Rabu, 02 Desember 2020

Khutbah : Umur

 

الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ ِ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ. وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. َأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ. وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ. أما بعد.

فيا عباد الله اتقواالله  حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

 

Hadirin jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah.

Perintah takwa

 

Hadirin jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah.

Perjalanan hidup di dunia ini sangat sebentar. Perjalanan hidup ini memang tidak terasa. Detik demi detik, menit ke menit, jam ke hari, dan bulan ke tahun silih berganti. Tidak terasa baru saja kemarin kita kanak-kanak, kini sudah dewasa. Tidak disadari saat dulu fisik masih kuat, kini sudah tua. Semakin bertambah umur, kian berkurang pula jatah hidup kita di dunia.

Dalam hadits riwayat Imam Ahmad dan At Tirmidzi, Rasulullah SAW mengumpamakan perjalanana hidup ibarat seorang pengendara yang tidur siang sejenak di bawah pohon kemudian berangkat lagi di sore hari dan meninggalkannya. Hal yang sama ditegaskan Allah SWT dalam al Qur’an :

إِنْ لَبِثْتُمْ إِلا يَوْمًا

 “Kamu tidak berdiam (di dunia), melainkan hanya sehari saja” (Q.S. Tha Ha : 104)

Sungguh merugi, bagi siapa saja yang tidak mempergunakan usia hidup sebaik-baiknya. Terlebih lagi Rasulullah SAW memberikan peringatan kepada kita semua, jika umur umat beliau itu paling berkisar antara 60 – 70 tahun. Sangat sedikit di antara umatnya yang umurnya melampaui kisaran itu.

Nabi SAW bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dari sahabat Abu Hurairah RA:

أَعْمَارُ أُمَّتِـي مَا بَيْنَ السِّتِّيْنَ إِلَى السَّبْعِيْنَ وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذَلِكَ

“Umur-umur umatku antara 60 hingga 70, dan sedikit dari mereka yang melebihi itu.”

 

Hadirin jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah.

Umur yang diberikan Allah SWT kepada manusia adalah amanat yang harus dijaga dengan baik. Karenanya, harus diisi dengan amal-amal kebaikan dan amal saleh. Nilai umur manusia tidak ditentukan oleh panjang atau pendeknya, melainkan oleh bagusnya amal yang dibuat dalam masa hidupnya.

Dalam pandangan Rasulullah SAW, umur yang panjang pada hakikatnya adalah yang diisi dengan perbuatan baik dan amal saleh. Panjangnya umur seseorang tidak akan bernilai sama sekali jika tidak diisi dengan amal saleh. Bahkan, boleh jadi hanya menjerumuskannya ke dalam azab Allah SWT. Umur panjang yang diisi dengan perbuatan baik dan amal saleh menjadi bukti kualitas hidup manusia di dunia dan meninggikan derajatnya di sisi Allah SWT.

Ketika ditanya tentang siapa orang yang paling baik, Rasulullah SAW menjawab, ''Yaitu orang yang panjang umurnya dan baik amalnya. Sebagaimana hadits Nabi SAW :

يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ خَيْرُ النَّاسِ قَالَ : مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ

“Wahai Rasulullah, siapakah sebaik-baik manusia?” Beliau menjawab: “Orang yang panjang umurnya dan baik amalannya.”(HR: Tirmidzi) 

Dalam hadits lain, Rasulullah SAW bersabda :

خَيْرُ النَّاسِ مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ، وَشَرُّ النَّاسِ مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَسَاءَ عَمَلُهُ

“Sebaik-baik manusia adalah yang panjang umurnya dan baik amalannya. Dan sejelek-jelek manusia adalah orang yang panjang umurnya dan jelek amalannya.” (HR. Ahmad, At-Tirmidzi dan Al-Hakim dari Abu Bakrah)

 

Hadirin jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah.

Marilah kita mencoba menghitung umur yang diberikan kepada kita. Apabila umur seseorang berkisar 60 tahun, untuk tidur saja ia memerlukan 20 tahun, jika setiap harinya tidur selama 8 jam. Belum lagi dikurangi masa kanak-kanak, remaja dan penyesuaian selama 15 tahun. Adapun untuk makan, buang hajat, istirahat dan hal-hal lainnya menghabiskan 2 – 3 jam perharinya, jika ditotal memakan usia sekitar 5 tahun. Sisanya sekitar sepertiga usia atau 20 tahun saja yang harus dipertaruhkan agar bisa berguna untuk kepentingan dunia dan akhirat.

Sungguh hidup ini terlalu singkat untuk kita habiskan hanya untuk sesuatu yang sia-sia. Apalagi hidup ini kita gunakan untuk berbuat dosa dan kemaksiyatan. Banyak orang yang melewati hari-harinya dengan hura-hura, berfoya-foya, dan perbuatan sia-sia. Bahkan tidak jarang dari mereka yang asyik dan tenggelam dalam perbuatan dosa dan kemaksiyatan. Tidaklah mereka melakukan ketaatan sebagai bekal di hari kemudian dan tidak pula mengisi dengan kegiatan yang baik dan bermanfaat bagi kehidupannya di dunia. Seolah-olah keadaannya mengatakan bahwa hidup hanyalah di dunia ini saja. Tiada yang terbayang di pikirannya kecuali terpenuhi syahwat dan nafsunya. Orang yang seperti ini tidak bedanya dengan binatang, bahkan lebih jelek keadaannya.

 

Hadirin jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah.

Perlu kiranya kita renungkan hadits Nabi SAW:

لاَ تَزُولُ قَدَمُ ابْنِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عِنْدِ رَبِّهِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ خَمْسٍ: عَنْ عُمُرِهِ فِيْمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ شَبَابِهِ فِيْمَا أَبْلَاهُ، وَمَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيْمَا أَنْفَقَهُ، وَمَاذَا عَمِلَ فِيْمَا عَلِمَ

“Tidak akan bergeser kaki manusia di hari kiamat dari sisi Allah sehingga ditanya tentang lima hal: tentang umurnya dalam apa ia gunakan, tentang masa mudanya dalam apa ia habiskan, tentang hartanya darimana ia peroleh dan dalam apa ia belanjakan, dan tentang apa yang ia amalkan dari yang ia ketahui (ilmu).” (HR. At-Tirmidzi)

Jadi, umur yang Allah berikan kepada kita, pada hari kiamat nanti akan dimintai pertanggungjawabannya. Dengan apa kita isi umur yang diberikan Allah SWT. Untuk berbuat baik atau berbuat buruk. Untuk taat atau untuk maksiat. Untuk ibadah atau untuk berbuat dosa.

 

Hadirin jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah.

Maka dari itu, disisa umur kita ini, marilah kita isi waktu-waktu kita dengan perbuatan-perbuatan yang baik, berguna dan bermanfaat. Kita isi hari-hari kita dengan ketaatan dan ibadah kepada Allah SWT sampai dengan ajal menjemput kita. Dan semoga kita semua mengakhiri hidup di dunia ini dalam keadaan husnul khotimah. Āmīn. Āmīn. Yā Rabbal ‘Ālamīn.

بسم الله الرحمن الرحييم

وَالْعَصْرِ. إِنَّ الإنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ. إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

 

 

 

 

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PANDEMI DAN POTRET DUNIA PENDIDIKAN

  PANDEMI DAN POTRET DUNIA PENDIDIKAN Oleh : Moh Zulham Alsyahdian, S.Hum, M.Pd   Pandemi Coronavirus Diseaese 2019 (selanjutnya Co...