Kamis, 03 Desember 2020

Historiografi Modern Eropa

 

BAB 1

PENDAHULUAN

 

A.    LATAR BELAKANG PENULISAN

Penulisan sejarah mengalami perkembangan yang berbeda karena dipengaruhi oleh zaman, lingkungan kebudayaan, dan tempat di mana historiografi itu dihasilkan. Pada masa lampau, seorang sejarawan mempunyai fungsi untuk menafsirkan tradisi bangsanya (Lubis, 2008, hlm. 11). Jadi peran Sejarawan sebagai informan adalah menyampaikan informasi seputar peristiwa sejarah masa lampau. Semua peristiwa yang ditulisnya merupakan karya sejarah yang memuat kekhasan zamannya. Penulisan sejarah itulah yang pada akhirnya  memberikan informasi kepada kita yang kini dikenal dengan sebutan historiografi. Dalam perkembangannya, historiografi mengalami dinamisasi. Salah satunya adalah historiografi Barat [baca : Eropa]. Tidak semua karya  historiografi sejarawan tiap zamannya itu sama. Setiap zaman mempunyai kekhasan dan jiwa zamannya sendiri. Itulah sebabnya, di Barat, muncul periodisasi atau pembabakan historiografi Barat (Irana, 2014, hlm. 126).

Apalagi tatkala melihat kembali Historiografi Zaman Eropa modern, terhitung sejak abad ke -16 sampai dengan memasuki abad ke-20. Di mana pada periode ini banyak sekali terjadi ‘pergolakan dan pergulatan pemikiran’ di kalangan bangsa Eropa, baik yang dilatarbelakangi oleh peristiwa teologi [baca : agama ] maupun politik pemerintahan. Hal ini berimbas pada penulisan sejarah pada zaman itu. Sebab, tak jarang sejarah menjadi ‘alat’ dalam pertarungan ideologis dan politis pada masa itu, yang dalam bahasa Azyumardi Azra disebut “terjadi ‘penggunaan’ sekaligus ‘penyalahgunaan’ sejarah (the use and abuse of history)” (2002, hlm. 9). 

Makalah ini akan mencoba melihat kembali perkembangan historiografi pada zaman Eropa modern, yang dibagi dalam beberapa periodisasi. Hal ini dalam rangka untuk memudahkan kajian terhadap masing-masing periode tersebut. Sehingga dari sini bisa dilihat perkembangan historiografi dari masa ke masa, sekaligus apa yang menjadi ciri dari masing-masing periode tersebut. Bukan berarti bahwa periode yang satu lebih baik dan lebih unggul dari periode yang lain. Karena perkembangan penulisan pada masing-masing periode itu sesuai dengan konteks dan ‘jiwa’ zamannya.

 

B.     RUMUSAN MASALAH

Adapun rumusan masalah untuk perkembangan historiografi Zaman Eropa Modern dapat dirinci ke dalam beberapa pertanyaan sebagai berikut:

1.      Bagaimana perkembangan historiografi pada zaman Modern di Eropa : Renaissance-Humanisme, Reformasi-Kontra Reformasi (sekitar abad ke-14 s/d abad 17), Zaman Rasionalisme (abad ke-18), Romantisme, Nasionalisme, dan Filsafat Sejarah (abad ke-19), dan Beberapa Aliran Kontemporer (abad ke-20) ?

2.      Siapa tokoh yang berperan dalam historiografi pada zaman Modern di Eropa : Renaissance-Humanisme, Reformasi-Kontra Reformasi (sekitar abad ke-14 s/d abad 17), Zaman Rasionalisme (abad ke-18), Romantisme, Nasionalisme, dan Filsafat Sejarah (abad ke-19), dan Beberapa Aliran Kontemporer (abad ke-20) ?

3.      Apa yang menjadi ciri historiografi pada zaman Modern di Eropa : Renaissance-Humanisme, Reformasi-Kontra Reformasi (sekitar abad ke-14 s/d abad 17), Zaman Rasionalisme (abad ke-18), Romantisme, Nasionalisme, dan Filsafat Sejarah (abad ke-19), dan Beberapa Aliran Kontemporer (abad ke-20) ?

BAB II

PEMBAHASAN

 

A.    Historiografi Renaissance–Humanisme, Reformasi–Kontra  Reformasi

1.      Renaissance – Humanisme

Istilah renaissance (dalam bahasa perancis) berasal dari bahasa italia yaitu rinascita yang memiliki arti kelahiran kembali. Dalam Hay (1965) sebagaimana dikutip oleh Adisusilo (2013, hlm. 68) bahwa Istilah renaissance pertama kali diperkenalkan oleh Giorgio Vasari pada abad ke-16 untuk menggambarkan semangat kesenian Italia mulai dari abad ke-14 sampai abad ke-16 yang bernafaskan semangat kesenian Yunani dan Romawi. Namun, Burckhardt (1954) memandang lebih jauh lagi tentang renaissance bahwa renaissance bukan hanya sekedar kelahiran kembali kebudayaan yunani dan romawi kuno namun jauh dari itu, renaissance membangkitkan kesadaran manusia sebagai individu yang rasional, sebagi pribadi yang mandiri, yang memiliki kehendak yang bebas dan tanggung jawab (Adisusilo, 2013, hlm. 68).

Renaissance adalah suatu periode dalam sejarah Eropa antara abad ke- 14 sampai dengan abad ke-16. Pada abad ke-14 diawali oleh sejumlah kecil pelopor yang disebut humanis di Italia yang mulai memikirkan dan meninjau kembali dunia sekitar mereka, masalah-masalahnya dan sikap mereka menghadapi masalah-masalah itu. Menyusul abad ke-15 ketika pandangan dan sikap itu berkembang di negara-negara kota Italia terutama Florensia. Kemudian fase terakhir ketika Renaissance Italia menyebar ke istana-istana dan negara-negara Eropa lainnya seperti Perancis, Spanyol, Polandia, Hungaria, Jerman dan Inggris dibawa oleh para humanis artis, sarjana, guru (tutor), arsitek, tentara, pangeran, dan saudagar.

Dalam periode Renaissance ini berkembang apa yang disebut dengan Humanisme. Tokoh-tokoh yang mengkaji dan mengembangkan pikiran serta pandangan ini disebut Humanis. Mereka mempelajari sastra, filsafat, retorika, sejarah dan hukum dan oleh karena itu hanya merekalah yang pantas disebut humanus atau human (manusia) dan yang pantas menjadi pemimpin negara dan masyarakat. Mereka adalah manusia-manusia pilihan (humani) yang telah diadabkan dengan mempelajari kebudayaan Yunani dan Romawi yang disebut Humanitas, sebuah kata lain yang kurang-lebih sama dengan bahasa Inggris humanism (atau dibahasa Indonesiakan humanisme). Sarjana-sarjana dan sastrawan-sastrawan yang memberikan perhatian yang besar kepada pengetahuan, kehidupan serta pikiran klasik Yunani dan Romawi yang disebut “pagan” (penyembah berhala) oleh Abad Pertengahan disebut humanis-humanis.

Humanisme sebagaimana diterapkan pada sejarah adalah berupa pencarian, penemuan dan pengumpulan teks-teks klasik atau dokumen-dokumen kuno yang hilang, melakukan perbandingan dan pengeritikan terhadap sumber-sumber sejarah tersebut. Kritik terhadap teks-teks sastra (literary)  atau dokumen-dokumen itu merupakan salah satu tahap dalam metodologi sejarah yang disebut kritik sejarah (eksternal maupun internal). Kemudian dokumen-dokumen itu diterbitkan sehingga dapat menjadi sumber sejarah. Penerbitan itu dibantu oleh penemuan percetakan sehingga banyak orang yang dapat membaca dan menggunakannya untuk kepentingan penelitian.

Berkat kekaguman para Humanis kepada kebudayaan klasik, sejarah-sejarah model historiografi “pagan” dari zaman klasik dipelari dan ditiru dalam upaya memperbaiki gaya-gaya penulisan sejarah. Perhatian lebih besar kepada kegiatan-kegiatan sekuler seperti peristiwa-peristiwa politik. Terjadi resekulerisasi sejarah. Sejarah pagan direstorasi kembali kepada kedudukan utama setelah selama ini disingkirkan oleh penulis-penulis Kristen pada umumnya., terutama oleh St. Agustinus. Buat pertama kali sejak Romawi runtuh, mayoritas sejarawan terkemuka berasal dari orang-orang kebanyakan dan pejabat-pejabat umum masyarakat atau negara, bukan lagi semata-mata gerejawan dan ahli teologi.

Di antara sejarawan-sejarawan dari masa Renaissance adalah:

1.      Francesco Petrarch (1304-1374). Ia dianggap sebagai “Bapak” dari penulisan sejarah Renaissance.  Minatnya pada sejarah terutama kepada kebudayaan dan tokoh-tokoh terkemuka dari masa antik klasik terutama Roma. Petrarch menulis tentang peradaban-peradaban dari zaman klasik kuno dan berhasil membantah beberapa mitos yang berhubungan dnegan periode Romawi. Meskipun ia tidak menggunakan metode sejarah yang baik, namun ia berhasil mendorong minat kajian sejarah.

2.      Giovanni Boccaccio (1313-1375). Karyanya Life of Dante merupakan biografi Dante sebagai seorang seniman. Tulisan ini merupakan model bagi penulisan-penulisan biografi orang-orang terkemuka di kemudian hari. Puncak karyanya adalah Decamerome, sebuah kumpulan dari 100 kisah dan digubah selama bertahun-tahun. Karyanya berisi berbagai kisah kehidupan manusia yang dituangkan dalam bahasa jenaka, satire dan kadang terlalu blak-blakan tanpa bingkai moral dan etika sama sekali. Suatu tindakan kritis terhadap zamannya yang dinilai sok moralis dan sok suci (Adisusilo, 2013, 95)

3.      Leonardo Bruni (1369-1444). Karyanya memperlihatkan karakteristik-karakteristik dari historiografi mazhab Humanis, yaitu mengikuti gaya-gaya retorika Yunani dan Romawi, termasuk memasukkan retorika orasi fiktif pada fakta-fakta sejarah. Hanya saja ia meniadakan hal-hal yang ajaib dan legenda seperti yang biasa terdapat dalam historiografi pagan dan Kristen. Ia menganggap kritik sumber penting sekali sebagai prinsip sejarah tetapi karena menggunakan retorika klasik maka ia tidak begitu berhasil.

4.      Lorenzo Valla (1406-1457). Dalam narasinya ia lebih tertarik kepada soal-soal skandal yang berhubungan dengan penguasa itu daripada aspek politik dan militernya. Tetapi kelemahan utama dari karyanya ialah bahwa sejarah yang ditulisnya adalah sejarah “resmi”. Pujian utama kepada Valla ialah sebagai kritikus sejarah. Ia berhasil membuktikan bahwa dokumen Donation of Constantine (Derma Konstantin) adalah palsu, dan ini sangat penting bagi suatu kajian teks yang kritis sebagaimana yang dituntut dalam metodogi sejarah.

5.      Niccolo  Machiavelli (1469-1527). Dianggap sebagai sejarawan terbesar Italia yang hidup mendekati akhir Renaissance. Sebenarnya ia lebih merupakan seorang ahli filsafat politik daripada sebagai seorang sejarawan. Baginya karya sejarah adalah alat saja untuk menyingkap hukum-hukum politik. Dalam karyanya History of Florence (1525) ia menunjukkan kemampuannya dalam menangkap sebab-akibat sejarah pada setiap aspek politik dan menyajikannya dengan jelas proses dari perkembangan politik. Ia mempunyai pengertian yang baik dalam melihat latar belakang sejarah bagi perkembangan politik.

6.      Francesco Guicciardini (1483-1540). Sejarawan Italia terbesar di samping Machiavelli yang juga berasal dari Florensia. Karya-karyanya History of Florence dan History of Italy. Tulisan ini dianggap sebagai salah satu historiografi yang benar-benar murni, tidak saja sebagai sebuah karya besar terakhir sejarah dalam pola klasik, tetapi juga karya besar pertama historiografi analitis modern. Ia menggunakan penalaran metodologis politik dalam sejarah. Tema sentral yang menjadi perhatiannya ialah sejarah politik.

Ternyata  humanisme dari Renaissance tersebar juga kemudian ke negara-negara Eropa lainnya, seperti Belanda, Perancis, Inggris, dan lain-lain. Di antara sejarawan-sejarawannya ialah :

1.      Hugo Grotius (1583-1645). Sejarawan humanis Belanda yang lebih dikenal sebagai “Bapak Hukum Internasional”. Karya-karya sejarahnya adalah mengenai bangsa-bangsa Gota, Vandal dan Lambordia, serta sejarah Belgia dan Belanda. Gayanya meniru Tacitus yaitu muluk-muluk dan bertele-tele. Hanya kelebihannya dari Tacitus ia mampu menggunakan psikologi dalam menganalisis peristiwa-peristiwa sejarah sebagaimana dalam merunut sebab-sebab peperangang antara Spanyol dan Belanda tahun 1567.

2.      Christoph Keller [Cellarius] (1634-1717). Usaha-usaha untuk menulis “sejarah-sejarah dunia” menyebabkan diadakan periodisasi sejarah. Christoph Keller membagi sejarah ke dalam periode-periode kuno (sejak penciptaan sampai Kaisar Konstantin), Abad Pertengahan (Sejak Konstantin sampai Konstantinopel jatuh ke tangan Turki tahun 1453), dan Modern (sejak 1453).

3.      Jean Bodin (1530-1596). Bodin menulis karya pertama tentang Metode Sejarah. Karyanya Methodus ad Facilem Historiarum Cognitionem (Method for Easily Understanding History), merupakan  pedoman pada masanya mengenai metode dan kritik sejarah. Dalam karyanya itu Bodin menekankan pula perlunya penafsiran terhadap materi-materi sejarah dan memberikan tekanan yang besar kepada faktor-faktor geografis dalam membentuk peristiwa-peristiwa manusia. Oleh karena itu Bodin dikenal sebagai penafsir geografis sejarah.

4.      Sir Thomas More (1478-1535) dari Inggris. Karyanya mengenai sejarah singkat History of Richard III. Karya ini berupa biografi, ditulis dalam dua bahasa yaitu Latin dan Inggris dengan gaya narasi seni sastra yang tinggi. Versi Inggris terutama penting karena ini merupakan penafsiran pertama dari gaya penuturan humanis klasik yang murni dalam bahasa daerah Inggris asli. More memberikan gambaran yang amat berwarna tentang watak Raja Richard III yang tidak seluruhnya tepat atau bebas dari ketahayulan dan legenda zaman, tentang keburukan moral dan fisik sang raja. Karya lainnya ialah Utopia, sebuah nama yang kemudian digunakan untuk suatu aliran sosialis, sosialis utopia, sebagai lawan dari sosialis ilmiah Karl Marx.

5.      Sir Walter Raleigh (1552-1618). Karyanya merupakan campuran antara humanis yang mencintai kebudayaan klasik dengan seorang puritan yang menyukai Injil dan kebebasan. Ia terutama dipengaruhi oleh Plutarch. Selain mengetahui semua sejarawan klasik bagian terakhir dari karyanya itu terutama mengenai Inggris.

6.      Sir Francis Bacon (1561-1626). Sejarah yang ditulisnya sangat subjektif. Ia menciptakan pendapat-pendapat pribadinya dan menambah-nambah menurut tuntutan imajinasinya dalam menyusun filsafatnya. Maksud sebenarnya ialah menjelaskan dan menafsirkan sumber-sumber materi yang digunakannya itu menurut pendapat-pendapat pribadinya (Sjamsuddin, 2011, hlm. 28-38).

 

 

2.      Reformasi – Kontra Reformasi

Reformasi merupakan suatu gerakan pembaharuan agama Kristen yang dilancarkan oleh Martin Luther di Jerman tahun 1517 terhadap kekuasaan Paus dan Gereja. Gerakan ini dikenal dengan Lutherisme, atau Protestantisme yang kemudian lebih dikenal agama Kristen Protestan. Gerakan ini menyebar juga ke Eropa lainnya, seperti ke Jenewa yang dipimpin oleh Zwingli dan John Calvin. Reformasi Calvinisme pada gilirannya menyebar juga ke Negeri Belanda, Perancis, Skotlandia dan Inggris.

Ketika Renaissance membawa perubahan-perubahan terhadap apa yang telah disebutkan di atas, Reformasi menggoncangkan kesatuan gereja Kristen Abad Pertengahan. Penulisan sejarah terlibat dalam kontroversi-kontroversi keagamaan pada waktu itu. Untuk sementara sejarah berkecimpung lagi dalam masalah teologi yang ditandai oleh semangat zaman moralistik, yang hampir serupa dengan zaman awal Abad Pertengahan.

Selama zaman Reformasi penulisan sejarah menjadi semacam penulisan propaganda. Objektivitas untuk sementara dilupakan. Sejarah ditulis semata-mata menurut kegunaannya. Tujuannya ialah menarik perhatian pemeluk-pemeluk agama untuk memilih Katolik atau Protestan. Akan tetapi akibat akibat positif daripada pertentangan ini ialah para penulis berusaha meneliti secara mendalam dokumen-dokumen sejarah, meskipun motivasi para peneliti dokumen itu untuk pembenaran diri pihaknya masing-masing.  

Dari sejumlah besar sejarawan Protestan [baca : sejarawan Reformasi] di antaranya ialah :

1.      Robert Barnes (1495-1540). Berasal dari Inggris, seorang Protestan pengikut Luther yang menulis The Lives of the Popes of Rome. Tulisan ini dibuat di bawah bimbingan langsung Luther ketika ia melarikan diri ke Jerman untuk mencari perlindungan. Ia mencoba membuktikan bahwa para Paus dan Gereja Katolik bertanggung jawab atas segala kehancuran pada Abad Pertengahan.

2.      John Knox (1505-1572). Knox memusatkan diri pada pandangan teologis dalam sejarah. Ia membatasi diri pada sejarah gereja tanpa memasuki bidang sejarah politik. Untuk sumbernya ia menggunakan catatan-catatan keuskupan sebagai bukti tentang adanya penyiksaan-penyiksaan. Kadang-kadang ia menyelipkan dalam teks-teksnya singkatan dari dokumen-dokumen. Akan tetapi di lain pihak sikapnya dogmatis fanatik tidak memberikan tempat kepada keraguan dan kritik sejarah. Ia justru percaya penuh dengan keajaiban dan ramalan. Kritik lain terhadapnya ialah ia dituduh menyembunyikan kebenaran dan kekeliruan fakta meskipun ia sendiri sebagai seorang saksi mata.

3.      John Foxe (1516-1587). Kelebihan dari karya Foxe bukan saja karena ditulis dalam bahasa Inggris melainkan karena Foxe sendiri bukanlah seorang ahli teologi. Meskipun ia seorang sejarawan geraja, ia tidak tertarik kepada sejarah dogma melainkan kepada sejarah dari tokoh-tokohnya. Baginya yang penting ialah hubungan antara penderitaan yang dihadapi dengan kematian yang heroik dari para martir, perjuangan yang sedang berlangsung antara kemurnian melawan kepalsuan, antara Kristen melawan anti-Kristen.

4.      Mathias Flacius (1520-1575). Tulisannya yang berjudul Magdeburg Centuries dianggap sebagai karya monumental yang menjadi tonggak dari historiografi dan kebudayaan Eropa. Ia menolak tesis humanis Italia yang mengatakan bahwa peristiwa-peristiwa di dunia ini digerakkan oleh tenaga-tenaga manusia. Menurut buku ini justru sebaliknya, sejarah dunia yang sekuler merupakan pertarungan antara Tuhan dan Setan. Bukan manusia melainkan Tuhan-lah yang menjadi penggerak utama Sejarah. Peristiwa-peristiwa di muka bumi ini terjadi karena Tuhan, bukan karena perbuatan manusia. Oleh sebab itu sejarah adalah catatan tentang kehendak Tuhan.

5.      Paolo Sarpi (1552-1623). Ia dihormati sebagai sejarawan terbesar yang dilahirkan oleh Reformasi. Menurut pendapatnya Reformasi disebabkan oleh karena penyalahgunaan wewenang dalam geraja Katolik dan persaingan antara pendeta-pendeta Agustinian (dari nama St. Augustine, 354-430) dan Dominikan (dari nama St. Dominic, 1170-1221).

6.      John Sleidan atau Sleidanus (1506-1556). Tulisan Sleidan penting sekali karena merupakan analisis politik pertama tentang gerakan Reformasi dan Revolusi Protestan. Pendekatannya terhadap sejarah gerakan itu dari sudut-sudut pandang politik, konstitusi dan teologi. Karyanya ini tidak saja bermanfaat sebagai sumbangan pada perjuangan Protestan, tetapi juga sebagai sumbangan tidak langsung kepada disiplin sejarah. Sleidanus menggunakan secara penuh dokumen-dokumen sejarah asli dan karya-karya lain untuk menekankan faktor politik sebagai sebab utama dari Reformasi. (Sjamsuddin, 2011, hlm. 40-43).

Terhadap kecaman-kecaman para sejarawan Protestan, pihak sejarawan Katolik Roma [baca : sejarawan Kontra Reformasi] tidak tinggal diam. Mereka juga menulis karya-karya sejarah yang tidak saja untuk membela diri tetapi juga untuk melakukan serangan-serangan balik. Di antara sejarawan-sejarawan mereka antara lain :

1.      Caesar Baronius (1538-1607). Baronius mengumpulkan sejumlah besar dokumen tetapi dengan sengaja ia hanya menggunakan yang paling menguntungkan Katolik. Cara-cara semacam itu sudah umum di antara kedua belah pihak yang berpolemik-polemik. Oleh karena itu tidak dapat dikatakan sebagai sejarah yang bagus. Selain itu Baronius tidak menghiraukan atau mengenyampingkan saja fakta-fakta yang tidak menguntungkan pihaknya.

2.      Nicholas Sander (1530-1581). Ia merupakan seorang guru besar Oxford Inggris yang beragama Katolik, ia menulis sebuah buku yang berjudul De Origine ac Progressu Schismatis Anglicani Liber (The Origin and Progress of The English Schism) yang terbit tahun 1585. Isinya memberikan gambaran rinci tentang skandal antara Raja Inggris Henry VIII dengan Anne Boleyn dalam periode ketika pertentangan agama.

3.      Sporza Pallavicino (1607-1667). Karyanya History of the Council of Trent (1657) sebagai jawaban terhadap Sarpi. Karyanya merupakan serangan dan bantahan rinci butir demi butir terhadap karya Sarpi. Hanya karyanya itu dinilai secara keseluruhan kurang berhasil dan tidak begitu dapat dipercayai dibandingkan dengan karya Sarpi. Pallavicino menggunakan secara mendalam sumber-sumber yang banyak diperolehnya yang tidak dipunyai oleh Sarpi. Oleh sebab itu ia terbenam dalam rincian-rincian kecil, akan tetapi untuk hal-hal besar ia berdalih atau hindari sama sekali. Ia pandai menghilangkan fakta-fakta yang dianggap memalukan.

4.      Jacques Benigne Bosseut (1627-1704). Ia mencoba meyakinkan golongan Protestan mengenai kesalahan yang mereka tempuh dengan memisahkan diri sebab akibatnya dapat berupa ateisme, anarki dan ketiadaan moral. Ia berhasil menyelami sampai ke dasar pribadi-pribadi dan peristiwa-peristiwa dan melihat konflik itu dari aspek filosofis yang mendalam sebagai suatu pergulatan antara kemerdekaan dan kekuasaan di mana kemenangan dan kemerdekaan baginya merupakan ketidakpedulian, ateisme, dan anarki agama. Ia mengakui bahwa memang ada Paus-Paus yang buruk dan perlu direformasi dan bahwa Luther memiliki pribadi terhormat. Dalam hal ini ia berusaha jujur dalam karyanya tetapi ia tetap menghimbau agar orang-orang Protestan kembali kepada Katolik (Sjamsuddin, 2011, hlm. 38-45).

 

B.     Historiografi Abad Ke – 18 : Rasionalisme

Rasionalisme adalah aliran atau mazhab historiografi yang mengutamakan akal (rasio) sebagai pegangan pada abad ke-18. Sejarawan dari aliran ini disebut juga penganut mazhab aufklarung (pencerahan) (Sjamsuddin, 2011, hlm. 58). Rasionalisme pada abad ke–17 sebagaimana dipelopori oleh Rene Descartes (1596-1650) dari Perancis, Francis Bacon (1561–1626) dari Inggris, dan Baruch Spinoza (1632–1677) dari Belanda, baru mempengaruhi historiografi pada abad ke–18. Sikap universal kaum rasionalis telah meluaskan pandangan orang Eropa secara geografis. Topik yang sesuai dengan pandangan universal itu ialah sejarah peradaban (Kuntowijoyo, 2001, hlm. 50).

Pada masa Rasionalisme ini dikenal tiga aliran utama, yakni (1) aliran radikal yang dipelopori oleh Voltaire, (2) aliran moderat yang dipelopori oleh Montesquieu, dan (3) aliran Sentimental yang dipelopori oleh Rousseau (Arif, 2011, hlm. 49). Berikut sejarawan-sejarawan masa Rasionalisme :

1.      Voltaire (Francois Arouet) [1697–1778] adalah pendiri mazhab sejarawan Rasionalis, seorang pengagum peradaban Inggris. Faktor dominan dalam filsafat politik dan sejarahnya ialah kepercayaannya yang teguh pada sains dan akal. Ia mempunyai kekuatan yang jarang tandingannya sebagai pengeritik, pembela despotisme cerah (enlightened despotism), penganjur reformasi di Perancis. Menurunya, akal melengkapi sejarawan dalam menangani masa lampau secara rasional dan akal pula yang membuat negarawan sekraang mampu merencanakan sebuah dunia yang lebih baik untuk dihuni manusia. Karyanya The Age of Louis XIV (1751) dan Essay on the Manners and Spirit of the Nations (1756). Tulisannya yang pertama dianggap sebagai “karya sejarah modern pertama” karena bebas dari metode annalistik atau sistem kronologi yang kuat. Ia menyusun karyanya itu menurut sistem topik. Untuk pertama kali peradaban dari sebuah negara modern Eropa digambarkan secara menyeluruh.

Karyanya yang kedua dianggap sebagai sejarah dunia pertama dalam arti sebenarnya. Karya itu dianggap sebagai : Kulturgeschichte (sejarah kebudayaan) untuk semua zaman dan bangsa, sebuah tonggak besar dalam perkembangan penulisan sejarah, dasar sebenarnya dari sejarah peradaban dalam arti  modern, tulisan pertama yang memberikan penghargaan kepada penyumbang peradaban Eropa yang berasal dari non-Kristen, terutama Timur dan Islam, karya ini pertama-tama sejarah politik dalam hubungannya yang pantas dengan sejarah ekonomi dan sosial dalam perkembangan umum dari kemanusiaan, meruntuhkan sama sekali tafsiran-tafsiran teologis dan ketuhanan yang telah berkuasa sejak sejarawan-sejarawn Orosius (kk. 380-kk.420) dan Bosseut (1627-1704).

Voltaire meninggalkan sama sekali kedaerahan atau bahkan sudut pandang Eropa. Voltaire tidak saja membahas peradaban-peradaban Kuno, tetapi juga bangsa–bangsa primitif yang baru ditemukan. Ia meniadakan kecendrungan para humanis yang mensucikan keantikan klasik. Sikap kritisnya tertuju kepada Abad Pertengahan, Kristen Abad Pertengahan dan sejarawan-sejarawan Abad Pertengahan. Ia tidak menghargai dan menolak reformis-reformis Protestan yang supernaturalis dan fanatik. Hanya Zaman Akal yang mengesankannya. Voltaire melihat sejarah manusia berlangsung terutama sebagai perbenturan ide-ide dan peradaban.

Voltaire menyerukan suatu perluasan cakrawala sejarah dengan memasukkan bangsa-bangsa dan agama-agama lain sehingga ia dianggap sebagai orang pertama penganjur penulisan sejarah dunia. Bahkan lebih penting lagi adalah tuntutan Voltaire untuk perluasan sejarah termasuk subyek-subyek selain daripada politik sehingga ia dianggap juga sebagai “bapak” dari sejarah ekonomi, sejarah sosial, sejarah intelektual, dan sejarah kebudayaan (Sjamsuddin, 2011, hlm.  48-50).

Voltaire dianggap radikal, karena ia melihat sejarah dan institusi sosial semata-mata dari sudut intelektual dan kaum borjuasi, sehingga misalnya ia mengecam zaman pertengahan dan memuji despotisme yang “englightened”. Selain itu, dalam bukunya Voltaire juga membeberkan sumbangan bangsa-bangsa Timur dan Islam. Ia juga telah menolak kam Humanis dari Renaissans yang memuja paganisme Yunani-Romawi, Zaman Kristen dan Zaman Pertengahan. Satu-satunya yang dihormati ialah Zaman Rasionalisme (Kuntowijoyo, 2001, hlm.  50 - 51).

2.      Edward Gibbon (1737-1794) termasuk sejarawan terkemuka dari Inggris, tergolong salah seorang pengkut Voltaire. Akan tetapi tidak seperti sejarawan-sejarawan Rasionalis lainnya, Gibbon mengabdikan diri sepenuhnya pada kajian dan penulisan sejarah. Karya klasik Gibbon The History of The Decline and Fall of the Roman Empire masih dibaca luas. Adpun yang menjadi ciri karya Gibbon ialah gaya dan organisasi tulisannya bagus, gambaran dari fakta-fakta sangat akurat dan tema yang popular. Ia masih sempat menikmati reputasi besar dari orang-orang sezamannya dan bahkan dari sejarawan-sejarawan modern kemudian. Gibbon percaya bahwa sejarawan haruslah sastrawan dan untuk bahan-bahan penulisannya ia menggunakan hanya karya-karya cetakan yang ia berhasil peroleh.

Meskipun ia sendiri tidak melakukanya, namun ia mendorong orang lain untuk terlibat dalam kajian manuskrip dan mengkodifikasikannya. Dalam tulisannya Gibbon menekankan masalah-masalah politik dan peperangan, dan meskipun disebutkannya juga namun ia meremehkan aspek-aspek sosial, kultural, dan ekonomi. Dalam hal ini, ia menunjukkan pandangan yang sempit tentang isi sejarah. Meskipun demikian, karyanya masih tetap merupakan terbaik yang pernah ditulis mengenai ruang lingkup yang monumental. Dalam tulisannya itu ia menyalahkan sebab-sebab keruntuhan Romawi kepada munculnya kepercayaan Kristen yang anti-rasional (Sjamsuddin, 2011, hlm. 50-51).

3.      Charles Louis de Secondat, baron de Montesquieu (1689–1755) atau lebih dikenal dengan sebutan Montesquieu saja. Montesquieu merupakan peletak dasar mengenai pengaruh geografis sehingga ia termasuk penafsir geografis dalam sejarah. Rakyat atau bangsa yang jenius merupakan penafsir geografis dalam sejarah. Rakyat atau bangsa yang jenius merupakan hasil daripada tenaga-tenaga alam, terutama iklim. Montesquieu menawarkan sintesis dari berbagai faktor pada perkembangan sejarah yang meskipun masih kasar dan tidak lengkap namun menandai suatu kemajuan metodologis yang sungguh berarti. Montesquieu menekankan pengaruh yang kuat dari kegiatan-kegiatan perdagangan dan keuangan dalam kehidupan negara.

Karyanya dalam bidang sejarah berupa esai panjang The Cause of the Greatness and the Decadence of the Romans (1734). Meskipun tidak menunjukkan kemajuan dalam kritik sumber, namun karyanya itu menunjukkan kekuatan yang besar dalam menafsirkan kecendrungan dan faktor utama yang menyebabkan perkembangan dan keruntuhan Romawi.

Tulisan lain yang dianggap sebagai “karya agung”nya ialah The Spirit of Laws (1748). Ia menggunakan metode komparatif untuk meneliti sejumlah sistem politik baik yang lama maupun yang baru agar mendapatkan prinsip-prinsip dasar tegaknya (Sjamsuddin, 2011, hlm. 51-52).

Montesquieu yang mengembangkan aliran moderat, berusaha menghubungkan sejarah dan institusi sosial dengan masyarakatnya. Itulah sebabnya aliran moderat dikenal juga dengan aliran konservatif. Montesquieu lebih dekat dengan kaum humanis dari zaman renaissance daripada kaum Rasionalis dari zaman pencerahan (Arif, 2011, hlm. 49).

4.      Jean Jacques Rousseau (1712–1778) adalah orang yang mengembangkan aliran sentimental yang cenderung emosional, idealistis, dan ingin membebaskan massa dari despotisme (Arif, 2011, hlm.  49). Rousseau lebih dikenal sebagai filsuf dan pemikir politik. Ia sangat sentimental, utopian, dan simpatinya ialah pada penderitaan massa di bawah despotisme yang didukung kaum borjuasi (Kuntowijoyo, 2001, hlm. 52).

Rousseau merupakan tokoh peralihan dari Rasionalisme ke Romantisme. Barnes membandingkan Rousseau dengan Voltaire melihat bahwa keduanya berbeda besar dalam sikap terhadap masalah sejarah dan sosial. Jika Voltaire merupakan seorang intelektual murni dan tidak begitu terpengaruh oleh rasa sentimen, maka Rousseau adalah seorang yang emosional, sentimental dan simpatik. Jika Voltaire seorang realis dan praktis, maka Rousseau adalah seorang idealis dan utopis. Jika Voltaire menulis dari sudut pandang borjuasi, mengunggulkan despotisme cerah, dan tidak begitu percaya kepada kemampuan politik massa yang masih buta huruf, maka Rousseau justru adalah seorang tokoh yang bersemangat yang ingin membebaskan massa dari kekuasaan politik yang despotik (Sjamsuddin, 2011, hlm. 53-54).

5.      Jean Charles Leonard Simonde de Sismondi (1773-1842), seorang Swiss, sulit dimasukkan dalam salah satu aliran. Seperti Voltaire ia memuja borjuasi, seperti Montesquieu ia menekankan pentingnya perdagangan dan faktor-faktor ekonomi bagi perkembangan peradaban, seperti Rousseau ia sangat menyintai kemerdekaan, seperti Gibbon ia senang menggunakan gaya bahasa yang indah. Dalam karyanya History of the Italian Republics of the Middle Ages, ia memuji semangat kemerdekaan negara-negara kota Italia dan menunjukkan pentingnya perdagangan mereka. Karyanya History of the French merupakan sejarah Perancis pertama yang cukup lengkap. (Sjamsuddin, 2011, hlm. 55).

6.      Giambattista Vico (1668-1744) berasal dari Naples (Italia). Ia seorang ahli filsafah sejarah, bahkan dianggap sebagai “bapak filsafat sejarah” karena ia penulis pertama yang menghasilkan suatu sistem yang mengesankan mengenai filsafat sejarah yaitu konsepsi spiral dari kemajuan (progress). Menurut pendapatnya kemajuan manusia tidak terjadi secara langsung atau menurut garis lurus melainkan menurut gerak spiral. Gerak perkembangan melingkar ini tidak kembali kepada titik asalnya melainkan melingkar ke arah yang lebih maju daripada sebelumnya.

Sumbangan utama Vico bagi sejarah ialah penolakan filosofisna atas pandangan lama bahwa kita tidak dapat mempunyai pengetahuan yang pasti tentang masa lalu. Vico yang merupakan pemikir luar biasa dan juga tajam dari sejarah modern ini tertarik juga pada bahasa dan mitos sebagai kunci-kunci untuk memahami masa lalu. Ia tahu bahwa mitos dapat mengandung petunjuk-petunjuk berharga (valuable clues) bagi kenyataan (realitas). Vico menyadari orang-orang pra-rasionalis dan primitif berpikir metaforis atau puitis dan oleh sebab itu kita harus melihat mereka itu dalam kerangka keterangan ini. (Sjamsuddin, 2011, hlm. 55).

Inovasi penting aliran mazhab Rasionalis dari para sejarah Aufklarung abad ke-18 ini adalah :

1.      Bidang kajian sejarah mempunyai kecendrungan umum meluas tidak hanya mengenai intrik-intrik politik gereja dan negara melainkan mencakup sejarah masyarakat, perdagangan, industri, dan peradaban dalam aspek-aspeknya yang luas. Semua aspek kehidupan dapat menjadi subjek sejarah.

2.      Para Rasionalis melakukan pendekatan kebudayaan terhadap sejarah dan memperkenalkan cikal-bakal prinsip-prinsip sosiologis dalam analisis sejarah untuk periode dan negara manapun yang dibahas.

3.      Dalam membahas kausalitas sejarah ditekankan kepada sebab-akibat bukan lagi kepada kepercayaan yang bersumber kepada tahayul dan teori-teori teologis (keagamaan)

4.      Sejarawan Rasionalis menerima teori mekanisme umum dari alam semesta dan masyarakat yang dideduksi oleh para Deis dari astrofisika Newton. Tuhan hanya menciptakan dunia tetapi setelah itu dibiarkan berlangsung menurut mekanisme hukum-hukum alam.

5.      Segala sesuatu dalam sejarah manusia merupakan hasil daripada hubungan sebab-akibat yang pasti, akan tetapi sejarawan Rasionalis percaya juga kepada sebab-sebab yang bersifat pribadi. Di sini berperan akal dan ikhtiar manusia. Sejarawan berpegang pada pendapat bahwa aspek-aspek intelektual (rasio, akal) merupakan elemen dominan dalam sejarah. Oleh sebab itu mereka tekankan secara khusus sejarah intelektual.

6.      Sejarawan Rasionalis percaya bahwa lingkungan membentuk tingkah laku manusia dan oleh karena itu juga mempengaruhi penulisan sejarah. Di sinilah para sejarawan menekankan iklim, geografi, dan lembaga-lembaga sosial dan politik dalam mencoba menjelaskan tingkah laku manusia (Sjamsuddin, 2011, hlm. 47).

Sumbangan besar dari abad ke–18 atau Zaman Pencerahan ialah Gagasan Kemajuan (The Idea of Progress), bahwa peradaban manusia terus-menerus bergerak maju. Meskipun di antara para pemikir Zaman Pencerahan ada perbedaan pendapat tentang gerak maju, tetapi semuanya setuju bahwa ada perbaikan Kemanusiaan (Kuntowijoyo, 2001, hlm. 53).

 

C.    Historiografi Abad Ke – 19 : Romantisme dan Nasionalisme

Romantisme dalam historiograi adalah lawan dari aliran Rasionalisme, yang lebih mengutamakan perasaan. (Sjamsuddin, 2011, hlm. 59). Gerakan romantis dan produk ikutannya, novel sejarah, telah banyak memengaruhi pembentukan dan pendistorsian narasi masa lalu yang populer. Sir Walter Scott, seorang perintis seni, dalam novel-novelnya melukiskan pertentangan antara “sejarah yang diingat” dan “sejarah yang ditemu-ciptakan”. Novelnya mengenai Skotlandia abad ke–18 mencerminkan ingatan yang hidup dan otentik. Romannya tentang Abad Pertengahan merupakan konstruksi yang artifisial, yang ditulis berdasarkan pada latar belakang masa lampau yang tidak pernah ada. Hal semacam inilah yang berperan sebagai model bagi penulis besar Perancis selanjutnya, Alexandre Dumas, serba buat peniru yang berketetapan untuk menciptakan kembali masa lampau itu sebagai kebanggaan nasional yang diperlukan (Lewis, 2009, hlm. 68).

Romantisme dalam historiografi adalah kebalikan dari Rasionalisme. Tokohnya antara lain :

1.      Francois Auguste Chateaubriand (1768–1848). Ia merupakan seorang penulis dan sastrawan Perancis. Ia mengadakan perjalanan di Amerika, kembali waktu Revolusi 1789 meletus, pergi ke Inggris pada tahun 1792, dan meneruskan hidup di sana. Ia mulai kembali pada tahun 1800. Pada zaman Restorasi ia menjadi Duta Besar di London (1822) dan menjabat sebagai Menteri Luar Negeri (1822-1824). Namun ia beroposisi terhadap pemerintahan Charles X. Reputasinya sebagai sastrawan terjelma dengan karya-karya essai  historique, Politique et Moral Surles Revolutions anciennes et Modernes (1797)  Le Genie du Christianisme (1802), disusul dengan Atala et Rene (1802). Karyanya yang terutama adalah Memoires d’ Out Retomber, le Journal Passionee de Sa Vie (1846). Chateaubriand mempunyai pengaruh besar terhadap gerakan Romantisisme.  (Poesponegoro, 1982, hlm. 60)

2.      Madame Anne Louise de Stael (1766 – 1816). Penulis Perancis. Ia mengadakan beberapa perjalanan dan menulis beberapa roman, antara lain, Delphine (1802), Corrine (1807), dan sebuah buku mengenai Jerman L’Allemagne (1810). Ia mempunyai pengaruh atas perkembangan romantisisme di Perancis. (Poesponegoro, 1988, hlm. 292). De Stael mengatakan bahwa kesusastraan dipengaruhi secara langsung oleh sistem sosial, yang dipengaruhi oleh keadaan geografis, terutama iklim. Dikatakannya bahwa demokrasi sebagai sistem sosial baru memerlukan sastra baru (Kuntowijoyo, 2001, hlm. 54).

3.      Sir Walter Scott (1771–1832). Penyair dan novelis Inggris yang sangat populer pada waktu  mudanya. Waktu itu ia menulis syair dengan latar belakang sejarah, diantaranya yang mendapat sukses adalah Marmion.  Ia juga menulis roman historis antara lain Old Mortality, Ivan Hoe, dll. (Poesponegoro, 1988, hlm. 285). Scott bersama-sama Chateaubriand menjadi pelopor penulisan novel sejarah (Kuntowijoyo, 2001, hlm. 54).

4.      Augustin Thierry (1795–1856). Bagi Thierry, ia menulis untuk kaum berjuasi dan republikanisme. Kebenciannya kepada kaum aristokrat Perancis pada zamannya diproyeksikan pada bangsawan Zaman Pertengahan (Kuntowijoyo, 2001,  hlm. 54).

5.      Jules Michelet (1798–1874). Michelet adalah orang pertama yang memakai kata ‘Renaissance’ untuk menyebut sebuah periode sejarah, dan yang menulis karya modern pertama tentang ilmu gaib/ilmu sihir. Karya-karya sejarahnya antara lain, Histoire de France (1833-1869, 17 jilid), Histoire de la Revolution Francaise (1847-1853, 5 jilid) dan Histoire du dix-newvieme siecle (1872-1874, 3 jilid). Konsepsi Mihelet tentang Perancis dan sejarahnya memengaruhi generasi negerinya dan dia dianggap sebagai sejarawan resmi Perancis selama Republik Ketiga (1871-1940). Meskipun kini dia dianggap sebagai penulis sejarah yang bias (berat sebelah), banyak sejarawan Perancis masih memandangnya sebagai sumber penting inspirasi (Warrington, 2008, hlm. 428-429).

Menurut Michelet, sejarah adalah drama kebebasan manusia. Yang menarik adalah pendekatannya dalam menulis sejarah. Katanya, “Agustin Thierry melihat sejarah sebagai narasi, Guizot Analisis. “Sejarah saya adalah pembangkitan kembali”, maka ia mengangkat bangsa Perancis, dan sejarahnya menunjukkan semangat romantisme dan nasionalisme  (Kuntowijoyo, 2001, hlm. 55).

6.      Thomas Carlyle (1795–1881). Seorang penulis satir dari Skotlandia, penulis esay, sejarawan, dan guru pada era Victoria. Karyanya tentang sejarah diantaranya On Heroes, Hero-Worship, The Heroic in History, dan lain-lain. Dalam sejarah di mana ia menjelaskan bahwa peran kunci dalam sejarah terletak pada tindakan “Man Besar”. Dia mengklaim bahwa “sejarah hanyalah biografi dari Man Besar”. (wikipedia.org/wiki/Thomas_carlyle diakses pada 1/10/2015).

Berbeda dengan Michelet, Carlyle tidak suka dengan massa, dan tulisan sejarahnya adalah sejarah tokoh-tokoh. Ia adalah pencetus teori “Orang Besar” dalam sejarah. Bagi dia, sejarah tidak lain adalah biografi kolektif, “orang kebanyakan harus dilatih, dipimpin, dan dihukum oleh atasannya” (Kuntowijoyo, 2001, hlm. 55).

 Selain itu, pada abad ke-19 ini juga berkembang penulisan sejarah yang bersifat Nasionalistis, terutama di negara Jerman, Perancis, Inggris. Kegiatan sejarah, selain berupa pengumpulan sumber, juga penulisan.  Di antara tokohnya antara lain :

1.      Johann Gustav Droysen (1804-1884) adalah seorang sejarawan Jerman. Penulisannya tentang sejarah Aleksander Agung adalah karya pertama yang mewakili sebuah aliran baru dari bidang sejarah Jerman. Karyanya Historischer Handatlas (Leipzig, 1886) adalah sebuah analisis geografi perubahan wilayah. (https://id.m.wikipedia.org/wiki/Johann_Gustav_Droysen  diakses pada 1/10/2015)

2.      Heinrich von Treitschke (1834-1896). Merupakan sejarawan yang berasal dari Jerman. Setelah ia menyelesaikan pendidikannya ia mendapat jabatan di beberapa Universitas, termasuk Heiderberg dan Berlin. Sebagai wakil partai Konservatif di Reichstag mendukung Bismarck (1871-1888). Ia merupakan seorang Profesor yang populer di Universitas Berlin. Karyanya Deutsche Geschichte ini 19 Jahrhundert, sejarah yang hanya sampai 1847. Dia sempat menyelesaikan 5 jilid sebelum ia meninggal, yang bertema tentang keharusan historis negara Prusia untuk mendominir negara-negara Jerman. (Poesponegoro, 1982, hlm. 262)

3.      Francois Guizot (1787-1874). Ia merupakan sejarawan sekaligus negarawan Perancis. Ia juga seorang Profesor sejarah di Paris (1812). Masuk politik (1830) dan Menteri Pengajaran Umum (1832-1837). Ia adalah seorang yang mendirikan sistem sekolah dasar untuk seluruh Perancis dan dikeluarkan Undang-Undang Pendidikan Dasar (1833). Di tahun 1837 – 1840 ia menjadi Menteri Luar Negeri dan Perdana Menteri pada tahun 1840-1888.  Politiknya konservatif dan sempit menolak perubahan parlementer. Pada waktu Revolusi 1848, ia dengan terpaksa keluar dari pemerintahan dan hidup dalam pengasingan. Karyanya antara lain, Histoire de la Civilisation en Europe (1828) dan Histoire de la Civilisation en France (1830). (Poesponegoro, 1982, hlm. 106)

4.      Thomas Babington Macaulay (1800-1859). Macaulay  adalah orang yang membuat penulisan sejarah bagian sah literatur Inggris dan memicu minat dunia terhadap Revolusi 1688. Para sejarawan, tegasnya, harus menjelaskan masa lalu selengkap mungkin agar tindakan-tindakan para individu bisa dipahami. Dia juga menegaskan, bahwa sejarawan harsu mempelajari semua yang menarik dan penting terkait dengan transaksi-transaksi politik dan militer, namun dia tidak perlu mempelajari apa pun yang terlalu sepele untuk kepentingan sejarah, yang terlalu sepele untuk meningkatkan atau mengurangi kebahagiaan manusia. Karya-karyanya di bidang sejarah antara lain, War of Succesion in Spain (1833), Mackintosh (1835), Sir William Temple (1838), dan sebagainya. (Warrington, 2008, hlm. 398-405)

Selain aliran Romantisme dan Nasionalisme, penulisan sejarah yang bersifat Nasionalistis, pada abad ke – 19 ini juga menghasilkan Filsafat Sejarah. Di antara tokohnya antara lain :

1.      Georg Wilhelm Friedrich Hegel (1770 -1831). Hegel hidup di saat dunia sedang mengalami perubahan yang luar biasa mengejutkan. Berbagai peristiwa penting itu telah banyak memberikan inspirasi bagi Hegel untuk mencari pola berbagai makna dan urutan beragam peristiwa kesejarahan. (Rauch : 2003 : v).

Di antara karyanya yang terkenal adalah Philosophy of Art, the Philosophy of Religion, dan the Philosophy of History. Hegel berpendapat (dalam Philophy of History), bahwa sejarah itu maju dengan cara dialektis. Mula-mula ada tesis, kemudian muncul kekuatan yang melawan, yaitu antitesis, dari pertarungan itu terjadilah sintesis. Pada gilirannya sintesis jadi sebuah tesis. Filsafat sejarah Hegel bersifat Nasionalistis. Tuhan menugaskan bangsa Jerman sebagai sarana pembebasan manusia (Kuntowijoyo, 2001, hlm. 57).

2.      Johann Gottlieb Fichte (1762–1814).ada Menjadi Profesor filsafat di Jena (1794) dan sejak tahun 1809 di Universitas Berlin. Pada tahun 1808, di Berlin yang berada di bawah pendudukan Perancis, ia mengucapkan reden an die deutsxhe nation, yang menyebabkan mulainya suatu kebangkitan nasional untuk mana ia dipandang sebagai pelopor dan patriot Nasionalisme Jerman. (Poesponegoro, 1988, hlm. 107).

Dalam bukunya yang pertama, di antaranya dikemukakan perbedaan antara sejarah dan filsafat sejarah. Buku kedua memberi dorongan timbulnya nasionalisme Jerman. Dikatakannya bahwa orang Jerman adalah Urvolk, bangsa yang masih murni tidak tercampur, dan orang-orang Eropa Selatan adalah Michvolk, bangsa campuran yang sedang mengalami keruntuhan (Kuntowijoyo, 2001, hlm. 56).

3.      Johann Gottfried von Herder (1744–1803). Herder percaya bahwa kemajuan sejarah itu tercapai berkat kerjasama antara faktor luar dan semangat (Geist) yang subjektif. Setiap peradaban itu muncul, berkembang, dan menghilang mengikuti hukum alam tentang perkembangan. Dikenal sebagai filsuf sejarah pengikut Rousseau. Bukunya, ideas for Philosophy of the History of Humanity merangkum juga Voltaire dan Montesquieu. Ia menegaskan evolusi dan keunikan peradaban nasional, sehingga dia menjadi pendorong penulisan sejarah yang nasionalistis. (Kuntowijoyo, 2001, hlm. 53-56).

4.      Immanuel Kant (1724–1804). Karyanya tentang sejarah antara lain Conjectural Beginning of Human History, Kant : On History, dll. Menurut Kant, ada jua jenis sejarah (Geschichte). Sejarawan Empiris, yaitu catatan tentang peristiwa masa lalu yang ditulis tanpa prakonsepsi. Selanjutnya Sejarawan Rasional berusaha menemukan sebuah pola yang bisa dimengerti pada masa lalu manusia yang tampak semerawut (Warrington, 2008, hlm. 345).

Dalam kesempatan lain Kant mengatakan, bahwa kemajuan manusia tercapai berkat perjuangan antara kepentingan pribadi dan kolektivitas, yang pertama menghasilkan individualisme dan yang kedua altruisme, yang pertama menghasilkan kemajuan dan yang kedua ketertiban. Pemerintah yang baik ialah yang dapat memadukannya (Kuntowijoyo, 2001, hlm. 56).

5.      Karl Wilhelm Friedrich von Schlegel (1772–1829). Sedangkan Schlegel dalam bukunya mengemukakan, bahwa tugas sejarah ialah mewujudkan bayangan Tuhan dalam diri manusia melalui tingkatan yang berurutan dalam sejarah (Kuntowijoyo, 2001, hlm. 54 - 57).

6.      Heinrich Karl Marx (1818–1883). Menurut  Marx, studi sejarah mengungkapkan bahwa masyarakat telah melalui sejumlah ‘mode produksi’ yang berbeda, bentuk atau tahap-tahap pengorganisasian ekonomi yang ditandai oleh kekhasan bentuk realasi-relasi produksi. Bentuk –bentuk pengorganisasian ekonomi tersebut adalah mode komunal primitif, mode kuno, feodalisme, dan kapitalisme. (Warrington, 2008, hlm. 417) Karya-karyanya sangat banyak, akan tetapi yang paling terkenal adalah Das Kapital, yang menjadi ‘kitab suci’ kaum komunis di seluruh dunia.  Marx memakai dialektika Hegel, tetapi tanpa Tuhan dan sebagai sarana pembebasan manusia adalah proletariat (Kuntowijoyo, 2001, hlm. 57).

7.      Friedrich Wilhelm Nietzsche (1744–1900). Nietzsche dikenal sebagai sastrawan dan filsuf. Pada mulanya lebih dikenal sebagai ahli filologi. Salah satu karyanya yang memberinya cap (trade mark) adalah Die Wille zur Macht. Eine Ummertung aller Werte (Kehendak untuk Berkuasa, Suatu Tranvaluasi semua Nilai). Nietszche termasuk filsuf ateis paling ekstrem di abad ke-20. Menurutnya peristiwa  yang paling menonjol dalam budaya Barat adalah bahwa “Tuhan Sudah Mati”. (Adisusilo, 2013, hlm. 315). Nietszche mengajukan filsafat tentang orang besar, yang disebutnya “Superman” (Kuntowijoyo, 2001, hlm. 57).

8.      Arnold J Toynbee (1889–1975) dari Inggris. Ketika menggeluti sastra Yunani dan Romawi Kuno, Toynbee berambisi menjadi ‘sejarawan besar yang masyhur –bukan demi popularitas namun lantaran banyak tugas di dunia yang mesti ditunaikan, dan saya ingin sekali menunaikannya sebanyak yang saya bisa’. Keilmuan sejarah kontemporer, tegas Toynbee, kurang sempurna sebab para sejarawan Eropasentris, meniru saintis, dan melakukan riset tentang topik-topik kecil yang sepele. Dalam sejumlah besar detail sejarah, tegas dia, sebuah pola bisa diungkap dan diketahui.  Karya-karyanya tentang sejarah adalah A Study of History, An Historian’s Approach to Religion, Some Problems of Greek History, dan lain-lain (Warrington, 2008, hlm. 620-630).

Penulisan sejarah pada abad ke–19 ditandai dengan beberapa ciri utama, yaitu penghargaan kembali terhadap zaman pertengahan, munculnya filsafat sejarah, munculnya teori “orang besar”, timbulnya nasionalisme, dan munculnya liberalisme sebagai akibat dari Revolusi Inggris pada abad ke–17, Revolusi Amerika pada abad ke–18, Revolusi Perancis pada abad ke–18, serta perang kemerdekaan di Rusia. Kalau zaman Pencerahan menghasilkan gagasan tentang kemajuan, maka pada ke – 19 menghasilkan filsafat sejarah (Arif, 2011, hlm. 50). Abad ke-19 seringkali disebut “the golden age of history”, yakni zmaan kejayaan pemikiran sejarah, baik dari sudut pemikiran filosof maupun kajian ilmiah (Zed, 2010, hlm. 66).

 

D.    Historiografi Abad Ke – 20 : Beberapa Aliran Kontemporer

Sejarah kritis dimulai dengan ketidapuasan terhadap memori dan digerakkan dengan hasrat memperbaikinya. Namun, ada lebih dari satu jenis ketidakpuasan. Sejarah kritis mungkin tidak puas dengan apa yang ditawarkan oleh “sejarah yang diingat”, karena ia merasa bahwa hal itu tidak akurat, miskin nuansa dan menyesatkan. Namun, ada juga ketidakpuasan yang berangkat dari faktor yang berbeda. Mereke lebih suka menulis kembali sejarah bukan sebagaimana adanya, tetapi sejarah sebagaimana yang seharusnya. Bagi sejarawan mazhab ini, tujuan perubahan narasi masa lampau bukan mencari kebenaran abstrak, tetapi mencapai visi baru mengenai masa lampau yang lebih baik dan sesuai dengan kebutuhan masa kini serta cita-cita masa depan. Tujuannya untuk mengubah, menyatakan kembali, mengganti, atau bahkan menciptakan kembali masa lampau dalam bentuk yang lebih memuaskan (Lewis, 2009, hlm. 64).

Sudah lama sejarah kritis dirintis. Mulai dari Jean Mabillon, Berthold Georg Niebuhr, dan tulisan-tulisan yang lain telah banyak, sebelum akhirnya sampai pada Leopold von Ranke.

1.      Jean Mabillon (1632 - 1707).  Dalam beberapa karya Mabillon, ada satu karya yang merupakan karya terhebat darinya yang ia beri judul On Diplomatics, yang menjelaskan tentang manuscript (dokumen) dan juga kegunaannya. Selain itu On Diplomatics juga menerangkan kegunaan ilmu pengetahuan diplomatik untuk menentukan keotentikan (keaslian) sebuah dokumen. Karya Mabillon ini berusaha untuk mennetukan keaslian dokumen melalui sebuah perbandingan yang meliputi gaya tulisan, bentuk tulisan, segel serta tanda tangan dari suatu dokumen dari periode yang sama pula. Dia adalah seorang sejarawan yang berjasa besar sebagai penemu ilmu pengetahuan baru yang telah banyak memberikan sumbangan bagi bidang sejarah. Ia telah memberikan suatu bentuk baru dalam menentukan suatu keotentisan sebuah dokumen, lebih jauh lagi hal ini telah menjadi kriteria bagi para sejarawan dalam menentukan keaslian sebuah dokumen. (https://f3rz/wordpress.com/2011/05/26/jean-mabillon  diakses pada 1/20/2015)

2.      Berthold Georg Niebuhr (1776-1831). Niebuhr adalah seorang negarawan dan sejarawan keturunan Denmark-Jerman yang menjadi sejarawan Romawi Kuno terkemuka di Jerman serma menjadi bapak pendiri ilmu historiografi modern. Niebuhr menginspirasi patriotisme Jerman kepada para mahasiswa di Universitas Berlin dnegan analisisnya tentang perekonomian dan pemerintahan Romawi. Dia juga menggunakan pemahaman yang kuat tentang semangat klasik Abad Pencerahan dalam berbagai prasangka intelektualnya, penggunaan analisis filologi, dan penekanannya pada fenomena umum dan khusus dalam sejarah. (https://id.m.wikipedia.org/wiki/ Berthold_Georg_Niebuhr diakses pada 1/20/2015)

3.      Leopold von Ranke (1795-1886). Sebagai penubuh Historiografi modern, Ranke menganjurkan supaya sejarawan menulis apa yang sebenarnya terjadi, Wie es eigentlich gewesen, sebab setiap periode sejarah itu akan dipengaruhi oleh semangat zamannya (zeitgeist) (Kuntowijoyo, 2001, hlm. 57 - 58).

Leopold Von Ranke ( 1795 -1886), melalui karyanya History of The Latin and Teotonic Nations menyatakan bahwa :

Sejarah telah menugasi dirinya untuk menilai masa lalu dan untuk menyusun catatan demi kemaslahatan masa depan. Menunjukkan hal-hal yang belum ditunjukkan oleh catatan yang sekarang ada, tugas semata-mata untuk menunjukkan apa yang senyatanya terjadi (wie es eigentlich gewesen).

Sejarawan, tegas Ranke, harus menunjukkan ‘hieroglif suci’ atau kehadiran Tuhan di dunia. Oleh karena itu sejarah adalah lebih dari sekedar fakta, sejarawan ‘asyik dengan partikular’ sekaligus ‘awas dengan universal’. Ranke juga menegaskan bahwa tidak mungkin menulis sejarah yang logis tanpa merujuk pada bukti primer (bukti aktual dari sebuah peristiwa.

Bahan-bahan primer sangat penting bagi Ranke. Sebagaimana dia kemudian menulis :

Saya merasa sudah mendesak saatnya bagi kita untuk mendasarkan sejarah modern, bukan lagi pada laporan para sejarawan kontemporer, meskipun mereka memiliki pengetahuan pribadi dan langsung mengenai fakta, dan bukan pula pada karya yang masih jauh dari sumber, namun pada cerita para saksi mata, dan pada dokumen primer dan orisinil (Warrington, 2008,  hlm.  489-491).

 

Ranken juga beranggapan bahwa peristiwa-peristiwa yang benar-benar terjadi lebih menarik dari pada peristiwa yang diromantisir. Oleh karena itu dia menolak segala hal yang berbau khayalan dalam penulisan sejarah dan memilih berpegang teguh kepada fakta-fakta. Ranken berkata, "sejarah baru mulai apabila dokumen dapat dipahami, lagi pula, cukup banyak dokumen yang dapat dipercaya". Adanya metode kritis ini, maka sejarah sah sebagai ilmu sejarah.

Menjelang tahun 1930-an, pengaruh Ranke mulai berkurang. Bahkan Ranke mulai diragukan kebenarannya. “Ceritakanlah sebagaimana adanya” adalah sebuah ungkapan Amerika yang lazim, yang secara tidak disadari tak lain adalah gaung kata-kata terkenal Leopold von Ranke, yakni menulis sejarah sebagaimana yang sebenarnya –wie es eigentlich gewesen. Namun hal ini tidaklah sesederhana dan semudah sebagaimana dikatakan. Apa yang terjadi, apa yang kita ingat, apa yang kita temukan, apa yang kita ceritakan, seringkali berbeda (satu sama lainnya) (Lewis, 2009, hlm. 65). Oleh karena itu, dari Amerika lalu muncul tentang perlunya Sejarah Baru. Tokohnya adalah Robinson dan Becker (Kuntowijoyo, 2001, hlm. 58).

1.      James Harvey Robinson (1863-1936). Istilah The New History (Sejarah Baru) mulai populer digunakan oleh Robinson. Selanjutnya Robinson mengatakan bahwa dengan sejarah kritis kita hanya dapat menangkap “permukaan”, tetapi tidak berhasil menemukan makna dari status realitas. Sejarah kritis tidak dapat memahami perilaku manusia yang sesungguhnya. Robinson menulis The New History yang memuat gagasannya tentang sejarah baru. Sejarah baru menekankan pentingnya ilmu sosial. Jika penulisan sejarah klasik menekankan retorika, penulisan sejarah modern lebih menekankan kritik. Penulisan sejarah baru lebih menekankan penggunaan disiplin ilmu sosial. Sejak saat itulah berkembang kembali pendekatan sejarah dan ilmu-ilmu sosial (Arif, 2011, hlm. 51).

2.      Carl L Becker (1873-1945). Menurut Becker, menulis sejarah “sebagaimana terjadi” itu bertentangan dengan psikologi. Sadar atau tidak, orang menulis pasti mempunyai maksud. Ia mengatakan bahwa pemujaan pada fakta, dan pembedaan antara fakta keras (hard fact) dan fakta lunak (cold fact) hanyalah ilusi belaka. Fakta sejarah itu tidak sperti batu bata yang tinggal dipasang, tetapi fakta itu sengaja dipilih oleh sejarawan. Sejarah yang obyektif itu tidak ada, seperti halnya ternyata ilmu alam pun penuh ketidakpastian (Kuntowijoyo, 2001, hlm. 58).  Sebaliknya sejarawan selalu memilih fakta sejarah sebelum menulis cerita sejarah (Arif, 2011, hlm. 51).

“sejarah baru” ini merupakan reaksi terhadap “sejarah lama” (sejarah konvensional, sejarah tradisional) yang terlalu membatasi diri pada sejarah politik. Sejarawan baru harus memperluas cakrawala perhatian dan pokok-pokok kajiannya dengan menggunakan “semua penemuan yang telah dibuat mengenai kemanusiaan oleh para pakar antropologi, ekonomi, psikologi, dan sosiologi”. Dibandingkan dengan “sejarah lama” yang konvensional (tradisional), berdimensi tunggal (mono –atau uni –deminsional) berorientasi pada peristiwa-peristiwa (sumber-sumber), ruang cakup terbatas dengan tema yang terbatas pada sejarah politik (diplomasi, sejarah ekonomi model lama yang kualitatif), dan para pelaku sejarah yang terbatas pada individu-individu seperti raja, orang-orang besar, jenderal, atau pahlawan terkenal, dengan pemaparan yang deskriptip-naratif tanpa menggunakan pendekatan ilmu-ilmu sosial lain dalam analisisnya. “Sejarah baru” disebut juga sejarah ilmiah (scintific history), atau karena pada umumnya lebih menekankan pada sejarah sosial disebut sejarah ilmiah sosial (social scientific history), atau karena ingin membahas semua dimensi kehidupan manusia pada masa lalu disebut sejarah total (total history, atau integral history). Kemudian karena berorientasi pada problema dan banyak segi sosial dikaji, “sejarah baru” ini disebut multidimensional; dengan ruang cukup yang luas, segala aspek pengalaman hidup manusia di masa lalu dikaji. Konsekuensinya tema sejarah menjadi luas dan beragam dengan para pelaku sejarah dari berbagai lapisan masyarakat. Berkenaan dengan ini pula berkembang pendekatan komparatif (comparative approach) yaitu dengan jalan melakukan bandingan (compare) dan pembedaan (contrast) peristiwa-peristiwa sejarah sejenis lintas waktu dan/atau ruang seperti umum yang dilakukan dalam sosiologi sejarah (historical sociology) (Sjamsudin, 2007, hlm. 301 -303).

Kalau historiografi klasik menekankan rhetorik, historiografi modern menekankan kritik., maka Sejarah Baru menekankan ilmu sosial. Sejak itu ada pendekatan kembali sejarah dan ilmu-ilmu sosial (Kuntowijoyo, 2001, hlm. 59).

 

BERIKUT PERBEDAAN SEJARAH LAMA (THE OLD HISTORY)

DAN SEJARAH BARU (THE NEW HISTORY)

SEJARAH LAMA

(THE OLD HISTORY)

SEJARAH BARU

(THE NEW HISTORY)

Sejarah konvensional, sejarah tradisional

“sejarah baru, sejarah ilmiah (scientific history atau social scientific history), sejarah total (total history)

Orientasi peristiwa

Orientasi problema

Ruang cakup terbatas

Ruang cakup luas, segala aspek pengalaman dan kehidupan manusia pada masa lalu

Tema terbatas (sejarah, politik, sejarah militer, sejarah diplomasi, atau sejarah ekonomi lama)

Tema luas dan beragam, sejarah politik baru, sejarah ekonomi baru, sejarah sosial, sejarah agraria (sejarah petani, sejarah pedesaan), sejarah kebudayaan, sejarah pendidikan, sejarah intelektual, sejarah mentalitas, psikohistori, sejarah lokal, sejarah etnis (ethnohistory)

Par apelaku sejarah terbatas pada raja-raja, orang-orang besar, pahlawan, atau jendral (teori orang besar, Great Men Theory)

Para pelaku sejarah luas dan beragam, segala lapisan masyarakat (vertikal atau horizontal, top down atau bottom up)

Paparan deskriptif-naratif

Paparan analitis –kritis

Tanpa pendekatan ilmu-ilmu sosial (mono – atau unidimensional)

Menggunakan pendekatan interdisiplin dan/atau multidimensional ilmu-ilmu sosial (ilmu politik, ekonomi, sosiologi, antropologi, geografi, demografi, psikologi, dll), pendekatan komparatif

(Sjamsuddin, 2007, hlm. 301)

Selain di Amerika, di Perancis juga berkembang sebuah aliran baru dalam penulisan sejarah, yang lebih dikenal dengan Sejarah Total (Total History) atau Sejarah Global. Sejarah total adalah sejarah tentang seluruh aspek kehidupan masyarakat, tidak hanya berkisar pada bidang-bidang yang dianggap paling penting. Sejarah Total tentu saja banyak berhutang budi kepada sejarawan Perancis semacam Lucian Febvre, Marc Bloch, Fernand Braudel, dan Emmanuel Le Roy. Dalam pemahaman “sejarah total”, sebagaimana dikemukakan Bloch, sejarah merupakan sebuah “ilmu” yang bertujuan untuk mengungkapkan kondisi-kondisi struktural yang tersembunyi dan dalam, menyibakkan mekanisme-mekanisme historis yang terdapat dalam struktur-stuktur geografis, ekonomi dan kultural.

Dalam kaitan itu, Febvre membayangkan sejarah sebagai analog dengan arkeolog. Dengan analog ini ia ingin menyatakan bahwa sejarah merupakan usaha total dengan menggunakan seluruh ilmu  sosial untuk mengumpulkan sebanyak mungkin data dengan menggali dan menyaring seluruh “warisan” masyarakat-masyarakat masa silam. Mengikuti kerangka Febvre ini, bagi Braudel, sejarah sejauh mungkin harus diungkapkan secara total. Seorang sejarawan “sejarah total”, menurut Braudel, harus berusaha mengumpulkan berbagai level yang berbeda, jangkaua waktu, jenis-jenis waktu yang berbeda, struktur-struktur, conjuncture (atau fase-fase siklis), dan peristiwa-peristiwa (Azra, 2002, hlm. 11-12).

Sejarah total ini lah yang dalam studi penulisan sejarah dikenal sebagai mazhab Annales (Annales School), yang nanti akan dibahas oleh pemakalah berikutnya.

BAB III

PENUTUP

 

A.    Kesimpulan

Dari pembahasan di atas, dapat kita simpulkan bahwa masing-masing periode, penulisan sejarah berlangsung dengan ‘corak’ dan ‘model’nya masing-masing. Hal ini tidak terlepas dari konteks zaman [jiwa zaman] yang terjadi pada masa penulisan sejarah tersebut.

Pada abad Ke-14 s/d 17, utamanya pada periode Renaissance dan Humanisme, berlangsung pencarian, penemuan dan pengumpulan teks-teks klasik atau dokumen-dokumen kuno yang hilang, melakukan perbandingan dan pengeritikan tehadap sumber-sumber sejarah tersebut. Sejarah-sejarah model historiografi “pagan” dari zaman klasik dipelajari dan ditiru dalam upaya memperbaiki gaya penulisan sejarah. Akan tetapi, penulisan pada masa ini masih jauh dari objektivitas sejarah.  Sementara pada periode Reformasi–Kontra Reformasi, penulisan sejarah menjadi semacam propaganda. Objektivitas untuk sementara dilupakan. Sejarah ditulis semata-mata menurut kegunaannya. Tujuannya ialah menarik perhatian pemeluk-pemeluk agama untuk memilih Katolik atau Protestan.

Pada abad Ke-18 atau periode Rasionalisme dan Pencerahan, kajian sejarah mempunyai kecendrungan umum meluas tidak hanya mengenai intrik-intrik politik gereja dan negara, melainkan mencakup sejarah masyarakat, perdagangan, industri, dan peradaban dalam aspek-aspeknya yang luas. Semua aspek kehidupan dapat menjadi subjek sejarah.

Pada abad Ke-19 atau periode Romantisme dan Nasionalisme, ditandai dengan beberapa ciri utama, yaitu penghargaan kembali terhadap zaman pertengahan, munculnya filsafat sejarah, munculnya teori “orang besar”, dan timbulnya Nasionalisme.

Pada abad ke-20, atau periode Sejarah Kritis, Sejarah Baru dan Sejarah Total, perkembangan penulisan sejarah lebih bersifat ilmiah (scientific history atau social scientific history), yang berorientasi problema, yang memiliki ruang cakup pembahasan yang luas, segala aspek pengalaman dan kehidupan manusia pada masa lalu,  tema pembahasan yang luas dan beragam (sejarah politik baru, sejarah ekonomi baru, sejarah sosial, sejarah agraria (sejarah petani, sejarah pedesaan), sejarah kebudayaan, sejarah pendidikan, sejarah intelektual, sejarah mentalitas, psikohistori, sejarah lokal, sejarah etnis (ethnohistory),  dengan para pelaku sejarah luas dan beragam, segala aspek pengalaman dan kehidupan manusia pada masa lalu segala lapisan masyarakat,  menggunakan paparan yang bersifat analitis –kritis,  dengan menggunakan pendekatan interdisiplin dan/atau multidimensional ilmu-ilmu sosial (ilmu politik, ekonomi, sosiologi, antropologi, geografi, demografi, psikologi, dll) dan pendekatan komparatif.

DAFTAR BACAAN

Sumber Buku :

Adisusilo, Sutarjo, Jr. (2014). Sejarah Pemikiran Barat : Dari yang Klasik Sampai yang Modern. Jakarta : Rajawali Press.

Arif, Muhammad. (2011). Pengantar Kajian Sejarah. Bandung : Yrama Widya.

Azra, Azyumardi. (2002). Historiografi Islam Kontemporer. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.

Hegel, G.W.F. Introduction to the Philosophy of History. Indiana and Cambridge : Hacket Publishing Company. Dialihbahasakan oleh Ushuludin, Win dan Harjanli. (2008). Filsafat Sejarah. Jogjakarta: Pantha Rhei Books.

Hughes, M dan Warrington. (2000). Fifty Key Thinkers on History. London: Routledge. Dialihbahasakan oleh Halim, A. (2008). 50 Tokoh Penting dalam Sejarah. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Irana, Wahyu. (2014). Historiografi Barat. Bandung : Humaniora.

Kuntowijoyo. (2001). Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta : Bentang Budaya.

Lewis, Bernard. (1987). History : Remembered, Recovered, Invented. New York : Simon & Schuster, Inc. Dialihbahasakan oleh Bambang A. Widyanto. (2009). Sejarah : Diingat, Ditemukan Kembali, Diciptakan. Yogyakarta : Ombak,

Lubis, Nina H. (2008). Historiografi Barat. Bandung : Satia Historika.

Poesponegoro, Marwati Djoned. (1988). Tokoh dan Peristiwa dalam Sejarah Eropa  1815- 1945. Jakarta : Erlangga.

Poesponegoro, Marwati Djoned. (1982). Tokoh dan Peristiwa dalam Sejarah Eropa  Awal Abad Masehi – 1815. Jakarta : UI-Press.

Sjamsudin, H. (2007). Metodologi Sejarah. Yogyakarta : Ombak.

______________. (2011). Perkembangan Historiografi. Bandung : Bahan Kuliah Program Pendidikan Sejarah S 2 Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia.

Sjamsudin, H. Winarti, M. Darmawan, W. (2010). Historiografi. Bandung : Bahan Ajar Jurusan Pendidikan Sejarah Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Universitas Pendidikan Indonesia.

Zed, Mestika. (2010). Filsafat Sejarah. Padang : UNP Press Padang.

Sumber Internet :

Tanpa Nama, (Tanpa Tahun), Diakses dari: https://f3rz/wordpress.com/2011/05/26/jean-mabillon 1/10/2015

Tanpa Nama, (Tanpa Tahun), Diakses dari: https://id.m.wikipedia.org/wiki/ Berthold_Georg_Niebuhr 1/10/2015

Tanpa Nama, (Tanpa Tahun), Diakses dari: https://id.m.wikipedia.org/wiki/Johann_Gustav_Droysen  1/10/2015

Tanpa Nama, (Tanpa Tahun), Diakses dari: wikipedia.org/wiki/Thomas_carlyle 1/10/2015


HISTORIOGRAFI MODERN EROPA :

ABAD KE-16 : HUMANISME-RENAISSANCE, REFORMASI-KONTRA REFORMASI, ABAD KE-18 : ALIRAN RASIONAL, ABAD KE-19 : ALIRAN ROMANTISME DAN NASIONALISME, ABAD KE-20 : BEBERAPA ALIRAN KONTEMPORER

 

 

 

 

Makalah Mata Kuliah :

Perkembangan Historiografi

Dengan Dosen Pengampu :

Prof. Helius Sjamsuddin, Ph.D, M.A

 

 

 

 

 

 

 

 

Oleh :

 

RACHMAYADI (1502482)

MOH. ZULHAM ALSYAHDIAN (1503376)

 

 

 

 

 

 

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH

SEKOLAH PASCA SARJANA (SPS)

UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA (UPI)

BANDUNG

2015


 


 


Historiografi nasionalis yang muncul bersamaan dengan zaman romantis, menyajikan versi masa lampau yang penuh warna, yang tujuannya untuk mendorong gagasan baru itu dan menghancurkan gagasan lama. Contoh lain adalah sejarah reformis dengan tujuan yang lebih moderat, yakni memperbaharui sistem yang ada, dan historiografi revolusioner dengan tujuan yang lebih ambisius, yakni menghancurkan (sistemyang ada) dan membuat yang baru. Sebagian besar historiografi semacam ini mencari akar-akarnya dalam masa lampau, seringkali masa lampau yang dibentuk untuk tujuan itu. Sarjana Rusia abad ke – 19, T.N. Granovsky, berpandangan tajam mengenai keluhan-keluhan mereka yang lemah, yang mencintai bukan kehidupan nyata, tetapi sebuah hantu kuno yang mereka panggil dari kuburan, dan mereka yang merendahkan diri sendiri dengan membungkukkan diri di hadapan sebuah berhala yang telah mereka ciptakan dengan imajinasi yang lemah. Pemujaan berhala semacam  itu dan imajinasi yang lemah demikian itu kini merupakan hal yang lazim di banyak belahan dunia. Mitos abad keemasan pada masa lampau, dengan merupakan kelaziman. Mitos itu digunakan oleh para anggota parlemen Inggris untuk membenarkan perkara mereka melawan monarki, yang bersandar pada kebiasaan lama Inggris. Terkadang mitos ini muncul dalam bentuk pengaitan kebiasaan itu dengan orang-orang Anglo-Sakson, yand dengan demikkian menghubungkan konsep ini dengan gagasan lain yang berkaitan, yakni gagasan tengang kebebasan lama di kalangan suku-suku Jerman yang tinggal di hutan mereka sendiri. Gagasan ini banyak didukung kalangan romantik Jerman dan dalam batas tertentu turut menyokong gagasan Liberalisme Jerman abad ke – 19.

Ketika virus nasionalisme menyebar dari Eropa ke kalangan kaum terpelajar Asia dan Afrika, gagasan-gagasan nasionalis mulai bermunculan dalam tulisan mereka. Gagasan-gagasan nasionalis ini terutama berguna untuk meringankan proses yang sulit dalam meminjam ide-ide dan lembaga-lembaga dari peradaban yang lebih kuat dan asing. Keterpaksaan untuk meminjam dari pihak lain memang menyakitkan dan merusak  .... Lewis 78 tidak selesai

 

Versi mitologi semacam ini yang lebih modern dan canggih tampak dalam sebagian tulisan mereka yang disebut mazhab revisionis di Amerika Serikat. Mereka berpaling pada abad keemasan keluhuran Amerika, dan berupaya mencari apa yang mereka anggap seagai sumber asli semua dosa dan kejahatan dunia sampai masa sekarang ini. Para penulis itu secara vulgar tidak memperdulikan fakta dan kemungkinan-kemungkinan serupa serta motivasi mereka yang sangat ideologis. Apa yang mereka hasilkan persis seperti historiografi resmi Uni Soviet. Satu-satunya perbedaan yang ada adalah bahwa yang satu dimaksudkan untuk mempertahakan kemapanan, sedangkan yang lainnya untuk menggantikannya. Keduanya sama-sama ahistoris dalam pengertian yang paling dalam. Ketika kelompok oposisi yang revolusioner dan radikal akhirnya mampu memegang kekuasaan, tuntutannya pada masa lampau mengalami perubahan yang subtil.

Sebelumnya, masa lampau berfungsi untuk mendobrak kekuasaan dan membenarkan penggulingannya. Kini, fungsinya  harus dibuat untuk melegitimasikan kekuasaan, atau dapat dikatakan,  kekuasaan yang baru dibentu, yang bagaimanapun merupakan kekuasaan revolusioner. Persoalannya adalah menjustifikasikan sebuah revolusi yang berhasil tanpa sekaligus membenarkan revolusi-revolusi berikutnya yang menentang revolusi yang pertama –atau membenarkan kekuasaan yang ada tanpa sekaligus membenarkan suatu pemilihan kekuasaan yang baru saja digulingkan. Selain metode Soviet yang bertumpu pada kontrol dan pengerahan di bawah negara, ada berbagai cara di mana penemu-ciptaan sejarah dapat didorong dan diarahkan. Yang satu adalah patronase, yang lain dengan keberhasilan rakyat lagi, yang lain lagi dengan kecurangan resmi –ketika dipraktikkan atas nama gereja diberi istilah kecurangan yang saleh – yang lain lagi dengan ideologi. Namun, sejauh ini, yang paling efektif adalah dengan paksaan. Ini tidak hanya berarti bahwa  ... Lewis. Halaman 83

Jawaban-jawaban atas pertanyaan-pertanyaan kita pun kungkin sulit dicari dan susah ditemukan. Godaan kuat yang sering kali dihadapi sejarawan, bukan menceritakan sebagaimana adanya, tetapi sebagaimana yang kita kehendaki.dalam paparan saya sebelumnya, saya berupaya mendefinisikan dan menggambarkan tiga jenis (penulisan) sejarah yang berbeda – sejarah yang diingat, sejarah yang ditemukan kembali, dan sejarah yang ditemu-ciptakan.

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PANDEMI DAN POTRET DUNIA PENDIDIKAN

  PANDEMI DAN POTRET DUNIA PENDIDIKAN Oleh : Moh Zulham Alsyahdian, S.Hum, M.Pd   Pandemi Coronavirus Diseaese 2019 (selanjutnya Co...