahankan legitimasinya melalui sejarah dengan upaya rezim-rezim militer lain yang serupa. Penulis mempertanyakan seotoriter apakah rezim memaksakan versinya tentang masa lalu dan peran apakah yang dipegang ahli sejarah lainnya dalam mendukung ataupun melawan representasi-representasi yang hegemonis ini. (McGregor : 2008 : 32-37).
F. Penutup
Dalam buku ini Katherine menguraikan dengan sangat baik sejarah yang ditulis pada masa rezim Orde Baru merupakan sejarah yang berseragam (sebagaimana judul buku). Maksud berseragam di sini ialah bahwa pandangan masyarakat terhadap sejarah telah diseragamkan oleh rezim dengan memandang bahwa militer ialah pahlawan yang harus dihormati, untuk itu dalam segala hal harus mengutamakan rasa hormat kepada militer yang telah memperjuangkan bangsa ini.
Sebagaimana Bambang Purwanto simpulkan, melalui Ketika Sejarah Berseragam, Katharine E. McGregor telah menyadarkan kita bahwa historiografi yang seragam sebagai produk dari interpretasi tunggal atas masa lalu hanya berguna untuk mempertahankan dominasi penguasa dan cenderung merugikan rakyat dan bangsa secara umum. Keadaan itu menjadi semakin sulit ketika ideologi militer mendominasi wacana konstruksi atas masa lalu itu. Historiografi bukan lagi sebagai representasi dari realita masa lalu, melainkan lebih menyerupai sebuah topeng, yang menutupi dan memberi citra yang berubah-ubah untuk melegitimasi kekuasaan. (McGregor : 2008 : xxvii).
Buku ini menjadi penting untuk melengkapi berbagai studi yang telah dilakukan mengenai satu periode sejarah Indonesia yang amat refresif, yaitu periode Orde Baru Soeharto. Salah satu pesan yang paling jelas dan diketahui umum adalah bahwa kajian terhadap historiografi Orde Baru yang telah diproduksi militer adalah bahwa ketika satu versi tunggal tentang masa lalu yang diperkenankan, sejarah bisa menjadi bagian dari sistem ideologis otoritarianisme. Studi Katherine ini menjadi pengingat bagi kita bahwa betapa bahayanya ‘perselingkungan’ yang dilakukan oleh sejarawan dengan penguasa yang otoriter dan lalim. (Budandoro, 2009). Buku Katherine McGregor ini merupakan sumbangan yang tepat dan esensial bagi perdebatan tentang konstruksi sejarah nasional. (Nordholt, 2008 : xvii).
DAFTAR PUSTAKA
SUMBER BUKU :
Adam, Asvi Marwan.. (2004). Pelurusan Sejarah Indonesia. Yogyakarta : Ombak.
_____________. ( 2006). Soeharto : File Gelap Sejarah Indonesia. Yogyakarta : Ombak
_____________. (2007). Seabad Kontroversi Sejarah. Yogyakarta : Ombak
_____________. (2009). Membongkar Manipulasi Sejarah, Kontroversi Pelaku dan peristiwa.. Jakarta : Kompas.
Burke, Peter. (1992). History and Social Theory. Ithaca New York : Cornell University. Dialihbahasakan oleh Mestika Zed dan Zulfahmi. (2001). Sejarah dan Teori Sosial. Yogyakarta: Penerbit Syarikat.
McGregor, Katharine. E. (2007). History in Uniform : Military Ideology and the Construction of Indonesia. Singapura : NUS Press. Dialihbahasakan oleh Djohana Oka. (2008). Ketika Sejarah Berseragam : Membongkar Ideologi Militer dalam Menyusun Sejarah Indonesia. Yogyakarta: Penerbit Syarikat.
Purwanto, Bambang, dan Adam, Asvi Marwan. (2013). Menggugat Historiografi Indonesia. Yogyakarta : Ombak.
Wood, Michael. (2005). Official History in Modern Indonesia : New Order Perceptions and Counterview. Leiden –Boston : Brill. Dialihbahasakan oleh Reza, Astrid dan Handayani, Abmi. (2013). Sejarah Resmi Indonesia Modern : Versi Orde Baru dan Para Penentangnya. Yogyakarta: Ombak.
SUMBER INTERNET :
Busandoro, Purnawan. (2009). Pilar Simbolik Penopang Kekuasaan Seoharto. Diunduh dari pada 14 Oktober 2015
Biografi Dr. Kate McGregor (2015) Di unduh dari shaps.unimelb.edu.au/about/staff/dr-kate-mcgregor pada 14 Oktober 2015
Membongkar Ideologi Militer Dalam Menyusun Sejarah Indonesia
Katherine E. McGregor
Review Buku Mata Kuliah :
Kajian Metodologi Sejarah
Dengan Dosen Pengampu :
Dr. Agus Mulyana, M.Hum
Oleh :
MOH. ZULHAM ALSYAHDIAN
(1503376)
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH
SEKOLAH PASCA SARJANA (SPS)
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA (UPI)
BANDUNG
2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar