الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ ِ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ. وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. َأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ. وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ. أما بعد.
فيا عباد الله اتقواالله حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ
Hadirin jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah.
Perintah takwa
Hadirin Jamaah Jum’at yang Dimuliakan Allah.
Pada suatu hari Nabi Musa AS didatangi seorang yang sangat miskin. Pakaiannya compang camping dan sangat lusuh. Si Miskin itu berkata kepada Nabi Musa AS, ya Nabiyullah, tolong doakan kepada Allah SWT permohonanku ini. Jadikanlah aku menjadi orang yang kaya”. Mendengar ucapan orang tersebut, Nabi Musa AS tersenyum dan berkata, “Saudaraku, banyak-banyaklah kamu bersyukur kepada Allah SWT.
Orang miskin itu terkejut dan kesal mendengar jawaban Nabi Musa AS yang mengecewakannya. Ia kemudian berkata, “Bagaimana aku mau banyak bersyukur, aku saja sudah jarang makan dan pakaian yang aku gunakan pun hanya satu lembar ini saja!”
Akhirnya si miskin itu pulang tanpa mendapatkan apa yang diinginkannya. Beberapa waktu kemudian, datanglah orang yang kaya ke hadapan Nabi Musa AS. Badan orang tersebut bersih dan pakaiannya rapi. Ia kemudian berkata kepada Nabi Musa AS, “Wahai nabiyullah, tolong doakan kepada Allah SWT permohonanku ini. Jadikanlah aku ini orang yang miskin saja. Terkadang aku merasa terganggu dengan hartaku itu”.
Nabi Musa AS pun tersenyum mendengar permohonan orang tersebut. Kemudian Nabi Musa AS menjawab, “Wahai saudaraku, janganlah kamu bersyukur kepada Allah SWT. “Ya Nabiyullah, bagaimana aku bisa untuk tidak bersyukur kepada Allah SWT ! Allah SWT telah memberiku mata, yang dengannya aku dapat melihat. Ia juga telah memberiku telinga, yang dengannya aku dapat mendengar. Allah SWT telah memberiku tangan, yang dengannya aku dapat bekerja, dan telah memberiku kaki yang dengannya aku dapat berjalan. Bagaimana mungkin aku tidak mensyukurinya ?” Jawab si kaya tersebut.
Akhirnya, si kaya itu pun pulang ke rumahnya. Anehnya, yang terjadi adalah orang yang kaya itu oleh Allah SWT, semakin ditambah kekayaannya karena ia selalu bersyukur. Sementara itu, orang yang miskin tadi menjadi semakin miskin. Allah SWT telah mengambil semua ke-nikmatan-Nya, sehingga si miskin itu tidak memiliki selembar pakaian pun yang melekat di tubuhnya. Ini semua karena ia tidak mau bersyukur kepada Allah SWT.
Hadirin Jamaah Jum’at yang Dimuliakan Allah.
Manusia merupakan mahluk Allah yang paling sempurna, dan paling banyak menerima karunia-Nya, dibandingkan dengan makhluk Allah yang lainnya. Namun, seringkali manusia lupa mensyukuri semua karunia itu. Padahal, karunia Ilahi yang datang silih berganti tanpa pernah kita syukuri, hanya akan menambah kemurkaan Allah semata.
Banyak nikmat Allah telah kita sia-siakan. Dari yang terkecil hingga terbesar. Bayangkan, seandainya udara yang kita hirup dihargai dengan uang. Berapa banyak uang yang kita keluarkan hanya untuk membeli udara. Belum lagi air yang setiap hari kita pakai. Alangkah Maha Pemurahnya Allah.
Berjalan dengan kedua kaki, melihat dengan kedua mata, dan bernafas dengan hidung, merupakan nikmat yang tidak bisa tidak kita syukuri. Allah menciptakan manusia dan menyempurnakan penglihatan, pendengaran, dan mata hati, untuk dapat menjaga rasa syukur kita atas semua pemberian-Nya.
ثُمَّ سَوَّاهُ وَنَفَخَ فِيهِ مِنْ رُوحِهِ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالأبْصَارَ وَالأفْئِدَةَ قَلِيلا مَا تَشْكُرُونَ
“Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur. (As-Sajdah[32]: 09)”
Hadirin Jamaah Jum’at yang Dimuliakan Allah.
