BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Penulisan
Belajar sejarah, pada dasarnya belajar tentang kehidupan masyarakat. Berbagai aspek kehidupan dalam sejarah baik menyangkut aspek sosial, politik, budaya, ekonomi, dan aspek-aspek kehidupan lainnya. Ciri penting mempelajari masyarakat sebagai fokus kajian sejarah adalah melihat masyarakat sebagai sesuatu yang berubah dalam konteks waktu. Di samping aspek waktu, dalam mempelajari kehidupan masyarakat, sejarah melihat pula aspek keruangan, artinya di mana kehidupan manusia itu dikaji. Aspek keruangan dapat dilihat dalam konteks yang lebih luas misalnya sejarah nasional atau konteks yang lebih kecil. Misalnya sejarah lokal.
Pembelajaran sejarah di sekolah sebaiknya lebih mudah dipahami oleh siswa. Dalam pembelajaran sejarah hendaknya siswa dapat melihat langsung kehidupan yang nyata, bukan materi pelajaran yang jauh dari realitas. Bahkan belajar yang baik dapat bersumber dari pengalaman siswa sehari-hari. Kedekatan emosional siswa dengan lingkungannya merupakan sumber belajar yang berharga bagi terjadinya proses pembelajaran di kelas. Pemahaman pembelajaran sejarah yang demikian, hanya dapat dilakukan manakala pengajaran sejarah tidak hanya menekankan pada rentetan waktu dan peristiwa belaka, tetapi mengajar sejarah harus memberikan makna bagi siswa.
Bagaimana suatu makna sejarah dapat dikenalkan dan dipahami oleh siswa ? untuk melakukan hal tersebut, guru harus melihat sejarah sebagai suatu mata pelajaran yang sarat dengan nilai-nilai. Nilai-nilai yang dimaksud di sini bukan hanya sekedar nilai-nilai kewarganegaraan yang bersifat umum belaka, seperti nasionalisme, patriotisme, demokrasi dan lain-lain. Nilai-nilai yang harus pula dikembangkan adalah nilai-nilai yang memiliki kearifan lokal, yakni nilai-nilai yang tumbuh dan berkembang dalam kehidupan sekitar siswa. Hal tersebut bisa dikaji dengan melihat bahwa sejarah memiliki perspektif yang bersifat kultural. Perspektif ini dapat disajikan dalam sejarah lokal. (Mulyana dan Gunawan, 2007 : 1 -2)
Apalagi saat ini, menurut Anhar Gonggong (2015 : 599) ada kesalahan bahwa yang penting adalah sejarah nasional, dan sejarah lokal tidak perlu. Sementara itu, pembelajaran sejarah yang hanya menekankan pada sejarah nasional selama ini telah menyebabkan peserta didik melupakan atau sama sekali tidak tahu tentang berbagai peristiwa sejarah lokal di daerahnya, padahal pengajaran sejarah lokal yang lebih menekankan pada sejarah dari lingkungan sekitar siswa akan memberikan makna yang lebih mendalam kepada peserta didik sehingga dapat membangkitkan minat dan motivasi peserta didik untuk belajar sejarah. Pembelajaran sejarah melalui pendekatan sejarah lokal diharapkan tidak lagi hanya memberi gambaran peristiwa-peristiwa sejarah yang terjadi di tempat-tempat yang jauh, yang tidak siswa kenal tetapi siswa akan mendapat gambaran nyata melalui peristiwa yang juga terjadi di lingkungan sekitarnya. Sejarah lokal telah menjadi kebutuhan daerah yang perlu dikembangkan dalam kurikulum sekolah, selain bertujuan untuk menunjukkan identitas kelokalannya tetapi juga untuk memudahkan siswa mengenal sejarah lingkungan sekitarnya yaitu dengan memahami peristiwa dan perubahan yang terjadi di daerahnya yang kemudian meluas ke lingkungan yang lebih luas dalam lingkup sejarah nasional, sehingga belajar sejarah menjadi pembelajaran yang bermakna bagi peserta didik.
Menurut Douch (1967 dalam Widja, 1991 : 122) terdapat beberapa cara pengaplikasian sejarah lokal dalam pengajaran sejarah, yaitu : pertama, guru sejarah hanyalah mengambil contoh-contoh dari kejadian lokal untuk memberi ilustrasi yang lebih hidup dari uraian sejarah nasional maupun sejarah dunia yang sedang diajarkan. Dalam bentuk kegiatan ini tidak terdapat hambatan dalam mengkaitkan sejarah lokal dengan rencana pelaksanaan pengajaran, namun tidak terjadi pembaharuan pengajaran karena hanya menambahkan informasi mengenai sejarah lokal. Tekanan utamanya tetap pada sejarah nasional dan sejarah dunia. Kedua, bentuk kegiatan penjelajahan lingkungan. Dalam kegiatan ini sudah terlihat kegiatan murid dalam aktivitas kesejarahan di dalam dan di luar kelas. Ketiga, berupa studi khusus dan cukup mendalam tentang berbagai aspek kesejarahan di lingkungan peserta didik.
Sejarah lokal dalam konteks makalah ini secara spesifik lebih menyorot tentang aspek tokoh sejarah lokal sebagai sumber materi dalam pembelajaran Sejarah Indonesia pada kurikulum 2013. Pelajaran seorang tokoh merupakan sesuatu yang dapat menarik perhatian peserta didik. Di mana peserta didik dapat mengenal lebih dekat. Apalagi tokoh tersebut dekat dengan lingkungan tempat tinggal mereka, sehingga mereka akan mendapatkan informasi mengenai tokoh tersebut, baik yang bersifat positif maupun negatif. Oleh karena itu, guru memiliki peran penting dalam mengarahkan peserta didik agar dapat menganalisa kehidupan tokoh tersebut, bagaimana sikap dan perilaku yang ditampilkannya semasa hidupnya, sehingga sejalan dengan maksud dan tujuan pembelajaran sejarah mengenai biografi tersebut.
Sejarah sebagai mata pelajaran yang mempelajari peristiwa masa lalu secara keseluruhan tentu saja tidak bisa terlepas dari cerita atau kisah yang dapat mendeskripsikan tentang apa yang terjadi. Pendidikan dan pembelajaran sejarah selalu berupaya untuk mengantarkan siswa pada pemikiran, dan pemahaman terhadap masa lalu termasuk di dalamnya peran pelaku sejarah. Menurut Hasan (2012) bahwa pendekatan biografi tidak saja membuat peserta didik mengenal para pelaku sejarah tetapi pengenalan itu menjadi dasar untuk mengembangkan inspirasi dair apa dan siapa pelaku tersebut. Pada gilirannya, inspirasi itu menjadi aspirasi untuk dikembangkan dalam kehidupan masa kini dan perencanaan kehidupan masa depan (Charting the Future).
