NABI MUHAMMAD SAW DALAM PRESPEKTIF ORIENTALIS
Oleh : Moh. Zulham Alsyahdian
(Guru SMP Negeri 1 Keritang)
|
O |
rientalisme dalam pengertian di sini adalah sebuah istilah yang digunakan kepada kegiatan mempelajari ke-Islam-an dan umat Islam yang dilakukan oleh orang-orang Barat (baca : Eropa dan Amerika) yang notebene non-Muslim. Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh Edward Said, ilmuwan asal Palestina yang kemudian menjadi Profesor Sastra Inggris dan Perbandingan Sastra di Universitas Columbia, melalui bukunya yang monumental dengan judul, Orientalism. Walau belakangan ini, istilah orientalisme sudah jarang digunakan, karena dianggap bias, bahkan oleh para orientalis itu sendiri.
Para orientalis ini dalam kajiannya tentang Islam (utamanya), cenderung bias dan tidak objektif, yang belakangan banyak dikritik oleh Edward Said. Termasuk ketika menulis tentang sosok Nabi Muhammad SAW, mereka cenderung melecehkan, menghina, merendahkan dan berbagai stereotyp lainnya, yang sampai hari ini masih menghinggap di sebagian besar orang –orang Barat. Film Fitna-nya Arnoud van Doorn di Belanda, lomba membuat karikatur Nabi Muhammad oleh Geert Wilders di Belanda, dan pembuatan kartun Nabi Muhammad oleh surat kabar Jyllands- Posten di Denmark, adalah di antara contoh prasangka-prasangka negatif (bahkan benci )yang masih menghunjam di benak sebagian orang-orang Barat.
Pertanyaannya kemudian, apakah yang dilakukan oleh Wilders, van Doorn (belakangan menjadi Muallaf), dan Jyllands-Posten tersebut, menggambarkan pemahaman dan pengertian Barat tentang nabi Muhammad SAW ?
Dalam sejarah manusia, tak pernah ada seorangpun mendapat perhatian sedemikian besar melebihi perhatian terhadap Rasulullah SAW. Sejak abad pertama hijriah, berbagai karya tulis tentang beliau dalam berbagai bahasa bermunculan, baik dalam berbagai aspek kehidupannya maupun yang menyoroti aspek-aspek tertentu. Seandainya semua buku tentang beliau dikumpulkan di sebuah perpustakaan, tak terbayangkan betapa besar koleksi itu. Tak akan ada perpustakaan mana pun yang mampu menandinginya.
Perhatian yang sedemikian besar terhadap sosok agung ini wajar. Kehadirannya, keberhasilannya, dan pengaruhnya sungguh fenomenal. Yang suka memujinya bahkan mencintai dan merindukannya, tapi yang tidak suka mencerca, memaki, dan melecehkannya. Memang, hanya manusia agung dan sangat istimewa yang dipuji sekaligus dicaci dan dicerca. Di dunia Kristen Barat, cercaan dan peleahan itu bertubi-tubi – sejak dulu hingga kini.
Salah satu buku penting yang berpengaruh memberikan citra negatif tentang Nabi Muhammad ialah A Life of Muhammad, karya orientalis Sir William Muir, yang menyebut Rasulullah SAW sebagai Mahound (roh jahat), yang menyebarkan agama melalui kekerasan dan nafsu seksual. Nama Mahound itu pulalah yang disebut dalam novel Salman Rushdie yang kontroversial, The Satanic Verses. Gambaran Rasulullah SAW sebagaimana dijelaskan oleh William Muir ini lah (dengan tanpa menapikan orientalis lainnya yang sepaham), yang pada sebagian besar masyarakat Barat (hingga hari ini) masih dianggap sebagai sebuah fakta dan kebenaran tentang sosok nabi pembawa ajaran Islam ini.
Walau pun demikian, tidak semua orientalis berpikir minor dan bias sebagaimana William Muir. Tidak sedikit di antara mereka yang cenderung objektif (walau tidak seratus persen), bahkan terkesan membela sosok Nabi Muhammad SAW. Di antara mereka adalah Will Durant, George Bernard Shaw, Anni Besant, Barnaby Rogerson, Karen Amstrong, Annemmarie Schimmel, dan paling fenomenal adalah Michael H Hart.
