Kamis, 03 Desember 2020

BANDUNG LAUTAN API

 

BAB 1

PENDAHULUAN

 

A.    Latar Belakang Makalah

Ternyata pada buku Sejarah Nasional Indonesia (SNI) Jilid VI, yang menjelaskan tentang zaman Jepang dan zaman Republik Indonesia (1942 -  1984), oleh Marwati Djoned Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto peristiwa Bandung Lautan Api (selanjutnya disingkat BLA), porsi pembahasannya kurang banyak dibandingkan peristiwa-peristiwa perjuangan Revolusi Kemerdekaan atau perjuangan mempertahankan kemerdekaan lainnya. Berbeda halnya dengan peristiwa Pertempuran 10 Nopember 1945 di Surabaya, Pertempuran Ambarawa, pertempuran 5 hari di Palembang, Medan Area dan seterusnya.

Hal yang sama juga terjadi dalam buku Indonesia Di Dalam Arus Sejarah (Abdullah. Ed. 2012), yang merupakan revisi dari buku Sejarah Nasional Indonesia. Di mana peristiwa BLA, lagi-lagi pembahasannya sedikit sekali dalam peristiwa perjuangan setelah proklamasi atau mempertahankan kemerdekaan. Pun di dalam buku Sejarah Indonesia Modern (1200 -2008) oleh M.C.Ricklefs, sebagai salah satu buku sejarah yang menjadi rujukan dalam penulisan sejarah Indonesia, peristiwa BLA dimasukkan secara sekilas saja dalam pembahasan di buku tersebut.

Sungguh sebuah fakta yang Ironis dan tragis. Sementara sebuah lagu khusus dipersembahkan untuk mengenang peristiwa BLA, yaitu lagu Halo-Halo Bandung. Bahkan Ismail Marzuki, juga mempersembahkan sebuah untuk mengenang peristiwa pembumihangusan kota Bandung ketika itu, melalui lagunya Bandung Selatan Di Waktu Malam.

Selain itu, peristiwa BLA ini merupakan sebuah peristiwa yang khas dan unik dalam sejarah perjuangan kemerdekaan di Indonesia. Kalau peristiwa di daerah lainnya, merupakan pertempuran yang berhadapan secara langsung (kontak senjata) antara para pejuang dengan penjajah (Belanda, Inggris, Jepang, dan seterusnya), maka dalam peristiwa BLA, justru lebih pada perjuangan diplomasi dan strategi. Mungkin benarlah, sebuah istilah dalam militer, biar pun kalah dalam pertempuran, tapi menang dalam peperangan secara keseluruhan. Itulah gambaran peristiwa BLA dalam konteks sejarah perjuangan dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia yang baru lahir. Sebagaimana Wiriaatmadja (2015, hlm. 8), peristiwa BLA merupakan peristiwa sejarah yang kaya dengan penampilan yang heroic dan pergumulan batin para pelakunya, yang banyak mengandung sumber nilai dan moral. 

 

B.     Rumusan Makalah

Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka masalah utama dalam penelitian ini adalah Bagaimana Peristiwa Bandung Lautan Api. Secara operasional masalah utama tersebut dapat dirumuskan dalam bentuk pertanyaan penelitian sebagai berikut :

1.      Bagaimana latar belakang terjadinya Peristiwa Bandung Lautan Api ?

2.      Bagaimana tahapan terjadinya Peristiwa Bandung Lautan Api ?

3.      Bagaimana peran pemuda dalam Peristiwa Bandung Lautan Api ?

4.      Nilai-nilai apa yang terkandung dalam Peristiwa Bandung Lautan Api ?

 

C.    Tujuan Makalah

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini dapat dinyatakan sebagai berikut :

1.      Menjelaskan bagaimana latar belakang terjadinya Peristiwa Bandung Lautan Api.

2.      Menjelaskan bagaimana tahapan terjadinya Peristiwa Bandung Lautan Api ?

3.      Bagaimana peran pemuda dalam Peristiwa Bandung Lautan Api ?

4.      Nilai-nilai apa yang terkandung dalam Peristiwa Bandung Lautan Api ?

 

D.    Struktur Organisasi Makalah

Isi makalah disajikan dalam tiga bab berikut, sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan satu dengan yang lainnya. Pada bab pertama dipaparkan tentang latar belakang, rumusan masalah, tujuan makalah dan struktur organisasi makalah. Dalam bab kedua pembahasan di fokuskan pada Bagaimana latar belakang terjadinya peristiwa Bandung Lautan Api, bagaimana prosees terjadinya peristiwa Bandung Lautan Api, bagaimana peran pemuda dalam peristiwa Bandung Lautan Api, serta nilai apa yang dikandung dalam peristiwa Bandung Lautan Api. Pada bab ketiga atau terakhir, kesimpulan dan saran.


 

BAB II

PEMBAHASAN

 

A.    Latar Belakang Peristiwa Bandung Lautan Api.

Kota Bandung merupakan sebuah kota yang terletak di sebelah tenggara kota Jakarta yang berjarak kurang lebih 130 km. Bandung merupakan ibukota dari Provinsi Jawa Barat dan menjadi pusat pemerintahan daerah. Secara geografis, kota ini terletak di daratan yang berbentuk mangkok nasi sekitar 2400 kaki dipermukaan laut dengan letak geografisnya 6°54′53,08″LU 107°36′35,32″BT. Bentuk wilayahnya oval dengan panjang 25 mil dan lebar 10 mil, dikelilingi barisan pegunungan permai yang tingginya mencapai 7500 kaki. Lokasi aslinya terletak di Sungai Citarum, ditempat yang kini dikenal sebagai wilayah Dayeuh Kolot (Kota Tua) namun pada tahun 1810 dipindahkan ke lokasi saat ini yang letaknya agak lebih tinggi dan berawa (Smail, 2011, hlm. 1).

Sejak dahulu tepatnya sekitar awal abad ke 20-an, Bandung sudah menjadi sebuah kota administratif, pusat pemerintahan, pusat pendidikan dan pusat perekonomian. Pemerintahan yang dilakukan oleh Gubernur Jendral Belanda untuk wilayah Jawa Barat dipusatkan di Kota Bandung yang letaknya di tengah-tengah wilayah Jawa Barat. Sebagai pusat pendidikan, kota ini terdapat beberapa sekolah-sekolah yang berdiri seperti salah satunya Sekolah THS (sekolah Teknik/engineering) yang sekarang menjadi Institut Teknologi Bandung mencetak tokoh-tokoh penting pergerakan salah satunya Presiden Republik Indonesia pertama yaitu Ir. Soekarno sebagai mahasiswa lulusan THS tersebut. Selain menjadi pusat pemerintahan dan pusat pendidikan di Jawa Barat, Kota Bandung pun menjadi pusat perekonomian di bidang Jasa dan Perkebunan, namun di bidang industri Bandung kurang berkembang bila dibandingkan dengan daerah lain di Indonesia.

Kekalahan Jepang dalam Perang Dunia ke-2 makin mematangkan suasana untuk pecahnya sebuah revolusi di Indonesia. Jepang tentu telah menyadari akan situasi ini, apalagi dengan adanya perintah dari sekutu selaku pemenang perang terhadap Jepang untuk menjaga stabilitas keamanan di wilayah pendudukannya hingga tentara Sekutu Datang. Jepang berusaha keras agar berita berita tentang kekalahannya tidak sampai kepada rakyat Indonesia, khususnya para pemuda militan. Namun, usaha Jepang itu sia-sia karena hal itu sampai juga kepada para pemuda Indonesia sehingga memicu dilancarkannya gerakan Revolusi Kemerdekaan.

Jawa Barat yang sejak semula secara geografis merupakan daerah di mana berdiri Batavia (pusat kekuasaan Belanda di Indonesia) tetapi mempunyai arti penting bagi Belanda, karena itu tidak pernah terlepas dari perhatiannya. Di satu pihak Belanda berusaha untuk mengembalikan Jawa Barat bersama Batavianya kepada keadaan seperti pada masa sebelum Perang Dunia II. Di lain pihak penduduk berpendirian dan menganggap bahwa Jawa Barat pada masa sesudah Proklamasi Kemerdekaan merupakan bagi dari Republik Indonesia yang berhak mengatur rumah tangganya sendiri. Awal mulanya, pada 12 Oktober 1945, datang di Bandung, rombongan tentara Sekutu terdiri atas tentara Inggris bersama dengan pasukan Gurkhanya. (Tim Penulis, 1994, hlm. 220 -221)

Pada masa awal kemerdekaan Indonesia, Gedung DENIS juga menjadi saksi sejarah tentang sepak terjang para pejuang. Boleh dibilang, gedung tersebut telah menjadi tempat favorit bagi warga bandung dalam upaya mempertahankan harga diri bangsa. Sejumlah peristiwa heroik antara lain pengibaran bendera merah putih telah terjadi di gedung ini dalam waktu yang berbeda. Bahkan berdasarkna sumber-sumber tertulis, sangat dimungkinkan pengibaran merah putih di menara Gedung DENIS terjadi sekurang-kurangnya tiga kali. Perkiraaan tersebut muncul karena data itu terungkap adanya beberapa peristiwa dengan waktu dan pelaku yang berbeda. Meskipun sama-sama mengibarkan merah putih dalam kedaaan genting, namun cara memperoleh benderanya pun berbeda. Namun sayangnya, catatan detail mengenai peristiwa-peristiwa tersebut sulit untuk diperoleh. Sebagian masyarakat selama ini hanya mengetahuinya lewat cerita dari mulut ke mulut atau tulisan singkat yang dikutip dibagian buku. Apa yang terjadi di Gedung DENIS seolah tenggelam, dilingkupi peristiwa besar yang melibatkan warga bandung. (Sind. E.S, et.al, 2015 hlm. 62-63)

Dengan dinyatakannya proklamasi kemerdekaan, maka berakhirlah masa pemerintahan penduduk militer Jepang di Indonesia. Berita proklamasi tersebut segera saja menyebar dengan cepat dan meluas ke seluruh wilayah Indonesia, termasuk Jawa Barat. Hal itu antara lain disebabkan adanya usaha pegawai Studio Radio Bandung yang telah mendapatkan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Penyiaran proklamasi kemerdekaan itu menggunakan pemancar yang berada di lingkungan PTT (Pos, Telegraf, dan Telekomunikasi) Palasari yang berdaya pancar antara 10 sampai 100 KW.

Begitu pula peran pengurus dan pegawai surat kabar Tjahaya sangat besar dalam menyebarluaskan berita proklamasi. Berita pernyataan terbebas dari penjajahan tersebut diterima redaktur Harian Tjahaya pada tengah hari tanggal 17 Agustus 1945 dari kantor berita Domei di Jakarta melalui telegram. Selain itu percetakan Siliwangi kemudian mencetak selebaran dengan tinta merah. Lalu selebaran tersebut dibagi-bagikan kepada rakyat. Berita itu langsung diterima dari para pemuda yang baru pulang dari Jakarta pada malam harinya.

Sementara itu, larangan menyebarluasan kabar kekalahan Jepang ini mendorong Kepala Bagian Siaran Radio Hoshokyoku (Radio Jepang) di Bandung, Hideki Zenda, untuk membuat pengumuman di kantornya yang berbunyi, “Pengumuman, bahwa dilarang menyiarkan apa-apa yang dikutip dari surat kabar Tjahaya Bandung.” Pengumuman itu menimbulkan rasa penasaran bagi para pemuda pegawai radio yang ingin tahu bagaimana isi lengkap beritanya. (Sitaresmi, dkk. 2013, hlm.59).

B.     Proses Terjadinya Peristiwa Bandung Lautan Api

Masuknya Tentara Pendudukan Sekutu/Inggris, yakni Brigade Mc Donald dari Divisi India Ke-23 di kota Bandung dengan kereta api atas persetujuan Pemerintah Republik Indonesia. Kedatangan mereka itu, bukannya membuat kota Bandung tertib dan damai, bahkan sebaliknya menambah keadaan lebih kacau lagi. Karena terbatasnya jumlah personila dari Tentara Inggris itu, maka untuk kepentingan pelaksanaan tugasnya, pihak Inggris menggunakan tentara Jepang untuk menindas kemerdekaan Bangsa Indonesia.

Selain di kota Bandung, di Jawa Barat pertempuran-pertempuran dengan sekutu NICA meletus di mana-mana. Di Sukabumi terjadi serangkaian pertempuran yang dimulai pada bulan Desember 1945 dan berjalan sampai bulan Maret 1946 yang dikenal sebagai “Peristiwa Bojongkokosan”. Pertempuran-pertempuran lain terjadi di Gunung Masigit (Pertempuran Cimareme), Baleenndah, Dayeuhkolot, Cijoho, Gekbrong, Cileungsir, dan sebagainya. (Sekretariat Negara, 1985, hlm. 89).

Sementara itu, orang-orang Belanda dan Indo-Belanda, bekas tawanan Jepang yang dibebaskan, segera pula mempersenjatai diri dan mulai melakukan kegiatan-kegiatan memusuhi Republik Indonesia. Selain daripada itu tidak sedikit pula orang-orang Belanda yang turut membonceng dengan Tentara Inggris. Mereka itulah yang sering menimbulkan kekacauan. Ditambah lagi banyak pemuda-pemuda Indo Belanda yang oleh Jepang ditawan ketika Perang Dunia II, sangat merindukan situasi sebelum Perang Dunia II, sehingga mereka inilah yang selalu menimbulkan bentrokan-bentrokan karena tidak berdisiplin. Tentara Inggris sendiri pusing menghadapi mereka. Mereka pulalah yang menjadi pelopor tentara Belanda yang kemudian datang ke Indonesia dengan dalih membantu Inggris untuk menyelamatkan tawanan perang.

Ketegangan-ketegangan ini berujung pada peristiwa pemboman oleh pihak Inggris terhadap Cicadas, Lengkong Besar dan Tegallega. Sebuah perisitwa lainnya yang terkenal adalah mengenai insiden bendera di gedung DENIS jalan Braga, di mana pemuda Endang Karmas naik ke atas menara gedung itu untuk kemudian merobek warna biru dari bendera Belanda (Merah-Putih-Biru), sehingga tinggal merah putihnya saja. Kejadian ini mengakibatkan timbulnya pertempuran antara tentara Inggirs/Belanda dengan pihak pemuda-pemuda pejuang.

Ketegangan-ketangan yang timbul dan yang semakin meluas antara pihak kita dengan serdadu-serdadu Jepang dan orang-orang Belanda bekas tawanan, memberi peluang kepada pihak Inggris untuk melaksanakan tugasnya demi “keamanan dan ketertiban”, akan tetapi yang sesungguhnya dimaksudkan untuk mencapai tujuannya, ialah menyerahkan Indonesia kepada kerajaan Belanda. Siasat yang mereka lakukan adalah “diplomasi menunjang operasi-operasi militernya”. Peranan Inggris selaku “wakil kolonial” Belanda, menimbulkan ketegangan-ketegangan dan bentrokan-bentrokan dengan pihak kita. Di samping memburuknya hubungan antara keduabelah pihak itu, suasana kota pun bertambah genting.

Dalam suasana yang sudah genting itu, pada tanggal 23 Nopember 1945, 19 orang serdadu Inggris, yaitu orang-orang India/Pakistan “menyeberang” ke pihak kita lengkap dengan persenjataannya dan 2 buah truk. Mereka itu bersimpati terhadap perjuangan kemerdekaan Indonesia. Mereka itu menyebarang ke pihak Republik Indonesia berkat siaran-siaran penerangan kita melalui radio dengan menggunakan  bahasa Urdu dan Hindi. Dengan terjadinya “penyeberangan” itu, maka pihak Inggris mengeluarkan ultimatum agar orang-orang India/Pakistan itu diserahkan kembali kepada pihak Inggris. Ultimatum itu ditolak oleh pihak Republik Indonesia.

Akhir bulan Nopember 1945 terjadi bencana alam berupa banjir besar Cikapundung yang terjadi pada mingu malam tanggal 25 1945. Banjir besar Cikapundung itu melanda daerah-daerah Lengkong Besar, Sasakgantung, Banceuy dan Balubur. Daerah-daerah itu telah berobah menjadi telaga. Banjir besar ini telah menelan ratusan orang korban yang terbawa hanyut, belum lagi ribuan orang yang kehilangan tempat tinggalnya. Menurut penyelidikan, banjir itu adalah akibat sabotase yang dilakukan oleh agen-agen NICA yang telah menjebol pintu air Cikapundung di Bandung Utara, yaitu Dago.

Sementara itu pada tanggal 26 Nopember 1945, pihak Inggris minta kpeada kita melalui jalan diplomasi untuk mengangkat, membersihkan barikade-barikade yang bertebaran di beberapa jalan di dalam kota Bandung. Pihak Inggris sendiri memang telah mencoba untuk menyingkirkan rintangan-rintangan itu, akan tetapi tidak berhasil karena mendapat perlawanan dari pemuda-pemuda kita, sehingga terjadilah tembak menembak di sekitar rintangan-rintangan itu. (Djajusman, 1986, hlm. 45-52)

Pada tanggal 27 Nopember 1945, Brigadir Jenderal Mc Donald mengundang Gubernur Jawa Barat, Mr. R. Sutarjo Kartohadikusumo ke Markas Tentara Sekutu di daerah utara kota Bandung. Dalam pertemuan itu, Brigadir Jenderal Mc. Donald menyerahkan ultimatum yang ditujukan kepada penduduk Bandung. Isi ultimatum itu pada pokoknya adalah sebagai berikut :

1.      Tentara Sekutu akan menembak semua orang Indonesia yang kedapatan membawa senjata.

2.      Semua orang Indonesia yang berada di sekitar rintangan-rintangan jalan akan ditembak mati.

3.      Semua orang Indonesia yang berada dalam jarak 200 meter dari pos-pos tentara Inggris, Jepang, dan RAPWI siang maupun malam, akan ditembak mati.

4.      Akan membersihkan orang Indonesia yang berbuat jahat.

5.      Sekutu akan menghindarkan korban jiwa yang tidak perlu.

6.      Orang Indonesia agar menyingkir dari bagian kota Bandung  sebelah utara  jalan kerata api yang melintang dari timur ke barat.

7.      Semua orang Indonesia yang masih tinggal di bagian utara jalan kereta api, setelah pukul 12 siang tanggal 29 Nopember 1945 akan ditawan dan jika mereka bersenjata akan segera ditembak mati.

Alasan dikeluarkannya ultimatum tersebut adalah untuk menjaga keamanan jangan sampai orang-orang yang tidak berdosa terbunuh atau teraniaya. Pengosongan bagian utara Bandung dimaksudkan untuk meyakinkan mereka bahwa di daerah utara tidak ada orang-orang Indonesia yang akan bertindak jahat.

Dengan adanya ultimatum ini keadaan di Kota Bandung menjadi semakin gawat. Sebelum habis waktu ultimatum, orang-orang Belanda dan Indo-Belanda melakukan penganiayaan terhadap orang-orang Indonesia serta merampok gedung-gedung yang tinggal ditinggalkan. Bila mereka bertemu dengan orang laki-laki Indonesia, lebih-lebih pemuda, akan dipukul, ditendang, atau ditampar tanpa ditanya terlebih dahulu.  Mereka juga  melakukan penculikan terhadap pemuda-pemuda dengan menggunakan kendaraan yang berbendera Merah Putih. Perbuatan mereka itu ternyata dibiarkan oleh tentara Sekutu, seolah-olah dikehendaki Sekutu.

Pada 27 Nopember 1945, dengan alasan untuk menghindarkan pertentangan antara pihak Sekutu dengan pihak Indonesia, penduduk Indonesia yang menetap di sebelah utara jalan kereta api harus pindah ke daerah sebelah selatannya. Dengan demikian jalan kereta api yang membelah Kota Bandung dari barat ke timur dijadikan batas antara daerah Sekutu termasuk Belanda dengan daerah Indonesia. Namun demikian dengan dibaginya kota Bandung menjadi dua bagian, tidaklah berarti pertempuran dapat diredakan sama sekali. Bagaimanapun bukanlah tujuan Belanda hanya sekedar menguasai daerah Kota Bandung yang terletak di sebalah utara jalan kereta api.

Di samping itu pihak Indonesia pun sangat tidak puas melihat sebagian dari kota yang dicintainya ada di bawah pengawasan asing. Karena itu pertempuran tidak dapat dihindarkan. Apalagi setelah diketahuinya bahwa antara pihak Inggris dengan pihak Belanda telah tercapai persetujuan yang disebut Civil Affairs Agreement yang isinya menyatakan bahwa yang boleh mendarat hanyalah tentara Inggris, tetapi kepada pihak Inggris boleh diperbantuka pegawai-pegawai sipil Belanda sebagai pegawai Netherlands Indies Civil Administration disingkat NICA. Namun demikian dalam kenyataannya yang turut dengan tentara Inggris itu bukan hanya pegawai sipil juga tentara. Hal ini semakin menjengkelkan pihak Indonesia. Penduduk Bandung terutama golongan pemudanya terus melakukan serangan-serangan terhadap tempat-tempat kedudukan Inggris dan Belanda. Demikianlah pertentangan senjata antara kedua pihak dari waktu ke waktu semakin sengit. (Tim Penulis, 1994, hlm. 220 -222)

Pada tanggal 29 Desember 1945, Pemerintah Kota Bandung memutuskan untuk mengosongkan Bandung bagian utara dari penduduk Indonesia. Mereka yang berada di daerah itu harus selekas mungkin meninggalkan tempat itu. Banyak rakyat yang menuruti ultimatum itu dengan meninggalkan tempat tinggalnya di Bandung utara dan pindah ke Bandung selatan. Akan tetapi, tidak sedikit pula yang tidak mengindahkan ultimatum itu. Mereka masih tetap tinggal di Bandung utara.mereka yang masih tetap tinggal ada yang membuat kantong-kantong di sekitar kedudukan musuh. Ketika tentara Sekutu sedang lengah mereka melakukan penyerangan mendadak. (Badan Pengembangan, 2005, hlm. 89)

Ketegangan-ketangan yang timbul dan yang semakin meluas antara pihak kita dengan serdadu-serdadu Jepang dan orang-orang Belanda bekas tawanan, memberi peluang kepada pihak Inggris untuk melaksanakan tugasnya demi “keamanan dan ketertiban”, akan tetapi yang sesungguhnya dimaksudkan untuk mencapai tujuannya, ialah menyerahkan Indonesia kepada kerajaan Belanda. Siasat yang mereka lakukan adalah “diplomasi menunjang operasi-operasi militernya”. Peranan Inggris selaku “wakil kolonial” Belanda, menimbulkan ketegangan-ketegangan dan bentrokan-bentrokan dengan pihak kita. Di samping memburuknya hubungan antara keduabelah pihak itu, suasana kota pun bertambah genting.

Dalam suasana yang sudah genting itu, pada tanggal 23 Nopember 1945, 19 orang serdadu Inggris, yaitu orang-orang India/Pakista “menyeberang” ke pihak kita lengkap dengan persenjataannya dan 2 buah truk. Mereka itu bersimpati terhadap perjuangan kemerdekaan Indonesia. Mereka itu menyebarang ke pihak Republik Indonesia berkat siaran-siaran penerangan kita melalui radio dengan menggunakan  bahasa Urdu dan Hindi. Dengan terjadinya “penyeberangan” itu, maka pihak Inggris mengeluarkan ultimatum agar orang-orang India/Pakistan itu diserahkan kembali kepada pihak Inggris. Ultimatum itu ditolak oleh pihak Republik Indonesia.

Akhir bulan Nopember 1945 terjadi bencana alam berupa banjir besar Cikapundung yang terjadi pada mingu malam tanggal 25 1945. Banjir besar Cikapundung itu melanda daerah-daerah Lengkong Besar, Sasakgantung, Banceuy dan Balubur. Daerah-daerah itu telah berobah menjadi telaga. Banjir besar ini telah menelan ratusan orang korban yang terbawa hanyut, belum lagi ribuan orang yang kehilangan tempat tinggalnya. Menurut penyelidikan, banjir itu adalah akibat sabotase yang dilakukan oleh agen-agen NICA yang telah menjebol pintu air Cikapundung di Bandung Utara, yaitu Dago.

Sementara itu pada tanggal 26 Nopember 1945, pihak Inggris minta kpeada kita melalui jalan diplomasi untuk mengangkat, membersihkan barikade-barikade yang bertebaran di beberapa jalan di dalam kota Bandung. Pihak Inggris sendiri memang telah mencoba untuk menyingkirkan rintangan-rintangan itu, akan tetapi tidak berhasil karena mendapat perlawanan dari pemuda-pemuda kita, sehingga terjadilah tembak menembak di sekitar rintangan-rintangan itu. (Djajusman, 1986, hlm. 45-52)

Pada tanggal 27 Nopember 1945, Brigadir Jenderal Mc Donald mengundang Gubernur Jawa Barat, Mr. R. Sutarjo Kartohadikusumo ke Markas Tentara Sekutu di daerah utara kota Bandung. Dalam pertemuan itu, Brigadir Jenderal Mc. Donald menyerahkan ultimatum yang ditujukan kepada penduduk Bandung. Isi ultimatum itu pada pokoknya adalah sebagai berikut :

1.      Tentara Sekutu akan menembak semua orang Indonesia yang kedapatan membawa senjata.

2.      Semua orang Indonesia yang berada di sekitar rintangan-rintangan jalan akan ditembak mati.

3.      Semua orang Indonesia yang berada dalam jarak 200 meter dari pos-pos tentara Inggris, Jepang, dan RAPWI siang maupun malam, akan ditembak mati.

4.      Akan membersihkan orang Indonesia yang berbuat jahat.

5.      Sekutu akan menghindarkan korban jiwa yang tidak perlu.

6.      Orang Indonesia agar menyingkir dari bagian kota Bandung  sebelah utara  jalan kerata api yang melintang dari timur ke barat.

7.      Semua orang Indonesia yang masih tinggal di bagian utara jalan kereta api, setelah pukul 12 siang tanggal 29 Nopember 1945 akan ditawan dan jika mereka bersenjata akan segera ditembak mati.

Alasan dikeluarkannya ultimatum tersebut adalah untuk menjaga keamanan jangan sampai orang-orang yang tidak berdosa terbunuh atau teraniaya. Pengosongan bagian utara Bandung dimaksudkan untuk meyakinkan mereka bahwa di daerah utara tidak ada orang-orang Indonesia yang akan bertindak jahat.

Dengan adanya ultimatum ini keadaan di Kota Bandung menjadi semakin gawat. Sebelum habis waktu ultimatum, orang-orang Belanda dan Indo-Belanda melakukan penganiayaan terhadap orang-orang Indonesia serta merampok gedung-gedung yang tinggal ditinggalkan. Bila mereka bertemu dengan orang laki-laki Indonesia, lebih-lebih pemuda, akan dipukul, ditendang, atau ditampar tanpa ditanya terlebih dahulu.  Mereka juga  melakukan penculikan terhadap pemuda-pemuda dengan menggunakan kendaraan yang berbendera Merah Putih. Perbuatan mereka itu ternyata dibiarkan oleh tentara Sekutu, seolah-olah dikehendaki Sekutu.

Pada 27 Nopember 1945, dengan alasan untuk menghindarkan pertentangan antara pihak Sekutu dengan pihak Indonesia, penduduk Indonesia yang menetap di sebelah utara jalan kereta api harus pindah ke daerah sebelah selatannya. Dengan demikian jalan kereta api yang membelah Kota Bandung dari barat ke timur dijadikan batas antara daerah Sekutu termasuk Belanda dengan daerah Indonesia. Namun demikian dengan dibaginya kota Bandung menjadi dua bagian, tidaklah berarti pertempuran dapat diredakan sama sekali. Bagaimanapun bukanlah tujuan Belanda hanya sekedar menguasai daerah Kota Bandung yang terletak di sebalah utara jalan kereta api. Di samping itu pihak Indonesia pun sangat tidak puas melihat sebagian dari kota yang dicintainya ada di bawah pengawasan asing. Karena itu pertempuran tidak dapat dihindarkan. Apalagi setelah diketahuinya bahwa antara pihak Inggris dengan pihak Belanda telah tercapai persetujuan yang disebut Civil Affairs Agreement yang isinya menyatakan bahwa yang boleh mendarat hanyalah tentara Inggris, tetapi kepada pihak Inggris boleh diperbantuka pegawai-pegawai sipil Belanda sebagai pegawai Netherlands Indies Civil Administration disingkat NICA. Namun demikian dalam kenyataannya yang turut dengan tentara Inggris itu bukan hanya pegawai sipil juga tentara. Hal ini semakin menjengkelkan pihak Indonesia. Penduduk Bandung terutama golongan pemudanya terus melakukan serangan-serangan terhadap tempat-tempat kedudukan Inggris dan Belanda. Demikianlah pertentangan senjata antara kedua pihak dari waktu ke waktu semakin sengit. (Tim Penulis, 1994, hlm. 220 -222)

Terjadinya pertempuran-pertempuran itu mengakibatkan Kota Bandung semakin genting. Melihat keadaan itu pihak Sekutu berniat untuk menguasai seluruh Kota  Bandung. Pihak Sekutu menyampaikan niatnya itu kepada Perdana Menteri Sutan Syahrir dan meminta supaya TRI meninggalkan kota, sedangkan rakyat dan pemerintah sipil Kota Bandung boleh tetapi di dalam kota. Pemerintah Republik Indonesia mengadakan perundingan dengan pihak Sekutu, namun tidak ditemukan kata sepakat karena pihak Sekutu selalu tetap pada pendiriannya, yaitu TRI keluar kota dan tentara Sekutu menguasai seluruh Kota Bandung dan rakyat sipil tetapi di dalam kota. (Lubis, 1956, hlm. 225).

Pada tanggal 29 Desember 1945, Pemerintah Kota Bandung memutuskan untuk mengosongkan Bandung bagian utara dari penduduk Indonesia. Mereka yang berada di daerah itu harus selekas mungkin meninggalkan tempat itu. Banyak rakyat yang menuruti ultimatum itu dengan meninggalkan tempat tinggalnya di Bandung utara dan pindah ke Bandung selatan. Akan tetapi, tidak sedikit pula yang tidak mengindahkan ultimatum itu. Mereka masih tetap tinggal di Bandung utara.mereka yang masih tetap tinggal ada yang membuat kantong-kantong di sekitar kedudukan musuh. Ketika tentara Sekutu sedang lengah mereka melakukan penyerangan mendadak. (Badan Pengembangan, 2005, hlm. 89)

Bulan Januari dan Februari 1946 merupakan saat –saat yang banyak diwarnai oelh berbagai insiden antara Sekutu dan pihak kita (Indonesia), baik dengan pasukan dari badan-badan perjuangan maupun dengan pasukan tentara. Berbarengan dengan itu, pada tubuh lembaga ketentaraan terjadi perubahan pimpinan. Komandan Divisi III yang semula dijabat oleh Pak Aruji Kartawinata digantikan oleh A.H. Nasution. Penggantian pucuk pimpinan ini membawa perubahan-perubahan yang cukup tajam, sebab berdampak pula terhadap kesatuan-kesatuan tentara di daerah.

Dari hari ke hari, situasi di wilayah Bandung berubah cepat. Inggris dan NICA telah memperkuat diri sedemikian rupa, sehingga mereka mampu mengultimatum lagi terhadap Gubernur Jawa Barat dan Panglima Divisi III, yaitu agar pasukan-pasukan bersenjata – baik tentara maupuan badan-badan perjuangan- segera harus keluar dari kota Bandung.

Kekuatan mereka bisa dikatakan sudah lengkap, apalagi setelah pasukan Divisi 7 Desember tiba di tanah air kita. Pasukan yang ada di Bandung terdiri atas satu brigade yang diperkuat oleh angkatan udara, yiatu dengan hadirnya kapal-kapal tempur Spitfire dan pembom B24 yang terkenal itu (pesawat inilah yang membom daerah Cicadas, sehingga jatuh korban cukup banyak, khususnya penduduk. Di lain pihak, persenjataan yang kita miliki tidak banyak bertambah, meskipun jumlah personilnya terus membengkak. Perbandingan jumlah senjata dengan pasukan sangat tidak seimbang, satu senjata dipakai oleh lima sampai sepuluh orang. (Mashudi, 1998, hlm. 78)

Akhirnya dengan tidak disangka-sangka, pada 22 Maret 1946, datanglah pemberitahuan melalui telepon bahwa Mayor Jenderal Didi Kartasasmita dan Wakil Menteri Keuangan Republik Indonesia Mr. Syarifuddin Prawiranegara sudah datang di Bandung untuk menyampaikan amanat Perdana Menteri Republik Indonesia yang isinya ialah “Tentara Sekutu Inggris telah minta supaya daerah seluas sebelas kilometer sekeliling Kota Bandung, dihitung dari tengah-tengah kota harus dikosongkan dari semua orang yang bersenjata, jadi harus dikosongkan dari pasukan-pasukan, laskar dan TRI yang bersenjata” (Tim Penulis, 1994, hlm. 222)

Pada hari Sabtu, tanggal 23 Maret 1946, telah diadakan pertemuan bertempat di kantor Bupati Bandung. Pertemuan tersebut dihadiri oleh Panglima Komandemen I TKR Jawa Barat, utusan Perdana Menteri, Komandan Divisi, Komanda Resimen 8, Komandan Polisi TKR, Residen, Walikota dan perwakilan MDPP (Markas Daerah Pertempuran Priangan). Dalam pertemuan tersebut, dibahas tentang adanya ultimatum dari pihak Sekutu, untuk mengosongkan kota Bandung.

Samaoen Bakry (1996, hlm. 39) menggambarkan pertemuan tersebut secara dramatis sebagai berikut :

“Diantara jang hadlir ada jang mentjoetjoerkan air mata karena menahan marahnja jang tidak dapat ditahan, dan ada poela jang ketawa disebabkan kemarahan jang berkoemandang disegenap djasadnja. Tetapi achirjnja diambil kepoetoesan, soepaja kepada Inggeris disampaikan keterangan bagaimana keberatannja rakjat terhadap ultimatum, jang sangat disesalkan itoe.

 

Tanggapan dari yang hadir, semuanya menolak ultimatum, kemudian memutuskan untuk mengirim utusan ke Jakarta, guna berkonsultasi langsung dengan pemerintahan pusat. Kolonel A.H. Nasution dengan beberapa  pejabat yang ditunjuk menjadi utusan, hari Sabtu sore, menggunakan pesawat terbang milik Tentara Sekutu, berangkat ke Jakarta.

Esok paginya, hari Minggu tanggal 24 Maret 1946, telah pulang kembali ke Bandung. Menerangkan, bahwa untuk kepentingan diplomasi yang sedang dilakukan di tingkat pusat, dan untuk keselamatan jiwa rakyat, diperintahkan agar kita mentaati keputusan pusat. Untuk mengosongkan kota Bandung, selambat-lambatnya malam itu juga, dilarang mengadakan perusakan atau pembumihangusan kota.

Dalam perundingan tersebut, pihak Pemerintah Sipil, meminta agar ada penundaan waktu, untuk menentramkan rakyat. Selain itu, supaya polisi dapat mengatur dan mencegah adanya perampokan-perampokan dan kejahatan lainnya. Akan tetapi, permintaan penundaan waktu tersebut, ditolak oleh pihak Sekutu. Panglima Inggris tidak bersedia memperpanjang waktu. Syamsurizal (Walikota Bandung) mengatakan, bahwa Pemerintah Sipil tidak akan menaati instruksi dari pusat, akan tetap berada di kota Bandung bersama rakyat.

Letkol Sutoko menyarankan, agar kita semua bersama seluruh rakyat, keluar dari  Bandung. Tetapi terlebih dahulu, Bandung harus dibakar. Komandan Polisi TKR Mayor Rukana mengusulkan, agar kota Bandung dibumihanguskan saja. Sebagian besar yang hadir menyetujuinya. Posisi Panglima Divis TRI saat itu sangat sulit, untuk mengambil keputusan, dalam hal ini menyikapi dua instruksi, dari Pusat (Jakarta) dan dari Yogya, yang satu sama lain bertentangan. Instuksi dari Yogya, agar “tiap jengkel tanah harus dipertahankan”. Sedangkan instruksi dari Pusat dan sikap Pemerintah Sipil, menyatakan harus mentaati perintah Perdana Menteri Sutan Syahrir. Di lain pihak, sudah ada kesepakatan, agar rakyat ikut serta keluar dari kota, karena kota Bandung akan dibakar.

Rupanya pihak Sekutu pun, pada saat itu menghadapi tugas berat, dihadapkan kepada fenomena dilematis yang harus diselesaikan, antara lain:

1.      Tugas pokoknya mengurus/menyelesaikan masalah tentara Jepang dan masalah RAPWI.

2.      Berada di negara Indonesia yang baru merdeka dan sedang bergolak.

3.      Tugas berat lainnya, adalah menghadapi pejuang bangsa Indonesia yang militan.

Oleh karena itu, tidak ada pilihan bagi pihak Sekutu, selain mengeluarkan ultimatum untuk menyelamatkan misinya.

Sebaliknya dari pihak TRI, menghadapi dilematis, dengan adanya ultimatum Sekutu tersebut. Dalam situasi mencekam dan sikap yang amat emosional, Kolonel A.H. Nasution selaku Wakil Panglima Komandemen I Jawa Barat, dengan naluri militernya, mengeluarkan perintah :

1.      Semasa pegawai dan rakyat harus sudah keluar kota sebelum jam 24.00.

2.      Tentara melakukan bumi-hangus terhadap semua bangunan penting.

3.      Sesudah matahari terbenam, supaya Bandung utara diserang oleh pasukan kita dari utara dan dilakukan pula pembumi-hangusan sedapat mungkin. Begitu pula dari selatan harus ada penyusupan ke utara.

4.      Pos Komando di pindahkan ke Kulalet (Dayeuhkolot). (Soekardi, 2005, hlm. 82- 84)

Terjadi perbedaan pendapat tentang siapa sebenarnya yang mengusulkan ide pembumihangusan kota Bandung. Ada pendapat yang mengatakan bahwa Letnan Kolonel Sutoko (Kepala MDPP/ Markas Dewan Pimpinan Priangan) yang mengusulkan pertama kali. Pendapat lain mengatakan bahwa Mayor Rukana (Kepala Polisi TKR) orang yang mengusulkan pembumihangusan kota Bandung. Pendapat ini diambil dari wawancara dengan salah satu saksi sejarah BLA, Lily Sumantri (2016), dan dalam buku serta tulisan beliau yang tidak diterbitkan (2002). Hal ini diperkuat oleh penjelasan Rusady. W. (2010, hlm. 51), serta tulisan A.H. Nasution. Bahkan Nasution (1982, hlm. 131) secara eksplisit menjelaskan itu dalam memoarnya, Memenuhi Panggilan Tugas sebagai berikut :

Letnan Kolonel Sutoko menyarankan : keluar bersama rakyat. Letnan Kolonel Omon A. Rahman menyatakan : resmi taat, tapi sebagai rakyat berjuang terus. Mayor Rukana : Ledakan terowongan Citarum di Rajamandala, supaya kita buat “Bandung Lautan Api” dan “Bandung Lautan Air”. Keadaan amat emosional.

 

Sementara itu, Pemerintahan Sipil diatur sempurna untuk mengungsi ke luar Bandung.

1.      Kerisidenan Priangan ke Garut

2.      Walikota Bandung juga ke Garut

3.      Bupati Bandung ke Banjaran.

4.      Jawatan Kereta Api ke Cisurupan Garut.

5.      PTT ke Tasikmalaya dan Narapidana Sukamiskin ke Yogyakarta.

(Pemkot DT II, tt hlm 15;  Pemkot, 1993 hlm 30; Dinas Informasi dan Komunikasi, 2002 hlm 21 )

Siang tanggal 24 Maret 1946, TRI dan penduduk mulai mengosongkan Bandung Selatan untuk mengungsi ke selatan kota. Pada jam 21.00, diawali dengan pembakaran Gedung Indisch Restauran di utara Alun-alun (BRI Tower sekarang), para pejuang dan penduduk membakar bangunan penting di sektar jalan kerata api dari Ujungberung sampai Cimahi. Bersamaan dengan itu, TRI melakukan serangan ke wilayah utara sebagai “upacara” pengunduran diri dari Bandung diiringi kobaran api sepanjang 12 km dari timur ke barat. Bandung membara bak lautan api dan langit memerah mengobarkan semangat dan tekad di hati setiap pejuang untuk kembali merebut Bandung nanti. (Kardowirio, 2006, hlm. 395-396)

Mereka mengungsi, menyebar, menuju ke berbagai arah. Ada yang ke arah timur, menuju Ujungberung-Cileunyi, terus ke Sumedang atau ke Cicalengka. Ada yang ke arah selatan, ke arah Buahbatu-Cipamokolan, terus ke Rancaekek dan Majalaya. Ada yang ke arah selatan, menuju Cilampeni, terus ke Soreang dan Ciwidey. Ada juga yang menuju ke Leuwigajah, Nanjung, Cihampelas, terus ke Cililin dan Gunung Halu. (Soekardi, 2005, hlm. 84)

Rakyat Kota Bandung, tua-muda, anak-anak, baik pria maupun wanita, yang tidak mau hidup di bawah kekuasaan asing, pada 24 Maret 1946 sore hari, berduyun-duyun meninggalkan kota Bandung. Mereka menuju tempat-tempat yang terletak di sebelah selatan kota tersebut seperti Dayeuhkolot, Ciparay, Majalaya, Pamaeungpeuk, Banjaran, Soreang. Di antara mereka ada yang menggunakan kendaraan seperti mobil, delman, pedati, sepeda, tetapi sebagian besar dari rakyat banyak berjalan kaki dengan mengangkut sekedar harta miliknya yang mudah dibawa. Para pejabat pemerintah daerah dengan rasa berat terpaksa turut menyingkir bersama-sama rakyat menuju tempat –tempat di luar Kota Bandung.

Setelah hari gelap, orang-orang yang berada di tempat-tempat yang tinggi dan terletak di sebelah selatan Kota Bandung, jika melayangkan pandangan ke arah utara dapat melihat dari kejauhan api bernyala-nyala membakari rumah-rumah di kota Bandung yang terletak antara Cicadas di sebelah timur sampai Andir di sebelah barat. Peristiwa ini terjadi karena pembumihangusan tidak mungkin dibatalkan. Setelah Kota Bandung ditinggalkan oleh sebagian besar rakyat, para pejuang yang tergabung dalam Majelis Persatuan Perjuangan Priangan (MP3), dengan disertai keikhlasan berkorban dari pihak rakyat, telah berbulat hati untuk melakukan perlawanan terakhir sambil menghancurkan dan membakari rumah-rumah dan bangunan-bangunan penting di kota Bandung. Mereka bertekad bahwa bangunan-bangunan di kota tersebut daripada diduduki musuh lebih baik hancur. (Tim Penulis, 1994, hlm. 222 – 223)

Berikut cerita lebih detail peristiwa pembumihangusan Kota Bandung ini :

Pada jam 17.30 sore tanggal 24 Maret 1946 beberapa jam setelah ultimatum Inggris di ketahui rakyat. Setelah kehendak kalangan TRI dan pasukan-pasukan perjuangan lainnya untuk membumihanguskan kota Bandung tersebar luas, aparat pemerintahan Sipil RI yang ada di kota Bandung melakukan persiapan-persiapan jika sewaktu-waktu harus pindah ke luar kota.

Ir. Ukar Bratakusumah selaku Kepala Bagian Kemakmuran dan Perekonomian pada kantor Gubernur Jawa Barat segera melakukan usaha-usahanya, untuk memindahkan perlengkapan penting, bahkan pakaian dan bahan makanan dari gudang-gudang keluar kota. Perlengkapan yang didahulukan diangkut ialah alat percetakan, mesin bubut, alat tulis, dan lain-lain.

Pada hari terakhir (24 Maret 1946) pengangkutan barang-barang dari gudang lama belum selesai, karena kendaraannya kurang, maka gudang-gudang itu dibuka untuk rakyat umum. Siapapun boleh mengambil, terutama beras, gula, kopi. Begitu pula gudang-gudang yang berisi perlengkapan dan bahan makanan yang dikuasai oleh Pemerintah Kota Bandung dibongkar isinya untuk dipindahkan keluar kota.

Abung Sanusi, Kepala Bagian perbekalan kota Bandung, memegang peranan penting dalam kegiatan ini yang dibantu oleh pasukan Laskar Rakyat. Selanjutny, pembagian perbekalan itu diatur dan ditangani oleh pmpinan dan anggota Laskar Rakyat. Selanjutnya, pembagian perbekalan itu diatur dan ditangani oleh pimpinan dan anggota Laskar Rakyat. Sebelum sampai kepada batas waktu untuk meninggalkan kota yang telah ditetapkan, NICA dan Ghurka telah menyerang rakyat di daerah Andir, Cimahi dan di beberapa tempat lain, ketika akan meniggalkan tempat tinggal mereka.

Sedangkan di beberapa tempat lain lagi, mata-mata NICA bergerak untuk mengacaukan pengungsian rakyat ke luar kota. Jumlah TRI dan pasukan-pasukan perjuangan yang akan meninggalkan kota Bandung kira-kira sekitar 7.000 orang. Letusan senapan mesin lima jam sebelum batas yang ditentukan habis, mengakibatkan pembumihangusan kota dan pengungsian rakyat tidak dapat dilaksanakan dengan teratur.

Semua jalan ke luar kota dari Cimahi sampai Ujungberung, padat gelombang rakyat yang mengungsi. Paling padat, Jl. Cigereleng,. Rombongan Pemda Kodya Bandung berjumlah 30 orang di antaranya Walikota Syamsurizal, Ir. Ukar Bratakusumah, Suprayogi, Basuni, R. Male Wiranatakusumah, Ema Bratakusumah, dan lain-lain lewat jalur itu.

Tentara tidak tampak dalam gelombang pengungsian itu. Mereka harus  bergerak meninggalkan kota paling akhir, setelah melancarkan serangan bumi hangus, disertai peledakan-peledakan instalasi penting. Rombongan RRI dipimpn RA Darya, membawa segala peralatan radio, membelok ke Jelekong untuk selanjutnya, menuju Majalaya. Berbagai instansi, memadai jalur Selatan itu termasuk PTT.

Di sepanjang jalur lintasan pengungsian, di bangun dapur umum darurat yang melayani makan para pengungsi secara pordeo. Pemda Kodya Bandung, membawa sejumlah bekal logistik dari gudang perbekalan Kodya. Selebihnya, dibobolkan untuk rakyat yang memerlukan.

Ketika para pengungsi masih dalam perjalanan, bahkan masih ada yang baru beranjak meninggalkan rumah sekitar jam 21.00, tiba-tiba kedengaran ledakan dinamit amat dahsyat. Ledakan ini menundang ledakan-ledakan lain di seluruh penjuru kota. Mulailah Bandung Bumi Hangus dilaksanakan, di luar rencana semula yang ditetapkan tepat jam 24.00 dengan komando berupa ledakan di sudut Alun-alin Bandung yang kini lokasi BRI.

Dinamit-dinamit yang dipasang di pojok Gedung Kantor Pos Bandung, meledak tidak berarti. Dinding beton gedung tersebut amat tebal dan terlalu kuat. Pemda Kotamadya berjumlah satu regu, dipimpin Sudarman dan Danang, melaksanakan bumi hangus di sekitar alun-alun. Namun mereka melewatkan dengan sengaja Masjid Agung. Dilewati juga POM Bensin (dulu) di Jl. Dewi Sartika, untuk menyelamatkan Masjid Agung itu. Selanjutnya, toko-toko di sepanjang Jl. Otto Iskandardinata, kiri kanan dihabiskan. Batalion Sumarsono, membumihanguskan daerah Kebon Kawung, Situ Aksan, Sita Saeur dan lain-lain. Rakyat yang beranjak paling akhir, membakar dulu rumah mereka.

Bandung menyala dilahap api ungun raksasa yang mengamuk ke kiri dan ke kanan. Kobaran api dan gulungan asap tebal, diiringi ledakan dan letusan senjata. Namun tidak ada suara rakyat menjerit-jerit minta tolong. Semuanya ikhlas, Bandung dibumihanguskan agar tidak potensil lagi bagi posisi musuh.

Daerah Cicadas, dibakar anak buah Pasukan Cucu Ardiwinata. Dari Cicadas, pembakaran rumah dan gedung-gedung merembet ke Timur, Cicaheum dan Sukamiskin sampai Ujungberung, menyala berkobar-kobar. Dari Cicadas juga api merembet di Utara, sampai Cihaurgeulis dan ke Selatan sampai ke Kiaracondongdan Kebon Gedang. Ketika bumi hangus berlangsung, rakyat yang meninggalkan kota masih berduyun-duyun padat.

Kolonel AH Nasution disertai Komandan Polisi Tentara Rukana, mendaki bukit di selatan. Mereka melihat pelaksanaan Bandung dibumihanguskan dari puncak bukit itu. Pada saat yang hampir bersamaan. Wartawan Atje Bastaman sebagai Wartawan Perang dari Koran Suara Merdeka, berada di antara jilatan-jilatan api dalam kota. Ia berusaha keras mengabadikan peristiwa besar dalam Perang Kemerdekaan itu. Catatannya yang lengkap, malam itu juga dibawanya ke Tasikmalaya. Waktu itu, Suara Merdeka dari Bandung sudah diungsikan ke Jl. Galunggung Tasikmalaya. Di kantor Redaksi Suara Merdeka, Atje Bastaman menyusun laporan Bandung Bumi Hangus yang dijadikannya Judul Utama di halaman depan. Pimpinan Redaksi Moh. Kurdi setuju pemuatan laporan tersebut dengan judul Bandung Lautan Api seperti disarankan Wartaman Ajte Bastaman sendiri.

 

(Pemkot DT II, tt hlm 11-17, Pemkot, 1993 hlm 18-22, Dinas Informasi dan Komunikasi, 2002, hlm. 25-33)

 

Tentang bagaimana kota Bandung setelah pembumihangusan, dijelaskan dalam koran Merdeka, 25 Maret 1946 (dalam Smail, 2011 hlm. 183) :

Tadi malam [tanggal 25 Maret], api yang besar terlihat di enam titik. Pagi ini, pesawat pengintai RAF melaporkan bahwa seluruh kawasan selatan Bandung diselimuti asap tebal yang mempersulit penamatan. Terdengar ledakan-ledakan besar yang mengindikasikan bahwa taktik bumi-hangus masih dilakukan di wilayah tersebut. Pagi ini, kobaran api yang besar terlihat di dekat stasiun kereta api dan banyak kampung (nampaknya) terbakar habis.

 

Kebanyakan kobaran api yang membuat evakuasi begitu  impresif terjadi di rumah-rumah pribadi dan gedung-gedung dengan konstruksi ringan yang mudah terbakar. Kebanyakan sumber menyetujui bahwa wilayah yang mengalami kerusakan terparah adalah distrik Cina di sebelah barat alun-alun, di mana semangat partiotisme lautan api sejalan dengan penghancuran properti kaum minoritas yang tidak populer. (Smail, 2011, hlm. 184)

 Peristiwa heroik yang tercatat dalam sejarah bangsa Indonesia sebagai peristiwa Bandung Lautan Api, yang menjadikan lagu “Halo-Halo Bandung” menjadi lagu perjuangan yang terkenal dan mengumandangkannya ke seluruh Nusantara.  Setelah BLA, TRI dan pejuang lainnya tiada henti-hentinya melakukan penyusupan ke dalam kota Bandung untuk menyerang kedudukan tentang Sekutu dan Belanda. Serangan-serangan ini secara langsung dan tidak langsung mempengaruhi kelancaran kehidupan di dalam kota Bandung.

Akhirnya NICA Belanda berhasil menguasai Jawa Barat sepenuhnya dengan menekan Pemerintah Republik Indonesia untuk mengosongkan Jawa Barat dari semua pasukan tentara Indonesia melalui Perjanjian Renville (17 Januari 1948), setelah gagal melalui agresi militer 20 Juli – 4 Agustus 1947. NICA Belanda melanggar genjatan senjata dan terus menggempur basis pertahanan tentara Indonesia sampai Januari  1948. Pasukan Indonesia (Divisi Siliwangi) terpaksa hijrah ke Jawa Tengah pada tanggal 1 – 22 Februari 1948. (Kardowirio, 2006, hlm. 396-397)

Sementara seluruh pasukan dari kesatuan TKR Resimen 8 dan 9 dari Detasemen 2 Pelopor dan Badan-badan Perjuangan di bawah MP3, setelah usai pembumihangusan, masing-masing menuju ke sektor-sektor yang telah ditentukan. Dari garis demarkasi 11 Kilometer, segera menyusun rencana pertahanan, perlawanan dan persiapan, untuk melakukan gerakan ofensif ke kota Bandung. Dari arah dataran tinggi, pada garis demarkasi, nampak jelas langit di atas kota Bandung yang memerah dan kobaran api dan kepulan asap membumbung ke angkasa, sebagai tanda pelaksanaan pembumihangusan kota Bandung. Peristiwa tersebut mengilhami komposer Ismail Marzuki, yang mengabadikannya dalam lagu “Bandung Selatan Di Waktu Malam”. (Soekardi, 2005, hlm. 85)

Perlu dicatat bahwa tidak seluruh penduduk kota Bandung meninggalkan kota. Penduduk keturunan asing (Cina, Arab, India) yang berjumlah ± 20.000 meninggalkan diri. Semula mereka ada kesediaan untuk ikut mengungsi, namun kemungkinan perhitungan politis dan ekonomis akhirnya mereka tinggal sehingga menjadi kekuatan tentara pendudukan. (Mashudi, 1998, hlm. 80-81)

 

C.    Para Pemuda-Pemudi dalam Peristiwa BLA

Sebelum membahas tentang peran para pemuda dalam BLA, sebaiknya kami akan definisikan terlebih dahulu pengertian pemuda. Definisi yang pertama, Pemuda adalah individu yang bila dilihat secara fisik sedang mengalami perkembangan dan secara psikis sedang mengalami perkembangan emosional, sehingga pemuda merupakan sumber daya manusia pembangunan baik saat ini maupun masa datang. Sebagai calon generasi penerus yang akan menggantikan generasi sebelumnya. Secara internasional, WHO menyebut sebagai ”young people” dengan batas usia 10-24 tahun, sedangkan usia 10-19 tahun disebut ”adolescenea” atau remaja. International Youth Year yang diselenggarakan tahun 1985, mendefinisikan penduduk berusia 15-24 tahun sebagai kelompok pemuda.
Definisi yang kedua, pemuda adalah individu dengan karakter yang dinamis, bahkan bergejolak dan optimis namun belum memiliki pengendalian emosi yang stabil. Pemuda menghadapi masa perubahan sosial maupun kultural.

Sedangkan menurut draft RUU Kepemudaan, Pemuda adalah mereka yang berusia antara 18 hingga 35 tahun. Menilik dari sisi usia maka pemuda merupakan masa perkembangan secara biologis dan psikologis. Oleh karenanya pemuda selalu memiliki aspirasi yang berbeda dengan aspirasi masyarakat secara umum. Dalam makna yang positif aspirasi yang berbeda ini disebut dengan semangat pembaharu.
Dalam kosakata bahasa Indonesia, pemuda juga dikenal dengan sebutan generasi muda dan kaum muda. Seringkali terminologi pemuda, generasi muda, atau kaum muda memiliki definisi beragam. Definisi tentang pemuda di atas lebih pada definisi teknis berdasarkan kategori usia sedangkan definisi lainnya lebih fleksibel. Dimana pemuda/ generasi muda/kaum muda adalah mereka yang memiliki semangat pembaharu dan progresif. (
http://reval004.blogspot.co.id/2013/10/definisi-pemuda.html). Berdasarkan seluruh definisi yang dijelaskan di atas pemakalah simpulkan bahwa yang disebut pemuda adalah “generasi atau kaum yang berusia muda yang masih mengalami perkembangan secara fisik dan psikologis yang memiliki jiwa dan pandangan progresif terhadap perubahan yang merupakan sumber daya manusia pembangunan baik sebagai calon generasi penerus yang akan menggantikan generasi sebelumnya”.

Dalam Peristiwa Bandung Lautan Api bukan merupakan monopoli satu kekuatan atau organisasi. Terjadinya Bandung Lautan Api dimungkinkan oleh gabungan berbagai elemen perjuangan di kota Bandung khususnya, baik dari kalangan militer maupun masyarakat sipil. Termasuk dalam hal ini adalah para pemuda-pemudi Bandung yang tergabung dalam berbagai organisasi perjuangan.

Secara khusus A.H. Nasution (1977) menyebutkan bahwa :

“Mereka sangat berjasa dalam membangkitkan kembali semangat perlawanan, yang telah merosot sekali sesudah mendapat pukulan yang keras dari tentara Jepang pada 10 Oktober 1945 yang lalu. Pemuda-pemuda telah mengambil inisiatif terlepas dari pada pejabat-pejabat pemerintah”.

(Nasution, 1977, hlm. 279)

 

Sebagai gambaran keberanian para pemuda tersebut dalam menghadapi pasukan Sekutu, yang notebene secara persenjataan lebih lengkap dan canggih, adalah sebagaimana bunyi siaran dari Dewan Perjuangan Priangan pada tanggal 28 Oktober malam :

“Pertempuran kini sedang tejadi di Bandung Utara. Musuh telah menurunkan Sang Merah Putih. Pemuda-pemuda kita tidak dapat menahan diri lagi melihat penghinaan itu dan kini dengan gagah berani sedang berjuang untuk merebut gedung-gedung yang dirampas mereka. Kita tidak dapat membiarkan musuh merampas-rampas dan merampok hak milik kita.

Senjata modern mereka tidak menggentarkan kita apalagi menakukan untuk memiliki Republik Indonesia yang hakiki. Kita harus berjuang menghancurkan musuh-musuh Allah dan musuh-musuh kita. Sebab jika kita kalah dalam perjuangan ini yang akan menentukan mati hidup kita, akan malang nasib kita. Kita akan dijajah, diperbudak dan ditindas lagi. Sekarang inilah saatnya kita berjuang untuk menentukan nasih kita di kemudian hari.

(Nasution, 1977, hlm. 283)

 

Hal yang sama ditegaskan oleh Lubis (1956, hlm. 211-212), bahwa : “Pada awal Revolusi fisik pemuda-pemuda Jawa Barat turut aktif dalam menegakkan Proklamasi Kemerdekaan dan kedaulatan dengan membentuk badan-badan kelasykaran”.

Semakin pentingnya peranan pemuda dan khususnya badan militer nampak jelas di sini. Pemuda pada dasarnya tidak terlibat dalam negoisasi-negoisasi pada akhir September dan awal Oktober 1945 dengan Jepang dan RAPWI, serta negoisasi-negoisasi pada akhir Oktober dan awal Nopember 1945 dengan Jenderal Mac Donald, dan baru mulai terlibat di akhir negoisasi pada akhir Nopember dan awal Desember 1945, terutama untuk mengatur bagaimana mereka melaksanakan kesepakatan yang dibuat pihak sipil dari generasi tua. (Smail, 2011, hlm. 178)

Ini adalah periode di mana kaum pemuda, “Generasi 45”, muncul ke permukaan. Gerakan pemuda secara keseluruhan merupakan bentuk ekspresi paling khas pada saat itu. Gerakan ini melibatkan para pemuda dari berbagai latarbelakang – pedesaaan dan perkotaan, santri dan sekuler, terpelajar dan buta huruf – yang terbakar oleh semangat perjuangan. Gerakan ini juga menghasilkan mayoritas dari mereka yang melakukan tindak kekerasan dan mereka yang menunjukkan idealisme murni penuh pengorbanan. Lebih khusus lagi, para pemuda membentuk organisasi baru terpenting yang muncul di tingkat lokal selama periode awal Revolusi, yaitu badan militer dan badan perjuangan. Melalui organisasi-organisasi tersebut pemimpin pemuda, yang merupakan kelompok elit baru, memperoleh kekuatan besar baik di wilayah pedesaan maupun kota dan dengan cepat menanjak  dalam tataran hirarki kepemimpinan. (Smail, 2011, hlm. 190)

Untuk menggambarkan semangat para pemuda tersebut, Amar (1963) mendeskripsikannya sebagai berikut :

“Bagi pemuda-pemuda pejuang kemerdekaan, adanya status, bahwa kota Bandung telah dibelah-dua, tidaklah mempunyai pengaruh bagi semangat perjuangannya yang tetap menyala-nyala. Bagi pemuda-pemuda pejuang kemerdekaan, tidaklah peduli siapa, asal itu adalah pemerintahan asing, yang hendak meniadakan kemerdekaan bangsa Indonesia, akan terus digempur dan diusir dair bumi Bandung dan bumi Indonesia. tidak peduli apakah itu namanya RAPWI atau sekutu atau Inggris. Tidak peduli apakah itu disebutnya NICA atau Belanda. Tidak peduli apaakah Jepang yang baru bertekuk lutut. Semua mereka itu, pemerintah asing yang akan menghalangi dan meniadakan kemerdekaan bangsa Indonesia, haruslah pergi, atau digempur terus hingga hancur.

Karenanya, bagi pemuda-pemuda pejuang kemerdekaan Indonesia, perjuangan kemerdekaan adalah mengusir setiap pemerintahan asing yang hendak bercokol di Indonesia”.

(Amar, 1963 hlm 109)

 

Pemuda-pemuda pejuang kemerdekaan Indonesia, umumnya tidak mau tahu tentang bagaimana perkembangan situasi di bidang politik, dan sebagainya. Mereka cuma tahu, bahwa Indonesia harus Merdeka. Di tangan mereka ada senjata, dan dipergunakanlah senjata itu. Dipergunakan untuk mengusir kekuasaan asing yang masih mencoba untuk bercokol di bumi Bandung dan bumi Indonesia. (Amar, 1963 hlm 143).

Kebijakan pemerintah yang tidak segera membentuk tentara nasional ini begitu mengecewakan. Namun, sebagai besar pemuda, terutama bekas anggota Peta, KNIL, dan Heiho, mengambil sikap pragmatis dan segera membentuk BKR di daerah masing-masing. Sebagian pemuda lainnya membentuk badan perjuangan yang sangat militan. Kedua jenis organisasi ini nantinya menjadi embrio dari tentara kebangsaan yang dibentuk pemerintah pada 5 Oktober 1945 dengan nama Tentara Keamanan Rakyat (TKR).

Selain tentara kebangsaan yang dibentuk oleh pemerintah muncul juga badan-badan perjuangan yang telah terbentuk di Bandung pada awal Revolusi dikemukakan oleh Sitaresmi. dkk (2013, hlm. 73-75) antara lain sebagai berikut :

1.      Persatuan Pemuda Pelajar Indonesia (P3I), dipimpin Suprapto dan bermarkas di Oude Hospitalweg (Jalan Lembong). P3I kemudian berubah menjadi Pemuda Republik Indonesia (PRI) dengan anggota Sujono, Mashudi, Suryono, Abdul Jabar, dan lain-lain. PRI bermarkas di Toko Tjojoda, di Groote Postweg (Jalan Asia Afrika).

2.      Angkatan Pemuda Indonesia (API) cabang Bandung, dibentuk oleh Astrawinata, Maulana, Wasito dan Heru Sutrisno dan bermarkas di Jalan Lengkong Besar.

3.      Hizbullah, dibentuk sejak 1944. Angotanya, antara lain Kamran, Husinsyah, Utarya, Gofar Ismail, H. Junaedi, dan Zainal Abidin.

4.      Sabilillah, dengan tokohnya Isa Anshari, Ismail Nepu, H. Jaenudin, A. Mochtar, Ajengan Toha, dan Kiyai Yusuf Tajiri.

5.      Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia (BPRI) cabang dari BPRI Surabaya. Sebagian anggotanya bekas Barisan Pelopor pada zaman Jepang. BPRI dipimpin Suryadi dan Rivai. Bermarkas di Oude Hospitaalweg (Jalan Lembong).

6.      Barisan Banteng Republik Indonesia (BBRI). Dipimpin Anwar Sutan Pamuncak dan Ido Gamida. Bermarkas di Banceuy.

7.      Barisan Berani Mati (BBM), dipimpin Effendi.

8.      Pemuda Indonesia Maluku (PIM), dengan tokohnya antara lain Pellaupessy, Andries, Leo Lopulisa, dan Gerrit Latumahena.

9.      Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi (KRIS), dipimpin F. Kodong, G.H. Mantik, H.G. Rorimpandey, T.H. Mandagi dan Karundeng.

10.  Laskar Rakyat, dipimpin Emma Bratakusumah.

11.  Pasukan Istimewa (PI), didirikan oleh pemuda suku Batak dan dipimpin oleh Pakpahan, H.K. Marpaung, Hurauruk, Sitorus, Ali Nafiah, Washington Napitupulu, bermarkas di Jalan Ciateul.

12.  Pasukan Garuda Putih, dipimpin Sinaga.

13.  Pasukan Beruang Merah, dipimpin Abdullah Saleh. Bermarkas di Cigereleng.

14.  Barisan Merah Putih, dipimpin Nukman Abdullah Rais dan A. Saat. Bermarkas di Jalan Ciateul.

15.  Polisi Istimewa, dipimpin M. Harsono dan Danu Sutoyo. Bermarkas di Jalan Kebojati.

16.  Angkatan Muda Kereta Api (AMKA), dipimpin A. Supian dan Achmad Tirtosudiro.

17.  Angkatan Muda PTT (AMPTT), dipimpin Sutoko.

18.  Angkatan Muda Kota Besar Bandung, dipimpin Ir. Juwanda Suprayogi.

19.  Laskar Wanita Indonesia (Laswi), dibentuk atas inisiatif Sumirah Yati Arudji Kartawinata pada 12 Oktober 1945. Pembentukan Laswi diadakan di Jalan Pangeran Sumedang (sekarang Jalan Oto Iskandardinata).

20.  Pasukan Pangeran Papak.

Seluruh pemuda dengan tidak ada kecualinya, yang puluhan ribu banyaknya, menceburkan diri ke dalam tentara dan badan-badan perjuangan, sedang para putri menceburkan dirinya dalam usaha dapur umum dan Palang Merah Indonesia. (Bakry, 1996 hlm 44). Akan tetapi keterlibatan para pemudi tersebut tidak sebatas urusan dapur umum dan Palang Merah saja. Tidak jarang, mereka (oleh tuntutan keadaan) harus menceburkan diri ke dalam kancah pertempuran.  Sebagai contoh misalnya, seperti yang diceritakan seusai pertempuran Fokkersweg (20 – 22 Maret 1946), datanglah ke Markas Kolonel Nasution seorang wanita berkuda bernama Susilowati. Ia masuk ke dalam ruangan serta meletakkan di atas meja Kolonel Nasution  kepala dari seorang perwira Gurkha, bersama ribbon (pita)-nya (Rusady W, 2010 hlm 45; dan Sitaresmi. dkk, 2015 hlm 120 – 121).  Susilowati adalah seorang pejuang dari Laskar Wanita (Laswi) yang menonjol selain Martini, puteri Bapak Otto Iskandar Dinata. Oleh karena perbuatannya tersebut, Inggris kemudian mengadakan sayembara dengan bayaran yang tinggi, bagi mereka yang dapat menangkap Susilowati hidup atau mati (Rusady W, 2010 hlm 45).

Contoh lain misalnya ada dalam peristiwa di Gedung Denis (De Eerste Nederlads-Indische Spaarkas en Hypothekbank) di Jalan Braga, sekitar awal Oktober 1945, yang dilakukan dua orang pemuda, Mulyono dan Endang Karmas. Di mana dalam peristiwa ini, kedua pemuda tersebut menyobek bendera Belanda (Merah, Putih dan Biru), dengan cara menyobek warna Biru bendera Belanda tersebut dengan sebuah bayonet. Walaupun aksi penyobekan itu tidak sempurna, sehingga masih ada warna biru pada bendera tersebut. (Sitaresmi. dkk, 2013 hlm 64-67; dan Sind, E.S, 2015 hlm 85-86).

Keterlibatan para pemuda dalam peristiwa di Bandung, bukan hanya pada level anggota laskar saja. Akan tetapi di tingkat yang lebih tinggi, misalnya para pemimpin-pemimpin perjuangan saat itu dipegang oleh para pemuda. Sebut saja misalnya A.H. Nasution. Sebagaimana yang dikemukakan Smail (2011) berikut :

“Penggantinya, Nasution, lebih mudah dan terlatih. Ia adalah pemimpin salah satu satu organisasi pemuda dan merupakan salah satu anggota kelompok kecil namun penting yang mendapat pelatihan militer oleh Belanda sebelum p[erang, yang kemudian menjadi bagian penting dalam badan militer di Jawa Barat. ... selama masa pendudukun, Nasution mengepalai cabang Seinenden di Bandung, yang menjadi pusat tumbuhnya gerakan bawah tanah, dan membuat persiapan mengenai apa yang akan dilakukan setelah kekalahan Jepang. Pada Oktober 1945 ia menajdi Kepala Staf Komandemen Jawa Barat untuk memegang komando di Divisi Ketiga”.

(A.H. Nasution dalam Smail, 2011, hlm. 154)

Keterlibatan paling nyata, ditunjukkan para pemuda dalam proses pengungsian keluar kota Bandung. Pemuda-pemuda pejuang kemerdekaan Kota Bandung tidak rela kotanya jatuh ke tangan musuh dengan utuh. Sebelum meninggalkan kota Bandung, lebih dulu diaturlah usaha untuk menghancurkan dan membakar kota Bandung. Dan itu dilakukan oleh pemuda-pemuda pejuang kemerdekaan Bandung.

Sebelum meninggalkan kota Bandung, pemuda-pemuda pejuang kemerdekaan tanggal 24 Maret 1946 itu, lebih dulu membagi-bagikan bensin dan dinamit kepada setiap pasukan pemuda pejuang kemerdekaan. Alat pembakar dan penghancur itu, akan digunakan sebagai bukti, bahwa pemuda-pemuda pejuang kemerdekaan Indonesia di kota Bandung, sebenarnya tidak rela meninggalkan kotanya yang masih terus dijadikan medan juang untuk mengusir Tentara Sekutu – Inggris. Dan setelah bahan bakar dan bahan-bahan peledak dibagikan kepada pasukan demi pasukan, maka menyebarlah mereka, melakukan tugasnya di daerah-daerah yang telah ditentukan.

Menurut rencana, permulaan pembakaran dan peledakan akan dimulai dengan suatu tanda, yaitu sebuah ledakan di gedung sekitar alun-alun Bandung, waktunya tepat jam 24.00 tengah malam. Tetapi, karena semangat pemuda-pemuda pejuang yang telah meluap, ditambah pula dengan berbedanya situasi di tiap-tiap tempat dan daerah di mana pemuda-pemuda pejuang masing-masing bertugas, maka jam 21.01 tepat waktu di Jawa, terdengarlah ledakan pertama, yang disusul dengan ledakan demi ledakan, meluas di segala penjuru kota Bandung. Demikian pula langit mulai memerah, karena pembakaran-pembakaran yang dilakukan oleh pemuda-pemuda pejuang kemerdekaan Indonesia di kota Bandung itu. Pembakaran-pembakaran ini meluas  di setiap daerah Bandung. (Amar, 1963, hlm. 148-149)

Selain itu, para pemuda perjuangan, membantu mengungsikan rakyat ke luar kota, dengan segala kekuatan yang ada padanya. Dan di samping itu melakukan penjagaan dengan sekuat-kuatnya terhadap perampok-perampok NICA yang dengan bayonet di tangannya menggedor kekajaan rakyat di mana-mana. Akibat perampok-perampok NICA itu dengan bantuan beberapa pemuda Tionghoa upahan, menakut-nakuti rakyat, dan di beberapa tempat melakukan penyerangan juga secara perampok, dan kadang-kadang menggunakan kaum pengungsi untuk tameng mereka menyerang. (Bakry, 1996, hlm. 42).

Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa kelompok pemuda memiliki peran yang penting dalam Peristiwa Bandung Lautan Api. Tanpa sikap berani dari para pemuda, seperti Endang Karmas dan Mulyono yang berusia 14 tahun telah berani menaiki atap Gedung Denis ketika terjadi kerusuhan antara Sekutu, Interniran Belanda, Jepang dan merobek warna biru dalam bendera tri warna menggunakan bayonet. Selain itu juga keberanian Laswi Susilowati seorang wanita pemberani yang memenggal kepala tentara sekutu inggris Gurkha yang ditakuti karena keberingasannya dan menjatuhkan mental tentara-tentara tersebut dengan menunggangi kuda sambil menenteng tentara Gurkha dan terakhir sikap tenang dan cerdik yang ditunjukan oleh A.H Nasution yang bijaksana berhasil merangkul TRI dan Lasykar dalam perundingan dan memutuskan secara hati-hati memilih mematuhi perintah dari pemerintahan sipil atas pertimbangan prioritas keamanan sipil juga mengevaluasi pertempuran-pertempuran lain salah satunya yang terjadi di Subaya yang memakan korban jiwa.

Selain tokoh-tokoh tersebut peran-peran pemuda baik kelompok lasykar dan TRI dengan gagah berani membakar bandung atas dasar lebih baik mati dibanding dijajah kembali menunjukan harga diri yang tinggi sebagai bangsa Indonesia. Selain itu, para pemuda perjuangan, membantu mengungsikan rakyat ke luar kota, dengan segala kekuatan yang ada padanya.

 

D.    Nilai-Nilai Dalam  Bandung Lautan Api

Arti nilai menurut beberapa pakar berbeda-beda, tergantung dari sumber dan  sudut pandang penilaian. Misalnya yang disebut nilai atau values menurut Halstead dan Taylor adalah :

“principles and fundamentals by which particular actions are judged good or desireable”

Sedangkan Rokeach mendefinisikan nilai/value sebagai :

“an enduring belief that a particular mode of conduct (such as being honest, courageous, loving, obedient, etc), or state of existence (peace, equality, freedom, pleasure, happines) is personally and socially desireable. Value judgments are statements that rate things in terms of their worth, imploying or derived from more general values. (Wiriaatmadja, 2016, hlm. 3)

 

Pendidikan nilai tidak hanya tugas untuk mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan ataupun Pendidikan Agama Islam, akan tetapi semua mata pelajaran mempunyai kewajiban termasuk mata pelajaran Sejarah. Pandangan dan anggapan masyarakat umum yang melihat sejarah adalah mata pelajaran tentang masa lampau dan hanya membicarakan fakta, padahal hal tersebut hanya sebagian kecil yang terdapat dalam mata pelajaran sejarah. Pendidikan nilai adalah hal yang penting yang tersembunyi dalam mata pelajaran sejarah.

Dari pertanyaan di atas, artinya kita belajar sejarah agar kita menjadi bijaksana  sebelum terjadi peristiwa-peristiwa lagi. Bangsa yang menganut falsafah Pancasila menghargai nilai dan pentinngya sejarah, yang tercermin dalam peribahasa “belajarlah dari sejarah” dan “sejarah mengajarkan kepada kita”. (Ismaun, 2005, hlm. 219 -221). Adapun menurut Hamid Hasan (2015), nilai-nilai yang bisa diambil dalam sejarah Indonesia, terdiri (paling tidak) ada 10 nilai penting. Pertama, Kepahlawanan. Kedua, kepemimpinan. ketiga, keteladanan. Keempat, kebijakan. Kelima, persatuan. Keenam, nasionalisme. Ketujuh, patriotisme. Kedelapan, Inspiratif. Kesembilan, apreasiasi. Kesepuluh, toleransi.

Kaitannya dengan peristiwa BLA di atas, sungguh merupakan sebuah peristiwa yang sarat akan nilai-nilai dan pelajaran hidup yang baik bagi bangsa Indonesia hari ini (umumnya), dan masyarakat Bandung (secara khusus). Berdasarkan nilai-nilai dalam sejarah Indonesia sebagaimana konsepsi Hamid Hasan di atas, peristiwa BLA memiliki keseluruhan nilai sejarah di atas, yang penting bagi bangsa Indonesia hari ini.

Nilai pertama, Kepahlawanan. Peristiwa BLA sarat dengan nilai-nilai kepahlawanan oleh masyarakat Bandung di dalam mempertahankan kemerdekaan. Berapa banyak anak bangsa yang tewas dan gugur di dalam pertempuran melawan sekutu, Belanda, dan antek-anteknya, menjelang peristiwa BLA. Memang peristiwa BLA, sebagaimana Tatang Endan (2016), kenyataannya bukanlah peristiwa pertempuran yang dahsyat, namun merupakan wujud nyata dari pengorbanan para Pejuang Bersenjata, serta segenap seluruh rakyat Bandung yang tanpa pamrih ataupun kepentingan diri sendiri, demi perjuangan mencapai kemerdekaan bangsa dan negara. Bagi para Pejuang Bersenjata dan rakyat Bandung pada umumnya, saat itu mereka rela mengorbankan segala harta bendayang dimilikinya, bahkan jiwa raganya.

Nilai Kedua, kepemimpinan. Dalam peristiwa BLA masyarakat Bandung menunjukkan sikap patuh dan hormat terhadap pemerintahan Indonesia di Jakarta, yang masih seumur jagung. Betapa pun pahit dan getirnya keputusan ini, mereka tunduk dan patuh. Walau sebenarnya, menurut  Reza D. Dienaputra (2016), ultimatum untuk keluar dari kota Bandung tersebut hanya untuk TRI. Akan tetapi, kemanunggalan TRI dan rakyat, memutuskan agar mereka bersama-sama untuk mengungsi ke luar dari kota Bandung. Sikap patuh masyarakat Bandung ini, menegakkan wibawa Pemerintah Indonesia di mata Sekutu dan dunia Internasional.

Nilai Ketiga, keteladanan. Nilai keteladanan yang paling mengemuka adalah rela berkorban, baik harta maupun jiwa, demi tegaknya kemerdekaan. Sebagaimana Tatang Endang (2016), salah seorang saksi peristiwa BLA, katakan dalam Seminar Bandung Lautan API di Monumen Perjuangan Rakyat (Monpera), bahwa semangat para pejuang dan rakyat ketika itu adalah mereka tidak ingin hidup bersama di bawah langit yang sama dengan penjajah. Walaupun untuk itu mereka harus keluar kota Bandung, kampung halaman mereka.

Nilai Keempat, kebijakan. Peristiwa BLA adalah korban dari ketidakpaduan kebijakan pihak politisi dan tentara dalam sikap menghadapi Belanda yang kembali ingin menjajah Indonesia. Pihak politisi mengambil jalan diplomasi (yang tidak begitu berhasil karena selalu dilanggar pihak Belanda) dan tentara mengambil jalan perlawanan bersenjata (Jenderal Besar Sudirman memilih bergerilya daripada harus duduk satu meja dengan Belanda). Strategi bersenjata ini yang kemudian membuahkan hasil, yaitu membuka mata dan pengakuan dunia internasional terhadap perjuangan Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan dan eksistensi Republik Indonesia yang harus diakui kedaulatannya.

Nilai Kelima, persatuan. Peristiwa BLA menggambarkan persatuan dan kesatuan yang terjadi di antara seluruh elemen masyarakat masa itu. Tentara, Pemerintahan Sipil, para lasykar pejuang, dan masyarakat awam, saling bergandengan tangan. Sebagaimana digambarkan Ratnayu Sitaresmi, dkk (2013, hlm. 73-75), bahwa pada awal revolusi di Bandung telah dibentuk badan-badan perjuangan sebanyak 20 badan. Di antaranya : Persatuan Pemuda Pelajar Indonesia (P3I), Angkatan Pemuda Indonesia (API) Hizbullah, Sabilillah, Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia (BPRI), Barisan Banteng Republik Indoensia (BBRI), Barisan Berani Mati (BBM), Pemuda Indonesia Maluku (PIM), Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi (KRIS), Laskar Rakyat, Pasukan Istimewa (PI), Pasukan Garuda Putih, Pasukan Beruang Merah, Barisan Merah Putih, Polisi Istimewa, Angkatan Muda Kereta Api (AMKA), Angkatan Muda PTT (AMPTT), Angkata Muda Kota Besar Bandung, Laskar Wanita Indonesia (Laswi), dan pasukan Pangeran  Papak. Di tambah dengan Tentara Republik Indonesia (TRI) dan masyarakat awam. Mereka semua berjuang demi tegaknya kemerdekaan Republik Indonesia.

Nilai Keenam, nasionalisme. Peristiwa BLA menurut Agus Mulyana (2016), sangat kental dengan semangat nasionalisme di kalangan masyarakat. Hal ini didasari oleh keinginan agar sebagai bangsa Indonesia yang baru merdeka, tidak dijajah kembali oleh Belanda. Semangat kebangsaan sebagai bangsa yang baru merdeka, benar-benar ditunjukkan oleh seluruh elemen bangsa. Terlepas apapun unsur etnik atau sukunya, mereka semua bersatu berjuang demi mempertahankan kemerdekaan RI. Hal ini bisa dilihat dari berbagai badan perjuangan yang telah ada pada ketika itu, yang mencerminkan semangat persatuan dan kesatuan. Bahkan apabila ditilik lebih detail, bahwa lagu Halo-Halo Bandung yang terkenal itu, dalam istilah Reiza D. Dienaputra (2016) menunjukkan rasa nasional Indonesia. Hal itu bisa dilihat dari kalimat Halo, yang menunjukkan tradisi Sumatera (Batak), lalu ada istilah Beta, yang menunjukkan bahasa Ambon, dan seterusnya.

Nilai Ketujuh, patriotisme. Menurut Sitaresmi, dkk (2013, hlm. 167), mengapa penduduk sipil lebih mentaati perintah untuk melakukan pengungsian, walaupun sebenarnya perintah untuk keluar dari kota Bandung tersebut lebih ditujukan kepada TRI ? Di antara jawabannya adalah, karena adanya semangat patriotisme. Penduduk Bandung tidak mau dijajah kembali oleh Belanda. Kerelaan penduduk kota Bandung untuk mengikuti strategi perang menunjukkan kesetiaan rakyat terhadap perjuangan dan kemauan kuat untuk mempertahankan kemerdekaan RI. Kesetiaan ini menjadi, kekuatan utama dalam perjuangan kemerdekaan.

Nilai Kedelapan, Inspiratif. Peristiwa BLA banyak memberikan inspirasi tentang apa arti perjuangan, pengorbanan, dan kesetiakawanan. Tentunya kesemuanya ini merupakan pelajaran berharga bagi generasi ini, dalam mengisi kemerdekaan yang sudah dipertahankan dengan seganap harta, raga dan jiwa. Bagi generasi hari yang ini yang tidak merasakan segala lika-liku perjuangan tersebut, seyogyanya jangan pernah melupakan, apalagi mengkhianati perjuangan para pendahulu. Jadikan perjuangan mereka tersebut sebagai spirit dalam mengisi kemerdekaan ini, untuk Indonesia yang lebih baik.

Nilai Kesembilan, apreasiasi. Peristiwa BLA menunjukkan semangat apresiatif atau penghargaan oleh rakyat kepada pemerintahnya. Peristiwa BLA juga menunjukkan semangat apresiatif atau penghargaan oleh rakyat kepada militernya. Selain itu sikap TRI, Lasykar yang lebih mematuhi pemerintahan sipil merupakan wujud aspirasi militer di bandung terhadap eksistensi pemerintahan Indonesia. Sehingga dengan semangat apresiatif itu mereka rela berjuang bersama untuk mempertahankan kemerdekaan. Walaupun untuk itu mereka harus meninggalkan segala kekayaannya berupa tanah, rumah dan seisinya bahkan ada yang membakar rumahnya sendiri.

Nilai Kesepuluh, toleransi. Peristiwa BLA banyak mengandung semangat toleransi, kebersamaan, dan kesetiakawanan antar anak bangsa ketika itu, baik sipil maupun militer. Sebagaimana Sitaresmi, dkk (2013, hlm. 178-179),

Penduduk kota Bandung yang rela mengungsi ke luar kota, akhirnya hidup seadanya.  Mereka tinggal di rumah-rumah penduduk yang bersedia berbagi tempat dengan mereka. Meskipun penduduk desa hidup dalam kekurangan, mereka memberikan apa yang dapat mereka berikan”

 

Masyarakat Bandung Selatan menerima kehadiran pengungsi dan anggota pasukan dengan penuh kerelaan. Keluarga Amongpradja, misalnya, sebuah keluarga besar yang sangat berpengaruh di Ciparay dan Majalaya, memperlihatkan keteladanan yang luar biasa. Tanpa meminta imbalan apapun, keluarga besar ini menyediakan makanan, baik untuk pengungsi maupun pasukan. (Mashudi, 1998. Hlm. 82)

Harus diingat dan dicatat, bahwa peristiwa BLA bukan peristiwa kekalahan para laskar pejuang Bandung dan Tentara Republik Indonesia (TRI) saat itu. BLA adalah peristiwa heroik masyarakat Bandung yang cinta dan bersedia berkorban apapun untuk kemerdekaan. BLA adalah salah satu bukti bahwa pemuda dan pemudi di Bandung tidak bermental peuyem (tape). Bandung tetap sama membara dan kerasnya dengan pemuda dan pemudia Indonesia lainnya. Upaya mengungsi dan politik “Bumi Hangus” bukanlah sebuah sikap pengecut dari para pejuang dan TRI. Akan tetapi ia merupakan sebuah sikap yang harus diambil dengan segala perhitungan berdasarakan strategi perang. Sebab, dalam sejarah bangsa-bangsa lainpun di dunia, hal yang sama juga dilakukan. Walaupun dengan  tujuan dan  maksud yang berbeda.

Sebagaimana pengakuan A.H. Nasution (dalam Sitaresmi, dkk, 2013. 135), yang ketika itu sebagai Komandan Divisi III :

“ ... kondisi realitas pasukan bersenjata RI, baik TRI maupun laskar, tidak memungkinkan untuk memenangkan perang. Hal ini jika dilihat dari senjata yang dimiliki TRI. Saat itu senjata TRI di Bandung hanya sekitar 100 pucuk senjata dari 10.000 pasukan bersenjata RI. Pejuang RI lebih banyak yang menggunakan senjata tajam dan bambu runcing daripada senjata api. Sementara itu, pasukan Inggris berkekuatan 12.000 tentara, ditambah pasukan Belanda yang telah bersiap-siap dengan segala perlengkapan perang modernnya.

Seandainya terjadi perlawnana habis-habisan dari para pejuang, Bandung akan tetap diduduki. Meskipun semangat para pejuang sangat tinggi, secara objektif apabila terjadi pertempuran  tidak akan menguntungkan perjuangan RI. Dari pihak pejuang, dipastikan akan banyak jatuh korban. Hal ini belum dihitung penduduk sipil yang terkena dampak pertempuran.

Faktor lainnya adalah kondisi geografis yang tidak menguntungkan. Ruang gerak pejuang di dalam kota Bandung yang tergolong sempit, sangat menyulitkan untuk melakukan pertempuran besar-besaran, tanpa mengorbankan rakyat yang tidak bersenjata. Ini berkaitan dengan kelanjutan perjuangan mempertahankan kemerdekaan, khususnya di Bandung dan Jawa Barat.

Dengan beberapa pertimbangan tersebut, maka pimpinan perjuangan di Bandung mengambil tindakan yang dianggap terbaik untuk memenangkan perang secara keseluruhan, bukan satu pertempuran saja. Kondisi emosional saat itu, tentau harus diimbangi dengan pemikiran yang rasional, tanpa menghilangkan hakikat semangat antipenjajahan”.

 

Hal ini ditegaskan oleh Saleh (2000, hlm. 262), bahwa kekuatan militer yang harus dihadapai oleh TRI dan Laskar Pejuang terdiri dari tiga kelompok tentara asing yang berkualifikasi internasional dan sudah mempunyai pengalaman tempur dalam Perang Dunia Kedua, yaitu tentara Inggris (1 divisi plus), tentara Belanda (3 Brigade plus), dan tentara Jepang (1 Brigade), dengan jumlah kekuatan pernah mencapai 2 divisi lengkap dengan unsur bantuan udara, artileri dan kavaleri.

Apalagi sesuai dengan arahan dari Perdana Menteri, Sutan Syahrir, yang lebih mengharapkan agar TRI mengalah dan segera mundur, dengan sebuah argumentasi bahwa yang akan kita hadapi hanyalah Inggris, yang bukan musuh dalam pengertian yang sebenarnya. Bagi Syahrir, musuh kita yang sebenarnya adalah NICA (Belanda). Merekalah yang seharusnya dihadapi. Untuk itu, TRI sebagai alat keamanan negara harus tetap utuh, sebagai persiapan untuk menghadapi NICA. Sebagaimana jawaban Syahrir kepada Nasution dalam pertemuan di Jakarta (23 Maret 1946) :

“Kerjakan saja ! TRI kita adalah modal yang harus dipelihara, jangan dahulu hancur. Harus kita bangun untuk kelak melawan NICA ... “ (Djajusman, 1986, hlm : 80)

 

Sungguhpun demikian, dari peristiwa BLA dapat kita lihat, betapa masyarakat Bandung menunjukkan kepatuhan dan kesetiaannya kepada pemerintah pusat, walaupun, kepatuhan dan kesetiaan yang diberikan harus berujung pada pengorbanan yang tidak sedikit. Dengan ini wibawa pemerintah tetap diakui, baik oleh daerah-daerah lain, maupun oleh dunia Internasional. Sebagaimana A.H. Nasution (dalam Sitaresmi, dkk, 2013, hlm. 135) tegaskan :

“Dari sudut politis, pemerintahan RI mendapat kemenangan secara de facto bahwa pemerintahannya lebih diakui oleh rakyatnya. Hal itu dibuktikan dengan ditaatainya perintah mundur oleh para pejuang RI dan bahkan diikuti oleh penduduk sipil”

 

Terdapat beberapa dampak yang timbul dari peristiwa BLA terhadap perjuangan mempertahankan kemerdekaan RI. Dampak ini tidak hanya terhadap kota Bandung, tetapi juga terhadap politik diplomasi di tingkat nasoinal. Ketaatan pada pemerintah sipil RI (pusat) merupakan salah satu nilai tersendiri yang diberikan kepada tentara Inggris (khususnya), bahwa TRI dan pemerintah sipil di Bandung bersatu pada memperjuangkan kemerdekaan. Hal ini juga menunjukkan wawasan TRI di kota Bandung terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara, bahwa dalam satu negara harus taat pada pemerintahan yang sah, bukan pada kelompok-kelompok tertentu.

Kebersamaan dalam perjuangan di kota Bandung, tidak hanya terjadi antara pemimpin politik dan militer, tetapi juga antara TRI dan rakyat sipil. Sebagian besar rakyat sipil turut mengungsi ke luar kota. Padahal, mereka dianjurkan oleh pihak Inggris untuk tetap tinggal di temapt dan melakukan aktivitas seperti biasanya. Akan tetapi, rakyat tetap pergi sebagai bentuk protes bahwa mereka tidak bersedia dijajah lagi. Proses pengungsian rakyat ke luar kkota merupakan dukungan moral yang besar terhadap perjuagan mempertahankan kemerdekaan RI.

Hal ini digunakan oleh pimpinan pusat sebagai kekuatan RI dalam tawar menawar politik antara pemerintah RI yang diwakili PM Sutan Sjahrir dengan pimpinan Sekutu-Inggris di Jakarta. PM Sjahrir menggunakan  peristiwa Bandung Lautan Api untuk tawar menawar dengan Sekutu-Inggris dalam usaha memperoleh konsesi politik, yaitu pengakuan RI secara de facto. Sejak jalannya perundingan antara RI dan Sekutu-Inggris, termasuk ultimatum terhadap pasukan RI di Bandung, dengan pengakuan RI secara de facto. Dengan pertimbangan apabila RI diakui secara de facto, proses perjuangan RI dalam mempertahankan kemerdekaan dari gangguan Belanda akan melibatkan dunia internasional, sehingga Belanda  mendapat tekanan dari dunia internasional agar tidak melanjutnya niatnya menjajah Indonesia kembali.

Adanya peristiwa BLA menyebabkan Sekutu-Inggris “memaksa” Belanda agar bersedia melanjutkan perundingan dengan RI. Padahal, sejak awal Belanda bersikeras menolak perundingan dengan RI yang dianggap sebagai negara bentukan Jepang. Namun, setelah BLA, Inggris berhasil memaksa Belanda supaya berunding dengan RI dan menghasilkan Perjanjian Linggarjati, pada 10 Nopember 1946 di Linggarjati, suatu daerah di sebelah selatan Cirebon, Jawa Barat. Pengakuan ini merupakan sebuah keuntungan, karena setelah proses perundingan mengenai sengketa RI dengan Belanda selalu melibatkan dunia Internasional, dalam hal ini Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Secara internal, peristiwa BLA memiliki dampak positif di bidang militer. Mundurnya pasukan TRI ke selatan Bandung menyebabkan TRI selamat dari kehancuran sehingga ketika pasukan Sekutu-Inggris meninggalkan Indonesia, pasukan RI dari kota Bandung, yang kemudian menjadi Divisi Siliwangi, dapat melanjutkan perjuangannya melawan Belanda. Begitu juga bagi penduduk kota Bandung yang tidak menjadi korban jiwa. Jika terjadi pertempuran menghadapi tentara Inggris, yang diperkuat dengan persenjataan yang lengkap, tidak mustahil akan menimbulkan korban yang besar di pihak rakyat.

Di samping beberapa dampak tersebut, peristiwa BLA juga berdampak negatif. Dengan mematuhi ultimatum Sekutu, timbul konflik di kalangan pejuang RI. Sebagian menganggap bahwa pemerintah RI akan menyerahkan kedaulatan ke pihak musuh. Meskipun konflik tersebut tidak begitu besar, namun setidaknya menimbulkan kesan, bahwa pasukan RI sudah terpecah. Keputusan pemerintah RI tersebut juga mendatangkan kecaman dari kelompok oposisi karena pengakuan RI secara de facto harus dibayar dengan mahal, yaitu dengan menyempitnya wilayah kedaulatan RI. Akibat penyempitan wilayah ini, Belanda dapat mengonsolidasikan pasukannya untuk menyerang pasukan RI, seperti Agresi Milter Belanda ke-1 pada 21 Juli 1947 dan Agresi ke-2 pada 19 Desember 1948. Dari kedua Agresi Militer Belanda tersebut, posisi RI terus dijepit sehingga pasukan RI di Jawa Barat terus terdesak ke luar kota. Bahkan, hasil Perjanjian Renvile memaksa pasukan Divisi Siliwangi untuk hijrah ke Yogyakarta pada 1948 dan mengakibatkan lemahnya kekuatan militer RI di Jawa Barat.

Dampak lain dari pengosongan kota Bandung adalah terjadinya pengambilalihan tanah dan rumah penduduk yang ditinggalkan ketika mengungsi oleh pihak lain, khususnya oleh antek-antek Cina. Kebanyakan, para “perampas” tersebut dari kalangan etnik Cina. Akibatnya, sering terjadi konflik antara pengungsi yang kembali ke kota Bandung dan “perampas” tanah rakyat tersebut. Dampak selanjutnya, menimbulkan konflik sosial yang berkepanjangan, yaitu berupa sikap anti-Cina. (Sitaresmi, dkk, 2013, hlm. 235-243).

Melalui BLA dan peristiwa-peristiwa perjuangan lainnya, menunjukkan kepada dunia internasional, bahwa rakyat (khususnya di Jawa Barat) di bawah pemerintahan Republik Indonesia, menolak tunduk dan tidak mau lagi dijajah.

 

 

 

 

 

 


 

BAB III

KESIMPULAN

 

A.    Kesimpulan

 Peristiwa Bandung Lautan Api merupakan sebuah peristiwa yang sebenarnya bukan peristiwa tunggal, melainkan peristiwa ini terjadi sebagai peristiwa puncak dari beberapa peristiwa-peristiwa kecil yang terjadi di Kota Bandung. Peristiwa ini muncul diawali oleh kedatangan tentara Sekutu Inggris yang di Boncengi oleh NICA Belanda dan Tentara Gurkha yang bertujuan untuk mengadili tentara Jepang, membebaskan tawanan-tawanan interniran Belanda yang di tahan oleh Tentara Jepang.

Karena datangnya tentara Sekutu Inggris beserta NICA Belanda ke Kota Bandung ini menimbulkan kecurigaan oleh para TKR dan Rakyat, sehingga mulai adanya reaksi perlawanan dari TKR dan Rakyat Pribumi Kota Bandung yang pada akhirnya terjadinya letupan-letupan perang tidak terhindarkan. Seperti contoh peristiwanya di Cicadas, Viaduct, Gedung PTT, Fokkersweg (Jalan Garuda).

Dari beberapa peristiwa perlawanan tersebut, Sekutu dan NICA mulai terdesak sehingga mengeluarkan ultimatum untuk mengosongkan wilayah Bandung Selatan, adapun juga perintah dari Pusat yaitu kalangan sipil oleh Perdana Mentri Sutan Syahrir untuk mundur dan perintah dari Militer oleh Jendral Sudirman agar mempertahankan wilayah dari sekutu sampai titik darah penghabisan. Sehingga terjadi sebuah kebingungan atas kedua komando tersebut, maka A.H. Nasution berdasarkan hasil rapat dengan pemerintah Kota Bandung dan beserta lasykar pejuang memutuskan untuk mundur sejauh 11 Km sambil membakar rumah-rumah yang menjadikan peristiwa tersebut diberi nama peristiwa Bandung Lautan Api.

Peristiwa BLA memberikan dampak positif dan negatif bagi terhadap perjuangan mempertahankan kemerdekaan RI. Dampak ini tidak hanya terhadap kota Bandung, tetapi juga terhadap politik diplomasi di tingkat nasoinal. Dampak positifnya adalah Persatuan antara TRI dan Pemerintah Sipil, Persatuan (kemanunggalan) TRI dan Rakyat, Pengakuan secara de facto akan eksistensi RI, Peristiwa BLA memaksa Belanda untuk duduk dalam perundingan (Linggarjati), Mundurnya pasukan TRI ke selatan Bandung menyebabkan TRI selamat dari kehancuran. Sementara dampak negatifnya, dengan mematuhi ultimatum Sekutu, timbul konflik di kalangan pejuang RI. Sebagian menganggap bahwa pemerintah RI akan menyerahkan kedaulatan ke pihak musuh. Meskipun konflik tersebut tidak begitu besar, namun setidaknya menimbulkan kesan, bahwa pasukan RI sudah terpecah. Dampak negatif selanjutnya, terjadinya pengambilalihan tanah dan rumah penduduk yang ditinggalkan ketika mengungsi oleh pihak lain, khususnya oleh antek-antek Cina. Kebanyakan, para “perampas” tersebut dari kalangan etnik Cina.

 

 

 


 

DAFTAR BACAAN

 

SUMBER BUKU :

 

Abdullah, Taufik (ed). (2012). Indonesia Dalam Arus Sejarah. Jakarta : PT Ichtiar Baru Van Hoeve.

Amar, Djen. (1963). Bandung Lautan Api. Bandung  Dhiwantara.

Bakry, Samaoen. (1996). Setahoen Peristiwa Bandung. Bandung : Pengurus Harian BPC Siliwangi Pusat.

Badan Pengembangan Informasi Daerah Kabupaten Bandung. (2005). Sejarah Kabupaten Bandung (Konsentrasi Kajian Kabupaten Bandung Dalam Perspektif Sejarah). Bandung : Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Padjadjaran.

Dinas Informasi dan Komunikasi Kota Bandung. (2002). Selayang Pandang Kota Bandung. Bandung : Dinas Informasi dan Komunikasi Kota Bandung.

Djajusman.(1986). Bandung Lautan Api : Suatu Episode dari Perjuangan Kemerdekaan. Bandung : Angkasa.

Ismaun. (2005). Pengantar Belajar Sejarah Sebagai Ilmu dan Wahana Pendidikan. Bandung : Historia Utama Press.

Kardowirio, Sudarsono Katam. (2006). Bandung : Kilas Peristiwa di Mata Filatelis Sebuah Wisata Sejarah. Bandung : PT Kiblat Buku Utama.

Lubis, Nina H. (1956). Sejarah Tatar Sunda. Bandung : Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan Penelitian Lembaga Penelitian Universitas Padjadjaran & Masyarakat Sejarawan Indonesia Cabang Jawa Barat.

Mashudi. (1998). Memandu Sepanjang Masa. Bandung : Yayasan Universitas Siliwangi.

Nasution, A.H. (1977). Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia Jilid 2. Bandung : Penerbit Angkasa.

Nasution, A.H. (1982). Memenuhi Panggilan Tugas Jilid I : Kenangan Masa Muda. Jakarta : Gunung Agung.

Pemerintah Kotamadya DT II Bandung. (1993). Bandung Selayang Pandang. Bandung : Pemerintah Kotamadya DT II Bandung.

Pemerintah Kotamadya DT II Bandung. (tt). Mari Kita Wujudkan Bandung Bersih Hijau Berbunga. Bandung : Pemerintah Kotamadya DT II Bandung.

Poesponegoro, Marwati Djoned, Notosusanto, Nugroho. (1984). Sejarah Nasional Indonesia VI. Jakarta : PN Balai Pustaka.

Ricklefs, M.C. (2010). Sejarah Indonesia Modern (1200 – 2008). Jakarta : PT. Serambi Ilmu Semesta.

Rusady W, R.J. (2010). Tiada Berita dari Bandung Timur. Jakarta : PT Luxima Metro Media & USR Associates.

Said, Enton Supriyatna, Christianto, Efrie. (2015). Merah Putih Di Gedung Denis. Bandung : Tatali News Cooperation.

Saleh, R.H.A. (2000). “... Mari Bung, Rebut Kembali!”. Jakarta : Pustaka Sinar Harapan.

Sekretariat Negara Republik Indonesia. (1985). 30 Tahun Indonesia Merdeka. Jakarta : PT Citra Lamtoro Gung Persada.

Sitaresmi, Ratnayu, dkk. (2013). “Saya Pilih Mengungsi” Pengorbanan Rakyat Bandung untuk Kedaulatan. Bandung : Penerbit Bunaya.

Smail, John R.W. (1964). Bandung in The Early Revolution, 1945-1946. Ithaca, NY : Cornell Modern Indonesia Project. Dialihbahasan oleh Muhammad Yesa Aravena. (2011). Bandung Awal Revolusi : 1945-1946. Jakarta : Ka. Bandung

Soekardi, R.H. Eddie. (2005). Hari Juang Siliwangi : Sejarah, Makna dan Manfaatnya untuk Masyarakat Jawa Barat dan Banten. Bandung : CV Geger Sunten.

Sumantri, R.H. Lily. (2002). Peristiwa “Bandung Lautan Api” Tanggal 24 Maret 1946. Tidak diterbitkan.

Tim Penulis. (1994). Sejarah Daerah Jawa Barat. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional.

Tim Penyusun. (2011). Ensiklopedi Jawa Barat Jilid I. Jakarta : PT Lentera Abadi.

Wiraatmajada, Rochiati. (2016). Bahan Kuliah Pendidikan Sejarah dalam Pembelajaran Sejarah. Bandung : SPS Prodi Sejarah Universitas Pendidikan Indonesia (Tidak Diterbitkan).

 

PRESENTASI

 

Dienaputra, Reiza D. (2016). Seminar Bandung Lautan Api. Presentasi di Monumen Perjuangan Rakyat. Bandung,  24 Maret 2016.

Endan, Tatang. (2016). Senandung Pilu Mengenang Peristiwa Bandung Lautan Api Yang Ke-71 Tahun. Presentasi di Monumen Perjuangan Rakyat. Bandung,  24 Maret 2016.

Hasan, Said Hamid. (2015). Kurikulum Pendidikan Sejarah. Presentasi Direktorat Sejarah dan Nilai Budaya. Bandung,  6 Agustus 2015.

Mulyana, Agus. (2016). Seminar Bandung Lautan Api. Presentasi di Monumen Perjuangan Rakyat. Bandung,  24 Maret 2016.

 

WAWANCARA

Wawancara dengan Kolonel Purn. R.H. Lily  Sumantri pada tanggal 24 Maret 2016 di rumah kediamannya Jl. Progo No. 21 Bandung.

 

INTERNET

http://reval004.blogspot.co.id/2013/10/definisi-pemuda.html. diunduh pada tanggal 27 Maret 2016.

 

 


 

Lampiran :

 

DAFTAR KORBAN

Pada 5 Desember 1945

 

NO

KORBAN

JUMLAH

KET

1

Rumah dan gedung

311 bangunan

 

2

Jiwa tidak ketahuan mayatnya

119 orang

 

3

Luka berat

82 orang

 

4

Luka ringan

159 orang

 

 

DAFTAR KORBAN

Bandung Utara

 

NO

KORBAN

JUMLAH

KET

1

Mati

21 orang

 

2

Luka berat

11 orang

 

3

Luka ringan

46 orang

 

Jumlah

78 orang

 

 

DAFTAR KORBAN

Bandung Selatan

 

NO

KORBAN

JUMLAH

KET

1

Mati

98 orang

 

2

Luka berat

71 orang

 

3

Luka ringan

113 orang

 

Jumlah

282 orang

 

 

Jumlah korban, termasuk anak-anak, perempuan dan orang-orang tua = 380 orang

DAFTAR RUMAH/GEDUNG YANG  MENJADI KORBAN

Di Bandung  Selatan

 

NO

KORBAN

JUMLAH

KET

1

Yang Hancur lebur sama sekali

162 buah

 

2

Yang Hancur sebagiannya

325 buah

 

Jumlah

487 buah

 

Semua itu belum termasuk jumlah yang dirampok oleh  Belanda-Gurkha yang berupa perabot rumah tangga dan sebagainya, yang oleh beratus-beratus keluarga ditinggalkannya.

 

Sumber : Bakri, 1996, hlm. 20-21


Lampiran :

 

 

DAFTAR KORBAN PERTEMPURAN DI SUKABUMI

10 Desember 1945

 

NO

KORBAN

JUMLAH

KET

1

Mati

17 orang

Indonesia

2

Mati

11 orang

Tionghoa

3

Luka Berat

4 orang

Indonesia

4

Luka Berat

8 orang

Tionghoa

5

Luka Ringan

14 orang

Indonesia

6

Luka ringan

41 orang

Tionghoa

Jumlah

95 orang

 

 

§  Banyaknya jumlah rumah yang rusak 200 buah

§  Banyaknya orang  yang tidak berumah 612 bangsa Indonesia, 200 bangsa Tionghoa

§  Taksiran kerugian ada kira-kira 10.000.000 rupiah

§  Jumlah bom yang dilemparkan 34 buah, di antaranya ada yang 250 kg, dan 11 buah yang tidak meletus.

§  Lamanya pengeboman 1,5 jam, yaitu dari jam 11.20 sampai 12.50 jam.

§  Mayat yang malang baru dapat diangkat dan dimakamkan pada tanggal 9 sampai 10 Desember atas usaha Pesindo di Cicurug.

 

Sumber : Bakri, 1996, hlm. 27

 


 

 

PERAN PEMUDA-PEMUDI DALAM PERISTWA BANDUNG LAUTAN API

 

 

 

 

Makalah Mata Kuliah :

Pendidikan Nilai dalam Pembelajaran Sejarah

 

Dengan Dosen Pengampu :

Prof. Dr. Hj. Rochiati Wiriaatmadja, M.A

 

 

 

 

 

 

Oleh :

 

 

ADI APRIYADI (1502354)

M. ULLY PURWASATRIA (1502362)

FAJAR DESCA NUGRAHA (1502254)

MOH. ZULHAM ALSYAHDIAN (1503376)

 

 

 

 

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH

SEKOLAH PASCA SARJANA (SPS)

UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA (UPI)

BANDUNG

2016

Lemahnya kekuatan militer di Jawa Barat, menyebabkan Belanda leluasa membentuk negara boneka, yaitu dengan membentuk negara Pasundan pada 1948. Pembentukan negara Pasundan tersebut melibatkan sebagian bangsawan Sunda yang berhasil dibujuk Belanda. Akibat lain dari lemahnya kekuatan militer di Jawa Barat serta perpecahan di tubuh Divisi Siliwangi yang semakin memuncak, yaitu dengan munculnya gerakan DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia). Mereka menolak perintah untuk  hijrah ke luar Jawa Barat.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PANDEMI DAN POTRET DUNIA PENDIDIKAN

  PANDEMI DAN POTRET DUNIA PENDIDIKAN Oleh : Moh Zulham Alsyahdian, S.Hum, M.Pd   Pandemi Coronavirus Diseaese 2019 (selanjutnya Co...