Hal ini sesuai dengan visi pendidikan sejarah Indonesia dalam kurikulum 2013, sebagaiman disebutkan S. Hamid Hasan (2015) memiliki 5 konsep dasar :
- Semua wilayah/daerah memiliki kontribusi terhadap perjalanan sejarah Indonesia pada hampir pada seluruh periode sejarah.
- Memandang masa lampau sebagai sumber inspirasi, motivasi, dan kekuatan untuk membangun semangat kebangsaan dan persatuan.
- Setiap periode sejarah Indonesia memiliki peristiwa dan atau tokoh di tingkat nasional dan daerah serta keduanya memiliki kedudukan yang sama penting dalam perjalanan sejarah Indonesia.
- Memiliki tugas untuk memperkenalkan peristiwa sejarah yang penting dan terjadi di seluruh wilayah nkri dan seluruh periode sejarah kepada generasi muda bangsa.
- Pengembangan cara berpikir sejarah (historical thinking), konsep waktu, ruang, perubahan, dan keberlanjutan menjadi keterampilan dasar dalam mempelajari sejarah Indonesia.
Berdasarkan visi tersebut di atas, maka prinsip-prinsip pembelajaran mata pelajaran sejarah Indonesia dalam kurikulum 2013 itu kemudian dijabarkan dalam dua aspek penting :
- Cara berpikir sejarah dikembangkan sebagai kemampuan/kompetensi yang digunakan peserta didik dalam mempelajari berbagai peristiwa sejarah Indonesia. Artinya peserta didik mempelajari peristiwa sejarah Indonesia bukan sebagai bahan hafalan lagi tetapi sebagai suatu kajian yang didasarkan pada kemampuan berpikir sejarah yang dimilikinya.
- Pengenalan diri dan masyarakat dikembangkan melalui kajian terhadap peristiwa sejarah yang terjadi di lokal (desa, kecamatan, kota/kabupaten/ propinsi).
Dari gambaran pelajaran sejarah Indonesia dalam kurikulum 2013 di atas, sangat mungkin bagi guru untuk mengembangkan sebuah pembelajaran sejarah melalui tokoh lokal di kelas-kelas. Sebab, Kurikulum 2013 sangat mengakomodir kelokalan tersebut, sebagai upaya untuk memberikan ruang bagi pembelajaran sejarah yang lebih menarik dan bermakna bagi peserta didik.
B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah untuk makalah Pengembangan Materi Tokoh Lokal Sebagai Sumber Mata Pelajaran Sejarah Indonesia dalam Kurikulum 2013 ini dapat dirinci ke dalam beberapa pertanyaan sebagai berikut:
1. Apa yang dimaksud sejarah tokoh ?
2. Bagaimana pengembangan materi tokoh lokal dalam mata pelajaran Sejarah Indonesia ?
C. Tujuan Penulisan
Secara umum tujuan dari penulisan ini untuk menjawab pertanyaan dalam rumusan masalah yang telah ditetapkan dalam penelitian ini, yaitu memperoleh gambaran umum mengenai Pengembangan Materi Tokoh Lokal Sebagai Sumber Mata Pelajaran Sejarah Indonesia dalam Kurikulum 2013. Selain itu terdapat tujuan khusus :
1. Untuk mendeskripsikan apa yang dimaksud dengan Sejarah tokoh.
2. Bagaimana pengembangan materi tokoh lokal dalam mata pelajaran Sejarah Indonesia dalam kurikulum 2013.
D. Manfaat Penulisan
1. Teori
Melalui tulisan ini penulis mencoba menawarkan sebuah “model baru” dalam pembelajaran sejarah, yang lebih dekat secara emosional kepada peserta didik sekaligus yang bisa memberikan makna dan keteladangan secara riil. Kajian sejarah melalui tokoh lokal secara emosional lebih dekat dan nyata, sehingga hal ini diharapkan akan memberikan inspirasi dan motivasi dalam kehidupan para peserta didik sehari-hari.
2. Praktek
a. Bagi siswa
1) Akan menjadikan pembelajaran sejarah menjadi lebih riil dan bermakna.
2) Akan menjadikan pembelajaran sejarah sebagai sumber inspirasi dan motivasi.
b. Bagi Guru
1) Akan menjadikan pembelajaran sejarah menjadi sesuatu yang lebih aktual dan kontekstual.
2) Bagi Peneliti
1) Akan menambah wawasan baru dalam pembelajaran sejarah berbasis biografi tokoh lokal.
3) Bagi instansi
1) Memberikan alternatif pembelajaran sejarah secara baru.
E. Metode Penulisan
Metode penulisan dalam makalah ini menggunakan Studi Litaratur. Studi Literatur diandaikan sebagai sebuah penelitian untuk mendapatkan gambaran yang menyeluruh tentang apa yang sudah dikerjakan orang lain dan bagaimana orang mengerjakannya, kemudian seberapa berbeda penelitian yang akan kita lakukan. Dalam studi literatur ada beberapa teknik yang dapat digunakan, antara lain (1) Criticize, (2) Contrast, (3) Compare, (4) Summarize, (5) Synthesize. Hasil dari teknik tersebutlah yang kemudian ditulis sebagai landasan teori untuk analisis penelitian ini. (Wibisastro.wordpress.com/2010/02/10)
F. Sistematika Penulisan
Penyajian dalam makalah ini terdiri atas tiga bagian : pendahuluan, isi penelitian dan simpulan. Pertama merupakan bab pendahuluan sebagaimana telah dibahas, di dalamnya menguraikan beberapa hal pokok mengenai latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penulisan, manfaat penulisan, metode penulisan serta sistematika penulisan.
Isi makalah disajikan dalam tiga bab berikutnya, sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan satu dengan yang lainnya. Pada bab kedua dipaparkan tentang kajian teori dalam penulisan makalah, yang dalam hal ini difokuskan pada penjelasan tentang sejarah tokoh dan deskripsi tentang tokoh lokal dalam sejarah. Dalam bab ketiga pembahasan di fokuskan pada bagaimana pengembangan sejarah tokoh lokal dalam pembelajaran sejarah pada kurikulum 2013. Bagian akhir merupakan kesimpulan atas keseluruhan makalah ini, yang diharapkan dapat menarik benang merah dari uraian pada bab-bab sebelumnya menjadi suatu rumusan yang bermakna. Rumusan kesimpulan ini ditulis pada bab lima, dan ia sekaligus sebagai bab penutup.
BAB II
SEJARAH TOKOH LOKAL
A. Urgensi Pembelajaran Berbasis Tokoh
Penulisan sejarah Indonesia telah diperkaya dengan adanya Seminar Sejarah Lokal, 17 – 20 September 1984 di Medan. Dalam Seminar itu telah dikemukakan lima tema pokok, yaitu : (1) Dinamika masyarakat pedesaan, (2) Pendidikan sebagai faktor dinamisasi dan integrasi sosial, (3) Interaksi antar suku bangsa dalam masyarakat majemuk, (4) Revolusi nasional di tingkat lokal, dan (5) Biografi Tokoh lokal.
Makalah-makalah dalam Seminar itu menunjukkan adanya semangat interdisipliner di kalangan sejarawan Indonesia masa kini. Kesadaran dalam penggunaan teori dan konsep ilmu-ilmu sosial telah melahirkan tulisan-tulisan yang sanggup menjelaskan sejarah secara struktural dalam pola-pola sosial dan dinamika –dalam yang terdapat di lokalitas yang dibicarakan. (Kuntowijoyo, 1994 : 121)
Hal ini dipertegas lagi oleh S. Hamid Hasan (2015) tentang tema-tema dalam sejarah Indonesia yang meliputi, (1) Politik, ekonomi, sosial, budaya, maritim, teknologi, (2) Daerah (menonjol dalam budaya, ekonomi, menghasilkan tokoh), (3) Tokoh.
Untuk yang terakhir, Sejarah berbasis tokoh menjadi penting, karena sebagaimana Renier (1997 : 258) tegaskan :
Kita tidak bisa mengeluarkan seorang manusia dari sejarah. Dia menjadi penting, dia menjalankan pengaruh sosial, namun dia agaknya tidak masuk hitungan karena aneh. Dia tidak bisa ditangkap melalui suatu formula. Selain itu, dia tidak bisa diingkari, sebab di sini ada sesuatu yang tidak bisa dicapai oleh orang pada umumnya. Sekarang dan lagi pencerita muncul menentang benih-benih dari seorang individu sebagai faktor pemecah yang bisa dicapai dalam suatu rantai peristiwa-peristiwa.
Apalagi jika kita korelasikan dengan pendapat dari para sejarawan dari kelompok Romantis seperti dua orang sejarawan Inggris Thomas Carlyle (1795-1881) dan James A. Froude (1818-1894) yang berpendapat bahwa yang menjadi faktor penyebab utama dalam perkembangan sejarah ialah tokoh-tokoh orang besar (great man theory). (Sjamsuddin, 2012 : 131). Atau dalam istilah Mestika Zed (2001), seraya mengutip Thomas Carlyle, bahwa sejarah itu “diciptakan” oleh tokoh sejarah, karena merekalah yang menentukan arah perjalanan sejarah. Dengan kata lain, setiap episode dalam sejarah selalu memiliki “orang besar” yang menentukan “maju-mundurnya” jalan sejarah. Secara tegas, Taufik Abdullah (1985 : 234) mengatakan, dengan biografi [sejarah hidup tokoh, pen] kita mendekatkan diri kepada gerak nafas yang sesungguhnya. Dengan biografi pula kita akan lebih mungkin mengerti pergumulan manusia mengatasi lingkungan yang mengitari dirinya.
“Orang besar” dalam sejarah adalah mereka yang mempunyai tujuan tertentu yang mencakup keinginan potensial, yaitu kehendak dunia ruh. Mereka disebut para pahlawan, karena mereka memusatkan tujuan dan pekerjaannya dari ketenangan dan sistem yang teratur yaitu, jalan suci tentang sesuatu, meskipun dari sumber yang kandungannya tersembunyi dan belum nampak di permukaan. (Hegel, 2003 : 52). Menurut Carlyle, sebagaimana yang dikutip oleh Wiraatmaja (2002 : 161), pahlawan atau orang besar dalam sejarah itu bukan hanya pemimpin yang menyelamatkan kita, melainkan mereka yang melalui analisis sejarah kita adalah orang besar.
Pada dasarnya tokoh sejarah adalah pahlawan dan pemimpin bagi masyarakat dan bangsanya. Pahlawan dan pemimpin itu mungkin melakukan sesuatu yang penuh keberhasilan, tetapi juga mungkin melakukan sesuatu yang tingkat keberhasilannya tidak tinggi atau bahkan gagal. Pembelajaran sejarah dapat memberikan pemahaman mengenai seorang pahlawan dan pemimpin yang berhasil, kurang berhasil atau gagal. Berdasarkan kajian tersebut peserta didik yang belajar sejarah dapat memikirkan sesuatu yang lain dari apa yang sudah dilakukan para pahlawan dan pemimpin tersebut. Peserta didik dapat menjadi “pahlawan” dan pemimpin dengan mempelajari apa yang terjadi di masyarakat/bangsanya, mencari solusi, dan merencanakan kepahlawanan dan kepemimpinan untuk menerapkan solusi tersebut. Mungkin saja tindakan tersebut berupa suatu konsep yang tertuang dalam bentuk tulisan. Kreatifitas dalam pembelajaran sejarah dapat dilakukan dnegan menerapkan “if history” sehingga peserta didik dapat melakukan kajian mengenai konsekuensi dari sebuah peristiewa sejarah yang dibuat dalam bentuk “if history”. (Hasan, 2012 : 63)
Dari pendapat yang telah dipaparkan, dapat ditarik kesimpulan bahwa pengggunaan tokoh dalam pembelajaran sejarah di kelas memiliki fungsi, yakni : (a) bagi guru, biografi atau autobiografi dapat digunakan untuk memberi masukan dalam mempelajari periodisasi waktu dan tempat dalam lingkup yang lebih kecil, termasuk di dalamnya memahami setting dan jiwa zaman yang berkembang sesuai latar cerita di mana tokoh berada, dan (b) bagi peserta didik, biografi atau autobiografi dapat memberikan pengalaman yang menyenangkan dengan membaca kisah hidup tokoh-tokoh sejarah teramasuk di dalamnya mengetahui segala peristiwa yang terjadi secara nyata. Akan tetapi, penampilan tokoh ini hanya sebagai contoh “idyllic” dari sebuah narasi puitis sejarah yang di dalamnya jika dimaknai mengandung pembelajaran yang menarik dan berharga. (Sjamsuddin, 2012 : 81).
B. Tokoh Lokal Dalam Sejarah
Menurut Lucey dan Romein, dalam Helius Sjamsudin ( 2007 : 159-160), sejarah adalah kajian tentang kegiatan-kegiatan manusia yang merupakan manifestasi dari pikiran, perasaan, dan perbuatannya pada masa lalu. Dengan demikian, manusia menjadi faktor dan pemegang peran utama. Manusia bertanggungjawab atas kesinambungan dan perubahan sejarah. Manusia menentukan jalannya peristiwa-peristiwa. Akan tetapi selain menentukan dengan adanya tenaga dan kemauan yang ada di dalam dirinya, manusia juga ditentukan oleh tenaga-tenaga yang berada di luar dirinya sendiri.
Peran individu atau kelompok orang sangat menentukan dalam konteks sebagai subjek atau pelaku suatu peristiwa sejarah. Tidak semua orang bisa menjadi orang terkenal, menjadi pembesar atau pemimpin atau negarawan dan tidak semua mereka yang disebutkan di atas dapat menjadi subjek atau pelaku sejarah yang memiliki bobot atau membuat peristiwa yang bersejarah. Hal tersebut menurut hemat penulis ada hubungannya dengan teori peran individu, teori medan dan sebagainya.
Teori peran beranggapan bahwa peranan seseorang itu merupakan hasil interaksi diri (self) dengan posisi (status dalam masyarakat) dan dengan peran akan menyangkut perbuatan yang punya nilai dan normatif. Yang penting dalam teori peran ini adalah bahwa individu atau aktor sebagai pelaku peristiwa dan hasil perbuatan sebagai objek peristiwa sejarah mempunyai hubungan erat bersifat kontinum dan temporal. (Tamburaka, 1999 : 80).
Di daerah Kabupaten Indragiri Hilir, khususnya kecamatan Keritang, ada sosok yang jikalau di film-film Barat kurang lebih sama ceritanya dengan sosok Robin Hood, seorang “pencuri” yang mana hasil curiannya digunakan atau dibagi-bagikan kepada orang –orang miskin pada masanya. Penjahat atau Pahlawan. Tergantung dari perspektif mana kita melihatnya.
Sosok yang penulis maksud bernama Panglima Sulung. Gelar panglima di depan nama bukanlah gelar resmi dari kerajaan, melainkan sebuah gelar yang disematkan kepadanya atas keberaniannya di dalam menghadapi penjajahan Belanda, sekaligus juga gelar atas kepemimpinannya sebagai seorang Kepala Lanun (Perompak). Adapun Sulung, juga bukan merupakan nama asli, akan tetapi nama panggilan dalam masyarakat Melayu yang diperuntukkan bagi orang yang dalam keanggotaan keluarga, berstatus sebagai anak pertama (Sulung). Siapa nama asli atau sebenarnya sosok ini, tidak ada yang mengetahuinya. Hanya saja yang dikenal oleh masyarakat, bahwa dia adalah pemimpin kelompok Lanun (perompak) yang beroperasi di aliran Sungai Gangsal dan Sungai Reteh, yang kemudian tergerak untuk melakukan perlawanan terhadap penjajah Belanda di daerah tersebut. Sehingga sebagai penghargaan terhadap almarhum, Pemerintah Daerah Kabupaten Indragiri Hilir menggunakan namanya untuk Rumah Sakit yang ada di kecamatan Reteh, Pulau Kijang, Rumah Sakit Panglima Sulung.
Akan tetapi, sejarah tentang Panglima Sulung ini sangat jarang ditulis. Sehingga sangat sulit bagi kita (termasuk penulis) untuk mengetahui lebih detail tentang siapa sosok istimewa ini. Sehingga cerita yang beredar di masyarakat, hanyalah cerita lisan yang bersifat simpang siur, antara nyata dan tidak nyata. Akan tetapi sosok ini merupakan sejarah tokoh lokal yang unik dan menarik dalam konteks sejarah Indonesia.
Cerita yang agak mirip bisa kita temukan, pada sosok Teuku Umar di Aceh. Di mana sosok Teuku Umar (1854-1899), sebagaimana dalam Mukhlis PaEni (2002 : 103-104), Sayidi yang legendaris ini dikenal sangat kontraversial dalam berbagai tindakan, jalan hidup dan taktik pertempuran selama perang Aceh. Berkali-kali ia berperang di pihak Sang Kafir. Kemudian lari lagi ke pihak Aceh, menyeberang lagi dan lari lagi. Ia juga diangkat sebagai penasehat dan orang kepercayaan Belanda dalam Perang Aceh. Ia menyerang patriot-patriot Aceh dan korbanpun berjatuhan akibat ulahnya. Karena sepak terjangnya itu ia dicap sebagai anjing pengkhianat yang amat laknat, ketika ia guru di medang perang berakhirlah petuangannya yang kontraversial itu. Peluru Beulanda Kaphe (Belanda Kafir) merengut jiwanya. Ia gugur sebagai panglima perang Aceh yang sejati, dan ketika jasadnya dikebumikan di samping masjid di Kampung Mugo, orang-orang Aceh menyebutnya Teuku Johan Pahlawan. Tuanku Pahlawan yang perkasa.
Dalam rangka untuk melakukan rekonstruksi, terhadap sejarah Panglima Sulung tersebut sangat sulit dilakukan, dikarenakan keterbatasan sumber sejarah yang ada. Terutama sumber sejarah pertama, baik sumber cetakan (published) seperti publikasi pemerintah dan non pemerintah (swasta atau individu), maupun sumber tidak dicetak (unpublished) atau sumber manuskrip. Di antara sumber-sumber pertama tersebut adalah kronik, autiografi, memoir, surat kabar, publikasi umum, surat-surat pribadi, catatan harian, notulen rapat, dan sastra. (Sjamsuddin, 2007 : 110-111).
Sebagai usaha untuk mencari informasi tentang sosok Panglima Sulung, yang bisa dilakukan adalah dengan menggunakan teknik sejarah lisan. Menurut Sjamsuddin (2007 : 102-103) ada dua kategori untuk sumber lisan ini. Pertama, Sejarah Lisan (Oral History), Ingatan Lisan (Oral Reminiscence) yaitu ingatan tangan pertama yang dituturkan secara lisan oleh orang-orang yang diwawancarai oleh sejarawan. Seorang veteran perang kemerdekaan Indonesia, misalnya, atau diplomat yang aktif dalam perundingan dengan Belanda selama periode itu, wawancara-wawancara mereka merupakan produk sumber sejarah lisan. Sejarah lisan ini banyak digunakan di Inggris dan negara-negara Barat lainnya terutama untuk sejarah sosial sejak tahun 1960-an. Kedua, Tradisi Lisan (Oral Tradition) yaitu narasi dan deskripsi dari orang-orang atau peristiwa-peristiwa pada masa lalu yang disampaikan dari mulut ke mulut selama beberapa generasi. Di negara-negara industri maju, tradisi lisan ini dapat dikatakan sudah lenyap, tetapi di negara-negara yang sedang berkembang di mana melek huruf belum dapat menggantikan sama sekali budaya lisan, tradisi ini masih bisa bertahan hidup. (Sjamsuddin, 2007 : 102-103).
Adapun metodologi sejarah
lisan yang digunakan, menurut Chew (dalam Huen, Morisson, dan Guan, 2000 : 86-87) dalam
rangka menciptakan dan mengumpulkan arsip sejarah, adalah dengan penggunaan
teknik wawancara dalam penelitian sejarah. Struktur wawancara dapat dibedakan
dalam dua bagian, wawancara yang memfokuskan topik, dan pendekatan pengalaman
hidup (life history) yang menempakan sejarah kehidupan seseorang dalam
konteks sosial dan sejarah. Pewawancara dengan daftar pertanyaannya dan
saran-saran tidak terucap membantu membentuk kisah – dalam bentuk jawaban yang
diberikan oleh yang diwawancarai. Ada diskursus interaktif yang berkembang
antara pewawancara dan yang diwawancarai dalam membangun sebuah “teks” ketika
pewawancara mengajukan pertanyaan dan yang diwawancarai mengingat-ingat,
mengorganisasi pikiran dan merenungkan jawabannya untuk menjawab pertanyaan
tersebut. Ada berapa persyaratan untuk membangun sebuah
“teks” sejarah lisan, pertama, yang diwawancarai harus memiliki kenangan
mengenai suatu pengalaman untuk diceritakan kepada umum, dan kedua,
pewawancara memiliki sebuah kerangka konseptual dan analitis dalam mendekati
pihak diwawancarai. Untuk mendokumentasikan wawancara tersebut, hendaknya
kegiatan wawancara itu direkam untuk bisa didokumentasikan, sehingga bisa
digunakan kapan dan di mana saja ketika diinginkan.
Dengan pembelajaran di atas, para murid menurut Hasan (1994 : 104) dipersiapkan untuk mengikuti prosedur seperti yang dilakukan oleh peneliti profesional yaitu metodologi sejarah. Metode pengajaran pada dasarnya adalah upaya guru untuk membantu siswa dalam mempelajari sesuiatu, maka yang utama adalah proses belajar siswa.
BAB III
PENGEMBANGAN MATERI TOKOH LOKAL SEBAGAI SUMBER MATA PELAJARAN SEJARAH INDONESIA DALAM KURIKULUM 2013
A. Bagaimana Pengembangan Materi Tokoh Lokal Dalam Mata Pelajaran Sejarah Indonesia
Berangkat dari prinsip pendidikan sejarah dalam kurikulum 2013 yang dikemukakan oleh S. Hamid Hasan (2015) dalam Presentasi di Direktorat Sejarah dan Nilai Budaya, di Bandung, pada 6 Agustus 2015, ada 4 prinsip yang mesti dipenuhi. Prinsip pertama, Pengetahuan masa lalu digunakan untuk mengenal dan memahami kehidupan masa kini dan membangun kehidupan masa depan. Prinsip kedua, Pengetahuan masa lampau dibangun atas dasar pemahaman dan analisis terhadap fakta sejarah, dikembangkan berdasarkan penerapan hukum kausalita, perubahan dan kesinambungan. Fakta sejarah dikumpulkan dari sumber sejarah. Prinsip ketiga, Keberlanjutan sejarah ada dalam kehidupan masa kini yang perlu diidentifikasi dari peninggalan berupa artefak dan fosil, kebiasan-kebiasaan, cara berpikir, sikap hidup, ideologi, sistem pemerintahan, dan sebagainya. Berbagai aspek kehidupan tersebut ada yang dapat dan perlu dilanjutkan, dikembangkan bagi kehidupan masa depan tetapi ada juga yang sudah tidak dapat dipertahankan. Prinsip keempat, Dalam upaya mempertajam kemampuan berpikir sejarah, peserta didik perlu melakukan kajian terhadap interpretasi sejarah yang berbeda (historical issues).
Lebih lanjut, S. Hamid Hasan menjelaskan tentang tujuan pembelajaran sejarah dalam kuriklum 2013 meliputi : Pertama, Mengembangkan rasa kebangsaan, cinta tanah air dan penghargaan terhadap hasil dan prestasi bangsa. Kedua, Membangun rasa kebangsaan, cinta tanah air, memahami masyarakat dan bangsa, serta menyadari keberlanjutan masa lalu dalam kehidupan masa kini, untuk membangun kehidupan masa depan yang lebih baik. Ketiga, Membangun kesadaran peserta didik tentang pentingnya konsep waktu dan tempat/ruangdalam rangka memahami perubahan dan keberlanjutan dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa di Indonesia. Keempat, Mengembangkan kemampuan berpikir historis (historical thinking) melalui kajian fakta dan peristiwa sejarah. Kelima, Menumbuhkan apresiasi dan penghargaan terhadap peninggalan sejarah sebagai bukti peradaban bangsa Indonesia di masa lampau. Keenam, Menumbuhkan kesadaran dalam diri peserta didik sebagai bagian dari bangsa Indonesia yang memiliki rasa bangga sebagai bangsa, cinta tanah air, melahirkan empati dan perilaku toleran yang dapat diimplementasikan dalam berbagai bidang kehidupan masyarakat dan bangsa.
Untuk implementasi pembelajaran di kelas, ada 6 prinsip-prinsip pembelajaran Sejarah Indonesia dalam kurikulum 2013, berdasarkan pendekatan scientific, yang mesti dilakukan adalah : (1) Berpusat pada peserta didik. (2) Mengembangkan kreativitas peserta didik.(3) Menciptakan kondisi menyenangkan dan menantang. (4) Bermuatan nilai, etika, estetika, logika, dan kinestetika. (5) Pembelajaran harus bergeser dari “diberi tahu” menjadi “aktif mencari tahu”. (6) Menyediakan pengalaman belajar yang beragam melalui penerapan berbagai strategi dan metode pembelajaran yang menyenangkan, kontekstual, efektif, efisien, dan bermakna. (Hasan, 2015).
Berangkat dari prinsip pendidikan sejarah Indonesia dalam kurikulum 2013, yang kemudian dijabarkan dalam prinsip –prinsip pembelajaran, dapat disimpulkan, bahwa sangat mungkin bagi guru untuk mengembangkan pembelajaran sejarah berbasis tokoh lokal dalam pembelajaran sejarah di kelas. Dalam konteks pembelajaran ini adalah sejarah Panglima Sulung.
Sebagaimana dalam Buku Guru untuk SMA/MA/SMK/MAK kelas XI, dalam Bab 2 dengan tema Perang Melawan Kolonialisme, pada pembelajaran ketujuh sampai dengan dua belas, pembahasan tentang sejarah Panglima Sulung dapat dimasukkan pada pembelajaran ini. Dalam hal ini guru bisa menggunakan Metode Riset atau Penelitian Sejarah dalam kegiatan pembelajarannya.
Penggunaan Metode Riset atau Penelitian Sejarah dalam pembelajaran sejarah sepertinya belum banyak digunakan para guru dalam mengajar sejarah. Kecendrungan penggunaan ceramah dan mencatat bahan pelajaran hingga berakhir waktu pelajaran dalam proses belajar mengajar masih mendominasi. Padahal dalam melatih keterampilan, baik itu keterampilan intelektual maupun keterampilan hidup dalam pendidikan sejarah, hanya dapat dilakukan dengan menggunakan menggunakan metode mengajar tersebut.
Pada umumnya metode mengajar sejarah yang mirip dengan metode riset adalah metode discovery (penemuan) yang digunakan Bruner. Sedangkan sebagian pakar lainnya menggunakan istilah inquiri (penyelidikan) yang banyak diterapkan pada ilmu-ilmu eksak meskipun sebagian guru Pendidikan IPS juga telah dianjurkan untuk menggunakannya. Bruner mengatakan, “kadang-kadang istilah ini disebut discovey inquiry yang menunjukkan bahwa suatu konsep ditemukan setelah dilakukan suatu penyelidikan sehingga disebut discovey inquiry method”.
Namun untuk pendidikan sejarah sebaiknya menggunakan metode penelitian sejarah. Kalau metode discovery inquiri lebih menitikberatkan pada pengumpulan dan penyelidikan sumber-sumber yang relevan dengan materi pelajaran yang diajarkan, maka metode sejarah dapat berfungsi lebih dari itu, yakni pengumpulan dan penyelidikan sumber-sumber dan informasi yang berhubungan dengan suatu peristiwa sejarah yang sedang dipelajari siswa berdasarkan prosedur penelitian sejarah. Artinya, sumber data yang berusaha dikumpulkan siswa adalah sumber data sejarah yang relevan dengan materi pelajaran melalui penerapan metode (penelitian) sejarah.
Metode penelitian sejarah adalah penelitian yang dilakukan berdasarkan sejumlah kegiatan yang lazim dilakukan pada metode penyelidikan ilmiah umumnya, namun ada beberapa patokan atau prosedur yang harus dilakukan yang berhubungan dengan sejarah. Prosedur yang dimaksudkan tersebut dijelaskan Hansiswany Kamarga (2000), yakni pengumpulan sumber-sumber dari peristiwa (heuristic), kajian terhadap evidensi (kritik), kajian interpretasi evidensi, dan membangun cerita sejarah berdasarkan kritik terhadap evidensi dan interpretasi (historiografi).
Penggunaan metode penelitian sejarah membutuhkan adanya aktivitas melalui suatu proses keterampilan siswa. Aktivitas ini bila dilakukan secara sungguh-sungguh maka bentuk belajar akan beralih dari kebiasaan berpusat pada guru (teacher center) menjadi belajar yang berpusat pada siswa (student center). Guru dapat melakukan fungsinya sebagai fasilitator, pengarah, pembimbing dan penilai terhadap proses tersebut, sedangkan siswa memanfaatkan segala potensi dirinya dalam belajar.
Pembelajaran menggunakan metode penelitian sejarah dikemukakan Hariyono (1995), memberi pengalaman dalam mengumpulkan, mengorganisasi, dan mengklasifikasi data yang luas. Sejarah mengajarkan kepada murid bagaimana mencari informasi yang relevan, menggunakan wawasan sejarah untuk memecahkan masalah, atau mengkomunikasikan hasil belajarnya kepada orang lain. Untuk hal tersebut, dalam pendidikan sejarah dikembangkan keterampilan berpikir kesejarahan, yakni kemampuan agar murid dapat membedakan waktu lampau, masa kini, dan masa yang akan datang, melihat dan mengevaluasi evidensi, membandingkan dan menganalisis antara cerita sejarah, ilustrasi, dan catatan dari masa lalu, menginterpretasi catatan sejarah, dan membangun suatu cerita berdasarkan pemahamannya.
Penekanan tentang masalah belajar seperti itu dikemukakan pula Sjamsuddin (2006), bahwa siswa diharapkan dapat mengapresiasi (afektif) apa yang dipelajarinya tentang orang-orang, masa-masa, dan peristiwa-peristiwa tertentu dari masa lalu. Siswa harus mencari makna (meaning) dan belajar dari kejadian-kejadian, apakah itu baik atau buruk. Tahap berikutnya di bawah bimbingan guru tentu saja siswa-siswa perlu mengevaluasi dan mengkritik buku-buku teks atau teks-teks sejarah.
Dalam hubungan tersebut, Sjamsuddin (1999) mengemukakan bahwa mengkaji sejarah tidak hanya membantu kita menafsirkan dan menjelaskan peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan dinamika manusia, menyediakan bimbingan, inspirasi dan solidaritas kelompok dalam menjalani kehidupan mereka, tentu saja untuk menyiapkan disiplin mental, yaitu melatih menggunakan proses mental dan latihan dalam pengembangan sikap-sikap mental sebagai olah intelektual.
Merekonstruksi sejarah menggunakan cara tersebut apabila dirasakan sulit diterapkan kepada siswa di mana mereka juga mempunyai beban pelajaran lain, dapat ditempuh juga dengan menugaskan siswa menekuni dokumen atau menganalisis teks sejarah. Perhatian penting yang perlu ditekankan adalah siswa belajar sejarah setidak-tidaknya mampu mengumpulkan data, menganalisis atau menafsirkan, melakukan kritik, menulis dan menyajikan hasil temuan dari pencariaannya serta mampu memecahkan masalah dan mengambil keputusan yang tepat. Karena itu, dapat saja digunakan cara yang lebih sederhana tetapi tidak sampai mengaburkan esensi dari makna penelitian sejarah (Isjoni, 2007 : 79 - 80).
Kaitannya dengan pembelajaran Saintifik dalam kurikulum 2013, pembelajaran dengan metolodogi sejarah justru merupakan metode yang paling dekat dan paling sesuai. Berikut ini perbandingan langkah pembelajaran Saintifik dalam kurikulum 2013 dan metodologi dalam ilmu sejarah.
|
Pembelajaran Saintifik Kurikulum 2013 |
Metode Sejarah (versi Kuntowijoyo) |
Metode Sejarah (versi Helius Sjamsuddin) |
|
MENGAMATI Kegiatan Belajarnya : Membaca, Mendengar, Menyimak, Melihat (Tanpa atau dengan alat) |
PEMILIHAN TOPIK Pemilihan topik sebaiknya berdasarkan : (1) kedekatan emosional dan (2) kedekatan intelektual |
|
|
MENANYA Kegiatan Belajarnya : Mengajukan pertanyaan tentang informasi yang tidak dipahami dari apa yang diamati atau pertanyaan untuk mendapatkan informasi tambahan tentang apa yang diamati (dimulai dari pertanyaan faktual sampai ke pertanyaan yang bersifat hipotetik) |
- |
|
|
MENGUMPULKAN INFORMASI/ EKSPERIMEN Kegiatan Belajarnya : Melakukan Eksperimen § membaca sumber lain selain buku teks § mengamati objek/kejadian/ Aktivitas § wawancara dengan nara sumber |
PENGUMPULAN SUMBER Sumber sejarah disebut juga data sejarah, yang dikumpulkan harus sesuai dengan jenis sejarah yang akan ditulis. Sumber itu menurut bahannya ada 2 : tertulis dan tidak tertulis atau dokumen dan artifact (artefact).
|
HEURISTIK Kegiatan mencari sumber- sumber untuk mendapatkan data-data, atau materi sejarah, atau evidensi sejarah |
|
- |
VERIFIKASI (kritik sejarah, keabsahan sumber)
|
KRITIK (INTERNAL DAN EKSTERNAL) Kritik sumber, baik terhadap materi (ekstern) sumber maupun terhadap substansi (isi) sumber |
|
MENGASOSIASIKAN/ MENALAR/ MENGOLAH INFORMASI Kegiatan Belajarnya : § Mengolah informasi yag sudah dikumpulkan baik terbatas dari hasil kegiatan mengumpulkan/ eksperimen mau pun hasil dari kegiatan mengamati dan kegiatan mengumpulkan informasi. § Pengolahan informasi yang dikumpulkan dari yang bersifat menambah keluasan dan kedalaman sampai kepada pengolahan informasi yang bersifat mencari solusi dari berbagai sumber yang memiliki pendapat yang berbeda sampai kepada yang bertentangan |
INTERPRETASI Atau penafsiran itu ada 2 macam : Analisis (menguraikan) dan sintesis (menyatukan) |
|
|
MENGOMUNIKASIKAN Kegiatan Belajarnya : Menyampaikan hasil pengamatan, kesimpulan berdasarkan hasil analisis secara lisan, tertulis, atau media lainnya |
HISTORIOGRAFI Dalam penulisan sejarah, aspek kronologi sangat penting. |
HISTORIOGRAFI Penulisan sejarah yang meliputi penafsiran, penjelasan, dan penyajian
|
|
Sumber : Hasan, 2015. |
Sumber : Kuntowijoyo, 2001 : 96-106 |
Sumber : Sjamsuddin, 2007 : 85-239 |
Berikut rencana pembelajaran sejarah tokoh lokal Panglima Sulung :
Tema Pembelajaran : Panglima Sulung
Metode Pembelajaran : Metode Riset /Metode Sejarah (Sejarah Lisan)
Dengan tahapan (menggunakan langkah-langkah Kuntowijoyo) :
1. Pengumpulan Sumber (Wawancara)
2. Verifikasi
3. Interpretasi
4. Historiografi
Waktu pertemuan : 2 Kali tatap muka
|
Pertemuan I
|
§ Pembagian tugas kelompok belajar (5 orang perkelompok). § Memberikan gambaran tugas yang akan dilakukan terkait pembelajaran sejarah tentang tokoh Panglima Sulung. § Tugasnya ialah melakukan wawancara Lisan kepada para informan yang ada. Untuk itu kepada peserta didik dianjurkan untuk membuat daftar pertanyaan wawancara terlebih dahulu. Selanjutnya dalam proses wawancara disarankan kepada peserta didik untuk melakukan wawancara secara mendalam dan didokumentasikan dengan alat perekam. Setelah itu melakukan verifikasi/seleksi atas hasil wawancara, melakukan penilaian (interpretasi) atas materi-materi wawancara (baik yang ditulis maupun direkam), seterusnya hasil penilaian tersebut direkonstruksikan dalam bentuk tulisan biografi Panglima Sulung (historiografi). |
|
Pertemuan II |
§ Presentasi tulisan biografi Panglima Sulung masing-masing kelompok, yang ditindaklanjuti dengan diskusi atas hasil kerja masing-masing. § Sebagai tahap akhir dari seluruh proses pembelajaran, hasil kerja kelompok dan hasil diskusi dikomparasikan, selanjutnya diambil sebuah konklusi (kesimpulan) yang nantinya akan ditulis menjadi biografi Panglima Sulung hasil kerja para peserta didik. |
Dengan langkah-langkah pembelajaran tersebut di atas, kegiatan pembelajaran sejarah di kelas, bagi para peserta didik justru akan menjadi lebih “hidup”. Pembelajaran sejarah yang hidup menurut Isjoni (2007 : 90) dikembangkan dengan cara kerja sama dalam bentuk kelompok untuk mencapai tujuan tertentu. Pengalaman dalam kerja dapat membantu mengembangkan kerjasama sosial dengan memberi kesempatan berdiskusi secara bersama-sama masalah-masalah yang lalu, misalnya menyusun diskusi sesuatu pokok penting, dan belajar dalam bentuk proses penyelidikan secara bersama –sama tentang masalah sosial sebagai suatu proses demokrasi. Perdebatan-perdebatan dalam diskusi tentang masalah –masalah sejarah merupakan bentuk latihan kerjasama dan kesabaran yang memungkinkan pembicaraan kelas.
Pada akhirnya, kegiatan pembelajaran sejarah bukan lagi pembelajaran yang kering dan membosankan. Justru pembelajaran sejarah dengan metode riset ini akan memberikan pengalaman berharga dan bermakna bagi peserta didik, terhadap berbagai peristiwa yang terjadi di sekitarnya. Mereka akan tanggap dan peduli, sekaligus ikut andil dalam berbagai peristiwa sejarah yang terjadi. Dengan ini, diharapkan akan muncul kesadaran sejarah dalam diri mereka, sebagai generasi penerus bangsa Indonesia ini di masa yang akan datang.
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Belajar sejarah adalah belajar tentang kehidupan. Oleh karenanya pembelajaran sejarah haruslah menjadi pembelajaran yang bermakna bagi kehidupan. Untuk itu pembelajaran sejarah, pertama-tama harus berangkat dari kehidupan yang paling dekat dengan kehidupan peserta didik. Untuk memberikan gambaran kehidupan secara riil, maka pembelajaran sejarah akan lebih nyata, melalui pembelajaran terhadap kehidupan seorang tokoh. Hal ini lebih dekat secara emosional, dan lebih mudah untuk dipelajari, sebagai contoh nyata dalam kehidupan.
Untuk menjadikan pembelajaran sejarah terhadap tokoh lokal di kelas, kurikulum 2013 memberikan ruang dan kesempatan tersebut kepada para guru. Apalagi pendekatan Scientifik dalam kurikulum 2013, dengan kegiatannya berupa mengamati, menanya, mengumpulkan informasi/eksperimen, mengasosiasikan/menalar/mengolah informasi, serta mengkomunikasinnya, yang sering disebut dengan 5 M, bersesuaian dengan metode dalam penelitian sejarah, mulai dari heuristik (pengumpulan sumber), verifikasi (kritik sumber), interpretasi (penilaian), dan terakhir historiografi (penulisan).
Pembelajaran sejarah tokoh lokal (Panglima Sulung) dengan menggunakan Metode Sejarah/Metode Riset (dalam hal ini Sejarah Lisan), akan menjadikan pembelajaran sejarah lebih menarik dan bermakna. Peserta didik akan belajar menjadi seorang “sejarawan” untuk merekonstruksi sebuah fakta sejarah di sekelilingnya. Dengan ini, kesadaran sejarah akan muncul dalam diri mereka, sehingga menjadikan mereka lebih peduli dan tanggap terhadap apa pun yang ada disekelilingnya. Peserta didik tidak sekedar tahu tentang sebuah peristiwa sejarah, tapi juga bisa merasakan bahkan ikut andil dalam peristiwa sejarah itu, dengan cara menuliskannya (sebagai sebuah biografi tentang Panglima Sulung). Sehingga kegiatan pembelajaran sejarah Panglima Sulung ini, tidak hanya berhenti di kelas dan selesai tanpa ada hasil. Sebaliknyalah biografi yang ditulis dan didiskusikan oleh peserta didik bersama guru di kelas, akan menjadi dokumen bahkan karya sejarah yang berguna, baik bagi sekolah, maupun bagi instansi terkait. Di atas segalanya, peserta didik dengan mempelajari dan menuliskan sejarah hidup Panglima Sulung, mereka akan belajar dari kehidupan sang tokoh, yang pada akhirnya mereka akan dapat mengambil inspirasi dan motivasi sebagai pelajaran dalam kehidupan mereka.
DAFTAR BACAAN
SUMBER BUKU :
Abdullah, Taufik. (1985). Sejarah Lokal Di Indonesia : Kumpulan Tulisan. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.
Chew, Daniel. (1998). Metodologi Sejarah Lisan : Pendekatan Pengalaman Hidup. Dalam Huen, P. Lim Pui, Morisson, James H, Guang, Kwa Chong. (ed). (1998). Oral History in Southeast Asia : Theory and Method. Dialihbahasakan oleh R.Z. Leirissa. Sejarah Lisan di Asia Tenggara : Teori dan Metode. Jakarta : Pustaka LP3ES.
Gonggong, Anhar. (2015). “Sejarah Melayu” Dalam Historiografi Indonesia. Dalam Dahlan, Ahmad. Sejarah Melayu. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.
Hasan, S. Hamid. (2012). Pendidika Sejarah Indonesia : Isu dalam Ide dan Pembelajaran. Bandung : Rizqi Press.
__________. (2015). Kurikulum Pendidikan Sejarah. Presentasi Di Direktorat Sejarah Dan Nilai Budaya, di Bandung, pada 6 Agustus 2015
Hegel, G.W.F. (2003). Introduction to the Philosophy of History. Cambridge : Hacket Publishing Company. Dialihbahasan olehWin Ushuluddin dan Harjali. Filsafat Sejarah. Magelang : Panta Rhei Books.
Isjoni. (2007). Pembelajaran Sejarah Pada Satuan Pendidikan. Bandung : Alfabeta.
Kuntowijoyo. (1994). Metodologi Sejarah. Yogyakarta : Tiara Wacana.
__________. (2001). Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta : Yayasan Bentang Budaya.
Mulyana, Agus, Gunawan, Restu. (2007). Lingkungan Terdekat : Sumber Belajar Sejarah Lokal. Dalam Mulyana, Agus, Gunawan, Restu. Sejarah Lokal : Penulisan dan Pembelajaran Di Sekolah. Bandung: Salamina Press.
PaEni, Mukhlis. (2002). Arung Palakka : Sebuah Renungan tentang Filsafat Sejarah Bugis Abad Ke-17. Dalam Taufik Abdullah et.al. Dari Samudera Pasai Ke Yogyakarta : Persembahan Kepada Teuku Ibrahim Alfian. Jakarta : Yayasan Masyarakat Sejarawan Indonesia.
Renier, G.J. (1997). History its Purpose and Method. Dialihbahasakan oleh Muin Umar. Metode dan Manfaat Ilmu Sejarah. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Sjamsuddin, Helijus. (2012). Metodologi Sejarah. Yogyakarta : Ombak.
__________. (2012). Sultan Muhamad (Mat) Seman : Raja Air Barito (1835-1905). Dalam Hansiswany Kamarga dan Yani Kusmarni. Pendidikan Sejarah Untuk Manusia dan Kemanusiaan : Refleksi Perjalanan Karir Akademik Prof. Dr. Said Hamid Hasan, MA. Jakarta : Bee Media Indonesia.
__________. (2007). dalam Sejarah Sebuah Penilaian : Refleksi 70 Tahun Prof. Dr. H. Asmawi Zainul, M.Ed. Bandung : Jurusan Pendidikan Sejarah.
Tamburaka, Rustam E. (1999). Pengantar Ilmu Sejarah, Teori Filsafat Sejarah, Sejarah Filsafat dan Iptek. Jakarta : PT Rineka Cipta.
Widja, I Gde. (1989). Sejarah Lokal Suatu Perspektif Dalam Pengajaran Sejarah. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Proyek Pengembnagan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan.
SUMBER JURNAL :
Zed, Mestika. (2001). Hamka dan Studi Islam di Indonesia. Dalam Historia Jurnal Pendidikan Sejarah. No. 3 Vol. II Juni 2001.
SUMBER INTERNET :
Hasan. S. Hamid. (1994). Metode Penyajian Sejarah dan Keberhasilan Pencapaian Tujuan Kurikuluer. Makalah pada Simposium Pengajaran di Pelabuhan Ratu, Sukabumi dan Seminar Sehari Pengajaran Sejarah di Bandung. Bidang Sejarah dan Nilai Tradisional Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Jawa Barat.
Kamarga, H. (2006). Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan dan Materi Sejarah Lokal. Tersedia di : http://file.upi.edu/Direktori.
Wibisastro. (2010). Studi Literatur. dalam Wibisastro.wordpress.com/2010/02/10. Diunduh pada tanggal 25 Desember 2015.
PENGEMBANGAN MATERI TOKOH LOKAL SEBAGAI SUMBER MATA PELAJARAN SEJARAH INDONESIA DALAM KURIKULUM 2013
Makalah Mata Kuliah :
Kajian Kurikulum Sejarah
Dengan Dosen Pengampu :
Prof. Dr. Said Hamid Hasan
Oleh :
MOH. ZULHAM ALSYAHDIAN (1503376)
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH
SEKOLAH PASCA SARJANA (SPS)
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA (UPI)
BANDUNG
2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar