BAB 1
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG PENULISAN
Sejatinya fungsi sekolah adalah : “Bukan Seberapa Cerdas Anda, melainkan BAGAIMANA ANDA MENJADI CERDAS”
( Howard Gardner )
Membangun sekolah, hakikatnya, adalah membangun keunggulan sumber daya manusia. Sayangnya banyak sekolah yang sadar atau tidak sadar, malah ‘membunuh’ banyak potensi siswa-siswa didiknya. (Chatib, 2009 : xxi). Fakta ini semakin nyata sebagaimana diungkapkan Andrias Harefa (2002 : 106-107) dalam salah satu bukunya :
Mulai TK sampai SMU dan SMK segala-galanya harus seragam. Pakaian, sepatu, peci, rambut, semua seragam (Winarno Surakhmad bahkan pernah mengatakan bahwa dalam mimpi pun mereka diharuskan seragam). Kepribadian diri dan ciri khas lingkungan tidak boleh ada lagi. Dan puncak penyeragaman dicapai pada tahun 1994. Sejak tahun itu semua anak Indonesia yang begitu beraneka ragam kemampuan belajar dan begitu bhineka kebudayaan, dipaksa mengikuti kurikulum yang mutlak sama di SMP dan SMU. Inilah tragedi nasional. (Siapa sih Menteri Pendidikan Kebudayaan yang sedemikian rabun mata budi dan jiwanya,sehingga ‘berani’ membuat keputusan menyeragamkan isi kepala seluruh anak-anak bangsa sementara Tuhan sendiri menciptakan mereka satu demi satu dengan keunikan tak tertandingi ?)
“Unik”, inilah kata kunci yang harus dipahami oleh semua pendidik di Indonesia. Tuhan telah menciptakan seluruh manusia dengan segala keunikan dan bakat yang dimilikinya (baca : Kecerdasan). Jadi, sebagaimana Thomas Amstrong tegaskan dalam tulisannya yang berjudul Natural Genius of Children :
Bahwa setiap anak adalah genius. Setiap anak dilahirkan dengan kemampuan tertentu. Setiap anak dilahirkan ke dunia dengan kekaguman, keingintahuan, spontanitas, vitalitas, fleksibilitas, dan banyak lagi kesenangan lain baginya. Anak kecil akan secara langsung menguasai sistem simbol yang rumit, otak cemerlang, kepribadian sensitif dan akselerasi terhadap setiap stimulasi, tanpa pendidikan secara formal. Dalam hal ini, adalah kewajiban orang tua di rumah dan guru di taman kanak-kanak untuk memelihara setiap kecerdasan anak sejak dini. Kegeniusan alam tersebut hendaklah dipelihara dan ditumbuhkembangkan secara optimal oleh orang dewasa. (Uno dan Kuadrat, 2009 : 41 - 42)
Sehingga dalam konteks ini, Bagi Gardner, tidak ada anak yang bodoh, yang ada adalah anak yang menonjol pada satu atau beberapa jenis kecerdasan. (Uno dan Kuadrat, 2009 : 42). Sekali lagi, tidak ada siswa-siswi yang bodoh, goblok, bloon, tolol, bego, tulalit serta berbagai citra negatif lainnya, yang biasanya disematkan kepada mereka (bahkan oleh guru dan orang tua mereka sendiri).
Secara lebih lugas Buckminster Fuller pernah mengatakan :
Semua bayi dilahirkan cerdas. 9.999 dari setiap 10.000 bayi itu dengan begitu cepat, dan sembrono, dijadikan tidak cerdas lagi oleh orang-orang Dewasa. (Nofrianto, 2008: 12).
Jadi apa yang salah dengan pendidikan kita ? Membicarakan masalah-masalah dalam dunia pendidikan kita, bagaikan mengurai benang kusut, sangat komplek. Akan tetapi, satu hal yang ingin menjadi fokus pembahasan kita adalah bagaimana kita (segenap stakeholder dunia pendidikan) memandang dan memperlakukan semua peserta didik kita. Pertama yang harus kita pahami adalah bahwa setiap peserta didik memiliki ‘keunikan’ dan ‘kecerdasannya’ masing-masing, seperti apa pun kondisinya. Langkah selanjutnya adalah bagaimana kita segenap stakeholder pendidikan (utamanya guru), bisa mengakomodir dan memfasilitasi segala jenis ‘keunikan’ dan ‘kecerdasan’ peserta didik tersebut.
Dalam hal ini, Multiple Intelligence (Kecerdasan Jamak/Kecerdasan Ganda) menjadi penting sebagai salah satu ‘instrumen’ yang bisa mengakomodir permasalahan di atas. Sebab, Multiple Intelligence (selanjutnya disingkat MI) memberi ruang bagi pendidik untuk bisa ‘melayani’ peserta didik dengan segala ‘keunikan’ dan ‘kecerdasannya’. Atau dalam bahasa Armstrong disebutkan :
..... karena pendekatan ini menyediakan bahasa yang kuat untuk menjelaskan proses pembelajaran dalam seluruh kekayaannya dan keragamannya. Jika MI merepresentasikan pelangi pembelajaran, berarti kejeniusan adalah guci emas di ujung pelangi. Saya berharap MI akan menghubungkan anda kembali pada suatu pemahaman mengenai “emas” yang berada di dalam masing-masing siswa dan hal itu akan memberikan susunan yang hidup untuk menjadikan harta karun yang kaya itu tersedia bagi murid-murid anda sehingga mereka dapat mencerahkan dunia di sekeliling mereka. (Armstrong, 2004 : 10).
Sehingga dengan ini terciptalah sebuah iklim pendidikan di sekolah yang lebih humanis, tanpa tekanan, tanpa paksaan, dan tentunya pembelajaran yang mengasyikkan lagi menyenangkan.
B. RUMUSAN MASALAH
Adapun rumusan masalah untuk teori Multiple Intelligence Howard Gardner dapat dirinci ke dalam beberapa pertanyaan sebagai berikut:
1. Bagaiman sejarah dan tokoh penemu teori Multiple Intelligence ?
2. Bagaimana Teori Utama Multiple Intelligence ?
3. Bagaimana Penerapan Multiple Intelligence Dalam Pembelajaran ?
4. Bagaimana evaluasi terhadap teori Multiple Intelligence dalam Pembelajaran ?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Sejarah Tokoh dan Teori Multiple Intelligence
Berbicara tentang MI, tidak bisa lepas dari sosok Howard Gardner. Gardner adalah tokoh pendidikan dan psikologi terkenal yang mencetuskan teori tentang kecerdasan majemuk atau multiple intelligences. Ia berkebangsaan Amerika yang lahir dengan nama lengkap Howard Earl Gardner pada tanggal 11 Juli 1943 di Scranton, Pennsylvania, dari pasangan Ralph Gardner dan Hilde Gardner.
Howard Gardner sekolah di Kingston, yang kemudian melanjutkan ke Universitas Harvard untuk persiapan berkarir di bidang hukum. Ia cukup beruntung memiliki guru privat sekelas Eric Ericson, seorang guru sejati pemuja ilmu pengetahuan handal, berkat jasanyalah Howard Gardner bisa mempunyai kesempatan belajar bersama orang-orang luar biasa seperti sosiolog Davied Risman, dan tokoh sosiolog Kognitive Jerome Bruner yang menciptakan Kognitive tentang manusia. Howard Gardner mengatakan “mereka telah membantuku menyelidiki sifat manusia, khususnya bagaimana manusia berpikir”.
Ketertarikan Gardner pada psikologi dan ilmu sosial mulai tumbuh dan tesis pertamanya tentang kemunduran masyarakat (retirement community) dan lulus dengan nilai Cum Laude. Howard Gardner kemudian bekerja dengan Jerome Bruner pada proyek terkenal MACOS. Selama masa ini dia mulai membaca karya Claude Levi-Strauss dan Jean Piaget lebih rinci. (Sudiapermana, 2009 : 78)
Gardner mendapat gelar sarjana muda dia bidang perhubungan sosial dari Universitas Harvard dengan predikat summa cumlaude. Menjelang lulus sarjana, tesisnya berjudul the Retirement Community in America. Pada tahun 1965-1966, ia mempelajari filsafat dan sosiologi di London School of Economic. Dia memperoleh gelar Ph.D dalam bidang sosial dan psikologi perkembangan dari Havard University pada tahun 1971, dengan tesisnya yang berjudul The Development of Sensitivity to Figural and Stylistic Aspect of Painting.
Howard Gardner memulai mengajar di Harvard School of Education pada tahun 1986, sementara ia bepergian melakukan penelitiannya di Cina. sepanjang tahun 1980 seluruh karirnya dihabiskan di Cambridge Massachusetts. Sejak tahun 1995, pekerjaannya difokuskan di Good Work Project yang terkenal sebagai Good Project. Dalam Proyek ini, Gardner termasuk salah satu pendirinya bersama dengan William Damon dan Mihaly Csikszentmihalyi. Selain itu Gardner merupakan Hobbs Profesor dari Kognisi dan Pendidikan pada Fakultas Sains dan Seni di Harvard Graduate School of Education, dan juga Professor Neurology di Boston University School of Medicine (http://en.wikipedia.org).
Ia adalah Co-Director (Wakil Direktur) pada Project Zero, sebuah kelompok penelitian (riset) di Harvard School Graduate School of Education. Dari Project Zero yang menelurkan teori MI, Gardner melanjutkannya dan mengembangkan aplikasi MI pada Project Spectrum. Project Spectrum adalah suatu program penilaian dan kurikulum untuk anak prasekolah yang bertujuan mengetahui kemampuan kecerdasan majemuk anak-anak tersebut. Pada Project Spectrum, anak yang senang musik akan diberi mata pelajaran menarik yang berkenaan dengan musik dengan menggunakan alat musik yang dikenal dan disukai oleh anak tersebut. Kemampuan logika, visual-spasial, dan kinestatik anak diuji dengan meminta mereka untuk membongkar dan memasang kembali objek-objek yang dapat dijumpai di rumah atau di sekolah, seperti handel pintu. Kecerdasan lain juga diuji dengan menggunakan teknik dan materi yang sesuai. (Gunawan, 2003 : 105-106)
Howard Gardner banyak terinspirasi oleh buku Jean Piaget dalam bidang [Psikologi Perkembangan]. Ia juga belajar Neuropsikologi dari Norman Geschwind dan belajar Psikolinguistik dari Roger Brown. Ia juga ‘berhutang’ teori kepada ahli saraf Michael Gazzaniga (Pasiak, 2005 : 19) dan temuan-temuan nuorosaintis Joseph LeDoux, seorang neurosaintis yang mengkhususkan diri pada riset soal rasa takut dan peranan amygdala dalam pengaturan emosi (Pasiak, 2006 : 23). Selain itu, Gardner juga dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran Jerome Bruner, Nelson Goodman, Davied Risman dan Claude Lévi-Strauss. Selama menyelesaikan gelar kesarjanaanya, Howard Gardner bekerja dengan ahli Psikolinguistik ternama yaitu Erik Erikson.
Pada tahun 1965 Howard Gardner mendapat gelar sarjana muda di bidang perhubungan sosial dari Universitas Harvard dengan predikat summa cumlaude. Menjelang lulus sarjana, tesisnya berjudul the Retirement Community in America. Pada tahun 1965-1966, ia mempelajari filsafat dan sosiologi di London School of Economic. Dia memperoleh gelar Ph.D dalam bidang Sosial dan Psikologi Perkembangan dari Harvard University pada tahun 1971, oleh karena tesisnya yang berjudul The Development of Sensitivity to Figural and Stylistic Aspect of Painting.
Howard Gardner memulai mengajar di Harvard School of Education pada tahun 1986, sementara ia bepergian melakukan penelitiannya di Cina, sepanjang tahun 1980 seluruh karirnya dihabiskan di Cambridge Massachusetts. Sejak tahun 1995, pekerjaannya difokuskan di Good Work Project yang terkenal sebagai Good Project. (http://id.wikipedia.org)
Teori MI bermula ketika pada tahun 1979, sebuah tim kecil peneliti di Harvard Graduate School of Education diminta oleh Bernard Van Leer Foundation dari Den Haag untuk melakukan penelitian mengenai topik besar : Sifat Alami dan Realisasi Potensi Manusia. Sebagai seorang anggota yunior dalam tim tersebut, Gardner sebenarnya tidak mendapatkan tugas yang terlalu istimewa. Tugasnya semata-mata sekedar menulis monograf mengenai apa yang telah diterima dalam ilmu pengetahuan manusia mengenai sifat alami manusia belajar.
Dalam penelitiannya, Gardner banyak dipengaruhi oleh pemikiran Jean Piaget yang memandang semua pemikiran manusia sebagai usaha keras ke arah pemikiran ilmiah ideal, dan pencetusan buah pemikiran lazim mengenai kecerdasan yang mengaitkannya dengan kemampuan menyediakan jawaban singkat secara cepat pada masalah yang menyangkut keterampilan linguistik dan logik. (Gardner, 2003 : 7-8).
