Rabu, 02 Desember 2020

HIKMAH PUASA

 

HIKMAH PUASA

 

Oleh : Moh. Zulham Alsyahdian

(Guru PAI SMP Negeri 1 Keritang)

 


 

Para ulama telah bersepakat mengenai kewajiban puasa Ramadhan, sebagai salah satu dari ajaran pokok dalam agama Islam (Rukun Islam). Karena itulah puasa memiliki banyak keutamaan, keistimewaan, dan faedah yang sangat besar bagi orang yang menunaikannya. Ada banyak hadits Nabi SAW yang berbicara tentang keutamaan puasa, di antaranya : “Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, bahwa Nabi SAW bersabada : “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan disertai keimanan dan harapan kepada Allah, niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang terdahulu. Dan barang siapa yang menghidupkan malam Lailatul Qadar (dengan ibadah) disertai keimanan dan harapan kepada Allah, niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, bahwa Nabi SAW memberikan kabar gembira kepada para sahabatnya dengan datangnya bulan Ramadhan seraya bersabda, “Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi, diwajibkan atas kalian berpuasa di dalamnya, pada bulan itu dibukakan pintu-pintu surga, pintu-pintu neraka dikunci, setan-setan dibelenggu, dan di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan”.

Diriwayatkan dari Sahl bin Sa’d bahwa Nabi SAW. bersabda, “Sesungguhnya di surga ada sebuah pintu yang bernama al –Rayyan. Pada hari kiamat orang-orang yang berpuasa akan masuk melalui pintu itu, tidak seorangpun memasuki pintu itu selain mereka. Satu suara berseru, “dimanakah orang-orang yang berpuasa ?” maka mereka berdiri. Tidak seorangpun di luar mereka yang masuk melalui pintu itu. Ketika semua orang yang berpuasa sudah masuk, pintu itu pun ditutup sehingga tidak seorangpun selain mereka yang masuk melaluinya” (Elzaky, 2010 : 238).

Selain keutamaan yang disampaikan dalam hadits-hadits Nabi SAW di atas, puasa juga mengandung banyak hikmah. Di antaranya sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam al Ghazali (Hujjatul Islam), di dalam kitabnya, Ihya’ Ulum al Din. Ia berkata : “Tujuan puasa adalah agar berakhlak dengan akhlak Allah SWT, dan meneladani perilaku malaikat dalam hal menahan diri dari hawa nafsu, sesungguhnya mereka (malaikat) bersih dari hawa nafsu. Manusia adalah makhluk yang memiliki kedudukan (derajat) di atas binatang karena dengan cahaya akal pikirannya ia mampu mengalahkan hawa nafsunya, dan di bawah derajat malaikat karena manusia diliputi hawa nafsu. Dia diuji dengan melakukan mujahadah terhadap hawa nafsunya. Jika ia terbuai oleh hawa nafsunya, ia jatuh ke dalam derajat yang paling rendah, masuk dalam perilaku binatang. Dan jika ia dapat menundukkan (mengekang) hawa nafsunya, ia naik ke derajat yang paling tinggi dan masuk dalam tingkatan malaikat.

Ibnu al  Qayyim menambahkan hikmah puasa ini dengan menjelaskan secara terperinci : “Tujuan puasa adalah mengekang diri dari hawa nafsu dan menundukkannya, mendapatkan kesenangan dan kenikmatan hakiki serta kehidupan yang suci dan abadi, turut merasakan lapar dan dahaga yang teramat sangat agar peka terhadap rasa lapar kaum fakir miskin, mempersempit jalan setan dengan mempersempit jalur makan dan minum, mengontrol kekuatan tubuh yang begitu liar karena pengaruh tabiat sehingga membahayakan kehidupan dunia dan akhirat, menenangkan masing-masing organ dan setiap kekuatan dari  keliarannya, dan menali kendalinya. Sebab puasa merupakan tali kendali dan perisai bagi orang-orang yang bertakwa serta latihan (penggemblengan) diri bagi orang-orang yang ingin mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Selanjutnya, Ibnu Qayyim menambahkan penjelasannya tentang rahasia dan tujuan puasa dengan gaya yang khas : “Puasa memiliki pengaruh dan potensi kekuatan yang luar biasa dalam memelihara anggota badan dari memakan barang yang merusak kesehatan. Puasa memelihara kesehatan jiwa dan raga, dan mengembalikan kepadanya apa yang telah dirampas oleh kekuatan hawa nafsunya. Puasa adalah media yang paling baik untuk membantu mencapai takwa”. (Azzam dan Hawwas, 2009, 440 - 441)

Adapun menurut Wahbah Az Zuhayly (1996 : 86-88), ibadah puasa memiliki faedah yang sangat banyak, diantaranya :

1.      Puasa merupakan satu bentuk ketaatan kepada Allah SWT. Seorang Mukmin, dengan puasanya, akan diberi pahala yang luas dan tidak terbatas. Sebab, puasa itu hanya diperuntukkan bagi Allah SWT yang kedermawan-Nya sangat luas. Dengan puasa, dia akan memperoleh ridha Allah SWT, dan berhak memasuki surga dari pintu khusus yang hanya disediakan untuk orang-orang yang berpuasa, namanya Ar-Rayyan.

2.      Puasa merupakan madrasah moralitas yang besar dan dapat dijadikan sarana latihan untuk menempa berbagai macam sifat terpuji.

3.      Puasa mendidik seseorang untuk bersikap jujur dan merasa diawasi oleh Allah SWT, baik dalam kesendirian maupun dalam keramaian, karena pada saat itu, tidak seorang pun yang mengawasi orang yang berpuasa selain Allah SWT.

4.      Puasa dapat menguatkan kemauan, mempertajam kehendak, mendidik kesabaran, membantu kejernihan akal, menyelamatkan pikiran, dan  mengilhami ide-ide yang cemerlang.

5.      Puasa dapat menumbuhkan naluri kasih sayang, ukhuwah, dan perasaan keterikatan dalam tolong menolong yang dapat menjalin rasa persaudaraan sesama umat Islam.

6.      Puasa, secara praktis memperbaharui kehidupan manusia, yaitu dengan membuang makanan yang telah lama mengendap dan menggantinya dengan yang baru, mengistirahatkan peurt dan alat pencernaan, memelihara tubuh, membersihkan sisa-sisa makanan yang mengendap dan tidak tercerna, serta menghilangkan bau busuk yang disebabkan oleh makanan dan minuman.

7.      Puasa merupakan perjuangan mengekang hawa nafsu serta membebaskannya dari cengkraman dan dosa dunia.

Muhammad Ali as-Sabuni dalam kitabnya Rawai al Bayan Tafsir Ayat al Ahkam Min al Qur’an mengatakan, bahwa sekurang-kurangnnya ada 4 hikmah yang terkandung dalam puasa. Pertama, merupakan sarana pendidikan bagi manusia agar tetap bertakwa kepada Allah SWT, membiasakan diri untuk patuh terhadap perintah-perintah-Nya, dan menghambakan diri kepada-Nya. Kedua, merupakan pendidikan bagi jiwa dan membiasakannya untuk tetap sabar dan tahan terhadap segala penderitaan dalam menempuh dan melaksanakan perintah Allah SWT. Ketiga, merupakan sarana untuk menumbuhkan rasa kasih sayang dan rasa persaudaraan terhadap orang lain, sehingga terdorong untuk membantu dan menyantuni orang-orang yang melarat dan tidak berkecukupan. Keempat, dapat menanamkan dalam diri manusia rasa takwa kepada Allah SWT dengan senantiasa melaksanakan perintah-perintah-Nya, baik dalam keadaan terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi, dan meninggalkan segala yang dilarang-Nya. (Sobari, 2005 : 103-104)

 

 

 

Referensi :

Al Zuhayly, Wahbah. (1996). Al Fiqh al-Islam wa-Adillatuh. Dialihbahasakan oleh Agus Efendi dan Bahruddin Fannany. Puasa dan Itikaf : Kajian Berbagai Mazhab. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.

Azzamm, Abdul Aziz Muhammad dan Hawwas, Abdul Wahab Sayyed. (2009). Al Washitu Fi al Fiqh al Ibadah. Dialihbahasakan oleh Kamran As’at Irsyady, Ahsan Taqwim, al Hakam Faishol. Fiqh Ibadah. Jakarta : Amzah.

Sobari, Abdul Manan bin Hajji Muhammad. (2005). Kesempurnaan Ibadah Ramadhan. Jakarta :  Republika.

Elzaky, Jamal Muhammad. (2010). Fushul Fi Thibb al Rasul. Kairo : Syuruq. Dialihbahasakan oleh Dedi Slamet Riyadi. (2011). Buku Induk Mukjizat Kesehatan Ibadah. Jakarta : Zaman.

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PANDEMI DAN POTRET DUNIA PENDIDIKAN

  PANDEMI DAN POTRET DUNIA PENDIDIKAN Oleh : Moh Zulham Alsyahdian, S.Hum, M.Pd   Pandemi Coronavirus Diseaese 2019 (selanjutnya Co...