Rabu, 02 Desember 2020

PEWARISAN NILAI-NILAI TUNJUK AJAR MELAYU UNTUK MEMBANGUN KECERDASAN EKOLOGIS PESERTA DIDIK MELALUI PEMBELAJARAN SEJARAH LOKAL

 

PEWARISAN NILAI-NILAI TUNJUK AJAR MELAYU

UNTUK MEMBANGUN KECERDASAN EKOLOGIS

PESERTA DIDIK MELALUI PEMBELAJARAN SEJARAH LOKAL

 

Oleh :

Moh. Zulham Alsyahdian

Mahasiswa Sekolah Pasca Sarjana (SPS) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)

Program Studi Pendidikan Sejarah

zulham1180@gmail.com

 

Abstraksi

Smoking disaster caused by field or forest combustion as if it as annual routin “agenda” for society in Riau province. Even consequently also to the neighboring country, Singapore and Malaysia. It does not count losses caused by this disaster, both physically and psychologically, morally and materially. For the long term, this disaster should be anticipated not just overcome. Preventive action is wise step to minimize similar disaster in the future. One such effort is through the study of local history, which in the past the Malay community, there is a local wisdom in the form of Tunjuk Ajar Melayu (TAM), which could be a moral philosophy for people to behave and act. Because in TAM, there is a point of TAM in dealking with the natural environment, so that the public can have life in harmony with nature. Not the country, exploiting nature in the end, will form awareness of environmental literacy, for the sake of a harmonius way oof living ecologically. 

 

Key Words : Tunjuk Ajar Melayu, Ecological Intelligence, Local History.

 

Latar Belakang

Pada beberapa tahun belakangan ini, Riau merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang seringkali mengalami bencana asap akibat pembakaran lahan atau hutan (deforestasi) yang [kebetulan] berbarengan dengan musim kemarau. Sebagai gambaran betapa “parahnya” polusi asap tersebut, berikut ilustrasi oleh Wikipedia Indonesia (diunduh 30 Nopember 2016) :

Pada tanggal 14 September 2015, Indeks Standar Pencemaran Udara di Kota Pekanbaru, Riau mencapai 984 psi yang jauh berada diatas batas kualitas udara sehat yang seharusnya lebih kecil dari 50 psi. Pada tanggal 15 September Indeks Pencemaran Udara di Kuala Selangor, Malaysia mencapai angka 200.

Sekolah-sekolah di Kota Pekanbaru, Riau terpaksa meliburkan siswa untuk menghindari bahaya kesehatan untuk siswa. Pada 15 September 2015, pemerintah di Malaysia memerintahkan penutupan sekolah-sekolah di Kuala Lumpur, Selangor, Melaka dan Negeri Sembilan.

Pada tanggal 14 September 2015, 70 penerbangan di Bandar Udara Internasional Sultan Syarif Kasim II di Pekanbaru, Riau dibatalkan karena kabut asap.

Pada 14 September 2015, tingkat polusi di Singapura mencapai rentang "sangat tidak sehat" menurut National Environment Agency negara tersebut. Asap tebal dan bau hangus meliputi negara ini, dan berbagai kegiatan luar ruangan harus dibatalkan.

 

Pertanyaannya kemudian, sampai kapan bencana ini akan terus terjadi ? Tidakkah ada upaya secara sistematis untuk mengeleminir bencana di atas ?

Indonesia kaya akan budaya kearifan terhadap lingkungan hidup. Akan tetapi, kearifan lokal (local wisdom) yang ada dalam masyarakat Nusantara tersebut terancam terdegradasi. Hal ini diakibatkan oleh norma dan etika terhadap lingkungan hidup yang diwariskan dari nenek moyang itu terancam oleh gaya hidup materalis hedonis yang konsumtif dan mengejar kesenangan sesaat semata. (Thamrin, 2014).

Salah satu kearifan lokal yang ada di Riau yang banyak memuat nilai-nilai kearifan terkait dengan lingkungan adalah sebagaimana dalam Tunjuk Ajar Melayu (disingkat TAM). Hanya saja TAM selama ini hanyalah sebagai “sekedar permainan kata-kata dan hiburan penyemarak suasana”. Sebagai yang dilakukan oleh Gubernur Riau Arsyadjuliandi Rachman dalam peringatan Hari Lingkungan Hidup (HLH) Sedunia tingkat Nasional di Kabupaten Siak Sri Indrapura, Provinsi Riau, 22 Juli 2016. Di penghujung sambutannya di depan Wakil Presiden Jusup Kalla, beliau membacakan TAM yang berisi ajakan untuk menjaga lingkungan. "Tanda orang memegang amanah tanda orang memelihara lingkungan sekitarnya dan alam. Tanda orang menjaga amanah tanda orang menjaga sekitarnya," (Potretnews.com/22 Juli 2016)

Perlu kiranya, nilai-nilai yang ada dalam TAM untuk direvitalisasi sebagai pegangan hidup bagi setiap anak negeri ini, dalam bersikap dan berperilaku terhadap lingkungan alamnya. Sehingga dengan ini, berbagai bencana yang merupakan akibat dari perilaku yang tidak “selaras” terhadap alam tersebut dapat diatasi. Salah satu media yang bisa digunakan dalam penanaman nilai TAM tersebut adalah melalui pembelajaran sejarah di kelas. Sehingga, kesadaran ekologis ini bisa secara dini ditanamkan kepada peserta didik, yang pada akhirnya menjadi sikap dan pola perilaku dalam kehidupan sehari-hari, sampai dengan mereka dewasa.

 

Sekilas Tentang Tunjuk Ajar Melayu

Kearifan lokal baru menjadi wacana dalam masyarakat pada tahun 1980-an, ketika nilai-nilai budaya lokal yang terdapat dalam masyarakat Indonesia sebagai warisan nenek moyang sudah hampir habis digerus oleh arus modernisasi yang menjadi kebijakan -dasar pembangunan yang dilaksanakan oleh Orde Baru. Modernisasi yang membukakan diri kepada globalisasi, ditambah oleh semangat nasionalisme yang hendak mengatur agar di seluruh Indonesia kehidupan masyarakat seragam. Dengan demikian kebudayaan lokal baik berupa kesenian, sastra, hukum adat, dan lain-lain banyak yang hanyut dan hilang, sehingga tidak dapat digunakan sebagai pemerkaya budaya nasional yang sudah dibangun. (Rosidi, 2011, hlm. 35-36)

Di antara berbagai kekayaan seni budaya Melayu, ungkapan adalah salah satu yang paling menonjol. Khazanah budaya syair merupakan budaya yang kental pada suku Melayu, keindahan ungkapan bukan saja pada pilihan katanya, tetapi lebih dari itu, adalah pada makna dan filosofi yang terkandung di dalamnya, banyak sekali ungkapan yang berisi tunjuk ajar serta nasehat-nasehat mulia. (Antin, tt)

Tunjuk ajar yang dimaksud di sini adalah segala jenis petuah, petunjuk, nasihat, amanah, pengajaran, dan contoh teladan yang bermanfaat bagi kehidupan manusia dalam arti luas. Menurut orang tua-tua Melayu, “tunjuk ajar melayu adalah segala petuah, amanah, suri taudalan, dan nasihat yang membawa manusia ke jalan yang lurus dan diridhoi Allah, yang berkahnya menyelamatkan manusia dalam kehidupan di dunia dan kehidupan di akhirat”. Di dalam berbagai ungkapan disebut :

yang disebut tunjuk ajar melayu,

menunjuk dengan ilmu

mengajar dengan guru (Effendy, 2004, hlm. 7)

 

Tunjuk Ajar Melayu (TAM) berakar dari sastra Melayu, berisi nasehat, amanah, petunjuk, pengajaran dan suri tauladan agar manusia Melayu dapat menjalani kehidupan yang baik dan diridhoi oleh Allah SWT, Tuhan yang maha Esa. Secara umum kandungan TAM adalah nilai-nilai luhur yang sesuai dengan agama Islam, (Sumarsih, dkk, 2014). Melalui tunjuk-ajar terjadi transformasi nilai-nilai, pesan moral, dan tuntunan hidup. Jauh berjalan banyak ditempuh, dan orang tua-tua  yang sudah menempuh perjalanan hidup yang panjang tak ingin generasi di bawahnya (bisa anak atau baris cucu) terjerembab atau tergelincir di tempat yang salah, makanya mereka memberikan tunjuk-ajar, petuah, dan nasihat serta tuntunan kepada generasi di bawahnya. (Dahlan, 2014, hlm. 521)

Bagi orang Melayu, tunjuk ajar harus mengandung nilai-nilai luhur agama Islam dan juga sesuai dengan budaya dan norma-norma sosial yang dianut masyarakatnya. Orang tua-tua mengatakan “di dalam tunjuk ajar, agama memancar”, atau “di dalam tunjuk ajar Melayu tersembunyi berbagai ilmu”. Dalam  ungkapan disebut :

apa isi tunjuk ajar Melayu

kepalanya syarak, tubuhnya ilmu

 

Bagi orang Melayu, tunjuk ajar ditempatkan pada kedudukan yang penting, bahkan sebagian orang tua-tua menempatkannya teramat penting, karena kandungan isinya yang luhur itu. Di dalam ungkapan disebut :

apa tanda Melayu jati,

tunjuk ajarnya dipegang mati

 

Orang tua-tua Melayu mengatakan, bahwa tunjuk ajar amat besar manfaat dan nilai positifnya bagi kehidupan di dunia dan kehidupan di akhirat, baik bagi pribadi maupun bagi masyarakat, bangsa dan negara. Itulah sebabnya, tunjuk ajar dikatakan manfaatnya tidak berhad, yang maksudnya adalah bahwa manfaat yang terkandung di dalam tunjuk ajar amat luas, sehingga tidak dapat dihingga-hingga. Dalam ungkapan lain disebut :

kalau hendak menjadi orang,

tunjuk ajar hendaklah pegang (Effendy, 2004, hlm. 9-13)

 

Dalam konteks dunia hari ini, TAM jarang dikenali dan dipelajari oleh generasi muda. Sehingga akibatnya, sebagaimana Tenas Effendy (dalam Mudra, 2008) TAM (sebagaimana Pantun), hanya sekedar permainan kata-kata dan hiburan penyemarak suasana. Jika kondisi tersebut dibiarkan, dan puak-puak Melayu tidak berupaya untuk merevitalisasinya, bukan mustahil seiring kemajuan zaman, TAM (sebagaimana pantun) hanya akan menjadi fosil kebanggaan masa lalu bangsa Melayu. Hal yang sama juga disampaikan oleh Isjoni (2007, hlm. 50-51), bahwa kelemahan kebudayaan Melayu bagi generasi muda dan generasi penerus kurang memahaminya dan menghayati serta mengaplikasinnya.

Apalagi butir-butir kandungan dari TAM ini sangat luas dan kaya, mulai dari ketakwaan kepada Tuhan YME; Ketaatan kepada ibu dan bapak; ketaatan kepada pemimpin; persatuan dan kesatuan, gotong royong, dan tenggang rasa; keadilan dan kebenaran; keutamaan menuntut ilmu pengetahuan; ikhlas dan rela berkorban; kerja keras, rajin dan tekun; sikap mandiri dan percaya diri; bertanam budi dan membalas budi; rasa tanggung jawab; sifat malu; kasih sayang; hak dan miliki; musyawarah dan mufakat; keberanian; kejujuran; hemat dan cermat; sifat rendah hati; bersangka baik terhadap sesama makhluk; sifat perajuk; sifat tahu diri; keterbukaan; sifat pemaaf dan pemurah; memanfaatkan waktu; berpandangan jauh ke depan; mensyukuri nikmat Allah; serta hidup sederhana. Selain butir –butir di atas, di dalam TAM terdapat petuah dan amanah yang meliputi : petuah amanah guru kepada murid; petuah amanah orang tua kepada anak, petuah amanah kehidupan rumah tangga; petuah amanah yang bersifat umum; petuah amanah mendidik dan membela anak; petuah amanah kesetiakawanan sosial; petuah amanah menghadapi hari kemudian; petuah amanah pembinaan rumah tangga dan keluarga sejahtera; petuah amanah kepemimpinan; serta petuah amanah alam lingkungan. (Effendy, 2004)

 

Kecerdasan Ekologis

Sekitar tahun 1900, ekologi diakui sebagai ilmu dan berkembang terus dengan cepat. Apalagi di saat dunia sangat peka dengan masalah lingkungan dalam mengadakan dan memelihara mutu peradaban manusia. Ekologi merupakan cabang ilmu yang mendasarinya dan selalu berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Sebaliknya, suatu pendekatan ekologis itu berkaitan dengan jenis-jenis keseluruhan tertentu – dengan organisme-organisme hidup, atau sstem-sistem kehidupan. Karena itu, dalam suatu paradigm ekologis, penekanan utamanya adalah pada kehidupan, pada dunia yang hidup di mana kita ini merupakan bagian darinya dan di mana kehidupan –kehidupan kita bergantung. (Capra, 2002, hlm. 282)

Sementara itu Goleman (dalam Supriatna, 2016, hlm. 9) mendefinisikan kecerdasan ekologis sebagai kecerdasan yang didasari oleh pengetahuan, kesadaran, keterampilan dan empati pada semua bentuk kehidupan di muka serta menjaga kelestarian bumi sebagai tempat bagi semua makhluk hidup berada. Seorang yang cerdas secara ekologis, menurut (Supriatna, 2016, hlm. 24) adalah orang yang memahami bahwa setiap perilaku dan tindakannya tidak hanya berdampak pada dirinya dan orang lain melainkan juga pada lingkungan alam tempat dia tinggal. Kecerdasan tersebut dibangun oleh pemahaman bahwa alam tempat dia tinggal harus dijaga agar tetap memiliki daya dukung bagi kehidupan dirinya dan orang lain.

Muhaimin (2015, hlm. 79) menjelaskan kompetensi ekologis berkaitan sangat erat dengan pembentukan pengetahuan dan pemahaman siswa tentang lingkungan hiduip yang diikuti dengan perkembangan nilai serta diaplikasikan dalam keterampilan dan partisipasi ekologis dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, berdasarkan pemahaman tersebut, seseorang yang memilliki kecerdasan ekologis akan menyadari bahwa alam tempat semua makhluk hidup, termasuk manusia, dapat meneeruskan dan meningkatkan kehidupannya menjadi lebih baik di planet ini. Apabila pemahaman dan kesadaran tentang pentingnya menjaga, merawat melestarikan ala serta hubungan baik dengan makhluk hidup di alam dimiliki seseorang maka dia akan melakukan tindakan-tindakan yang selaras dengan kelestarian alam. Kecerdasan ekologis menggambarkan kemampuan atau kapasitas seseorang dalam melakukan tindakan yang terkait dengan aspek ekologis, yaitu pelestarian alam.

Kompetensi ekologis berkaitan sangat erat dengan pembentukan pengetahuan dan pemahaman siswa tentang lingkungan hidup yang diikuti dengan perkembangan nilai serta diaplikasikan dalam keterampilan dan partisipasi ekologis dalam kehidupan sehari-hari. Kompetensi ekologis mengisyaratkan apa dan bagaimana indivudu memahami dan berperilaku terhadap lingkungan hidup yang pada akhirnya membuat individu melek lingkungan (environmental literacy). Kompetensi ekologis merupakan kompetensi yang berkaitan dengan aspek-aspek yang berhubungan dengan ekologi dalam konteks pendidikan yang harus dikuasai oleh siswa dalam pembelajaran.

Hines mengidentifikasi empat elemen pokok yang harus ada dalam kompetensi ekologis, yaitu :

1.      Pengetahuan tentang isu-isu lingkungan

2.      Pengetahuan tentang strategi tindakan yang khusus untuk diterapkan pada isu-isu lingkungan

3.      Kemampuan untuk bertindak terhadap isu-isu lingkungan

4.      Memiliki kualitas dalam menyikap serta sikap personalitas yang baik. (Muhaimin, 2015, hlm. 79)

Secara lebih terperinci, Palmer (dalam Muhaimin, 2015, hlm. 80-81) mendeskripsikan kompetensi ekologis meliputi aspek pengetahuan, pemahaman, skill atau keterampilan yang di dalamnya juga memuat kompetensi dalam hal partisipasi lingkungan. Kompetensi ini saling terkait, sehingga melahirkan kompetensi ekologis yang utama yang meliputi segenap dimensi perkembangan siswa dengan tuntutan kepedulian dan pelestarian terhadap lingkungan hidup. Palmer memerinci kompetensi ekologis sebagai berikut :

1.      Pengetahuan dan Pemahaman

a.       Pengetahuan dan pemahaman tentang lingkungan pada tingkatan yang bervariasi dari lokal sampai global.

b.      Pengetahuan dan pemahaman tentang lingkungan pada tingkatan yang bervariasi yang disusun dari isu-isu lingkungan dari tingkat lokal samplai global, termasuk pemahaman tentang pengaruh-pengetahu yang berbeda, baik itu alam maupun manusia manusia yang berkaitan dengan isu-isu lingkunga.

c.       Pengetahuan tentang alternatif sikap dan pendekatan terhadap isu lingkungan dan sistem nilai tentang lingkunga.

2.      Skill

a.       Menemukan isu dan solusi lingkungan baik secara langsung maupun dari pelajaran.

b.      Komunikasi, pengetahuan tentang lingkungan dan alternatif sikap terhadap isu lingkungan termasuk menentukan sikap atau pendekatan untuk solusi masalah lingkungan.

3.      Partisipasi

a.       Terlibat sebagai bagian dari kelompok pembuat kebijakan tentang permasalahan lingkungan dalam skala kecil  atau besar.

b.      Terlibat sebagai bagian dari kegiatan lingkungan sebagai bentuk respon dan kepedulian terhadap lingkungan. 

Oleh karena itu hanya dengan berinteraksi dengan alam, kita akan menyadari bahwa hidup merupakan bagian dari alam. Matthias Gross mengatakan dalam New Natures and Old Science, “Hanya dengan cara berinteraksi dengan alamlah kita dapat sampai kepada kesadaran bahwa manusia adalah bagian dari alam, memahami alam, dan akhirnya melestarikan/memulihkan alam.” Oleh karena itu, kita harus mencoba memulai dan mengembalikan fungsi-fungsi ekologis alam yang selama ini telah secara destruktif dieksploitasi demi kepentingan ego manusia. (Basri, dkk, 2012, hlm.  281)

 

Membangun Kecerdasan Ekologis Melalui Tunjuk Ajar Melayu dalam Pembelajaran Sejarah Lokal

Dalam perspektif Al Gore (1994, hlm. 390-392), ada lima tujuan strategis untuk mengarahkan dan memberitahu upaya untuk menyelamatkan lingkungan hidup global. Di mana salah satunya adalah berupa penyusunan rencana bersama untuk mendidik warga dunia tentang lingkungan hidup global. Hal itu salah satunya dilakukan dengan sebuah program komprehensif untuk meneliti dan memantau perubahan–perubahan yang sedang terjadi pada lingungan hidup dalam cara yang melibatkan orang-orang dari semua bangsa, terutama pelajar.

Upaya membangun  kecerdasan  ekologis tersebut, dalam konteks pembelajaran di sekolah, bisa diaplikasikan dalam pembelajaran sejarah lokal di SMA/SMK/MA. Apalagi dalam Kurikulum 2013, salah satu prinsip mata pelajaran sejarah Indonesia adalah pengenalan diri dan masyarakat dikembangkan melalui kajian terhadap peristiwa sejarah yang terjadi di lokal (desa, kecamatan, kota/kabupaten/ propinsi). (Hasan, 2015).

Karena berkaitan dengan lingkungan sekitar maka kelebihan pengajaran sejarah lokal antara lain kemampuannya untuk membawa murid pada situasi riil di lingkungannya. Pengajaran sejarah lokal seakan-akan mampu menerobos batas antara dunia sekolah dan dunia nyata di sekitar sekolah, dengan demikian proses pembelajaran akan membawa murid secara langsung mengenal serta menghayati lingkungan masyarakatnya, di mana mereka merupakan bagian saja daripadanya. Melalui pembelajaran sejarah lokal diharapkan lebih mudah membawa siswa pada usaha untuk memproyeksikan pengalaman masa lampau masyarakatnya dengan situasi kini, bahkan juga pada arah masa depannya. Dengan kata lain, peserta didik akan lebih mudah menangkap konsep waktu atau perkembangan (perubahan) yang menjadi kunci penghubung masa lampau, masa kini dan masa yang akan datang (Widja, 1989 : 117).

Dengan ini sehingga pembelajaran sejarah lebih mudah dipahami oleh siswa, karena berangkat dari realitas kehidupan mereka sehari-hari. Oleh karena itu, menurut Hasan (2012, hlm. 123-124), dalam posisi ini maka sejarah lokal akan memegang posisi utama karena ia berkenaan dengan lingkungan terdekat dan budaya peserta didik. Sehingga dalam posisi ini materi sejarah lokal menjdi dasar bagi pengembangan jati diri pribadi, budaya dan sosial peserta didik.

Dalam konteks ini pembelajaran sejarah lokal yang diberikan adalah, tentang salah satu kearifan lokal masyarakat Melayu masa lampau (TAM), dalam korelasinya dengan peristiwa asap akibat pembakaran lahan atau hutan yang seringkali terjadi di tanah Melayu tersebut.  Berikut petuah amanah Melayu yang amat memperhatikan kelestarian dan keseimbangan alam lingkungan banyak berisi tunjuk ajar pantang larang dan acuan masyarat agar tidak sampai merusak alamnya, antara lain :

tanda orang memegang adat,

alam dijaga, petuah diingat

 

tanda orang memegang amanah

pantang merusak hutan dan tanah

 

tanda orang memegang amanat,

terhadap alam berbuat cermat

tanda orang berpikiran panjang,

merusak alam ia berpantang

 

tanda orang berakal  senonoh,

menjaga alam hatinya kokoh

 

tanda orang berbudi pekerti,

merusak alam ia jauhi

 

tanda orang berpikiran luas,

memanfaatkan hutan ianya awas

 

tanda orang berakal budi,

merusak  hutan ia tak sudi

 

tanda ingat ke anak cucu,

merusak hutan hatinya malu

 

tanda ingat ke hari tua,

laut dijaga, bumi dipelihara

 

tanda ingat  hari kemudian,

taat menjaga laut dan hutan

 

tanda ingat kepada Tuhan,

menjaga alam ia utamakan

 

 

tanda ingat hidup kan mati,

memanfaatkan alam berhati-hati

 

tanda ingat adat lembaga,

laut dikungkung hutan dijaga

 

tanda ingat ke masa datang,

merusak alam ia berpantang

 

siapa mengenang anak cucunya,

bumi yang kaya takkan dirusaknya

 

siapa sadar dirinya khalifah

terhadap alam takkan menyalah

 

apa tanda hidup beriman,

tahu menjaga kampong halaman

 

apa tanda hidup berilmu,

memelihara alam ianya tahu

 

apa tanda hidup  terpuji,

alam sekitar ia santuni

apa tanda hidup berakal,

memelihara alam menjadi bekal

 

apa tanda hidup bermanfaat,

menggunakan alam berhemat-hemat

 

apa tanda hidup menenggang,

menjaga alam mengikut undang

 

 

 

adat hidup orang beriman,

tahu menjaga laut dan hutan

tahu menjaga kayu dan kayan,

tahu menjaga binatang hutan

 

tebasnya tidak menghabiskan

tebangnya tidak memusnahkan

bakarnya tidak membinasakan

 

adat hidup memegang adat,

tahu menjaga laut dan selat

tahu menjaga rimba yang lebat

tahu menjaga tanah wilayat

tahu menjaga semut dan ulat

tahu menjaga togok dan belat

 

tahu menebas memegang adat

tahu menebang memegang amanat

tahu berladang menurut undang

tahu berkebun mengikut kanun

 

beramu tidak merusak kayu

berotan tidak merusak hutan

bergetak tidak merusak rimba

berumah tidak merusak tanah

berkebun tidak merusak dusun

berkampung tidak merusak gunung

berladang tidak merusak padang

 

adat hidup memegang amanah

tahu menjaga hutan dan tanah

tahu menjaga bukit dan lembah

 

berladang tidak merusak tanah

berkebun tidak merusak rimba

(Effendy, 2004, hlm. 664-666)

Dari apa yang tertulis dalam TAM di atas, dapat dilihat betapa masyarakat Melayu Riau pada masa lampau memiliki kearifan dalam berhubungan dengan alam lingkungan. Nilai-nilai di atas seyogyanya tidak sekedar sebuah “petatah-petitih” yang hanya bagus untuk dibaca dan dipajang. Akan tetapi, bagaimana upaya kita untuk merevitalisasi nilai-nilai tersebut sebagai sebuah aplikasi di lapangan, dengan cara mewariskannya kepada para peserta didik, sebagai calon generasi penerus.

Adapun model pembelajaran yang digunakan adalah model pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL). Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah sebuah sistem belajar yang didasarkan pada filosofi bahwa siswa mampu menyerap pelajaran apabila mereka menangkap makna dalam materi akademis yang mereka terima, dan mereka menangkap makna dalam tugas-tugas sekolah jika mereka bisa mengaitkan informasi baru dengan pengetahuan dan pengalaman yang sudah miliki sebelumnya. (Johnson, 2007, hlm. 14).

Sanjaya (2013, hlm. 255-256) menambahkan bahwa Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah suatu strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya  dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka.

Dari konsep tersebut ada tiga hal yang harus dipahami. Pertama, CTL menekankan kepada proses keterlibatan siswa untuk menemukan materi, artinya proses belajar diorientasikan pada proses pengalaman secara langsung. Proses belajar dalam konteks CTL tidak mengharapkan agar siswa hanya menerima pelajaran, akan tetapi proses mencari dan menemukan sendiri materi pelajaran. Kedua, CTL mendorong agar siswa dapat menemukan hubungan antara materi yang dipelajari dengan situasi kehidupan nyata, artinya siswa dituntut untuk dapat menangkap hubungan antara pengelaman belajar di sekolah dengan kehidupan nyata. Ketiga. CTL mendorong siswa utnuk dapat menerapkannya dalam kehidupan, artinya CTL bukan hanya mengharapkan siswa dapat memahami materi yang dipelajariya, akan tetapi bagaimana materi pelajaran itu dapat mewarnai perilakunya dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui pembelajaran CTL diharapkan peserta didik bisa mengkorelasikan apa yang dipelajari di kelas berupa TAM sebagai bagian dari pembelajaran sejarah lokal, dalam kaitannya dengan fenomena asap akibat pembakaran lahan dan hutan (deforestasi) yang dilakukan oleh berbagai elemen masyarakat. Dengan pembelajaran ini, diharapkan para peserta didik memiliki pemahaman dan kesadaran akan lingkungan (environmental literacy), yang pada akhirnya akan menjadi pola perilaku dan sikap yang peduli dan menjaga lingkungannya (environmental behavior).

 

Kesimpulan

Negara Indonesia memiliki banyak warisan kearifan lokal (local wisdom), yang merupakan hasil dari kreatifitas masyarakat Indonesia masa lampau. Salah satunya adalah Tunjuk Ajar Melayu (TAM) yang merupakan peninggalan masyarakat Melayu Riau.   Akan tetapi, sebagai sebuah karya kreatifitas masyarakat Melayu masa lampau, TAM baru bersifat normatif. Oleh karenanya perlu upaya revitalisasi dalam rangka menjadikan TAM lebih aplikatif dalam kehidupan.

Apalagi butir-butir kandungan dari TAM ini sangat luas dan kaya, mulai dari ketakwaan kepada Tuhan YME; ketaatan kepada ibu dan bapak; ketaatan kepada pemimpin; persatuan dan kesatuan, gotong royong, dan tenggang rasa; keadilan dan kebenaran; keutamaan menuntut ilmu pengetahuan; ikhlas dan rela berkorban; kerja keras, rajin dan tekun; sikap mandiri dan percaya diri; bertanam budi dan membalas budi; rasa tanggung jawab; sifat malu; kasih sayang; hak dan miliki; musyawarah dan mufakat; keberanian; kejujuran; hemat dan cermat; sifat rendah hati; bersangka baik terhadap sesama makhluk; sifat perajuk; sifat tahu diri; keterbukaan; sifat pemaaf dan pemurah; memanfaatkan waktu; berpandangan jauh ke depan; mensyukuri nikmat allah; serta hidup sederhana. Selain butir butir di atas, di dalam tam terdapat petuah dan amanah yang meliputi : petuah amanah guru kepada murid; petuah amanah orang tua kepada anak, petuah amanah kehidupan rumah tangga; petuah amanah yang bersifat umum; petuah amanah mendidik dan membela anak; petuah amanah kesetiakawanan sosial; petuah amanah menghadapi hari kemudian; petuah amanah pembinaan rumah tangga dan keluarga sejahtera; petuah amanah kepemimpinan; serta petuah amanah alam lingkungan.

Melalui pembelajaran sejarah lokal dengan muatan TAM yang dikorelasikan dengan isu asap sebagai akibat dari pembakaran lahan atau hutan (deforestasi) di Riau, para peserta didik diharapkan akan memiliki kesadaran akan lingkungan (environmental literacy) yang selanjutnya akan melahirkan pola perilaku dan sikap yang peduli dan menjaga lingkungannya (environmental behavior). Sebagai penutup, kiranya patut kira renungkan pernyataan Zimmermann bahwa :

“kearifan dan akal budi manusia pada akhirnya dapat menjadi sumber daya alam utama yang membuka rahasia dan hikmah alam semesta. (Winoto, dkk, 1993, hlm. 3).

 

 


 

DAFTAR  BACAAN

 

SUMBER BUKU :

 

Basri, Mohammad Hasan, dkk. (2012). Paradigma Eko-Filosofis : Melacak Titik  Temu Sains, Agama (Islam), dan Budaya (Jawa) dalam Memaknai, Mengelola, dan Mengantisipasi Bencana. Dalam Agus Indiyanto dan Arqom Kuswanjono. Agama, Budaya, dan Bencana. Bandung : PT Mizan Pustaka dan Program Studi Agama dan Lintas Budaya Universita Gadjah Mada Yogyakarta.

Capra, Fritjof. (2002). Uncommon Wisdom : Conversation  with Remarkable  People. Londong : Flamingo, Hammersmith. Dialihbahasakan oleh  Hartono Hadikusumo. Kearifan Tidak Bisaa : Percakapan dengan Orang-Orang Luar Bisa. Yogyakarta : Bentang Budaya.

Dahlan, Ahmad. (2014). Sejarah Melayu. Jakara : Kepustakaan Populer Gramedia.

Gatot Winoto, dkk. (1993). Kearifan Tradisional Masyarakat Pedesaan dalam Upaya Pemeliharaan Lingkungan Hidup Di Daerah Riau. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional.

Gore, Al. (1994). Earth  in the Balance : Ecology and the Human Spirit. USA : Houghton Mifflin Complany. Dialihbahasakan oleh Hira Jhamtani. Bumi dalam Keseimbangan Ekologi dan Semangat Manusia. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia.

Hasan, S. Hamid. (2012). Pendidikan Sejarah Indonesia : Isu dalam Ide dan Pembelajaran. Bandung : Rizqi Press.

Johnson, Elaine B. (2007). Contextual Teaching and Learning : Menjadikan Kegiatan Belajar-Mengajar Mengasyikkan dan Bermakna. Bandung : Mizan Learning Center (MLC).

Muhaimin. (2015). Membangun Kecerdasan Ekologis Model Pendidikan untuk Meningkatkan Komptensi Ekologis.  Bandung : Alfabeta

Rosidi, Ajip. (2011). Kearifan Lokal Dalam Perspektif Budaya Sunda. Bandung : PT Kiblat Buku Utama.

Sanjaya, Wina. (2013). Strategi Pembelajaran Beroreintasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta : Kencana Prenadamedia Group.

Supriatna, Nana. (2016). Ecopedagogy. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.

Widja, I Gde. (1989). Sejarah Lokal Suatu Perspektif Dalam Pengajaran Sejarah. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Proyek Pengembnagan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan.

 

SUMBER ARTIKEL JURNAL :

 

Antin, Titi. (tt). Membangun Strategi Kehumasan Berbasiskan Kearifan Lokal “Tunjuk Ajar Melayu” Dalam Upaya Meminimalisir Konflik. Pekanbaru :   Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau.

Sumarsih, Yanti. Dkk. (2014). Struktur dan Nilai-Nilai Pendidikan Ketakwaan Dalam Tunjuk Ajar Melayu Versi  Tenas Effendy. Jurnal Bahasa, Sastra dan Pembelajaran. Volume 2 Nomor 2, Juni 2014.

Thamrin, Husni. (2014). Revitalisasi Kearifan Lokal Melayu Dalam Menjaga Harmonisasi Lingkungan Hidup. Toleransi: Media Komunikasi Umat Beragama, Vol.6, No.1 Januari-Juni 2014.

 

SUMBER MAKALAH SEMINAR:

 

Hasan, S. Hamid. (2015). Kurikulum Pendidikan Sejarah. Presentasi Di Direktorat Sejarah Dan Nilai Budaya. Bandung, 06 Agustus 2015.

Mudra, Mahyudin al. (2015). Revitalisasi Pantun Melayu : Memangku Tradisi Menjemput Zaman. Makalah pada Seminar Revitalisasi Budaya Melayu Ke-II. Tanjung Pinang, Kepulauan Riau (16-18 Desember 2008).

 

MEDIA MASSA :

 

Potretnews.com. Jum'at, 22 Juli 2016. Diunduh pada tanggal 20 Nopember 2016.

Wikipedia Indonesia. Polusi Asap Asia tenggara 2015. Diunduh pada tanggal 30 Nopember 2016

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PANDEMI DAN POTRET DUNIA PENDIDIKAN

  PANDEMI DAN POTRET DUNIA PENDIDIKAN Oleh : Moh Zulham Alsyahdian, S.Hum, M.Pd   Pandemi Coronavirus Diseaese 2019 (selanjutnya Co...