Teori MI mendapatkan momentumnya melalui penerbitan bukunya pada tahun 1983 yang berjudul Frames of Mind : The Theory of Multiple Intelligences. Sejak inilah MI secara ‘resmi’ dimunculkan dan diperkenalkan kepada publik. Ketika menemukan teori tersebut (pada 1983), Gardner hanya mengenalkan Tujuh Kecerdasan, yaitu Linguistik, Kinestatis, Matematis-Logis, Spasial-Visual, Musik, Intrapersonal, dan Interpersonal. Namun dalam perkembangannya sampai 2002 (dan sekarang, 2015), Gardner sudah mengenalkan sembilan kecerdasan, dengan penambahan Kecerdasan Naturalis, dan Eksistensialis. (Chatib, 2014 : 138).
Sebagai seorang peneliti, Gardner menghasilkan karya tulis sebanyak 31 karya (ditulis sendiri maupun bersama dengan penulis lainnya), baik berupa buku-buku, maupun tulisan di jurnal-jurnal (http://www.gse.harvard.edu). Di antara karya-karya Gardner yang lain misalnya To Open Mind (1991), Creatings Mind : An Anatomy of Creativity Seen Through the Lives of Freud, Einstein, Picasson, Stravinsky, Eliot, Graham, and Gandhi (1994), Extraordinary Minds (1998), The Disciplined Mind : What all Students Should Understand (1999), Intelligenced Reframed : Multiple Intelligences for the 21st Century (1999), Multiple Intelligences : New Horizon in Theory and Practice (2006), serta masih banyak lagi tulisannya yang tersebar di beberapa buku dan jurnal.
Howard Gardner adalah penemu teori MI ini, akan tetapi di tangan Thomas Amstrong-lah, MI menjadi semakin banyak dikenal dan digunakan di berbagai lembaga pendidikan di seluruh dunia (Lihat buku Multiple Intelligences Around the World, 2009). Melalui karya-karyanya, Amstrong sangat berjasa mempopulerkan MI ke dalam dunia pembelajaran. Secara pribadi Gardner menyampaikan sebuah apresiasi terhadap Amstrong dalam kapasitasnya sebagai seorang pendidik dan penulis yang banyak membahas tentang MI. Sebagaimana pernyataannya dalam Kata Pengantar buku Armstrong (2013 : ix) :
“Thomas Armstrong yang datang dari latar belakang pendidikan khusus, adalah salah satu pendidik pertama yang menulis tentang teori tersebut [baca : MI]. Dia selalu muncul dalam pikiran saya karena keakuratn catatannya, kejelasan prosanya, berbagai macam referensinya, dan atas keramahan dari nada suaranya sebagai seorang guru”
Tidak hanya itu, Armstrong menurut Hernowo menjadikan MI-nya Gardner menjadi mudah dipahami. Sebagaimana ditegaskan di dalam bukunya Mengubah Sekolah (2005 : 92) :
Dengan jujur, saya ingin mengatakan di sini bahwa saya bisa memahami “maksud” Gardner bukan dikarenakan langsung membaca karya-karya Gardner. Saya memahami “maksud” Gardner lewat tangan kedua, yaitu lewat buku-buku karya Thomas Armstrong. Buku karya Armstrong berkaitan dengan kecerdasan majemuk benar-benar memudahkann saya dalam mengunyah teori Gardner. Saya merasakan sekali bahwa kekayaan bacaan Armstrong telah menjadikannya seorang penulis buku yang memiliki kosakata yang tiada tara. Buku-bukunya, rata-rata, disajikan secara berkisah. Selain itu, istilah-istilah riset yang cenderung “tinggi” yang diciptakan oleh Gardner diubah oleh Armstrong menjadi istilah-istilah yang familiar dan, itu tadi, “membumi”.
Thomas Armstrong, Ph.D, adalah seorang penulis yang memenangi penghargaan dan pembicara dengan pengalaman mengajar lebih dari 35 tahun dari tingkat dasar hingga pascasarjana. Armstrong telah menulis 14 buku yang di antara karyanya Neurodiversity : Discovering the Extraordinary Gifts of Autism, ADHD, Dyslexia, and Other Brain Differences, Multiple Intelligences in the Classroom, In Their Own Way : Awakening Your Child’s Natural Genius, 7 Kinds of Smart, The Myth of the A.D.D. Child, ADD/ADHD Alternatives in the Classroom, dan Awakening Genius in the Classroom.
Buku-bukunya telah diterjemahkan ke dalam 25 bahasa, termasuk Spanyol, Cina, Ibrani, Denmark, Rusia, dan Indonesia. Armstrong pun telah menulis di Ladies Home Journal, Family Circle (menerima penghargaan dari Educational Press Association dan National Association of Secondary Schools Principals), Parenting (Kolumnis tetap selama empat tahun), Mothering (editor pengisi), dan lebih dari 30 terbitan lainnya seperti majalah, jurnal, serta mengedit buku. Armstrong pun tampil di sejumlah televisi nasional, internasional, dan program radio, teramsuk “The Today Show” di NBC, CBS This Morning, CNN, BBC, dan “The Voice of America”. Artikelnya muncul dalam The New York Times, Washington Post, USA Today, Investor Daily Bisnis, Good Housekeeping, serta ratusan surat kabar lainnya dan majalah di Amerika. Dr. Armstrong telah memberikan lebih dari 800 seminar, presentasi lokakarya dan seminar di 42 negara bagian dan 16 negara dalam 19 tahun terakhir. (Armstrong, 2011)
Dalam konteks Indonesia, Munif Chatib sebagai orang yang pernah secara khusus belajar MI, adalah orang yang sangat berjasa dalam mempopulerkan MI dalam dunia pendidikan Indonesia (dengan tanpa menafikan orang lain yang juga melakukan yang sama). Sebut saja misalnya buku-buku yang pernah ditulisnya tentang MI ini antara lain : Sekolahnya Manusia : Sekolah Berbasis Multiple Intelligences di Indonesia (2009), Kelasnya Manusia : Memaksimalkan Fungsi Otak Belajar dengan Manajemen (2013), Gurunya Manusia : Menjadikan Semua Anak Istimewa dan Semua Anak Juara (2014). Selain itu terdapat juga penulis lain yang juga menulis tentang MI ini. Di antaranya : Munif Chatib dan Alamsyah Said (Sekolah Anak-anak Juara, 2014), Muhammad Alwi (Anak Cerdas dan Bahagia dengan Pendidikan Positif, 2014), P Suparno (Teori Inteligensi Ganda dan Aplikasinya di Sekolah : Cara Menerapkan Teori Multiple Inteligensi Howard Gardner), dan masih banyak lagi.
Di samping itu, di kalangan dunia akademis (kampus) juga sudah ada yang menulis tentang MI, baik yang dilakukan oleh mahasiswa S1, S2, S3, maupun oleh Dosen. Diantaranya Skripsi Megandarisari (2014) Pengaruh Strategi Pembelajaran Berbasis Multiple Intelligences Terhadap Motiavasi Berprestasi Siswa pasa Mata Pelajaran IPS di Kelas VIII SMPIT Al Qudwah, selanjutnya Disertasi Winny Liliawati (2014) yang berjudul Pengembangan Program Perkuliahan IPBA Terintegrasi yang Mengakomodasi Kecerdasan Majemuk Berorientasi Penanaman Karakter Diri dan Penguasaan Konsep, serta karya tulis lain yang kebanyakan dari karya tersebut tidak diterbitkan.
B. Teori Utama Multiple Intelligence
Howard Gardner bukanlah orang pertama yang mengemukakan tentang teori kecerdasan. Sebagaimana ditulis Agus Efendi (2005), paling tidak ada kurang lebih 14 jenis kecerdasan, yang di antaranya : Intelligence Quotient (Kecerdasan Intelligensi), Multiple Intelligence (Kecerdasan Berganda/Majemuk), Practical Intelligence (Kecerdasan Praktis), Interpreneurial Intelligence (Kecerdasan Berwiraswasta), Financial Intelligence (Kecerdasan Finansial), Adversity Intelligence (Kecerdasan Aspirasi), Power Intelligence (Kecerdasan Kekuatan), Imagination Intelligence (Kecerdasan Imajinasi), Intuition Intelligence (Kecerdasan Intuisi), Moral Intelligence (Kecerdasan Moral), Spiritual Intelligence (Kecerdasan Sprititual), dan Successful Intelligence (Kecerdasan Kesuksesan).
Bahkan beberapa dekade lalu, J.P. Guilford menciptakan Struktur Kecerdasan, sebuah model yang mengidentifikasi lebih dari 90 macam kapasitas intelektual. Rogert Sternberg juga telah mengembangkan Triarchic Theory of Intelligence, yang mengandung tiga bentuk kecerdasan. Baru-baru ini, Kecerdasan Emosi-nya Daniel Goleman dan Kecerdasan Moral-nya Robert Coles telah mendapatkan perhatian nasional. Semua teori ini sama-sama berkeyakinan bahwa kecerdasan merupakan kapasitas dengan banyak segi dan kompleks. Akan tetapi Model Gardner berbeda dengan teori lain dalam dimensi, basis ilmiah, dan implikasinya terhadap pendidikan (Hoerr : 2007 : 14). Yang membuat teori Gardner unggul adalah adanya dukungan riset dari berbagai bidang termasuk antropologi, psikologi kognitif, psikologi perkembangan, psikometri, studi biografi, fisiologi hewan dan neuroanatomi. (Armstrong, 2002 : 6).
MI tidak sekedar menjadi sebuah teori dalam ranah ilmu psikologi (utamanya psikologi perkembangan), ia menjadi sebuah ilmu yang juga diterapkan dalam ranah pedagogik (pendidikan). Fenomena MI sebagaimana Quantum Teaching-nya de Porter (Porter, 1999) yang sangat terkenal di Indonesia pada akhir abad 20.
Teori MI pada dasarnya sebagai upaya koreksi Gardner terhadap Intelligence Quotient (kecerdasan Intelegensi) nya Alfred Binet, yang secara historis merupakan teori kecerdasan pertama (Efendi, 2005 : 58). Bahkan menurut Daniel Muijs dan David Reynolds dalam bukunya Effective Teaching mengatakan, bahwa Gardner berhasil mendobrak dominasi teori dan tes IQ yang sejak 1905 banyak digunakan oleh para psikolog di seluruh dunia. (Chatib, 2014 : 132).
Sebagaimana ditegaskan oleh Gardner (2003 : 19-21) :
Rasa tidak puas terhadap konsep IQ dan dengan pandangan kecerdasan yang dibuat dalam unit cukup tersebar luas –orang dapat merenungkan, misalnya, hasil karya L.L. Thurstone, J.P.Guilford, dan kritik yang lain. Akan tetapi, dari sudut pandang saya, semua kritik ini tidak memadai. Seluruh konsep harus diragukan, sebenarnya, konsep itu harus diganti.
Pertanyaan yang coba diajukan Gardner adalah, apa sebenarnya pengertian dari Kecerdasan ? Untuk menjawab pertanyaan ini, Gardner dan rekan-rekannya di Project Zero melakukan pengamatan terhadap anak-anak dan orang dewasa yang mengalami kerusakan otak, sebagai berikut :
1. Orang-orang yang memiliki berbagai kemampuan
2. Kekuatan seseorang dalam satu bidang kinerja tidak sebanding dengan kekuatannya di ranah lain
3. Kelemahan di suatu ranah tidak memprediksi keberhasilan maupun kegagalan pada sebagian besar tugas-tugas kognitif lainnya.
4. Beberapa anak tampaknya menjadi lebih baik dalam berbagai hal, dan sebaliknya.
5. Dalam banyak kasus, kekuatan didistribusikan dengan tidak selalu lurus.
Selanjutnya melalui penelitian lima tahun kemudian, Gardner secara sistematis membaca penelitian dalam bidang biologi, sosial, dan budaya tentang alam dan realitas potensi manusia. Hal ini menghasilkan kerangka berpikir yang awalnya mengusulkan tujuh kecerdasan. Untuk memberikan landasan teoritis yang kuat bagi pernyataannya, Gardner menyusun “tes-tes” dasar tertentu, bahwa masing-masing kecerdasan harus memenuhi kriteria-kriteria untuk dianggap sebagai kecerdasan yang penuh dan bukan hanya bakat, keterampilan, atau kemampuan. Kriteria yang digunakannya meliputi delapan faktor berikut ini :
1. Isolasi potensi oleh kerusakan otak
2. Keberadaan orang-orang yang berbakat, genius, dan individu yang luar biasa lainnya
3. Sejarah perkembangan yang khas dan serangkaian prestasi (performance) yang memenuhi “persyaratan” untuk disebut sebagai ahli, yang dapat didefinisikan dengan baik.
4. Sebuah sejarah evolusi dan kemasukakalan evolusi
5. Dukungan dari temuan psikometrika (misalnya nilai interpersonal merupakan tugas relatif tidak berkorelasi dengan skor IQ).
6. Dukungan dari tugas-tugas psikologi yang bersifat eksperimental
7. Sebuah operasi inti yang dapat diidentifikasi atau serangkaian operasi
8. Kepekaan dan kerentanan terhadap pengkodean dalam sebuah sistem simbol (Armstrong, 2013 : 8)
Dari sinilah kemudian Gardner sampai pada sebuah kesimpulan tentang apa yang dimaksud dengan kecerdasan, yang berbeda dengan definisi kecerdasan yang telah berlaku sebelumnya. Dalam bukunya Frame of Mind, Gardner mengatakan bahwa :
Intelligence is the ability to find and solve problems and create products of value in one’s own culture.
Menurut Gardner, kecerdasan seseorang dapat dilihat dari kebiasaan seseorang terhadap dua hal. Pertama, kebiasaan seseorang menyelesaikan masalahnya sendiri (problem solving). Kedua, kebiasaan seseorang menciptakan produk-produk baru yang punya nilai budaya (creativity). (Chatib, 2014 : 132).
Setelah meneliti berbagai jenis kemampuan, kompetensi, dan keterampilan yang digunakan di seluruh dunia, Gardner akhirnya menyusun daftar tujuh kecerdasan dasar yang menurutnya bisa mencakup berbagai jenis kecerdasan. Selanjutnya, melalui bukunya Intelligenced Reframed : Multiple Intelligences for the 21st Century (1999), Gardner menambahkan 2 jenis kecerdasan lagi, yaitu Kecerdasan Naturalis dan Kecerdasan Eksistensialis. Oleh DePorter, Reardon dan Nourie (2004) disingkat dengan istilah SLIM N BIL + E, yaitu S (Spatial Intelligence), L (Linguistic Intelligence), I (Interpersonal Intelligence), M (Musical Intelligence), N (Natural Intelligence), B (Bodily-Kinesthetic Intelligence), I (Intrapersonal Intelligence), L (Logical-Mathematical Intelligence), plus E (Exsistensial Intelligence).
Pertama, Kecerdasan Spasial (Visual-Spatial Intelligence). Disebut Kecerdasan Visual atau Visual-Spasial, adalah kemampuan untuk membentuk dan menggunakan model mental. Orang yang memiliki kecerdasan jenis ini cenderung berpikir dalam atau dengan gambar dan cenderung mudah belajar melalui sajian-sajian visual, seperti film, gambar, video dan peragaaan yang menggunakan model dan slide. Mereka gemar menggambar, melukis, atau mengukir gagasan-gagasan yang ada di kepala dan sering menyajikan suasana serta perasaan hatinya melalui seni. Mereka sangat bagus dalam hal membaca peta dan diagram, menikmati upaya memecahkan jejaring yang rumit, serta menyusun atau memasang jigsaw puzzle. Kecerdasan spasial sering dialami dan diungkapkan dengan berangan-angan, berimajinasi, dan berperan. Kecerdasan ini dapat dilukiskan sebagai kegiatan otak kanan dan mempunyai beberapa karakteristik yang mirip dengan kecerdasan intrapersonal.
Kedua, Kecerdasan Linguistik (Linguistic Intelligence). Kecerdasan Linguistik mewujudkan dirinya dalam kata-kata, baik tulisan maupun lisan. Kadang, orang yang memiliki jenis kecerdasan ini juga memiliki keterampilan auditori (berkaitan dengan pendengaran) yang sangat tinggi, dan mereka belajar melalui mendengar. Mereka gemar membaca, menulis, dan berbicara, dan suka bercengkrama dengan kata-kata. Orang dengan Kecerdasan Linguistik yang tinggi dapat tumbuh dan berkembang dalam atmosfer akademik stereotipikal yang lazimnya tergantung pada mendengarkan kuliah (verbal), mencatat dan diuji dengan tes-tes tradisional. Mereka juga tampak mempunyai level kecerdasan lainnya yang tinggi karena perangkat penilaian kita biasanya mengandalkan respons-respons verbal, tak soal jenis kecerdasan yang akan dinilai.
Ketiga, Kecerdasan Inter-Personal (Interpersonal Intelligence). Kecerdasan Inter-Personal ditampakkan pada kegembiraan berteman dan kesenangan dalam berbagai macam aktivitas sosial, serta ketidaknyamanan atau keenganan dalam kesendirian dan menyendiri. Orang yang memiliki jenis kecerdasan ini menyukai dan menikmati bekerja secara berkelompok (bekerja kelompok), belajar sambil berinteraksi dan bekerja sama, juga kerap senang bertindak sebagai penengah atau mediator dalam perselisihan dan pertikaian, baik di sekolah maupun di rumah. Metode belajar bersama mungkin sangat baik dipersiapkan bagi mereka, dan boleh jadi para perancang aktivitas belajar bersama (pembelajara kooperatif) sebagai metode pengajaran juga mempunyai jenis kecerdasan ini. Sisi gelap Kecerdasan Interpersonal adalah tindak kecurangan atau penyelewengan, sedangkan sisi terangnya adalah empati. Inilah kecerdasan milik orang ekstrovert.
Keempat, Kecerdasan Musikal (Musical-Rhythmic Intelligence). Sebagian orang menyebut kecerdasan musikal sebagai Kecerdasan Ritmik atau Kecerdasan Musikal/Ritmik. Orang yang mempunyai kecerdasan jenis ini sangat peka terhadap suara atau bunyi, lingkungan, dan musik. Mereka sering bernyanyi, bersiul, atau bersenandung ketika melakukan aktivitas lain. Mereka gemar mendengarkan musik, mungkin mengoleksi kaset atau CD lagu, serta bisa dan kerap memainkan satu instrumen musik. Mereka bernyanyi dengan memakai kunci nada yang tepat dan mampu mengingat serta, secara vokal, dapat mereproduksi melodi. Mereka bisa bergerak secara ritmis ketika mengiringi suatu musik (atau mengiringi suatu aktivitas) atau membuat ritme-ritme serta lagu-lagu untuk membantunya mengingat fakta dan informasi lain.
Kelima, Kecerdasan Naturalis (Naturalistic Intelligence). Kecerdasan ini biasa disebut juga Kecerdasan Lingkungan, yaitu kemampuan seseorang untuk dapat mengerti flora dan fauna dengan baik, dapat membuat distingsi konsekuensial lain dalam alam natural, kemampuan untuk memahami dan menikmati alam, dan menggunakan kemampuan itu secara produktif dalam berburu, bertani, dan mengembangkan pengetahuan akan alam. Orang yang mempunyai Kecerdasan Lingkungan yang tinggi biasanya mampu hidup di luar rumah, dapat berkawan dan berhubungan baik dengan alam, mudah membuat identifikasi, serta klasifikasi tanaman dan binatang. Orang ini mempunyai kemampuan mengenal sifat dan tingkah laku binatang. Orang ini mempunyai kemampuan mengenal sifat dan tingkah laku binatang, biasanya mencintai lingkungan, dan tidak suka merusak lingkungan hidup.
Keenam, Kecerdasan Body-Kinestatik (Bodily-Kinesthetic Intelligence). Sering disebut sebagai kecerdasan kinestatik. Orang yang memiliki kecerdasan jenis ini memproduksi informasi melalui sensasi yang dirasakan pada badan mereka. Mereka tidak suka diam dan ingin bergerak terus, mengerjakan sesuatu dengan tangan atau kakinya, dan berusaha menyentuh orang yang diajak bicara. Mereka sangat baik dalam keterampilan jasmaninya, baik dengan menggunakan otot kecil maupun otot besar, dan menyukai aktivitas fisik dan berbagai jenis olahraga. Mereka lebih nyaman mengkomunikasikan informasi dengan peragaan (demonstrasi) atau pemodelan. Mereka dapat mengungkapkan emoksi dan suasana hatinya melalui tarian.
Ketujuh, Kecerdasan Intra-Personal (Intrapersonal Intelligence). Kecerdasan Intra-Personal tercermin dalam kesadaran mendalam akan perasaan batin. Inilah kecerdasan yang memungkinan seseorang memahami diri sendiri, kemampuan dan pilihannya sendiri. Orang dengan Kecerdasan Intra-Personal tinggi pada umumnya mandiri, tak bergantung pada orang lain, dan yakin dengan pendapat sendiri yang kuat tentang hal-hal yang kontroversial. Mereka memiliki rasa percaya diri yang besar serta senang sekali bekerja berdasarkan program sendiri dan hanya dilakukan sendiri. Kecerdasan Intra-Personal acapkali ditautkan dengan kemampuan intuitif. Kecerdasan jenis ini milik orang introvert.
Kedelapan, Kecerdasan Logis-Matematis (Logical-Mathematical Intelligence). Kecerdasan Logis-Matematis berhubungan dengan dan mencakup kemampuan ilmiah. Inilah jenis kecerdasan yang dikaji dan didokumentasikan oleh Piaget, yakni jenis kecerdasan yang sering dicirikan sebagai pemikiran kritis dan digunakan sebagai bagian dari metode ilmiah. Orang dengan kecerdasan ini gemar bekerja dengan data, mengumpulkan dan mengorganisasi, menganalisis, serta menginterpretasikan, menyimpulkan, kemudian meramalkan. Mereka melihat dan mencermati adanya pola serta keterkaitan antardata. Mereka suka memecahkan soal matematis dan memainkan permainan strategi seperti catur. Mereka menggunakan berbagai grafik, baik untuk menyenangkan diri (sebagai kegemaran) maupun untuk menyampaikan informasi kepada orang lain. Kecerdasan Logis-Matematis sering dipandang dan dihargai lebih tinggi daripada jenis-jenis kecerdasan lainnya, khususnya dalam masyarakat teknologi dewasa ini. Kecerdasan ini dicirikan sebagai kegiatan otak kiri, walaupun tidak seratus persen.
Kesembilan, Kecerdasan Eksistensial (Existential Intelligence). Kecerdasan ini menyangkut kemampuan seseorang untuk menjawab persoalan-persoalan terdalam eksistensi atau keberadaan manusia. Orang tidak puas hanya menerima keadaannya, keberadaannya secara otomatis, tetapi mencoba menyadarinya dan mencari jawaban yang terdalam. Pertanyaan itu antara lain, mengapa aku ada, mengapa aku mati, apa makna dari hidup ini, bagaimana kita sampai ke tujuan hidup. Kecerdasan ini tampaknya sangat berkembang pada banyak filsuf, terlebih filsuf eksistensialis yang selalu mempertanyakan dan mencoba menjawab persoalan eksistensi hidup manusia. (Gardner, 2003 : 36-48, Armstrong, 2002 : 18-24, Alwi, 2014 : 123-129).
Howard Gardner menyatakan bahwa setiap orang memiliki semua komponen (spectrum) kecerdasan, memiliki sejumlah kecerdasan yang tergabung yang kemudian secara personal menggunakannya dalam cara yang khusus. Dalam kehidupan nyata, kecerdasan-kecerdasan itu hadir dan muncul bersama-sama atau berurutan dalam suatu atau lebih aktivitas. (Naisaban, 2004 : 158).
Secara umum MI pada diri seseorang dapat dikembangkan. Ada beberapa prinsip yang dapat dijadikan pedoman untuk membantu mengembangkan MI yang dimiliki oleh peserta didik. Haggerty mengungkapkan beberapa prinsip untuk membantu mengembangkan MI, yaitu :
§ Pendidikan harus memerhatikan semua kemampuan intelektual. Oleh karena itu, dalam proses pembelajaran, seorang guru tidak boleh terpaku hanya pada satu jenis kemampuan saja, sebab satu jenis kemampuan saja tidak cukup untuk menjawab persoalan-persoalan manusia secara menyeluruh.
§ Pendidikan seharusnya individual. Setiap karakteristik yang dimiliki siswa mendapat perhatian dalam proses pembelajaran. Mengajar hanya dengan materi, cara, dan waktu yang sama bagi siswa yang memiliki kemampuan tertentu. Jelas tidak menguntungkan bagi siswa lain yang memiliki kemampuan berbeda. Dalam setiap proses pembelajaran guru harus memerhatikan perbedaan yang dimiliki oleh setiap siswa.
§ Pendidikan harus dapat memotivasi siswa untuk menentukan tujuan dan program belajar. Proses pembelajaran yang baik adalah memberi kebebasan kepada siswa untuk menentukan cara belajar sendiri sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya, siswa diberi kebebasan mengevaluasi hasil belajar sendiri.
§ Sekolah memberikan fasilitas kepada siswa untuk mengembangkan inteligensi ganda yang mereka miliki. Misalnya siswa membutuhkan peralatan olahraga, seni, atau musik untuk mengembangkan inteligensi. maka, sekolah menyediakan peralatan tersebut.
§ Evaluasi proses pembelajaran harus lebih kontekstual dan bukan hanya tes tertulis. Evaluasi kontekstual lebih menekankan para penilaian performa siswa dalam proses belajar apakah sesuai dengan kriteria yang diharapkan atau tidak.
§ Proses pembelajaran sebaiknya tidak dibatasi hanya dalam gedung sekolah. Konsep kecerdasan ganda memungkinkan proses pembelajaran dilaksanakan di luar gedung sekolah saja, tetapi bisa lewat masyarakat, kegiatan ekstra, atau kontak dengan orang lain. (Baharuddin & Wahyuni, 2008 : 153-154).
C. Penerapan Multiple Intelligence dalam Pembelajaran
Sebelum kita masuk pada tahapan pelaksanaan atau penerapan pembelajaran berbasis MI, ada beberapa hal yang perlu dipenuhi sebagai prasyarat sebuah lembaga pendidikan (sekolah) disebut sebagai lembaga yang berbasis MI. Diantaranya adalah :
1. Memandang dan memahami bahwa setiap anak yang dilahirkan adalah ‘juara ‘.
2. Paradigma mengajar adalah discovering ability, yaitu menjelajah kemampuan peserta didik.
3. Lingkungan belajar menyediakan akses yang mudah bagi seluruh peserta didik kepada seluruh sarana yang melibatkan tiap kecerdasan.
4. Merujuk kepada kurikulum sehingga silabus sekolah disusun sedemikian rupa guna memberikan kesempatan –kesempatan kepada setiap peserta didik untuk mengeksplorasi dan mengembangkan kecerdasan secara menyeluruh.
5. Prosedur standar operasional pelaksanaan kegiatan belajar mengajar dikontrol secara ketat dalam setiap kegiatan, proses rancang bangun strategi pengajaran berdasarkan identifikasi gaya mengajar.
6. Orang tua dan murid bersinergi sebagai mitra sekolah. Secara rutin dan terjadwal orang tua dan guru (elemen sekolah) bertemu untuk mengadakan quality time atau transformasi teori dan aplikasi MI.
7. Tawaran-tawaran kegiatan kurikulum, meliputi pengelompokan–pengelompokan lintas usia, sehingga murid melakukan observasi dan bekerja bersama murid lain yang berbeda-beda kemampuannya.
8. Murid mengembangkan keterampilan belajar mandiri dengan jalan memulai dan merampungkan proyek-proyek mereka sendiri.
9. Minat dan bakat murid diidentifikasi dan diarahkan. Murid memperoleh kesempatan untuk berpartisipasi dalam program ekstrakurikuler, bimbingan, dan magang jangka panjang yang menjadi pilihan mereka.
10. Alat penilaian kecerdasan bersifat adil dengan proses penilaian dilaksanakan secara autentik berdasarkan proses belajar yang sedang berlangsung. (Chatib & Said, 2014, 103).
Selanjutnya, dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas, sebagai upaya “memasukkan” informasi kepada peserta didik, jika gaya kecerdasan peserta didik yang dominan itu disamakan dengan gaya guru mengajar, otomatis informasi yang akan diberikan lebih mudah tersampaikan. Misalnya, anak yang kinestatik diajar dengan gerak/olah tubuh, atau anak yang memiliki kecerdasan musik, diajar seni musik.
Berikut ini tahapan-tahapan pelaksanaan MI di kelas/sekolah :
1. Pemahaman konsep MI pada sekolah (guru, kepala sekolah, yayasan, warga sekolah, dan stakeholder lainnya). Ini sangat penting untuk mencegah terjadinya miskonsepsi.
2. Observasi MI. Jika sudah disepakati dan konsep itu sudah dipahami oleh lembaga, guru, wali murid, kepala sekolah dan yayasan, tahap awal dilakukan observasi MI pada peserta didik. Caranya bisa berupa individual. Interviewer melakukan observasi individu, tidak dalam bentuk klasikal. Konten observasinya adalah kebiasaan siswa dalam beberapa aspek. Hal ini penting untuk melihat kecendrungan kecerdasan siswa sehingga dapat disesuaikan gaya dengan gaya mengajar guru. Selain itu, hasilnya dapat digunakan untuk pembagian kelas sesuai dengan kecendrungan kecerdasan. Juga berguna untuk evaluasi dan riwayat kecerdasan untuk riset selanjututnya (keajekan dan perubahan) serta panduan untuk memilih jurusan di perguruan tinggi. Bagi orang tua, Observasi MI dapat digunakan sebagai katalisator (pemantik kreativitas anak) dan fasilitator (sumber informasi untuk orang tua dan anak tentang kebiasaan yang perlu dikembangkan). Dengan begitu, dapat mempercepat anak menemukan kondisi akhir terbaiknya “jadi apa dia”.
3. Pembagian kelas sesuai kecendrungan kecerdasan. Setelah hasil didapatkan, kita dapat membagi kelas berdasarkan kecendrungan kecerdasan mereka masing-masing. Disarankan jangan terlalu kecil, misalnya dua atau malah satu jenis kecerdasan perkelas. Sebab tidak ada kecerdasan yang berjalan sendirian, dan setiap kecerdasan itu dapat dikembangkan sampai tingkat optimalisasi tertentu. Direkomendasikan menggunakan empat atau lima kecerdasan dalam satu kelas (tanpa mengabaikan lainnya).
4. Membentuk tim kecil yang bertugas untuk mengawal jalannya MI di kelas. Tim kecil itu biasa dinamakan “Teacher –Giude”. Mereka dibekali pemahaman MI yang cukup dan bertanggung jawab terhadap pelaksanaan MI di kelas. Misalnya, dalam sebuah sekolah ada enam puluh orang guru, Teacher-Guide dapat dibuat sebanyak 12 orang atau 10 orang. Mereka diberi tambahan pemahaman lebih dibandingkan guru-guru lain dan sebaiknya dipilih dari guru senior di sekolah perbidang studi atau serumpun. Satu orang harus mengawal empat orang lainnya atau lima orang lainnya, dalam pembelajaran lesson-plan atau rencana pengajaran (yang berbasis MI).
5. Pembuatan Lesson-Plan dan stategi mengajar. Lesson Plan yang sudah dibuat, sebelum ditandatangani kepala sekolah dan dilaksanakan, dikonsultasikan dengan Teacher Guide.
6. Praktik Pengajaran Lesson-Plan di kelas oleh guru dan supervisi. Praktek Lesson- Plan bisa dilakukan dengan dua tahap, yaitu :
a. Melakukan semacam Lesson study. Satu guru mengajar dengan lesson plan yang sudah dibuat dan diobservasi bersama-sama oleh beberapa guru dalam satu kelas. Setelah selesai mengajar, mereka bisa melakukan refleksi bersama-sama. Ini adalah tahap awal pelaksanaan sehingga terjadi pembelajaran secara bersama-sama.
b. Lesson-Plan dan implementasinya di kelas, perlu disupervisi oleh kepala sekolah dan mungkin dibantu oleh yang ditunjuk (bisa Teacher Guide atau wakil kepala sekolah atau lainnya, tergantung sekolahnya). Yang terpenting yang mensupervisi harus, mengetahui teori MI.
7. Sistem evaluasi/penilaian. Karena konsep pembelajaran, pengajaran, lesson plan dan desain mengajar adalah MI, maka penilaiannya juga harus menggunakan penilaian yang berbasis atau mendukung MI. Penilaian yang berbasis MI adalah penilaian autentik, bisa berupa penilaian portofolio atau penilaian lainnya. (Alwi, 2014 : 139-143). Penilaian autentik tersebut bisa juga berupa tes referensi kriteria (criterian-referenced, tes yang kemudian digunakan untuk menerjemahkan nilai angka menjadi statement untuk menunjukkan hasil atau perkembangan tingkah laku, tes uji coba dengan perbandingan (benchmarked), atau ipsative (yaitu yang membandingkan seorang siswa dengan kinerja masa lalunya sendiri). (Armstrong, 2013 : 138).
D. Evaluasi Multiple Intelligence
Salah satu dari perkembangan teori kecerdasan MI yang menarik adalah pengaruhnya di dunia internasional. Teori MI kini telah menjadi bagian dari praktek pendidikan di banyak negara di dunia. Dalam beberapa kasus, pengaruhnya bahkan sampai pada tingkat pemerintah, di mana MI dimasukkan ke dalam peraturan-peraturan pendidikan nasional di beberapa negara. Dalam beberapa kasus lainnya, pengaruhnya bahkan masuk hingga ke wilayah-wilayah kecil, di mana sekolah-sekolah dan guru-guru independen menggunakan teori tersebut dan menerapkannya ke dalam beberapa aturan, sesuai dengan budaya masing-masing. (Amstrong, 2013 : 213).
Pada tahun 2009, sebagaimana dalam Multiple Intelligences Around the World disebutkan, MI sudah digunakan di beberapa negara, semisal Cina, Makau, Jepang, Korea Selatan, Norwegia, Inggris, Irlandia, Rumania, Turki, Argentina dan Kolombia, serta tentunya Amerika Serikat. (Gardner, et.al, : 2009). Lebih jauh upaya yang dilakukan Kerangka Kerja Kurikulum Nasional India untuk Pendidikan Sekolah (India’s National Cucriculum for School Eduation) mewajibkan guru mengenal konsep-konsep kecerdasan Multipel. Hal yang sama dilakukan di Bangladesh, dengan dukungan dari UNICEF, pemerintah mencanangkan proyek Pendekatan Distrik Intensif bagi Seluruh Pembelajar (Interview District Approach for All Learner) di tahun 1990-an. Sebagai bagian dari upaya ini, puluhan ribu guru mendapatkan pelatihan kecerdasan multipel melalui Cara Belajar Mengajar Ganda Berinisiatif (Multiple Ways of Teaching and Learning).
Begitu halnya di Jenewa Swiss, IB, International Baccalaureate Organization, yang menawarkan program-program pembelajaran kepada 600.000 siswa di 128 negara, baru-baru ini mengakui peran Gardner yang berpengaruh dalam memberikan pendekatan pada pembelajaran : “Howard Gardner telah berpengaruh dalam mengubah pandangan-pandangan mengenai pembelajaran dan cara kita belajar. Akses dan hak di dalam IB sekarang jauh luas daripada sebelumnya. IB mengakui bahwa semua siswa memiliki kekuatan dan kelemahan masing-masing, yang harus didukung dengan sebuah cara strategi agar dapat menemukan potensi mereka”. (Amstrong, 2013 : 214). Teori struktur kognitif Gardner telah diadopsi dan diimplementasikan di 6 benua, mulai dari tingkat Taman Kanak-kanak sampai Perguruan Tinggi, selaras dengan keanekaragaman populasi siswa terkait dengan kekhasan, kebutuhan khusus, usia remaja dan peserta didik dewasa. Popularitas teori Gardner mencerminkan kenyataan bahwa ia menyediakan struktur formal untuk keyakinan yang sudah ada terhadap pengetahuan dan nilai-nilai. (Kuswana, 2011 : 175).
Dalam konteks Indonesia, MI sudah mulai banyak dilirik oleh berbagai kalangan dalam dunia pendidikan. Hal ini bisa terlihat dari banyaknya karya (baik berupa artikel, makalah maupun buku) yang menulis tentang MI. Begitu juga sudah banyak sekolah-sekolah yang menggunakan metode MI dalam kegiatan pembelajarannya. Paling tidak tercatat sudah ada 95 sekolah di Indonesia yang tersebar di berbagai kota (daftar terlampir), baik dari jenjang Pre-School, Play Group, TK, SD, SMP bahkan SMA, yang menggunakan kurikulum berbasis MI. (Chatib & Said, 2012, 183-186).
Tidak berlebihan ketika Amstrong (2002 : 18) mengatakan, bahwa :
Model kecerdasan baru ini telah memperoleh pengakuan dunia sebagai salah satu teori belajar dan kecerdasan yang paling inovatif di abad ke-20. Teori MI Gardner ini memberikan landasan yang kuat untuk mengidentifikasi dan mengembangkan spektrum kemampuan yang luas di dalam diri setiap anak.
Satu hal yang istimewa, MI sebagai sebuah metode pembelajaran juga memberi tempat bagi siswa dengan latar belakang ‘berkebutuhan khusus’. Bahkan Armstrong (2013 : 158) menegaskan bahwa kita tidak perlu menganggap anak berkebutuhan khusus dengan istilah-istilah seperti kekurangan, gangguan, dan penyakit. Sebaliknya, tegas Armstrong, kita dapat mulai bekerja dengan parameter-parameter dari sebuah paradigma pertumbuhan. Teori MI memberikan sebuah paradigma pertumbuhan untuk membantu siswa berkebutuhan khusus di sekolah. Paradigma ini juga mengenal kesulitan-kesulitan atau ketidakmampuan, tetapi menganggap siswa-siswa dengan kebutuhan khusus sebagai individu yang sehat atau “neuwodiverse” (memiliki keragaman saraf). Teori MI menunjukkan bahwa “ketidakmampuan/kesulitan belajar,” misalnya dapat terjadi di semua delapan kecerdasan. Yaitu contohnya, selain pada siswa dengan disleksia (kelainan linguistik) dan dyscalculia (kelainan logis-matematis), beberapa memiliki prosopognasia, atau kesulitan khusus mengenali wajah (kelainan spasial), ideomotor dysparaxia, atau kesulitan menjalankan perintah motorik tertentu (kelainan kinestatik-tubuh), dysmusia, atau kesulitan membawakan sebuah lagu (kelainan musik), dysemia, atau kesulitan membaca sinyal-sinyal/tanda-tanda sosial nonverbal, serga gangguan kepribadian tertentu (kelainan interpersonal), dan kesulitan berhubungan baik dengan hewan peliharaan atau bekerja di kebun (kelainan alam).
Teori MI dengan demikian memberikan sebuah model untuk memahami seorang autis yang genius, yang tidak dapat berkomunikasi dengan jelas dengan orang lain namun dapat bermain musik di tingkat profesional, seorang disleksia yang memiliki kemampuan khusus menggambar atau mendesain, siswa dengan “kesulitan perkembangan” yang dapat berakting dengan sangat baik di atas panggung, atau siswa dengan cerebral palsy (kelumpuhan otak) yang memiliki kegeniusan dan kepintaran khusus linguistik dan logis matematis.
Berbagai kelebihan dan capaian yang diperoleh MI tersebut bukan berarti sepi dari kritik. Ada beberapa kritik dari beberapa pihak yang langsung disampaikan kepada Gardner. Sebagaimana pengakuan Gardner :
Many individuals have pointed out that my list of intelligences resembles list put out by researchers interested in learning styles, working styles, personality styles, human archetypes, and the like, and asked what is new in my formulation.
Selanjutnya, menurut Gardner, beberapa kritik yang simpatik disampaikan juga kepadanya akan tetapi bukan menyangkut keberadaan beberapa kecerdasan tapi mengkritiknya karena sifatnya deskriptif murni (purely descriptive). (Efendi, 2005 : 161-162).
Dalam kesempatan yang lain, Amstrong mencatat paling tidak ada 3 sasaran kritik yang berhasil dirangkum, yang disampaikan oleh berbagai pihak terhadap aplikasi teori MI di dalam pembelajaran. Pertama, teori MI memiliki sedikit dukungan empiris. Kebanyakan dari mereka yang mengajukan komplain mengenai teori kecerdasan MI datang dari komunitas psikomotor atau komunitas tes. Sebagai contoh, mereka berpendapat bahwa literatur mengenai tes kecerdasan MI tidak memiliki dukungan terhadap gagasan delapan kecerdasan otonom, melainkan melebih-lebihkan dukungan pada konsep kecerdasan tunggal yang utuh. Kedua, tidak ada dukungan penelitian solid yang menunjukkan MI hadir di dalam ruang kelas. Kecerdasan MI tidak memiliki dukungan empiris (atau untuk memperjelas konteks kontemporernya, kecerdasan MI tidak didasarkan pada penelitian). Namun demikian, dalam hal ini kita tidak berfokus pada teori murninya melainkan pada penerapan-penerapan praktisnya di sekolah. Ketiga, teori MI melakukan pembodohan di dalam kurikulum untuk membuat siswa percaya bahwa mereka pintar. Beberapa kritikus menyalahkan para praktisi MI karena menggunakan penerapan-penerapan MI yang dangkal. (Amstrong, 2013 : 204-209).
Lebih jauh lagi, Sternberg (2006 : 474), mengutip beberapa ilmuwan mempertanyakan modularitas ketat teori Gardner. Mereka membandingkannya dengan fenomena pemfungsian kognitif spesifik pada orang-orang terpelajar yang menderita autistik. Mereka ini memiliki kelemahan besar dalam kemampuan sosial dan kognitif, namun sangat tajam pada satu bidang khusus yang sempit. Mereka menyatakan bahwa fenomena ini meruntuhkan bukti bagi inteligensi moduler. Dengan sempitnya kemampuan memori jangka-panjang meski memiliki kecerdasan spesifik, orang-orang ini mungkin tidak sungguh-sungguh pintar. Oleh karena itu, bisa jadi inteligensi merupakan modul-modul yang fleksibel dan cair, artinya tidak terlalu rigid dan tidak terlalu indefenden satu sama lain.
Dalam konteks pendidikan di Indonesia, ada beberapa “PR” ketika kita akan melakukan atau mengaplikasikan teori MI dalam dunia pendidikan. Pertama, beberapa elemen sistem pendidikan kita masih kurang sejalan dengan “sistem pendidikan yang proporsional”. Kedua, pemahaman yang salah tentang makna sekolah unggul di Indonesia. Ketiga, desain kurikulum yang masih sentralistis. Keempat, penerapan kurikulum yang tidak sejalan dengan evaluasi hasil akhir pendidikan. Kelima, proses belajar yang menggunakan kreativitas tingkat tinggi. Dan keenam, proses penilaian hanya dilakukan secara parsial pada kemampuan kognitif yang terbesar, masih belum menggunakan penilaian autentik secara komprehensif. (Chatib, 2009 : 85 - 87)
Di atas segalanya, MI menawarkan sebuah paradigma baru dalam dunia pendidikan (di Indonesia khususnya). Paradigma baru dimana praktek-praktek pembelajaran di sekolah-sekolah seharusnya berlangsung secara aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Semua anak adalah anak yang berbakat. Tiap-tiap anak terlahir ke dunia ini dengan potensi yang unik, yang jika dipupuk dengan benar, dapat turut memberikan sumbangan bagi dunia yang lebih baik. Tantangan terbesar bagi para orang tua adalah menyingkirkan batu besar yang menghalangi jalan mereka dalam menemukan, mengembangkan, dan merayakan anugerah yang mereka miliki itu.
Teori Gardner tentang MI telah menyediakan guru kerangka kerja yang kuat untuk mendorong minat guru agar rmenggunakan taktik dan strategi pengajaran dalam mendesain mata pelajaran dan tugas-tugas yang mampu memperkaya perkembangan intelektual atau pemikiran seluruh siswa. Teori ini membantu guru memilah pengajaran dengan memilih taktik dan strategi yang paling membantu meningkatkan kemampuan siswa pada umumnya. Dengan memungkinkan guru melihat lebih jelas bahwa perbedaan pembelajaran siswa lebih dari sekedar perbedaan cara, gaya, tingkah, ataupun bakat, teori Gardner mempermudah guru memilih cara mengajar.
MI terdiri atas 9 jenis kecerdasan. Pertama, Kecerdasan Spasial (Spatial Intelligence). Kedua, Kecerdasan Linguistik (Linguistic Intelligence). Ketiga, Kecerdasan Inter-Personal (Interpersonal Intelligence). Keempat, Kecerdasan Musikal (Musical Intelligence). Kelima, Kecerdasan Body-Kinestatik (Bodily-Kinesthetic Intelligence). Keenam, Kecerdasan Body-Kinestatik (Bodily-Kinesthetic Intelligence). Ketujuh, Kecerdasan Intra-Personal (Intrapersonal Intelligence). Kedelapan, Kecerdasan Logis-Matematis (Logical-Mathematical Intelligence). Kesembilan, Kecerdasan Eksistensial (Exsistencial Intelligence).
Howard Gardner menyatakan bahwa setiap orang memiliki semua komponen (spectrum) kecerdasan, memiliki sejumlah kecerdasan yang tergabung yang kemudian secara personal menggunakannya dalam cara yang khusus. Dalam kehidupan nyata, kecerdasan-kecerdasan itu hadir dan muncul bersama-sama atau berurutan dalam suatu atau lebih aktivitas.
Dalam pelaksanaan perbelajaran di kelas, jika gaya kecerdasan peserta didik yang dominan itu disamakan dengan gaya guru mengajar, informasi yang akan diberikan lebih mudah tersampaikan. Karena bagi peserta didik, informasi keilmuan yang disampaikan yang sesuai dengan kecerdasan dan gaya belajar yang dimilikinya, akan lebih update dan menarik, sehingga proses belajar mengajar menjadi mudah dan menyenangkan.
Sebagai sebuah teori pembelajaran baru, patut kiranya MI menjadi alternatif pembelajaran untuk pengembangan dunia pendidikan di Indonesia. Sebagai upaya untuk menjadikan pendidikan di Indonesia yang lebih aktif, efektif, kreatif, inovatif, dan menyenangkan. Semoga.
DAFTAR BACAAN
SUMBER BUKU :
Alwi, Muhammad. (2014). Anak Cerdas Bahagia dengan Pendidikan Positif. Jakarta : Noura Books.
Amstrong, Thomas. (2000). In Their Own Way : Discovering and Encouraging Your Child’s Multiple Intelligences. Dialihbahasakan oleh Rina Buntaran. (2002). Setiap Anak Cerdas : Panduan Membantu Anak Belajar dengan Memanfaatkan Multiple Intelligencesnya. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama
______________. (1999). 7 Kinds of Smart : Discovering and Identifying Your Multiple Intelligences – Revised and Uptdated with Information on Two New Kindsof Smart ). Dialihbahasakan oleh T Hermaya (2002). Seven Kind of Smart Menemukan dan Meningkatkan Kecerdasan Berdasarkan Teori Multiple Intelligences. Bandung : Kaifa.
______________. (2004). Multiple Intelligences in the Classroom. Virginia : Association for Supervision and Curiculum Development (ASCD). Dialihbahasakan oleh Yudhi Murtanto. Sekolah Para Juara : Menerapkan Multiple Intelligences Di Dunia Pendidikan. Bandung : Kaifa.
______________. (2004). Multiple Intelligences in the Classroom Third Edition. Virginia : Association for Supervision and Curiculum Development (ASCD). Dialihbahasakan oleh Dyah Widya Prabaningrum. Kecerdasan Multipel di Dalam Kelas Edisi Ketiga. Jakarta Barat : PT Indeks.
______________. (2000). Awakening Genius in the Classroom. Dialihbahasakan oleh Margaritifera R.L. Nugroho. Membangkitkan Kegeniusan di Dalam Kelas. Batam : Interaksara.
______________. (2006). The Best School : How Human Development Research Should Inform Educational Practial. Virginia : Association for Supervision and Curiculum Development (ASCD). Dialihbahasakan oleh Lovely dan Mursid Widjanarko. The Best School : Mendidik Siswa Menjadi Insan Cendekia Seutuhnya. Bandung : Kaifa.
Baharuddin, Wahyuni, Esa Nur. (2008). Teori Belajar dan Pembelajaran. Jogjakarta : Ar Ruzz Media.
Chatib, Munif. (2009). Sekolahnya Manusia : Sekolah Berbasis Multiple Intelligences di Indonesia. Bandung : Kaifa.
____________. (2014). Gurunya Manusia : Menjadikan Semua Anak Istimewa dan Semua Anak Juara. Bandung : Kaifa.
Chatib, Munif, Said, Alamsyah (2014). Sekolah Anak-Anak Juara : Berbasis Kecerdasdan Jamak dan Pendidikan Berkeadilan. Bandung : Kaifa.
DePorter, Bobbi, Reardon, Mark, Nourie, Sarah Singer. (1999). Quantum Teaching : Orchestrating Student Succes. Boston : Allyn and Bacon. Dialihbahasakan oleh Ary Nilandari. (2004). Quantum Teaching : Mempraktekkan Quantum Learning di Ruang-ruang Kelas. Bandung : Kaifa
Efendi, Agus. (2005). Revolusi Kecerdasan Abad 21 : Kritik MI, EI, SQ, AQ dan Succesful Intelligence atas IQ. Bandung : Alfabeta.
Gardner, Howard. (1993). Multiple Intelligences. Dialihbahasakan oleh Drs. Alexander Sindoro. (2003). Kecerdasan Majemuk : Teori dalam Praktek. Batam : Interaksara.
Gardner, Howard, Chen, Jie-Qi, Moran, Seana. (2009). Multiple Intelligences Around the World. United States of America : Jossey-Bass Imprint
Gunawan, Adi W. (2003). Born Be a Genius. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama
Gunawan, Adi W. (2006). Genius Learning Strategy : Petunjuk Praktis untuk Menerapkan Accelerated Learning. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama
Harefa, Andrias. (2002). Sekolah Saja Tidak Pernah Cukup. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Hernowo. (2005). Mengubah Sekolah : Catatan-catatan Ringan Berbasiskan Pengalaman. Bandung : Mizan Learning Center (MLC).
Hoerr, Thomas R. (2007). Buku Kerja Multiple Intelligences. Bandung : Kaifa.
Kuswana, Wowo Sunaryo. (2011). Taksonomi Berpikir. Bandung : PT Remaja Rosdakarya
Naisaban, Ladidlaus. (2004). Para Psikolog Terkemuka Dunia: Riwayat Hidup, Pokok Pikiran, Dan Karya. Jakarta: Grasindo.
Nofrianto, Sulung. (2008). The Golden Teacher. Depok : PT Lingkar Pena Kreativa.
Pasiak, Taufiq. (2005). Revolusi IQ/EQ/SQ : Antara Neurosains dan Al Qur’an. Bandung : Mizan.
____________. (2006). Manajemen Kecerdasan : Memberdayakan IQ, EQ, dan SQ Untuk Kesuksesan Hidup. Bandung : Mizan.
Sudiapermana, Elih. (2009). Pendidikan Nonformal dan Infomral : Tokoh dan Pemikiran Jilid 1. Bandung : EDUKASIA Press.
Sterberg, Robert J. (2006). Cognitive Psychology. CA : Thomson Higher Education 10 Davis Drive. Dialihbahasakan oleh Yudi Santoso, S.Fil. Psikologi Kognitif. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Uno, Hamzah B., Umar, Masri Kudrat. (2009). Mengelola Kecerdasan dalam Pembelajaran : Sebuah Konsep Pembelajaran Berbasis Kecerdasan. Jakarta : Bumi Aksara
SUMBER INTERNET :
http://en.wikipedia.org/wiki.Howard_Gardner. diundah pada tanggal 1 Nopember 2015
http://id.wikipedia.org/wiki.Howard_Gardner. diundah pada tanggal 1 Nopember 2015
https://www.gse.harvard.edu/faculty/howard_gardner diundah pada tanggal 1 Nopember 2015
Lampiran :
Contoh Lesson Plan
Nama Guru : Moh. Zulham Alsyahdian, S. Hum
Sekolah : SD Antah Berantah
Bidang Studi : Sains
Sains : II/2
Judul : Gaza oh Gaza ...
Materi : Bagian Tubuh Manusia
Kompetesi Dasar : Kemampuan Mengenal dan Memahami Bagian-bagian Tubuh Manusia
Hasil Belajar : Siswa mampu mengenal dan memahami bagian-bagian tubuh manusia yang penting
Indikator :
1. Siswa dapat menunjukkan dan menyebutkan bagian-bagian tubuh manusia
2. Siswa dapat menyebutkan fungsi bagian-bagian tubuh
3. Siswa dapat menjawab soal ulangan harian
Alokasi Waktu : 2 X 30 menit (2 X pertemuan)
Prosedur Aktivitas :
Pertemuan 1
Alpha Zone :
Siswa menyanyikan lagu perjuangan dan kepahlawanan
Scene Setting :
1. Guru menyebarkan foto-foto korban anak-anak dalam trageidi Palestina
2. Guru menceritakan kejadian Palestina secara singkat
3. Guru mengajak siswa untuk menjadi tim penyelamat korban Palestina
Strategi Aktivitas:
1. Observasi pendataan
2. Membangun/menyusun
3. Ulangan harian
4. Kliping Palestina
Prosedur Aktivitas :
1. Siswa dibagi kelompok
2. Tiap kelompok diinstruksika untuk menyelamatkan anggota tubuh anak-anak Palestina
3. Siswa mendata dengan menuliskan bagian-bagian tubuh yang telah ditemukan
4. Siswa menyusun anggota tubuh yang berceceran menjadi manusia utuh
Proyek :
Kliping tentang Palestina
Membuat cerita pengalaman (menyenangkan atau menyedihkan) bergantung pada cerita pengalaman yang dibuat sebelumnya. Jika cerita yang dibuat sebelumnya adalah menyenangkan, proyek siswa adalah membuat cerita pengalaman yang menyedihkan, dan sebaliknya. Agar lebih bersemangat, guru akan memberikan hadiah jika cerita pengalamannya bagus dan memenuhi kriteria penulisan guru
Pertemuan 2
Warmer :
§ Mengingatkan kembali tentang proyek yang ditugaskan
§ Guru mengingatkan kembali tentang bagian-bagian dan fungsi tubuh
Aktivitas :
Guru mengadakan ulangan harian dengan OPEN BOOK
Teaching Aids :
§ Gambar anak-anak korban tragedi Palestina
§ Potongan tubuh-tubuh manusia dengan jumlah secukupnya
Sumber Belajar :
§ Buku ajar Sains kelas II Semester I. Penerbit Erlangga. Jakarta. 2006
Diadaptasi dari Munif Chatib. (2009 : 59-60)
Lampiran :
CONTOH KUIS MULTIPLE INTELLIGENCE I (CONTOH PERTAMA)
Lihatlah pernyataan berikut ini yang diterapkan di setiap kategori kecerdasan. Ruang/tempat kosong telah disediakan pada bagian akhir setiap kecerdasan anda, untuk menulis informasi tambahan yang tidak secara khusus disebut dalam item-item inventarisasi.
KECERDASAN LINGUISTIK
|
____ |
Buku sangat penting bagi saya |
|
____ |
Saya dapat mendengar kata-kata dalam kepala saya sebelum saya membaca, berbicara, atau menuliskannya |
|
____ |
Saya mendapatkan lebih banyak dari mendengarkan radio atau dari rekaman yang diucapkan daripada mendapatkan dari televisi atau film |
|
____ |
Saya menikmati permainan kata, seperti TTS, Password, dll. |
|
____ |
Saya menikmati menghibur diri sendiri atau orang lain dengan bahasa bersilat lidah, sajak omong kosong, atau permainan kata |
|
____ |
Orang lain terkadang harus menghentikan dan meminta saya untuk menjelaskan makna kata-kata yang saya gunakan dalam tulisan dan perkataan saya |
|
____ |
Bahasa Inggris, IPS, dan sejarah lebih mudah bagi saya di sekolah daripada Matematika dan sains |
|
____ |
Belajar untuk berbicara atau membaca bahaa lain (misalnya bahasa Inggris) telah menjadi relatif lebih mudah bagi saya |
|
____ |
Topik percakapan saya sering ke hal-hal yang pernah saya baca atau dengar |
|
____ |
Baru-baru ini, saya telah menulis sesuatu yang membuat saya bangga, atau sesuatu yang memperoleh pengakuan dari orang lain |
Kemampuan-kemampuan Linguistik lainnya :
__________________________________________________________________
__________________________________________________________________
KECERDASAN LOGIS-MATEMATIS
|
____ |
Saya dapat dengan mudah menghitung angka-angka di kepala saya |
|
____ |
Matematika dan atau sains merupakan mata pelajaran favorit saya di sekolah |
|
____ |
Saya menikmati bermain game atau menyelesaikan permainan asah otak yang membutuhkan pemikiran logis |
|
____ |
Saya ingin membuat percobaan “bagaimana jika/seandainya” (misalnya bagaimana saya melipatduakan jumlah air yang saya berikan kepada semak pohon mawar saya setiap minggu ?” |
|
____ |
Pikiran saya mencari pola keteraturan, atau urutan logis dalam segala hal |
|
____ |
Saya tertarik perkembangan baru dalam ilmu pengetahuan |
|
____ |
Saya percaya bahwa hampir segala sesuatu memiliki penjelasan rasional |
|
____ |
Saya terkadang berpikir dalam konsep-konsep yang jelas, abstrak, tanpa kata, tanpa gambar |
|
____ |
Saya suka mencari kelemahan logis dalam hal-hal yang orang katakan dan lakukan di rumah dan di tempat kerja |
|
____ |
Saya merasa lebih nyaman ketika sesuatu telah diukur, dikategorikan, dianalisis, atau dikuantifikasi dan dihitung dalam beberapa cara |
Kemampuan-kemampuan Logis-Matematis lainnya :
__________________________________________________________________
__________________________________________________________________
KECERDASAN SPASIAL
|
____ |
Saya sering melihat gambar visual yang jelas ketika saya menutup mata |
|
____ |
Saya sensitif terhadap warna |
|
____ |
Saya sering menggunakan kamera atau camcorder untuk merekam apa yang saya lihat di sekitar saya |
|
____ |
Saya menikmati melakukan permainan teka-teki jigsaw, dan teka-teki lainnya |
|
____ |
Saya mempunyai mimpi yang nyata di malam hari |
|
____ |
Saya biasanya dapat menemukan jalan saya sendiri di sekitar wilayah yang belum dikenal |
|
____ |
Saya suka menggambar atau mencoret-coret |
|
____ |
Geometri lebih mudah bagi saya daripada aljabar di sekolah |
|
____ |
Saya bisa dengan nyaman membayangkan bagaimana sesuatu yang mungkin jika saya memandang rendah langsung dari atas pandangan luas/ seperti burung memandang ke bawah |
|
____ |
Saya lebih suka melihat bahan bacaan yang banyak menggunakan gambar |
Kemampuan-kemampuan Spasial lainnya :
__________________________________________________________________
__________________________________________________________________
KECERDASAN KINESTATIK-TUBUH
|
____ |
Saya terlihat dalam setidaknya satu olahraga atau aktivitas fisik secara teratur |
|
____ |
Saya merasa sulit utuk duduk diam dalam waktu yang lama |
|
____ |
Saya suka bekerja dengan menggunakan tangan saya di kegiatan yang nyata seperti menjahit, menenun, mengukir, pertukangan, atau membentuk/membuat model |
|
____ |
Ide-ide terbaik saya sering datang ketika saya sedang keluar untuk berjalan-jalan atau jogging, atau ketika saya sedang terlibat dalam beberapa jenis aktivitas fisik lainnya |
|
____ |
Saya sering ingin menghabiskan waktu luang saya diluar ruangan |
|
____ |
Saya sering menggunakan gerakan tangan atau bentuk-bentuk lainnya dari bahasa tubuh, saat bercakap-cakap dengan seseorang |
|
____ |
Saya harus menyentuh benda-benda agar dapat belajar lebih banyak tentang benda tersebut |
|
____ |
Saya menikmati hiburan wahana hiburan yang menantang keberanian atau yang mirip dengan pengalama fisik yang mendebarkan |
|
____ |
Saya akan menggambarkan diri saya sebagai seseorang yang terkoordinasi dengan baik |
|
____ |
Saya perlu melatih keterampilan baru bukan hanya dengan membacanya atau melihat sebuah video yang menjelaskan keterampilan tersebut |
Kemampuan-kemampuan Kinestatik-Tubuh lainnya :
__________________________________________________________________
__________________________________________________________________
KECERDASAN MUSIKAL
|
____ |
Saya memiliki suara yang bagus untuk bernyanyi |
|
____ |
Saya dapat mengetahui apabila sebuah nada luput atau meleset dari tangga nadanya |
|
____ |
Saya seirng mendengarkan musik di radio, rekaman, kaset atau CD |
|
____ |
Saya dapat memainkan alat musik |
|
____ |
Hidup saya akan menjadi lebih buruk, jika tidak ada musik di dalamnya |
|
____ |
Saya kadang-kadang menangkap/menarik diri saya berjalan menyusuri jalan dengan menyayikan sebuah jingle televisi atau lagu-lagu dalam pikiran saya |
|
____ |
Saya dapat dengan mudah mengisi waktu dengan memainkan sepotong musik/lagu dengan alat perkusi sederhana |
|
____ |
Saya tahu nada-nada dari berbagai lagu atau potongan musik yang berbeda |
|
____ |
Jika saya mendengar pilihan musik sekali atau dua kali, biasanya saya dapat menyanyikannya kembali dengan cukup akurat |
|
____ |
Saya sering membuat sedikit rekaman suara atau menyanyikan melodi saat bekerja, belajar, atau belajar sesuatu yang baru |
Kemampuan-kemampuan Musikal lainnya :
__________________________________________________________________
__________________________________________________________________
KECERDASAN INTERPERSONAL
|
____ |
Saya jenis orang yang didatangi orang-orang untuk meminta saran dan nasehat, di tempat kerja atau di lingkungan saya |
|
____ |
Saya lebih suka olahraga berkelompok seperti bulutangkis, bola voli, atau futsal daripada olahraga tunggal seperti berenang atau jogging |
|
____ |
Ketika saya punya masalah, saya lebih cenderung mencari orang lain untuk minta bantuan daripada menyelesaikannya sendiri |
|
____ |
Saya memiliki setidaknya tiga teman dekat |
|
____ |
Saya lebih menyukai kegiatan sosial pengisi waktu seperti monopoli atau catur daripada berekreasi individu seperti videogame |
|
____ |
Saya menikmati tantangan untuk mengajar orang lain, atau sekelompok orang, dan saya tahu bagaimana melakukannya |
|
____ |
Saya menganggap diri saya seorang pemimpin (atau orang lain memanggil saya itu) |
|
____ |
Saya merasa nyaman di tengah-tengah orang banyak |
|
____ |
Saya ingin terlibat dalam kegiatan sosial yang berhubungan dnegna pekerjaan, tempat ibadah, atau komunitas saya |
|
____ |
Saya lebih suka menghabiskan malam saya di sebuah pesta meriah daripada tinggal di rumah sendirian |
Kemampuan-kemampuan Interpersonal lainnya :
__________________________________________________________________
__________________________________________________________________
KECERDASAN INTRAPERSONAL
|
____ |
Saya sering menghabiskan waktu sendirian untuk bermeditasi, merenung, atau memikirkan masalah kehidupan yang penting |
|
____ |
Saya telah mengikuti sesi konseling atau seminar perkembangan pribadi untuk belajar lebih banyak tentang diri saya sendiri |
|
____ |
Saya mampu merespon kemunduran dengna ketahanan/ketangguhan |
|
____ |
Saya memiliki hobi atau minat khusus yang cukup banyak untuk diri saya sendiri |
|
____ |
Saya memiliki beberapa tujuan penting bagi hidup saya yang saya pikirkan secara teratur |
|
____ |
Saya memiliki pandangan yang realistis tentang kekuatan dan kelemahan saya (yang dibuktikan oleh umpan balik/tanggapan dari sumber lain) |
|
____ |
Saya akan lebih memilih untuk menghabiskan akhir pekan sendirian di sebuah pondok di tengah hutan daripada di sebuah resor/tempat peristirahatan mewah dengan banyak orang di sekitarnya |
|
____ |
Saya menganggap diri saya berkemauan keras untuk menjadi kuat atau berpikiran bebas |
|
____ |
Saya menyimpan /memiliki sebuah buku harian atau jurnal pribadi untuk mencatat peristiwa –peristiwa batin saya |
|
____ |
Saya berwiraswasta atau memiliki setidaknya pikiran serius untuk memulai bisnis sendiri |
Kemampuan-kemampuan Intrapersonal lainnya :
__________________________________________________________________
__________________________________________________________________
KECERDASAN NATURALIS
|
____ |
Saya suka menghabiskan waktu backpacking, hiking, atau hanya berjalna-jalan di alam |
|
____ |
Saya tergabung dalam beberapa jenis organisasi sukarela yang berkaitan dengan alam, dan saya suka peduli untuk membantu menyelamatkan alam dari kehancuran lebih lanjut |
|
____ |
Saya tumbuh/hidup dengan baik dengan hewan di sekitar rumah |
|
____ |
Saya terlibat dalam sebuah hobi yang melibatkan alam dengan cara tertentu (misalnya pengamatan burung) |
|
____ |
Saya telah terdaftar dalam kursus yang berkaitan dengan alam di pusat-pusat komunitas atau perguruan tinggi (misalnya botani, zoologi) |
|
____ |
Saya cukup pandai untuk membedakan berbagai jenis pohon, anjing burung atau jenis-jenis flora atau fauna |
|
____ |
Saya suka membaca buku dan majalah atau menonton acara televisi atau film yang menampilkan alam dalam beberapa cara |
|
____ |
Saat berlibur, saya lebih memilih untuk pergi ke sebuah tempat yang alami (taman, perkemahan, jalur pendakian) daripada ke sebuah hotel/resort atau kota/lokasi budaya |
|
____ |
Saya senang mengunjungi kebun binatang, akuarium, atau tempa lain di mana alam dipelajari |
|
____ |
Saya memiliki taman dan saya senang merawatnya secara teratur |
Kemampuan-kemampuan Naturalis lainnya :
__________________________________________________________________
__________________________________________________________________
Diadaptasi dari Thomas Armstrong (2009 : 24 - 28)
KECERDASAN EKSISTENSIALIS
|
____ |
Saya mendapatkan makna dari kegiatan menghadiri suatu bentuk ibadah atau studi di Masjid, geraja, atau organisasi keagamaan, atau organisasi filsafat lainnya yang dilakukan secara teratur. |
|
____ |
Saya teratur meluangkan waktu untuk ibadah, zikir, doa, bermeditasi, atau merenungkan pertanyaan seputar kehidupan dan kematian. |
|
____ |
Saya membaca literatur (kitab suci, buku kerohanian, atau filsafat) yang menolong saya dalam memikirkan atau merenungkan eksistensi secara lebih mendalam |
|
____ |
Saya gemar terlibat dalam diskusi filsafat atau keagamaan dengan orang lain |
|
____ |
Dibandingkan dengan orang lain, saya lebih sering memikirkan tentang makna kehidupan |
|
____ |
Saya sering mengungkapkan perasaan dan gagasan saya dalam hal spiritual, filsafat, atau eksistensial melalui tulisan, karya seni, penelitian, pelayanan, atau cara kerja kreatif lainnya |
|
____ |
Saya meluangkan waktu secara teratur untuk mengunjungi tempat retret untuk merenungkan makna kehidupan, Tuhan, dan/atau pertanyaan besar lainnya |
|
____ |
Semasa dewasa, saya mempunyai pengalaman spiritual atau filsafat yang khusus yang membuat saya memikirkan kehidupan secara yang lebih mendalamn |
|
____ |
Saya teratrik pada film, drama, atau pagelaran lain yang bertemakan spiritualitas, filsafat, atau eksistensial |
|
____ |
Saya sedang/memikirkan untuk/telah terjun dalam suatu karier yang memberi saya kesempatan untuk memusatkan perhatian kepada masalah eksistensial dengan orang lain |
Kemampuan-kemampuan Eksistensial lainnya :
__________________________________________________________________
__________________________________________________________________
Diadaptasi dari Thomas Armstrong (2002 : 222 - 223)
CATATAN :
Mengembangkan sebuah profil MI seseorang bukanlah masalah sederhana. Tidak ada tes akurat yang dapat menentukan sifat atau kualitas kecerdasan seseorang. Seperti Howard Gardner telah berulangkali menunjukkan, tes standar hanya mengukur sebagian kcil dari spektrum total dari kemampuan-kemampua. Karenanya, cara terbaik untuk menilai MI kita sendiri adalah melalui penilaian yang realistis tentang kinerja kita dalam berbagai jenis tugas, kegiatan dan pengalaman yang berhubungan dengan kecerdasan masing-masing. (Armstrong, 2013 : 21-22)
Lampiran :
Contoh Kuis Multiple Intelligence II (Contoh Kedua)
Untuk memahami profil kecerdasan anda, jawablah kuis di bawah ini dengan memberikan angka pada setiap pertanyaan yang menggambarka diri anda. Beri angka 5 bila anda merasa pernyataan itu sangat tepat menggambarkan diri anda. Jika pernyataan itu agak kurang tepat menggambarkan diri anda, anda bisa memberikan angka 4, 3, 2, atau 1. Bila sama sekali tidak tepat menggambarkan anda, beri angka 0. Gunakan angka dari 0 sampai 5 untuk menilai setiap pertanyaan.
|
NO |
PERNYATAAN |
NILAI |
|
1 |
Saya sangat suka bekerja dengan obyek |
|
|
2 |
Saya dapat dengan mudah mengenali arah |
|
|
3 |
Saya punya kemampuan untuk membantu menyelesaikan perselisihan di antara kawan saya |
|
|
4 |
Saya dapat dengan mudah mengingat kata yang ada dalam sebuah lagu |
|
|
5 |
Saya dapat menjelaskan topik yang rumit menjadi sesuatu yang sederhana dan mudah dimengerti |
|
|
6 |
Saya selalu mengerjakan sesuatu selangkah demi selangkah |
|
|
7 |
Saya mengenali diri saya dengan baik dan mengerti perilaku saya |
|
|
8 |
Saya menyenangi kegiatan yang melibatkan banyak orang |
|
|
9 |
Saya mudah belajar dengan cara mendengarkan ceramah dan diskusi |
|
|
10 |
Saya merasakan perubahan mood saat mendengarkan musik |
|
|
11 |
Saya menikmati puzzle, TTS, dan persoalan yang melibatkan angka |
|
|
12 |
Dalam belajar, grafik gambar, diagram, flowchart, penting bagi saya |
|
|
13 |
Saya peka terhadap mood dan perasaan orang di sekitar saya |
|
|
15 |
Saya belajar lebih maksimal bila saya dapat bergerak dan mengerjakannya sendiri |
|
|
16 |
Saya memelihara atau menyukai hewan atau tanaman |
|
|
17 |
Saya harus bisa melihat manfaat yang bisa saya dapatkan sebelum saya memulai mempelajari sesuatu |
|
|
18 |
Saya membutuhkan privasi dan ketenangan saat bekerja dan berpikir |
|
|
19 |
Saat mendengarkan musik, saya tahu alat musik apa saja yang digunakan |
|
|
20 |
Saya dapat dengan mudah mengingat dan melihat kembali kejadian yagn pernah saya alami |
|
|
21 |
Saya suka dan tertarik dengan topik yang berhubungan dengan lingkungan |
|
|
22 |
Saya mempunyai perbendaharaan kata yang luas dan dan dapat mengungkapkan |
|
|
23 |
Saya memiliki keseimbangan tubuh yang baik dan menikmati kegiatan fisik |
|
|
24 |
Saya mengerti pola dan hubungan yang terdapat dalam pengalaman atau kejadian |
|
|
25 |
Saya mampu bekerjasama dalam suatu kelompok |
|
|
26 |
Saya mengerti cara kerja tubuh dan memperhatikan kesehatan saya |
|
|
27 |
Saya tanggap dan jeli, sering kali melihat sesuatu yang terlewatkan oleh orang lain |
|
|
28 |
Saya mudah gelisah (mis : karena harus duduk diam dalam waktu yang lama) |
|
|
29 |
Saya suka bekerja atau belajar sendiri (tidak perlu ditemani orang lain) |
|
|
30 |
Saya suka musik atau membuat lagu |
|
|
31 |
Saya suka bekerja dengan angka dan memecahkan soal matematika |
|
|
32 |
Saya bisa membaca arah perubahan cuaca berdasarkan kondisi alam |
|
Setelah anda memberikan nilai pada semua pernyataan di atas, sekarang pindahkan angka tersebut pada bagian di bawah ini.
|
KECERDASAN |
PERNYATAAN |
TOTAL SKOR |
|
Linguistik |
5 9 21 22 |
|
|
|
Nilai ...... ...... ...... ...... |
|
|
Matematika dan Logika |
5 9 21 22 |
|
|
|
Nilai ...... ...... ...... ...... |
|
|
Visual dan Spasial |
5 9 21 22 |
|
|
|
Nilai ...... ...... ...... ...... |
|
|
Musik |
5 9 21 22 |
|
|
|
Nilai ...... ...... ...... ...... |
|
|
Interpersonal |
5 9 21 22 |
|
|
|
Nilai ...... ...... ...... ...... |
|
|
Intrapersonal |
5 9 21 22 |
|
|
|
Nilai ...... ...... ...... ...... |
|
|
Kinestatik |
5 9 21 22 |
|
|
|
Nilai ...... ...... ...... ...... |
|
|
Naturalis |
5 9 21 22 |
|
|
|
Nilai ...... ...... ...... ...... |
|
Diadaptasi dari Adi W. Gunawan (2006 : 242 - 244)
CATATAN :
Mengembangkan sebuah profil MI seseorang bukanlah masalah sederhana. Tidak ada tes akurat yang dapat menentukan sifat atau kualitas kecerdasan seseorang. Seperti Howard Gardner telah berulangkali menunjukkan, tes standar hanya mengukur sebagian kcil dari spektrum total dari kemampuan-kemampua. Karenanya, cara terbaik untuk menilai MI kita sendiri adalah melalui penilaian yang realistis tentang kinerja kita dalam berbagai jenis tugas, kegiatan dan pengalaman yang berhubungan dengan kecerdasan masing-masing. (Armstrong, 2013 : 21-22)
Lampiran :
Materi-materi Kunci dan Metode-metode Pengajaran
Kecerdasan Multiple Intelligence
|
Kecerdasan Spasial (Spatial Intelligence) |
Kecerdasan Linguistik (Linguistic Intelligence)
|
|
· Peralatan konstruksi 3-D |
· Buku-buku |
|
· Apresiasi seni |
· Curah pendapat (brainstorming) |
|
· Bagan, grafik, diagram, dan peta |
· Membaca bersama-sama |
|
· Tanda-tanda berwarna-warni |
· Berdebat |
|
· Perangkat lunak komputer grafis |
· Pidato tanpa persiapan |
|
· Melamun/mimpi yang kreatif |
· Membaca individu |
|
· Perangkat lunak menggambar dan melukis dengan bantuan komputer |
· Menyimpan jurnal |
|
· Simbol-simbol grafis |
· Kelompok diskusi besar dan kecil |
|
· Membuat sketsa ide |
· Perkuliahan / pelajaran |
|
· Cerita/dongeng yang imajinatif |
· Panduan |
|
· Peta-peta pikiran dan organizir visual lainnya |
· Menghafal fakta-fakta linguistik |
|
· Ilusi optikal |
· Penerbitan |
|
· Lukisan, kolase, dan seni visual lainnya |
· Membaca di depan kelas |
|
· Fotografi |
· Berbagi waktu |
|
· Pengalaman-pengalaman huruf berbasis gambar |
· Mendongeng |
|
· Gambar metafora |
· Pidato-pidato murid/siswa |
|
· Video, slide, dan film |
· Membicarakan buku-buku |
|
· Aktivitas-aktivitas kesadaran visual |
· Merekam perkataan/pidato seseorang |
|
· Mencari pola-pola visual |
· Menggunakan pernagkat lunak pengolah kata |
|
· Teka-teki dan labirin visual |
· Permainan kata-kata |
|
· Latihan dan berpikir visual |
· Lembar kerja |
|
· Visualisasi |
· Aktivitas menulis |
Materi-materi Kunci dan Metode-metode Pengajaran
Kecerdasan Multiple Intelligence
|
Kecerdasan Interpersonal (Interpersonal Intelligence) |
Kecerdasan Musikal (Musical Intelligence)
|
|
· Klub Akademis |
· Menciptakan melodi-melodi baru untuk konsep-konsep |
|
· Program magang |
· Diskografi (studi dan pengumpulan list album rekaman) |
|
· Papan permainan |
· Menyanyi berkelompok/dalam grup |
|
· Keterlibatan masyarakat |
· Menghubungkan lagu lama dengan konsep-konsep |
|
· Konflik mediasi |
· Mendengarkan musik citra/gambar batin |
|
· Kerjasama kelompok |
· Musik suasana |
|
· Tutoring/bimbingan belajar lintas usia |
· Mengapresiasi musik |
|
· Sesi-sesi bertukar pikiran dalam kelompok |
· Perangkat lunak komposisi musik |
|
· Perangkat lunak interaktif atau platfor internet |
· Konsep-konsep musik |
|
· Interaksi interpersonal |
· Memainkan musik dengan piano, gitar, atau instrumen lainnya secara langsung |
|
· Pertemuan-pertemuan sosial atau kelompok sebagai sebuah konteks untuk belajar |
· Memainkan alat musik perkusi |
|
· Aktivitas berbagi dalam kelompok (peer sharing) |
· Memainkan rekaman musik |
|
· Patung-patung/pahatan orang |
· Ritme, lagu, raps, dan kidung |
|
· Simulasi |
· Menyanyi, bersenandung, atau bersiul |
|
· |
· Musik super memori |
|
· |
· Menggunakan musik sebagai latar |
Materi-materi Kunci dan Metode-metode Pengajaran
Kecerdasan Multiple Intelligence
|
Kecerdasan Naturalis (Natural Intelligence) |
Kecerdasan Bodi-Kinestatik (Body-Kintesthetic Intelligence)
|
|
· Akuarium, terrariums, dan ekosistem portabel lainnya |
· Body Answers/jawaban-jawaban dengan menggunakan gerak tubuh |
|
· Kelas stasiun cuaca |
· Body maps/peta tubuh |
|
· Eco-Studi |
· Kelas theater |
|
· Berkebun |
· Permaianan yang kompetitif dan kooperatif |
|
· Perangkat lunak yang berorientasi alam |
· Memasak, berkebun, dan kegiatan yang ‘berantakan/kotor’ lainnya |
|
· Peralatan untuk memelajari alam (teropong, teleskop, miskoskop) |
· Gerakan yang kreatif |
|
· Video, film, dan film tentang alam |
· Kunjungan lapangan |
|
· Nature walks/jalan-jalan di alam terbuka |
· Manipulatif |
|
· Hewan piaraan di dalam ruang kelas |
· Berpikir berdasarkan gerak tangan |
|
· Tanaman sebagai alat peraga |
· Konsep-konsep kinestatik |
|
· Jendela untuk pembelajaran/windows onto learning [menyediakan tempat (biasanya ruang kelas) di mana siswa dapat memajang hasil karya/proyek mereka. tempat juga bisa disediakan di luar kelas] |
· Berbagai jenis aktivitas keterampilan tangan |
|
|
· Pantomin |
|
|
· Latihan kesadaran fisik |
|
|
· Aktivitas pendidikan fisik |
|
|
· Latihan relaksasi fisik |
|
|
· Materi/bahan dan pengalaman taktil |
|
|
· Penggunaan gambar kinestatik |
|
|
· Menggunakan bahasa tubuh/ sinyal-sinyal tangan untuk berkomunikasi |
|
|
· Perangkat lunak virtual reality |
Materi-materi Kunci dan Metode-metode Pengajaran
Kecerdasan Multiple Intelligence
|
Kecerdasan Intrapersonal (Intrapersonal Intelligence) |
Kecerdasan Logis Matematis (Logical-Mathematical Intelligence)
|
|
· Pilihan waktu |
· Klasifikasi dan kategorisasi |
|
· Pengenalan pada kurikulum motivasional/inspirasional |
· Bahasa-bahasa dalam program komputer |
|
· Penciptaan suasana-suasana sesuai dengan perasaan |
· Menciptakan kode-kode |
|
· Sesi-sesi penetapan tujuan |
· Heuristik (teknik-teknik pemecahan masalah, pembelajaran, dan penemuan hal baru berdasarkan pengalaman) |
|
· Studi yang independen |
· Teka-teki dan permainan yang logis |
|
· Proyek dan permainan individual |
· Latihan-latihan pemecahan masalah yang logis |
|
· Pusat-pusat minat |
· Penyampaian materi pelajaran secara sekunsial –logis (menggunakan logika berurutan) |
|
· Periode-periode refleksi satu menit |
· Masalah-masalah Matematika di papan tulis |
|
· Piihan untuk pekerjaan rumah |
· Latihan-latihan kognitif berdasarkan teori kognitif Piaget |
|
· Hubungan pribadi |
· Kalkulasi dan kuantifikasi |
|
· Ruang pribadi untuk studi/belajar |
· Berpikir ilmiah |
|
· Aktivitas harga diri |
· Demonstrasi-demonstrasi ilmiah |
|
· Pengajaran mandiri |
· Membuat pertanyaan model Socrates (memancing siswa dengan pertanyaan-pertanyaan secara sistematis, penuh disiplin, mendalam, dan berfokus pada konsep, isu, teori, atau masalah yang fundamental |
|
· Instruksi pengajaran yang terprogram |
|
Diadaptasi dari Amstrong (2013 : 63-69)
Lampiran :
DAFTAR SEKOLAH DI INDONESIA
YANG MENGGUNAKAN KURIKULUM MULTIPLE INTELLIGENCE
|
NO |
NAMA SEKOLAH |
KOTA |
|
1 |
SMU Ayifa Boarding School |
Subang |
|
2 |
SMP Asyifa Boarding School |
Subang |
|
3 |
TK Lazuardi Kamila |
Solo |
|
4 |
SD Lazuardi Kamila |
Solo |
|
5 |
SD Lazuardi Haura |
Lampung |
|
6 |
SDIT As Salamah |
Ungaran |
|
7 |
TK Al Irysad |
Madiun |
|
8 |
SD Al Irsyad |
Madiun |
|
9 |
Sd Muhammadiyah Program Khusus |
Kartasura |
|
10 |
Madrasah Tsanawiyah Sumatera Thawalib |
Bukittinggi |
|
11 |
Madrasah Aliyah Sumatera Thawalib |
Bukittinggi |
|
12 |
SMP Harapan Bunda |
Semarang |
|
13 |
SDIT Qurani Harapan Bunda |
Purwokerto |
|
14 |
TK Anak Emas |
Denpasar |
|
15 |
SD Anak Emas |
Denpasar |
|
16 |
Pre-School Learnng Cender Star Kiddy |
Semarang |
|
17 |
TK Aisyah Bustanul Athfal I |
Probolinggo |
|
18 |
SD Islam Yima |
Bondowoso |
|
19 |
SMP IslamYima |
Bondowoso |
|
20 |
SDIT An Nur |
Gemolong |
|
21 |
SDIT Insan Mandiri |
Jakarta |
|
22 |
SDIT Buah Hati |
Jakarta |
|
23 |
TK Al Falah Al Khairiyah |
Jakarta |
|
24 |
SD Mambaul Ula |
Jakarta |
|
25 |
TK Aisyiah Bustanul Athfal I |
Denpasar |
|
26 |
SMK Tunas Bangsa |
Malang |
|
27 |
TKIT Nurul Islam |
Tengaran |
|
28 |
SDIT Nurul Islam |
Tengaran |
|
29 |
SMPIT Nurul Islam |
Tengaran |
|
30 |
SDIT Ulul Albab |
Pekalongan |
|
31 |
SD Immersion |
Ponorogo |
|
32 |
SDIT la Tansa Cendikia |
Tangerang |
|
33 |
SD Fastabiqul Khoirot |
Samarinda |
|
34 |
SD Mutiara Ilmu |
Bangil |
|
35 |
TK Al Abror |
Bangil |
|
36 |
TK Mutiara Ilmu |
Pandaan |
|
37 |
SD Plus Al Kautsar |
Malang |
|
38 |
TK Plus Al Kautsar |
Malang |
|
39 |
SMP Muhammadiyah 3 |
Kaliwungu |
|
40 |
SDIT Nidaul Hikmah |
Salatiga |
|
41 |
TKIT As Sibghoh |
Tangerang |
|
42 |
SDIT As Sibghoh |
Tangerang |
|
43 |
SMPIT As Sibghoh |
Tangerang |
|
44 |
PG-TK Auliya |
Cirebon |
|
45 |
SDIT Mutiara Hati |
Payakumbuh |
|
46 |
SDIT Permata |
Surabaya |
|
47 |
SMP Muhammadiyah |
Surabaya |
|
48 |
SD Al Khairiyah |
Surabaya |
|
49 |
SMP Al Khairiyah |
Surabaya |
|
50 |
SD Yimi |
Gresik |
|
51 |
TK Yimi |
Gresik |
|
52 |
SMP Yimi |
Gresik |
|
53 |
TK Aisyiah 2 |
Bali |
|
54 |
TK Aisyiah 3 |
Bali |
|
55 |
TK Aisyiah 4 |
Bali |
|
56 |
TK Aisyiah 5 |
Bali |
|
57 |
Sekolah Alam dan Sains Al Jannah |
Cibubur |
|
58 |
SDIT As Sa’adah |
Jakarta |
|
59 |
SDIT Ar Rahmah |
Makassar |
|
60 |
SD Pelopor |
Bandung |
|
61 |
SMP Daarul Qur’an |
Bandung |
|
62 |
SD Bina Anak |
Semarang |
|
63 |
TKIT Al Marjan |
Bekasi |
|
64 |
SDIT Al Marjan |
Bekasi |
|
65 |
SMPIT Al Marjan |
Bekasi |
|
66 |
SMUIT Al Marjan |
Bekasi |
|
67 |
TKIT Wahdah Islamiyah |
Makassar |
|
68 |
SDIT Wahdah Islamiyah |
Makassar |
|
69 |
SMPIT Wahdah Islamiyah |
Makassar |
|
70 |
SMUIT Wahdah Islamiyah |
Makassar |
|
71 |
Sekolah Harapan Umat |
Karawang |
|
72 |
SD Ash Shafa |
Jakarta |
|
73 |
SMP Al A’raf |
Sukabumi |
|
74 |
SD Muhammadiyah Bilingual Al Adzkiya |
Wonosobo |
|
75 |
Paud Cerliana |
Pekanbaru |
|
76 |
SD Rausyan Fikr |
Jombang |
|
77 |
SD Al Manar |
Pangkalan Bun |
|
78 |
TK Insan Mulia |
Banjarmasin |
|
79 |
Play Group Bina Nusantara |
Banjarmasin |
|
80 |
Rumah Sekolah Cendikia |
Makassar |
|
81 |
SD Al Azhar Rawamangun |
Jakarta |
|
82 |
SD Al Azhar |
Cibinong |
|
83 |
SD Al Azhar Jaka Permai |
Jakarta |
|
84 |
SD Muhammadiyah 16 |
Surabaya |
|
85 |
TKIt An Nida |
Purwokerto |
|
86 |
SDIT An Nida |
Purwokerto |
|
87 |
SMP Lazuardi Insan Kamil |
Sukabumi |
|
88 |
Madrasah Ibtidaiyah Ar Roihan |
Malang |
|
89 |
TKIT Nurul Yakin |
Jakarta |
|
90 |
SDIT Al Muttaqien |
Tasikmalaya |
|
91 |
SDIT Al Qalam |
Depok |
|
92 |
TKIT Lebah Kecil |
Jakarta |
|
93 |
SDIT Al Furqon |
Jakarta |
|
94 |
SD Lentera Insan |
Jakarta |
|
95 |
SMPIT Buah Hati Islamic School |
Jakarta |
SEMUA ANAK CERDAS :
Teori Pembelajaran Multiple Intelligence
Howard Gardner
Makalah Mata Kuliah :
Landasan Filosofis dan Teori Pendidikan Sejarah
Dengan Dosen Pengampu :
Prof. Dr. Dadang Supardan, M.Pd
Oleh :
ANNISA FAJARANI (1502856)
MOH. ZULHAM ALSYAHDIAN (1503376)
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH
SEKOLAH PASCA SARJANA (SPS)
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA (UPI)
BANDUNG
2015
1. Warner, Penny. (2002). Quality Time Anytime : 200 Activities to Make The Most Every Moment With Your Child. Minnesota : Meadowbrook Press. Dialihbahasakan oleh Santi Indra Astuti (2003). Melatih Kecerdasan Majemuk Anak Di Mana Saja dan Kapan Saja : 200 Kegiatan Mengasyikkan yang Mengubah Setiap Detik Bersama Anak Anda Menjadi Saat Penuh Makna. Bandung : Kaifa.
2. Bellanca, James. (2009). 200 + Active Learning Strategis and Projects for Engaging Students Multiple Intelegences Second Edition. California : Thousands Oaks. Dialihbahasakan oleh Siti Mahyuni (2011). 200 + Strategi dan Proyek Pembelajaran Aktif untuk Melibatkan Kecerdasan Siswa Edisi Kedua. Jakarta : PT Indeks.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar