الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ ِ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ. وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. َأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ. وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ. أما بعد.
فيا عباد الله اتقواالله حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ
Hadirin jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah.
Perintah takwa
Hadirin jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah.
Pada suatu hari Ibrahim bin Adham, seorang bekas raja yang kemudian menjadi seorang ulama, didatangi seorang laki-laki yang kerjanya sering melakukan perbuatan dosa dan maksiat. Dengan jujur lelaki itu berkata,”Wahai Tuan Guru, saya adalah orang yang banyak berbuat dosa dan maksiyat, saya selalu meninggalkan perintah-perintah Allah, dan mengerjakan apa-apa yang dilarang Allah, oleh karena itu Tuan Guru, tolong ajari saya, agar Allah menerangi jalan hidup saya, dan saya bisa menjadi muslim yang baik.” Ibrahim bin Adham menjawab, “Kalau kau dapat memegang teguh enam perkara berikut, niscaya engkau akan selamat.”
“Apa enam perkara itu, wahai Tuan Guru ?” tanya laki-laki itu penasaran. Beliau menjawab, “Pertama, jika engkau hendak berbuat maksiat kepada Allah, janganlah engkau makan dari rezeki-Nya ! Si laki-laki itu terheran-heran mendengar nasihat sang Imam. Dia lantas berkata, “Bagaimana bisa Guru mengatakan demikian, sedangkan rezeki, baik di darat maupun di laut, di kebun dan di gunung, di barat dan di timur semuanya berasal dari Allah. Lalu dari mana aku makan ? Sang Imam menjawab, “Pantaskan engkau memakan rizki Allah, sementara engkau durhaka kepada-Nya dan melanggar ajaran-ajaran-Nya ?
Laki-laki itu berkata, “Tentu saja saya tidak akan berbuat maksiat. lalu apa yang kedua ? Imam menjawab, “Jika engkau hendak berbuat maksiat kepada Allah, janganlah tinggal di bumi –Nya ? Lagi-lagi laki-laki itu dibuat keheranan seraya berkata, “Demi Allah yang kedua ini lebih berat, bukankah bumi ini, bahkan seluruh alam semesta ini adalah ciptaan dan miliknya ! Kalau begitu di mana aku harus tinggal ?
Ibrahim melanjutkan, “Patutkah engkau makan rizki Allah dan tinggal di bumi-Nya, padahal engkau selalu durhaka kepada –Nya ? Laki-laki itu menjawab, “Sungguh saya tidak akan berbuat maksiat. Lantas apa yang ketiga ? Ibrahim menasehati, “Jika engkau berbuat maksiat, carilah tempat di mana Allah tidak bisa melihatmu dan berbuatlah maksiat di sana !
Laki-laki itu kembali menjawab, “Bagaimana bisa Tuan Guru mengatakan demikian, sedangkan Allah Maha Melihat, Maha Mendengar dan Maha Mengetahui apa yang tampak maupun yang tersembunyi ? Bahkan Allah juga Maha Mendengar melatanya semut di atas batu hitam di kegelapan malam yang gelap gulita. Ibrahim menjawab, “Jika engkau menyadari itu, lantas kenapa pula kamu berbuat durhaka kepada Allah ?
Laki-laki itu menjawab, “Tentu, aku tidak akan berbuat maksiat. Lantas apa yang keempat ?” Ibrahim menasehati lagi, “Apabila malaikat maut datang untuk mencabut nyawamu, katakan saja kepadanya, tolong tangguhkan ajalku beberapa tahun lagi !” Laki-laki itu menjawab, bagaimana Tuan Guru berkata demikian, sementara Allah SWT berfirman :
وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلا يَسْتَقْدِمُونَ
“Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya. (QS. Al A’raf : 34)”
Ibrahim menjawab, “Jika engkau memang menyadari itu, lantas bagaimana kelak engkau memohon pertolongan-Nya ? Laki-laki itu menjawab, Anda benar. Lalu apa yang kelima ? Ibrahim menjawab, “Apabila datang Malaikat Munkar dan Nankir mau menanyaimu di alam kubur, maka lawanlah kedua malaikat itu dengan seluruh kekuatanmu, bila kau mampu ? Itu tidak mungkin, bahkan mustahil guru untuk aku lakukan. Kata laki-laki itu. Lalu apa yang keenam ?
Ibrahim melanjutkan, “Ketika Malaikat Zabaniyah (Malaikat Petugas neraka) hendak membawamu ke jurang Neraka Jahannam, janganlah kamu mau menuruti mereka.” Sebelum bahasan yang keenam itu selesai dijelaskan oleh sang Imam, laki-laki itu menangis tersedu-sedu seraya berkata, “Cukuplah Wahai Imam, sungguh aku memohon ampunan kepada Allah, bertobat kepada-Nya, dan akan senantiasa beribadah kepada-Nya.
Hadirin jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah.
Dari cerita di atas hendaklah menjadi renungan bagi kita semua, bahwa betapa banyak anugerah dan kenikmatan yang Allah berikan kepada kita, mulai dari nikmat kehidupan, kesehatan, rizki, tempat tinggal, dan sebagainya. Sungguh-sungguh Terlalu, ketika kita dengan segala nikmat dan anugerah yang telah Allah berikan, kita menjadi manusia-manusia yang durhaka dengan melakukan dosa dan maksiyat kepada Allah.
Karena itu pada hakekatnya, diciptakannya seluruh makhluk di dunia ini, tidak lain adalah untuk beribadah kepada-Nya.
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ
“Tidak aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku” (QS. Al Dzariyat: 56).
Seharusnya di bumi Allah yang kita tempati ini, dan dengan rizki yang telah Allah berikan, kita hidup untuk beribadah kepada Allah SWT. Melaksanakan apa-apa yang telah Allah perintahkan, dan meninggalkan apa-apa yang telah Allah larang. Karena kita tidak tahu sampai kapan kita masih diberi kehidupan. Apalagi yang harus kita sadari, bahwa setelah kehidupan di dunia ini, ada kehidupan lain, yang lebih abadi, tempat di mana kita akan mempertanggungjawabkan segala amal perbuatan kita di hadapan Allah SWT.
Hadirin jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah.
Sebagai penutup, marilah kita renungkan sebuah peringatan Allah SWT dalam al Qur’an :
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالإنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالأنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ
“Dan Sesungguhnya Kami jadikan isi neraka jahannam kebanyakan dari jin dan manusia. Mereka punya hati tetapi tidak dipergunakan untuk memahami ayat-ayat Allah, mereka punya mata tetapi tidak dipergunakan untuk melihat (kekuasaan Allah), dan mereka punya telinga namun tidak dipergunakan untuk mendengar ayat-ayat Allah. Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai (QS. Al A’raf :179)
Semoga kita semua menjadi hamba-hamba Allah yang selalu menjauhi perbuatan dosa dan kemaksiyatan. Āmīn. Āmīn. Yā Rabbal ‘Ālamīn.
بسم الله الرحمن الرحييم
وَالْعَصْرِ. إِنَّ الإنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ. إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar