KATAKAN TIDAK PADA BULLY
Moh. Zulham Alsyahdian
(Guru SMPN 1 Keritang)
Bullying (selanjutnya disebut Bully) atau Perundungan merupakan perilaku agresif seorang murid atau sekelompok murid yang ditunjukkan dengan sengaja dan berulang untuk mengganggu murid lain yang lemah atau aneh, biasaya dilakukan tanpa provokasi (Panggabean, dkk, 2015). Bully itu dilakukan, baik antar siswa dengan siswa, atau siswa terhadap siswi. Bentuknya pun beraneka ragam. Pertama, bully dengan ucapan (verbal), semisal menghardik/membentak, mencemooh, mengejek nama, dan mengkritik seenaknya. Kedua, bully secara psikologis, yaitu seperti menggunakan bahasa tubuh yang mengancam atau menyinggung perasaan, menggunakan senjata atau mengancam menggunakannya, menyebarkan gosif mengenai korban, atau mengirimi korban pesan tanpa identitas melalui telepon seluler atau surat. Ketiga, bully secara fisik, contohnya mencengkeram, memukul, menampar, menjambak, menendang dan seterusnya.
Apa yang terjadi adalah fakta yang kerap sekali terjadi di lingkungan sekolah. Walaupun siapa, kapan, dan apa bentuk perbuatannya jarang sekali terungkap ke permukaan, karena para peserta didik dengan “gigih” berupaya menutupi peristiwa tersebut. Ini lah yang disebut hidden curicullum (kurikulum yang tersembunyi). Sebuah peristiwa yang bukan bagian dari program dan kegiatan secara formal di sekolah, akan tetapi realitasnya sering kali terjadi di sekolah. Bahkan pada taraf yang lebih memprihatinkan, aktivitas ini seakan bagian inheren dalam aktivitas para peserta didik di sekolah. Di mana pun sekolah itu berada (di kota atau di desa), dan untuk berbagai jenjang pendidikan (mulai dari SD/MI, SMP/MTs, sampai SMA/SMK/MA).
Fakta ini bisa kita lihat dalam berbagai kasus belakangan, di mana tingkat bully ini sudah sampai pada taraf yang memprihatinkan. Bahkan sudah mengarah pada aksi kriminalitas. Korbannya pun tidak hanya sesama peserta didik, tapi juga guru, yang notebene orang yang mengajarkan ilmu kepada mereka, orang yang seharusnya mereka hormati dan mulyakan.
Bully di sekolah menjadi fenomena yang berkembang luas. Fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia, namun juga dapat ditemui di berbagai negara. Hal tersebut mendorong berkembangnya penelitian bully di beberapa penjuru dunia. Meskipun demikian, bully masih kurang banyak mendapatkan perhatian. Hal tersebut dikarenakan tiga hal. Pertama, efeknya tidak dirasakan secara langsung, selain itu korbannya juga pada umumnya tidak melapor. Kedua, bully dianggap seperti interaksi khas biasa pada pergaulan anak-anak remaja sekarang yang diwarnai oleh ejekan dan olok-olok verbal. Pendidik biasanya tidak mengambil langkah lebih serius, kecuali dengan menegur pelakunya. Padahal luka psikologis dan emosional yang dialami korban dapat menimbulkan dampak yang berarti. Ketiga, sebagian orang tua dan guru tidak memiliki pengetahuan yang memadai mengenai bully dan dampaknya bagi kehidupan anak. Hal ini menyebabkan sebagian orang tua dan guru tidak menduga bila bully yang terjadi memiliki dampak yang serius di kemudian hari.
Sebab dan Dampak Bully
Kondisi fisik yang kuat, keadaan ekonomi yang berkecukupan, dan siswa yang manja/diperlakukan over special akibat pola asuh orang tua, seringkali membuat siswa merasa dirinya dapat berkuasa, memiliki kendali terhadap teman-temanya, dan ingin dituruti segala perintahnya, peradaan dan kesadaran ini terbentuk dalam diri siswa yang kemudian terjadi penyalahgunaan kekuatan pada teman sebaya. Para siswa yang merasa dapat mengendalikan teman-temannya akan membentuk sebuah kelompok dalam kelompok siswa tersebut tidak hanya untuk mencari teman, namun juga untuk mencari “pembantu” yang bisa disuruh untuk melakukan berbagai hal sesuai kehendaknya.
Korban bully umumnya merupakan siswa yang dianggap lebih lemah dalam pembelaan diri dan kurang mendapatkan dukungan sosial dari teman-temannya. Siswa korban bully memiliki sedikit teman sebaya dan mendapat lebih banyak reactive agression. Empat karakteristik dari siswa yang beresiko menjadi korban penganiayaan ialah siswa yang tidak memilik keterampilan pertahanan diri, terlihat tidak dapat membela dirinya sendiri, memiliki peran yang lemah dalam aturan main kelompok teman sebaya, dan sekolah yang sepertinya menyediaan tempat yang kondusif untuk melakukan aksi kekerasan dan penganiayaan.
Bully memiliki dampak yang serius, setidaknya dapat menyebabkan dua hal, yaitu jangka pendek dan jangka panjang. Dampak jangka pendek ialah takut pergi ke sekolah, perasaan tidak aman, merasa terisolasi, harga diri rendah, mengalami depresi hingga keinginan melakukan bunuh diri. Efek jangka panjang dapat berupa korban mengalami gangguan emosional dan kepribadian.
Upaya Penanggulangan
Kasus-kasus bully menggerakkan sekolah di berbagai negara mulai berbenah dan melakukan pendataan terhadap kejadian bully, serta upaya intervensi untuk mengatasinya. Pihak sekolah dapat mengintervensinya dalam bentuk meningkatkan kedisiplinan dan konsisten terhadap tata tertib yang ada. Pembudayaann sikap anti bully pada seluruh warga sekolah.
Pentingnya peran sekolah dalam mengatasi bully terlihat misalnya dari program Comitte for Children sejak tahun 2002. Dalam program intervensi The Steps to Respect Program, bully dikategorikan dalam beberapa tingkatan. Pelaksanaan program dimulai dengan membenahi iklim sekolah sebagai langkah utama. Dalam program tersebut, terkandung kebijakan untuk mengatasi bully dengan cara menumbuhkan kesadaran guru dan siswa terhadap bully, meningkatkan tanggung jawab terhadap faktor-faktor bully dan dukungan untuk mengembangkan tingkah laku pro sosial. Wali Kelas dan Guru Bimbingan Konseling harus mengambil peranan yang tinggi. Memberikan penanganan kepada siswa yang melakukan bully juga bagi mereka yang menjadi korban secara sistematika dan prosedur yang tepat.
Selain itu, sekolah harus bisa menciptakan iklim sekolah yang sehat. Kebijakan ini akan menjadi langkah preventif dalam pencegahan terbentuknya korban bully di sekolah. Dengan iklim sekolah yang baik, setiap warga sekolah memiliki rasa tanggung jawab satu sama lain, serta keterikatan secara emosional.
Selain lingkungan sekolah, keluarga juga memiliki peran utama. Permasalahan bully oleh siswa adalah juga akibat dari pola asuh dalam keluarga, yaitu berupa pengabaian pengasuhan dan pendidikan yang sepantasnya, penggunaan waktu luang yang tidak tepat, lingkungan keluarga yang tidak mendukung pendidikan moral dan emosional bagi anak-anak. Idealnya sebuah rumah tangga menjadi tempat yang pertama-tama yang mengajarkan tentang kasih sayang, rasa hormat dan toleransi. Pada gilirannya, anak-anak tumbuh dalam suasana yang penuh rasa kasih sayang, saling menghormati, dan sikap toleransi.
Pada akhirnya, katakan tidak pada bully !. Saatnya kasus-kasus bully di sekolah diakhiri. Saatnya sekolah menjadi tempat yang memberikan rasa aman dan nyaman bagi seluruh peserta didik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar