Rabu, 02 Desember 2020

Artikel Refleksi Aksi Nyata 1.1

 

ARTIKEL REFLEKSI AKSI NYATA 1.1

 

Oleh :

MOH ZULHAM ALSYAHDIAN, S.Hum, M.Pd

CGP KABUPATEN INDRAGIRI HILIR

 

 

A.     Latar Belakang 

Ada dua hal yang melatarbelakangi aksi nyata yang Calon Guru Penggerak (selanjutnya CGP) lakukan. Pertama, kegiatan Belajar Mengajar (KBM) yang cenderung monoton, pasif, tidak variatif, dan membosankan. Apalagi di masa pandemi Covid-19 ini, di mana kegiatan belajar mengajar (KBM) dilakukan secara Jarak Jauh (PJJ) atau Dalam Jaringan (Daring), semakin menambah daftar ketidaktarikan para peserta didik terhadap kegiatan KBM yang dilakukan. Hal ini diperparah oleh minat baca (literasi) peserta didik yang sangat rendah. Sehingga sempurnalah ketidaknyamanan dan kebosanan dengan kegiatan KBM yang berlangsung.

Pada saat ini saja, ketika proses KBM sudah berjalan kurang lebh 3 bulan, temuan yang CGP dapatkan, betapa tingkat partisipasi peserta didik dalam mengikuti pembelajaran rendah sekali (kurang dari 50 %), selanjutnya partisipasi dalam pengerjaan tugas sangat minimal, bahkan untuk kegiatan Penilaian Tengah Semester (PTS) juga masih rendah.

Tentunya realitas ini menjadi keprihatinan sekaligus pemicu dan pemacu bagi CGP untuk memberdayakan kegiatan KBM di kelas. Karena jikalau kondisi ini dibiarkan, akibat selanjutnya hasil pembelajaran  menjadi sangat tidak maksimal, dan untuk jangka panjang minat peserta didik terhadap pembelajaran menjadi semakin rendah. Lebih jauh lagi, banyak dari para peserta didik yang putus sekolah. Hal mana, inilah di antara kekhawatiran Bapak Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Anwar Makarim.

Untuk itu CGP berusaha membuat pembelajaran menjadi lebih aktif, kreatif, inovatif, menyenangkan dan juga bermakna, dengan cara menggunakan metode/model dan pembelajaran yang lebih variatif, sehingga proses KBM menjadi lebih menarik minat peserta didik. Sekaligus berusaha untuk meningkatkan literasi peserta didik, yang sangat menunjang terhadap proses KBM di kelas.

 

B.    Deskripsi Aksi Nyata yang Dilakukan 

1.     Menjadikan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) menjadi lebih aktif, kreatif, inovatif, menyenangkan dan bermakna, yaitu dengan cara menggunakan metode/model dan media pembelajaran yang lebih menarik. Walaupun pembelajaran dilakukan secara Daring, tidak menutup kemungkinan untuk terus berinovasi di dalam memberikan layanan yang lebih menarik dan bermakna. Hal ini mutlak diperlukan untuk menjadikan pembelajaran lebih mengasyikkan, sehingga para peserta didik bisa mengikuti pembelajaran secara daring dengan konsisten. Pada gilirannya, berimbas pada peningkatan hasil pembelajaran. Tentunya yang paling penting, para peserta didik merasa nyaman dengan proses KBM, walaupun dilakukan secara Daring dan dalam waktu yang sangat lama.

2.        Meningkatkan minat baca (budaya literasi) peserta didik. Memberikan buku digital secara online, terutama dari buku novel yang bermanfaat, video-video motivasi, dan presentasi power point yang edukatif, untuk menumbuhkan minat baca (budaya literasi) di kalangan peserta didik. Hal ini dilakukan untuk semakin meningkatkan budaya literasi peserta didik, untuk membentuk peserta didik yang berpengatahuan dan berwawasan. Dalam istilah lain, membentuk peserta didik yang “tongkrongannya lokal, tapi berwawasannya global”.

 

C.    Hasil Dari Aksi Nyata yang Dilakukan 

1.        Peserta didik menjadi lebih antusias dan aktif dalam KBM, hal itu ditandai dengan tingkat partisipasi peserta didik terhadap aktivitas pembelajaran secara maksimal (100 persen), selanjutnya partisipasi dalam pengerjaan tugas yang maksimal, yang pada gilirannya nilai tugas, Penilaian Harian (PH), sampai dengan Penilaian Akhir Semester (PAS) menjadi baik.

2.        Peserta didik memiliki minat baca (budaya literasi) yang baik, sehingga Handphone/gawai yang mereka miliki, bukan saja sebagai alat untuk bermedia sosial (medsos) saja atau bermain game online, akan tetapi justru menjadi pintu pembuka wawasan dan menggali informasi serta sains teknologi yang semakin berkembang.

 

D.    Pembelajaran yang Didapat Dari Pelaksanaan (Kegagalan Maupun Keberhasilan)

Untuk berhasilnya sebuah rencana (sebagus apapun), banyak faktor kunci yang menjadi penentu berhasilnya rencana tersebut. Akan tetapi, upaya yang sudah dilakukan, walaupun belum maksimal seratus persen, tentunya masih memiliki nilai plus yang berguna bagi guru dan peserta didik.

1.      Keberhasilan. Dengan pembelajaran yang sudah dilakukan, CGP “dipaksa” belajar kembali tentang berbagai hal baru terkait penggunaan sains dan teknologi dalam pembelajaran. Sehingga banyak hal-hal baru yang didapatkan sebagai alat penunjang dalam proses KBM. Begitu juga halnya dengan peserta didik, mereka juga “dipaksa” untuk secara dini melek dan akrab dengan teknologi. Tanpa disadari para peserta didik sudah memiliki literasi digitalang kemudian mendorong anak-anak untuk mudah bermigrasi ke era industri 4.0. Selama ini mungkin anak-anak belum sepenuhnya menyadari bahwa era industri 4.0 membuat efisiensi waktu dan tenaga kerja.[1] Hal ini penting, sebagai upaya dini dan awal untuk mempersiapkan generasi masa depan Indonesia yang lebih qualified, dalam menyongsong persaingan global yang lebih kompetitif. Untuk jangka panjang, kita seakan disiapkan untuk menjadi individu-individu yang harus (mau tidak mau) untuk akrab dengan teknologi. Hal ini penting, karena kita berada di sebuah dunia yang dalam istilah Rhenald Kasali, era Disruption.[2] Era Disruption ditandai dengan Vitality (dinamis dan cepat berubah), Uncertainty (sulit diprediksi), Complexity (rumit penuh komplikasi), dan Ambiguity (Membingungkan penuh paradoks). Dengan penguasaan teknologi yang dimiliki, maka para pendidik dan peserta didik akan menjadi pribadi yang siap dan tanggap untuk menghadapi persaingan global yang semakin kompleks.

2.      Kegagalan. Proses KBM secara daring ini belum berjalan secara maksimal, dikarenakan beberapa faktor. Diantaranya ketersediaan perangkat gawai (ponsel, laptop, dan tablet) yang  belum sepenuhnya dimiliki peserta didik. Baru sekitar 60-80 persen dari peserta didik yang memiliki handphone android untuk menunjang aktivitas pembelajaran.[3] Hal ini ditambah dengan kemampuan ekonomi masyarakat untuk membeli kuota internet bagi anak mereka yang masih minim, dikarenakan tingkat pemahaman orang tua akan proses pembelajaran daring yang masih rendah atau rendahnya pemahaman tentang media digital plus tingkat ekonomi masyarakat yang rata-rata ekonomi menengah ke bawah, sampai pada terbatasnya kemampuan membeli pulsa/kuoto, dan keterbatasan sinyal. Namun, hampir sebagian besar siswa telah merasakan pembelajaran daring.

 

E.    Rencana Perbaikan Untuk Pelaksanaan Di Masa Mendatang

Kita tidak tahu pasti sampai kapan Pandemi Covid -19 ini akan berakhir. Akan tetapi yang pasti, bahwa proses KBM secara daring ini akan terus berlangsung, dan kepada pendidik dan peserta didik harus siap dengan realitas ini.

Mendikbud menyebut pembelajaran daring sebagai proses beradaptasi dengan teknologi. Adaptasi dengan teknologi bagi anak-anak adalah hal yang jauh lebih mudah. Apalagi, saat ini sekolah berhadapan dengan generasi Z. Generasi yang sangat lekat dan akrab dengan gawai atau teknologi digital. Karena itu, sebenarnya anak-anak lebih mudah beradaptasi untuk menggunakan teknologi.

Adaptasi teknologilah yang kemudian mendorong anak-anak untuk mudah bermigrasi ke era industri 4.0. Selama ini mungkin anak-anak belum sepenuhnya menyadari bahwa era industri 4.0 membuat efisiensi waktu dan tenaga kerja. Dalam hal ini, anak tidak harus pergi ke sekolah dengan menggunakan moda transportasi, tapi dapat langsung melalui online ketika belajar. Apalagi di tengah pandemi Covid-19, teknologi menjadi penghubung utama dalam proses belajar. Dunia maya yang selama ini sudah dijelajahi anak-anak menjadi dunia yang benar-benar hadir sebagai sebuah proses pembelajaran. Pembelajaran tatap muka dengan bantuan teknologi internet.

Bukan hanya siswa yang beradaptasi, guru pun beradaptasi dengan perubahan ini. Peran guru berubah, tapi peran secara fisik berkurang karena penggunaan berbagai media pengajaran. Guru juga dipaksa belajar teknologi baru dengan berbagai media pembelajaran. Guru mulai membuat video, aplikasi Moodle, Google Classroom, dan berbagai aplikasi yang terhubung dengan institusi pendidikannya.[4]

Untuk meningkatkan proses KBM di masa yang akan datang, CGP harus terus berusaha untuk mengupdate dan mengupgrade kapasitas dan kompetensi diri, terutama dalam hal penggunaan media teknologi dalam pembelajaran, sehingga besar harapan ke depannya, proses KBM menjadi lebih menarik dan mengasyikkan bagi peserta didik. Selanjutnya, CGP berharap ketersediaan perangkat gawai yang lebih banyak lagi, serta maksimalnya subsidi bantuan kuota internet bagi peserta didik dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, sehingga bisa membantu kelancaran proses KBM bagi para peserta didik.

 

 

F.  Dokumentasi Proses dan Hasil Pelaksanaan Berupa Foto-Foto atau Video-Video Singkat Berikut Caption/Narasi Singkat Nya. Anda Dapat Juga Menambahkan ‘Testimoni’ Dari Rekan Guru dan Murid yang Terlibat Dalam Proses Perubahan yang Anda Lakukan.

 

Kegiatan Literasi Membaca Al Qur’an

 

Kegiatan Literasi Membaca Buku


Kegiatan Literasi Menonton Video Motivasi

 

 Kegiatan Literasi Membaca Presentasi Power Point


Hasil olah dokumen oleh Peserta didik

 

 Proses KBM bersama Peserta didik

Proses KBM bersama Peserta didik


 



[1] Rita Pranawati. Pembelajaran Daring untuk Siswa. Dalam ttps://www.jawapos.com/opini/29/04/2020/pembelajaran-daring-untuk-siswa. Diunduh pada 29 Nopember 2020. 

[2] Rhenald Kasali. (2017). Disruption : Tidak ada yang Tak Bisa Diubah Sebelum Dihadapi, Motivasi Saja Tidak Cukup. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.

[3] Berdasakan survey sekolah terhadap kepemilikian Handphone Android para peserta didik untuk semua jenjang.

[4] Rita Pranawati. Pembelajaran Daring untuk Siswa. Dalam ttps://www.jawapos.com/opini/29/04/2020/pembelajaran-daring-untuk-siswa. Diunduh pada 29 Nopember 2020.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PANDEMI DAN POTRET DUNIA PENDIDIKAN

  PANDEMI DAN POTRET DUNIA PENDIDIKAN Oleh : Moh Zulham Alsyahdian, S.Hum, M.Pd   Pandemi Coronavirus Diseaese 2019 (selanjutnya Co...