Jika kita mau jujur, semua nikmat telah kita rasakan sejak kita diciptakan dari setetes air mani, lalu menjadi darah, kemudian menjadi segumpal daging, setelah itu ditiupkan ruh, dan diciptakan dalam sebaik-baik bentuk.
Hal ini langsung diakui oleh Allah dalam Surat At Tiin: 4.
لَقَدْ خَلَقْنَا الإنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ
"Sungguh kami telah menciptakan manusia dalam sebaik-baik bentuk." (At Tiin: 4)
Pernahkah kita merasakan betapa nikmatnya sehat itu. Saat tubuh kita terbaring lemas di rumah sakit, saat makanan-makanan lezat dihidangkan, handai taulan yang datang membesuk, apa yang kita rasakan ? Tubuh tak kuasa bergerak, lidah tidak dapat merasakan lezatnya hidangan yang tersedia, dan teguran dari keluarga-keluarga pun berlalu sedemikian dinginnya.
Merasa rendahkah kita, ketika hanya mampu makan sehari sekali, sedangkan banyak saudara kita yang tidak mampu makan, walau sehari sekali Bagaimana kalau hal itu terjadi pada diri kita dan keluarga ? Apa yang bisa kita lakukan.
Hinakah kita ketika harta kekayaan yang kita terima tidak sama bahkan lebih sedikit dibandingkan dengan tetanggga atau saudara kita yang lain. Penghasilan tidak sebanyak kawan kita. Jabatan tidak naik secepat teman-teman seangkatan dengan kita dan bahkan di bawah kita ?
Mengapa kita selalu menjadi orang yang tidak bersyukur, padahal di saat yang sama, banyak orang yang kehilangan pekerjaan, kesulitan bertahan hidup, dan bekerja dalam penuh ketidakpastian masa depan dan jaminan penghasilan yang memadai. Kita masih bisa bertahan seperti apa yang kita alami kini.
Hadirin Jamaah Jum’at yang Dimuliakan Allah.
Islam menganjurkan untuk selalu melihat siapa yang ada di bawah. Jangan dibiasakan mengukur tingkat kekayaan dan kemakmuran hidup kita dengan orang yang ada di atas kita. Inilah yang dapat mendekatkan diri pada sikap dan perilaku kufur.
Hidup kian bermakna saat kita pandai mensyukuri semua yang diberikan Allah pada kita, manusia. Nikmat dunia adalah ujian. Segala hal yang Allah berikan di dunia ini merupakan sarana untuk menguji siapa yang paling baik perbuatannya di antara kita. Namun bentuk rasa syukur yang terbesar dan terbaik, adalah dengan beribadah kepada-Nya semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.
Imam Bukhari dan Muslim dari Ummahatul Mu’minin Aisyah RA meriwayatkan : "Rasulullah pada suatu malam bangun melaksanakan shalat sampai pecah-pecah kaki beliau, kemudian Aisyah mengatakan: "Wahai Rasulullah, mengapa engkau melakukan yang demikian itu padahal dosa-dosamu yang telah lewat dan yang akan datang telah diampuni Allah?" Rasulullah menjawab:
افلا احب ان اكون عبدا شكورا
"Tidakkah aku suka ketika dikatakan sebagai hamba yang bersyukur?"
Kalau Rasululullah Muhammad SAW, sebagai orang yang sudah diampuni dosanya dan dijaminkan masuk surga, masih bersusah payah untuk beribadah kepada Allah SWT. Seharusnyalah kita, sebagai umatnya, senantiasa beribadah kepada Allah, sebagai wujud rasa Syukur kita kepada Allah.
Hadirin Jamaah Jum’at yang Dimuliakan Allah.
Semoga kita semua, dijadikan Allah sebagai hamba–hamba yang selalu bersyukur dan selalu beribadah kepada Allah SWT. Āmīn. Āmīn. Yā Rabbal ‘Ālamīn.
بسم الله الرحمن الرحييم
وَالْعَصْرِ. إِنَّ الإنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ. إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar