الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ ِ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ. وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. َأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ. وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ. أما بعد. فيا عباد الله اتقواالله حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ
Hadirin jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah
Perintah takwa
Hadirin jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah
Dahulu ada seorang pedagang yang bernama Al Balkhi. Pada suatu hari sebelum berangkat ke negeri seberang untuk berdagang, ia berpamitan terlebih dahulu kepada guru agamanya, seorang ulama besar, Ibrahim bin Adham. Biasanya, sebagai pedagang yang gigih, Al Balkhi selalu pulang setelah memperoleh hasil di kota tujuannya. Namun saat itu terlihat berbeda. Ia pulang sebelum sampai ke tujuan.
Sebagai gurunya, Ibrahim bin Adham ingin mengetahui alasan yang membatalkan niat Al Balkhi dalam berdagang. Setelah didesak, ia baru mau menceritakannya. “Suatu hari, di tengah perjalanan aku melihat suatu keanehan. Ketika aku beristirahat di sebuah bangunan yang sudah tua, aku memperhatikan ada seekor burung yang pincang dan buta. Aku pun penasaran. Bagaimana mungkin dalam kondisi demikian burung itu bisa bertahan hidup ? tak lama kemudian ada seekor burung lain datang menghampiri dengan membawa makanan di paruhnya dengan susah payah. Seharian penuh aku memperhatikan burung buta itu. Ternyata burung itu tak pernah kelaparan karena ia selalu mendapatkan jatah makanan dari burung-burung yang sehat”
Peristiwa itu kata Al Balkhi telah memberi pelajaran kepadaku, bahwa Allah sang Pemberi Rezeki, telah memberikan karunia rizki pada burung yang cacat, yang tidak bisa berusaha sendiri. Jika demikian, aku yakin bahwa Allah akan mencukupkan rezekiku. Akhirnya aku putuskan untuk pulang, dan aku tidak mau bekerja lagi.
Hadirin jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah
Mendengar itu sang guru, Ibrahim bin Adham tersenyum. Ia baru tahu apa yang ada di pikiran muridnya. Ia pun memberi nasehat. “Wahai Al Balkhi, mengapa sesempit itu pikiranmu ? Mengapa kau menyamakan derajatmu dengan seekor burung yang pincang lagi buta ? Mengapa kau mengikhlaskan dirimu sendiri untuk hidup pada belas kasihan dan bantuan makhluk lain ? Mengapa kau malah tidak mencontoh burung lain yang sehat, yang bekerja keras untuk mencukupi diri sendiri dan temannya yang sedang membutuhkan makanan, karena memang si burung pincang dan buta itu tidak sanggup bekerja lagi ? apakah kau lupa dengan sabda Rasulullah SAW :
يد العلي خير من يد السفلى
“Tangan di atas lebih baik dari pada tangan di bawah”
Hadirin jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah
Islam mencintai seorang muslim yang giat bekerja, mandiri, apalagi rajin memberi. Sebaliknya, Islam membenci manusia yang pemalas, suka berpangku tangan dan menjadi beban orang lain. Allah SWT berfirman:
فَابْتَغُوا عِنْدَ اللَّهِ الرِّزْقَ
“Maka carilah rizki disisi Allah..” (QS. Al ‘Ankabut: 17)
Bekerja dalam pandangan Islam begitu tinggi derajat-nya. Hingga Allah dalam Al Qur`an menggandengkannya dengan jihad memerangi orang-orang kafir.
وَآخَرُونَ يَضْرِبُونَ فِي الْأَرْضِ يَبْتَغُونَ مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَآخَرُونَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ
“dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi berperang di jalan Allah.” (QS. Al Muzzammil : 20)
Rasulullah SAW bahkan menyebut kegiatan bekerja sebagai jihad di jalan Allah. Diriwayatkan, beberapa orang sahabat melihat seorang pemuda kuat yang rajin bekerja. Mereka pun berkata mengomentari pemuda tersebut, “Andai saja ini (rajin dan giat) dilakukan untuk jihad di jalan Allah.” Nabi SAW segera menyela mereka dengan sabdanya, “Janganlan kamu berkata seperti itu. Jika ia bekerja untuk menafkahi anak-anaknya yang masih kecil, maka ia berada di jalan Allah. Jika ia bekerja untuk menafkahi kedua orang-tuanya yang sudah tua, maka ia di jalan Allah. Dan jika ia bekerja untuk memenuhi kebutuhan dirinya, maka ia pun di jalan Allah. Namun jika ia bekerja dalam rangka riya atau berbangga diri, maka ia di jalan setan.” (HR Thabrani)
Hadirin jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah
Bahkan para Nabi Allah adalah orang-orang yang bekerja untuk diri dan keluarga mereka, di samping sebagai Nabi utusan Allah. Nabi Adam bertani, Nabi Ibrahim menjual pakaian, Nabi Nuh dan Nabi Zakaria tukang kayu, Nabi Idris Penjahit dan Nabi Musa penggembala. Allah mengisahkan dalam Al Qur`an bahwa Nabi Dawud membuat baju besi.
Bahkan Nabi kita Muhammad SAW juga mengabarkan, bahwa beliau pernah bekerja sebagai penggembala kambing. “Tidaklah Allah mengutus seorang nabi melainkan pernah menjadi penggembala kambing.” Para sahabat berkata, “Begitu juga engkau?” beliau bersabda, “Ya, aku pernah menggembala kambing penduduk Makkah dengan upah sejumlah uang.” (HR Bukhari)
Selain itu baginda Rasulullah SAW juga berdagang. Beliau pernah melakukan perjalanan bisnis ke negeri Syam untuk menjual barang-barang dagangan milik Khadijah ra. Oleh karena itu semua, Islam sangat mendorong umatnya untuk bekerja dan berusaha mencari penghidupan. Allah berfirman,
هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ ذَلُولًا فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِنْ رِزْقِهِ وَإِلَيْهِ النُّشُورُ
“Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, Maka berjalanlah di
segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezki-Nya. dan hanya
kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.” (QS. Al Mukl: 15)
Hadirin
jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah
Insya Allah, dengan rizki yang halal walaupun sedikit, hal itu akan menjadi berkah dan bermanfaat bagi kita dan keluarga. Baik untuk kehidupan di dunia kita, terlebih untuk kehidupan akherat kita.
Semoga kita semua diberikan kesehatan dan kekuatan oleh Allah SWT, untuk dapat bekerja dan berusaha dalam rangka mencari rizki yang halal dan baik bagi kita dan keluarga kita. Āmīn. Āmīn. Yā Rabbal ‘Ālamīn.
بسم الله الرحمن الرحييم
وَالْعَصْرِ. إِنَّ الإنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ. إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar