Rabu, 02 Desember 2020

ARTIKEL REFLEKSI AKSI NYATA 1.2

 

ARTIKEL REFLEKSI AKSI NYATA 1.2

 

Oleh :

MOH ZULHAM ALSYAHDIAN, S.Hum, M.Pd

CGP KABUPATEN INDRAGIRI HILIR

 

A.     Latar Belakang

Dalam kurikulum 2013, secara jelas dinyatakan bahwa kedudukan peserta didik adalah sebagai pusat atau subjek pendidikan, dalam artian orientasi pendidikan berpusat pada murid (student center). Hal ini sangat berbeda dengan kurikulum-kurikulum sebelumnya, di mana peserta didik hanyalah objek pendidikan. Kondisi ini relevan tatkala dikorelasikan dengan salah satu ajaran Ki Hajar Dewantara (baca : KHD), yaitu “kita berhamba pada sang anak”. Tidak salah kalau dikatakan, bahwa hakikat pendidikan itu sebenarnya adalah “Dari, Oleh, dan Untuk Peserta didik”.

Untuk itu, sebagai pendidik seyogyanya bisa membuka diri terhadap peserta didik. Karena satu hal yang harus disadari oleh semua pendidik, sertifikat mengajar atau dokumen yang mengizinkan anda mengajar atau melatih, hanya berarti bahwa anda memiliki wewenang untuk mengajar. Hal ini tidak berarti bahwa anda mempunyai hak mengajar. Mengajar adalah hak yang harus diraih, dan diberikan oleh siswa.[1]

Salah satu hal yang selama ini banyak dilupakan oleh para pendidik, pernahkah mereka bertanya kepada para peserta didik, apa respon, pandangan, dan penilaian mereka terhadap guru yang berperan sebagai pendidik dan terhadap proses Kegiatan Belajar Mengajar (baca : KBM) yang akan/sedang/ dan telah dilaksanakan. Selanjutnya apa harapan-harapan mereka terhadap sang guru dan terhadap proses KBM.

Hal ini mendesak dilakukan, agar proses KBM yang akan dilaksanakan menjadikan sebuah proses KBM yang benar-benar mengasyikkan dan bermakna bagi peserta didik. Tidak sekedar untuk memenuhi tuntutan kurikulum.  Tatkala proses KBM menjadi sebuah aktivitas yang asyik dan bermakna bagi peserta didik, maka yakinlah tidak akan ada hal –hal negatif yang terjadi atau menghalangi proses KBM. Karena peserta didik melakukan dan mengikuti seluruh proses KBM dengan penuh keceriaan, kegembiraan, dan antusiasme yang tinggi.

Tidak akan lagi kita mendengar peserta didik yang melakukan berbagai penyimpangan-penyimpangan dalam proses KBM, semisal ribut, berbicara, tidur, bolos, pura-pura sakit, bahkan alfa. Karena mereka menjadikan proses KBM sebagai sebuah kebutuhan, tidak sekedar memenuhi kewajiban. KBM sebagai sarana aktualisasi diri peserta didik.

Proses bertanya kepada para peserta didik tentang  pandangan dan penilaian mereka terhadap guru dan KBM, atau yang kita namakan asesmen diagnosis non-kognitif ini, seyogyanya menjadi agenda berkala yang secara rutin dilakukan oleh para pendidik, untuk menjaring berbagai informasi terkait guru dan KBM, sehingga dengan ini menjadikan proses KBM yang akan dilaksanakan, menjadi aktivitas yang mengasyikkan dan menyenangkan.

 

B.    Deskripsi Aksi Nyata

Membuat instrumen asesmen diagnosis non-kognitif kepada peserta didik, terkait pandangan dan penilaian peserta didik terhadap pendidik dan aktivitas KBM. Hal ini penting dilakukan, agar seorang pendidik mendapatkan gambaran yang lebih komplet tentang bagaimana diri mereka, dan bagaimana aktivitas KBM yang mereka lakukan. Dengan ini menjadi bahan refleksi dan evaluasi bagi pendidik, untuk menjadikan proses KBM mereka menjadi aktivitas yang mengasyikkan dan bermakna bagi peserta didik.

 

C.    Hasil dari Aksi Nyata yang dilakukan

Pendidik mendapatkan gambaran tentang citra diri sang pendidik di mata peserta didik, sekaligus mendapatkan gambaran tentang bagaimana aktivitas KBM yang dilaksanakan, semisal kelemahan-kelemahan, serta harapan-harapan terkait pendidik dan aktivitas KBM.

 

D.    Pembelajaran yang Didapat Dari Pelaksanaan (Kegagalan Maupun Keberhasilan)

Terlepas dari berbagai kendala yang dihadapi dalam proses asesmen diagnosis non-kognitif  kepada peserta didik, banyak hal positif yang didapatkan oleh pendidik. Utamanya terkait pandangan, respon, dan penilaian peserta didik terhadap sang pendidik (guru) serta aktivitas KBM yang akan/sedang/sudah dilaksanakan. Karena dari jawaban-jawaban yang diberikan, pendidik tahu bagaimana sebenarnya kondisi psikologis peserta didik di dalam mengikuti KBM, seterusnya apa yang menjadi harapan dan keinginannya terhadap KBM. Hal ini penting sebagai bahan refleksi dan evaluasi bagi pendidik untuk mewujudkan proses KBM yang mengasyikkan dan bermakna.

Tapi di sisi lain terdapat kekurangan yang lebih bersifat teknis. Di mana para peserta didik tidak semuanya mau secara jujur dan terus terang untuk menjawab instrumen yang diberikan. Hal ini tentunya membuat asesmen yang dilaksanakan belum bisa terlaksana secara optimal, walaupun apa yang menjadi jawaban-jawaban tersebut, tetap memiliki nilai penting yang tidak bisa dikesampingkan. Untuk ke depan, seyogyanya harus lebih banyak lagi dari peserta didik yang mau secara jujur berpartisipasi dalam pengisian instrumen penilaian tersebut.

 


 

E.    Dokumentasi proses dan hasil pelaksanaan berupa foto-foto atau video-video singkat berikut caption/narasi singkatnya.

Foto-Foto Pelaksanaan Asesmen Diagnosis Non-Kognitif

 

 

 

 

 

 


 

 


 

HASIL RUBRIK PENILAIAN

 

Kelas  : IX. 3

 

NO

NAMA

Saya pernah berbohong kepada Bapak/Ibu guru

Saya  pernah curang/tidak jujur dalam

mengerjakan tugas dari Bapak/Ibu guru

Saya pernah mengejek Bapak/Ibu guru

 tanpa sepengetahuan mereka

Saya pernah tidak suka/membenci

Bapak/Ibu guru

Saya pernah tidak suka/membenci

pelajaran di sekolah

Saya pernah tertidur dalam mengikuti

pembelajaran di kelas

Saya pernah tidak mengerjakan tugas

dari Bapak/Ibu Guru

Saya suka atau berharap kalau Bapak/Ibu guru

tidak mengajar di kelas sesering mungkin

Saya selalu semangat dalam mengikuti pembelajaran Bapak/Ibu Guru di kelas

Setiap Bapak/Ibu guru mengucapkan salam di kelas, saya selalu menjawab salam mereka dengan santun

KET

 

 

TIDAK

TIDAK

TIDAK

TIDAK

TIDAK

TIDAK

TIDAK

TIDAK

YA

YA

 

1

ABEL JURAIDAH

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2

AISYAH

tidak

tidak

tidak

tidak

ya

tidak

ya

tidak

ya

ya

80

3

ANANDA KURNIAWAN

ya

ya

ya

ya

ya

ya

ya

ya

ya

ya

20

4

ARINI GUSMAWATI

tidak

tidak

tidak

tidak

tidak

tidak

tidak

tidak

ya

ya

100

5

ASTRI SEPTIANI

tidak

tidak

tidak

tidak

tidak

ya

ya

tidak

ya

ya

60

6

ATIKAH

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

7

DELA TIKA

ya

tidak

tidak

tidak

tidak

tidak

ya

tidak

tidak

tidak

60

8

DIKI NOVERIZAL

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

9

DINI ANDRIANI

tidak

tidak

tidak

tidak

tidak

tidak

tidak

tidak

ya

ya

100

10

ERPAN

ya

ya

ya

tidak

tidak

tidak

ya

ya

ya

ya

40

11

FAUZAN

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

12

HANDRIAN

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

13

HENDRA DAVIDMAN

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

14

HIKMA LIYANTY

ya

tidak

ya

ya

ya

tidak

tidak

tidak

ya

ya

100

15

KHARISMA YOGI NOVIANA

ya

ya

tidak

ya

ya

ya

ya

tidak

ya

ya

40

16

M. AMIN

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

17

M. RAHMAD SAPUTRA

ya

ya

ya

tidak

tidak

tidak

ya

ya

ya

ya

40

18

MAGDALENA PUTRI

ya

tidak

tidak

tidak

tidak

ya

ya

tidak

tidak

tidak

40

19

NABILA

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

20

NIKOLAS FAJAR .S

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

21

NURANNISA

ya

ya

tidak

tidak

ya

tidak

ya

tidak

ya

ya

60

22

R. FENI FITRIANA

ya

ya

ya

tidak

ya

tidak

ya

tidak

ya

ya

60

23

RIO ANGGARA

ya

ya

ya

ya

ya

tidak

ya

ya

ya

ya

40

24

RISKI DWINATA

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

25

SATRIADI NUTAMA

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

26

SATRIO ARUNGGA PURANA

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

27

SRI WULAN SYURMA

ya

ya

tidak

tidak

ya

tidak

ya

tidak

ya

ya

60

28

ZAKI FIRMANSYAH

tidak

ya

tidak

tidak

tidak

tidak

ya

tidak

ya

ya

60

 

 

 



[1] Bobbi DePorter, Mark Reardon, dan Sarah Singer-Nourie, Quantum Teaching : Orchestrating Student Succes. Bandung : Kaifa, 2004, hlm. 6

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PANDEMI DAN POTRET DUNIA PENDIDIKAN

  PANDEMI DAN POTRET DUNIA PENDIDIKAN Oleh : Moh Zulham Alsyahdian, S.Hum, M.Pd   Pandemi Coronavirus Diseaese 2019 (selanjutnya Co...