Melalui bukunya yang sangat terkenal, 100 Tokoh Paling Berpengaruh Di Dunia, Michael H. Hart menempatkan Rasulullah Muhammad SAW di peringkat pertama paling berpengaruh di dunia. Mengalahkan Isaac Newton, Yesus, Budha, dan Kong-Hu Cu dan lain-lain. Menurut Hart, di sepanjang sejarah, tak ada satupun orang yang bisa menyamai kualitas pengaruh Nabi Muhammad dalam seluruh aspek kehidupan masyarakat dunia. Ia bukan cuma mengajarkan agama, tapi juga politik, ekonomi, budaya – dan segenap ajarannya itu berpengaruh kuat di seluruh dunia selama belasan abad, sampai saat ini. Bagi Hart, itu juga menjadi sangat istimewa karena Muhammad datang dari tempat yang sangat terbelakang, jauh dari pusat perdagangan, seni maupun ilmu pengetahuan. Muhammad sendiri buta huruf, telah menjadi yatim piatu pada usia enam tahun, dan hidup dalam sebuah masyarakat yang senang bertikai dan saling membunuh.
Apa yang disimpulkan oleh Hart di atas, adalah pengakuan paling objektif tentang sosok Nabi Muhammad SAW dari seorang orientalis. Padahal dia seorang Yahudi (yang selama ini diasosiasikan sebagai bangsa yang paling benci dengan sosok Nabi Muhammad dan Islam, dan dia adalah seorang pemegang 4 gelar Doktor dari kampus di Amerka Serikat.
Hal yang sama dilakukan oleh Karen Armstrong, mantan Biarawati yang kemudian banyak menulis tentang Islam dan nabi Muhammad SAW. Ketika melaporkan kehidupan Paulus, Karen Amstrong itu menggambarkan Paulus seperti seorang kritikus. Ketika melaporkan Muhammad, ia menjadi seorang pembela Nabi Muhammad SAW yang luar biasa. Dengan gigih ia menjelaskan kekeliruan pandangan Barat tentang Rasulullah SAW. Ia membela kehormatan Nabi yang mulia lebih tajam dan lebih jernih dari Haikal. Tak heran, dalam sebuah pertemuan penulis-penulis tentang Islam di Kuala Lumpur, Akbar S Ahmed (penulis Pakistan yang sekarang berdomisili di Inggris) berseloroh dengan Armstrong, “seandainya kamu hidup pada zaman Nabi Muhammad, niscaya kamu ikhlas menjadi istri nabi yang ke-10”.
Bahkan yang lebih dramatis, seorang orientalis Inggris, Martin Lings, setelah mendalami Islam dan Nabi Muhammad SAW, menjadi seorang muallaf dan kemudian mengganti namanya menjadi Abu Bakar Sirajuddin. Melalui bukunya Muhammad : His Life on the Earliest Source ia menulis, bahwa Nabi Muhammad SAW adalah sosok mulia yang sangat menghormati dan menghargai wanita, seorang dermawan yang lembut hatinya. Bagaimana mungkin katanya, seorang yang bersikap baik kepada keluarganya dapat berbuat kejam terhadap sesama ?”
Memang, jikalau dibandingkan dengan sejarah pendiri agama-agama besar lainnya, semisal Kristen, Hindu, Budha, dan Khong Hu-Cu, menurut Ira Lapidus (2000) dalam bukunya yang fenomenal Sejarah Sosial Umat Islam, sumber-sumber pengetahuan kita mengenai kehidupan Nabi Muhammad lebih banyak. Hal yang sama ditegaskan oleh Akbar S Ahmed (1997), lebih dari tokoh-tokoh agama terdahulu – seperti Isa, Musa, atau Ibrahim – Nabi (Muhammad, pen) menjalani hidupnya dalam sorotan penuh sejarah.
Keistimewaan terpenting dari sejarah hidup Rasulullah SAW adalah bahwa ia begitu jelas, teliti, dan terpercaya, dalam semua tahap dan fasenya yang berbeda. Beberapa orientalis yang obyektif mengomentari sirah Rasulullah SAW sebagai sirah seorang rasul atau pembesar yang paling teliti. Ringkasan pernyataan mereka, “Muhammad SAW adalah satu-satunya orang yang dilahirkan di bawah sinar matahari”.
Sebagai penutup, mewakili pandangan objektif orientalis Barat terhadap sosok Nabi Muhammad SAW, sebagaimana ditulis Anni Besant, dalam bukunya, The Life and Teaching of Muhammad. Dia menulis, “Tidak mungkin bagi seseorang yang mempelajari kehidupan dan karakter nabi besar asal Arab ini merasakan yang lain kecuali kekaguman dan penghormatan kepadanya”.
Biodata Penulis
Nama : Moh. Zulham Alsyahdian, S.Hum, M.Pd
Tempat Tugas : SMP Negeri 1 Keritang
Alamat : Dusun Duku Parit 1 Kotabaru Seberida Kecamatan Keritang
Nomor HP : 085271761170
Email : zulham1180@gmail.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar