Rabu, 17 Februari 2021

ARTIKEL REFLEKSI AKSI NYATA 1.3

 

ARTIKEL REFLEKSI AKSI NYATA 1.3

 

Oleh :

MOH ZULHAM ALSYAHDIAN, S.Hum, M.Pd

CGP KABUPATEN INDRAGIRI HILIR

 

A.     Latar Belakang

Mengutip pernyataan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Anwar Makarim, bahwa seorang guru penggerak tidak hanya memiliki semua karakteristik guru yang baik, akan tetapi lebih dari itu, seorang Guru Penggerak (selanjutnya GP) juga harus memiliki kemauan untuk melakukan perubahaan dan memberi dampak yang baik bagi guru lainnya, serta berkemauan untuk mendorong tumbuh kembang murid secara holistik sesuai dengan profil Pelajar pancasila. Mereka harus dapat menjadi agen teladan dan obor perubahan baik di dalam dan di luar unit pendidikannya.

Akan tetapi perlu diingat, bahwa seorang GP bukanlah seorang yang maha dan super sakti, yang datang dan dalam waktu yang singkat bisa merubah segalanya. Karena realitas di dalam dunia pendidikan sangat kompleks dan multi dimensional. Karena objek dari pendidikan adalah manusia, dengan berbagai karakternya. Sehingga antara idealitas dan realitas dalam dunia pendidikan, terkadang (justru) berbanding terbalik.

Utamanya bagi sang GP, dalam implementasinya di lapangan seyogyanya harus mampu bersinergi dan berkolaborasi dengan segenap stakeholder di sekolah (utamanya kepala sekolah), sehingga apa yang menjadi rencana dan program untuk transformasi dalam pembelajaran di sekolah bisa berjalan secara efektif dan efisien. Sebaliknyalah bagi para Kepala Sekolah dan segenap majelis guru dan peserta didik, harus mensupport apa yang menjadi agenda perubahan yang dibawa oleh sang GP. Tentunya melalui sebuah proses diskusi yang intens dan konstruktif. Sehingga agenda yang diusung bukan lagi (hanya) dipahami dan dimiliki oleh seorang GP semata, tapi menjadi agenda bersama pihak sekolah. Sehingga sekolah memiliki visi dan misi yang sama menuju proses awal transformasi dalam dunia pendidikan.

Memang sebuah perubahan (dimanapun) itu, pasti sulit diawal. Akan ada yang antipati bahkan resistensi. Apalagi bagi mereka yang sudah lama berada di zona aman dan nyaman (comfort zone). Tapi percayalah, sebagaimana yang pernah diungkapkan oleh Heraclatos, filsuf Yunani, Nothing endures but change. Tidak ada yang tidak berubah kecuali perubahan itu sendiri. Perubahan itu pasti akan datang, cepat atau lambat.

Guru penggerak adalah salah satu ikhtiar untuk melakukan transformasi dalam dunia pendidikan. Bahkan secara tegas Menteri Pendidikan dan Kebudayaan mengatakan, bahwa Guru penggerak adalah ujung tombak transformasi pendidikan. Oleh karena itu, seharusnyalah akan lebih banyak lagi para guru-guru terbaik dari seluruh pelosok negeri, untuk mengikuti proses pendidikan ini. Inilah saatnya, Gerbang sudah dibuka, tegas Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Sehingga perahu besar pendidikan  di negara Indonesia ini bisa bergerak lebih cepat, menuju sebuah cita-cita besar untuk kemajuan bangsa dan negara ini.

 

B.    Deskripsi Aksi Nyata

Langkah awal untuk melakukan sosialisasi Merdeka Belajar, GP berkoordinasi dengan Kepala Sekolah dan segenap pimpinan di sekolah. Selanjutnya secara informal dilakukan dialog-dialog kecil namun intensif bersama majelis guru, untuk melakukan sosialisasi awal tentang konsep Merdeka Belajar, sebagaimana menjadi visi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Oleh karena suasana Pandemi Covid 19 yang masih belum usai, diskusi secara formal tidak bisa dilakukan. Akan tetapi diskusi dan dialog informal secara kontinu terus berjalan, bersama guru-guru yang memang memiliki visi dan misi yang sama untuk melakukan perubahan di sekolah.

Untuk lebih memberikan daya dorong dan daya dukung terhadap ide baik ini, GP melakukan diskusi dan bincang secara formal, dengan jumlah majelis guru yang masih terbatas (hanya 11 orang) dari 32 orang majelis guru yang berpartisipasi. Akan tetapi sungguh tidak dinyana dan tidak diduga, diskusi santai yang membahas tentang Merdeka Belajar dan Pembelajarn Berdeperensiasi, justru menjadi awal terbukanya “Kotak Pandora” permasalahan dan persoalan yang terjadi di sekolah selama ini. Permasalahan dan persoalan ini dikaji satu persatu dari hulu ke hilir. Bahkan sampai pada persoalan bagaimana membangkitkan semangat belajar para peserta didik. Sungguh antusiasme yang patut dihargai, tatkala beberapa peserta diskusi dengan penuh gairah menyampaikan keinginan dan harapan yang lebih besar untuk kemajuan sekolah ke depan.

Walaupun diskusi ini sudah agak melenceng dari format awal tentang Merdeka Belajar, akan tetapi yang menjadi poin pentingnya adalah, semua pembicaraan ini ingin mencari solusi atas persoalan dan permasalahan yang terjadi selama ini di sekolah, dengan sebuah tujuah mulia bagaimana membangun antusiasme dalam belajar di sekolah, sebagai bagian dari upaya meningkatkan mutu pendidikan di SMP Negeri 1 Keritang.

Pada titik ini penulis merasakan sebuah kegelisahan yang sama, yang lama terpendam dari rekan-rekan guru, akan kondisi obyektif sekolah, yang memiliki banyak permasalahan dan kekurangan, serta harapan akan adanya perubahan yang lebih baik untuk masa yang akan datang. Bahkan dalam diskusi yang berlangsung ini, persoalan yang muncul bahkan sampai pada pertanyaan tentang bagaimana membangun antuasiasme  pada guru dan peserta didik, pembenahan sarana dan prasarana, serta masalah-masalah lain, yang bahkan di luar dari apa yang dibayangkan penulis.

Makanya pada akhir pertemuan ini telah disepakati tentang 2 hal. Pertama, membentuk komunitas diskusi rutin dwi minggu sekali, untuk membahas persoalan dan permasalahan yang terjadi di sekolah, serta upaya untuk mencari solusi. Kedua, diskusi rutin ini harus bersifat massif, yang bisa dihadiri oleh seluruh stakeholder, sehingga ide baik ini bisa menjadi visi dan misi semua warga sekolah.

 

 

C.    Hasil dari Aksi Nyata yang dilakukan

Para guru memiliki pemahaman yang sama tentang merdeka belajar yang berimbas pada proses KBM yang berpihak pada murid (Student oriented), serta perubahan mindset bagi para guru tentang bagaimana menciptakan suasana KBM yang lebih berpihak kepada murid (Student oriented)

 

D.    Pembelajaran yang Didapat Dari Pelaksanaan (Kegagalan Maupun Keberhasilan)

Mantan Menteri Badan Usaha Milik Negara periode Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Dahlan Iskan, dalam satu kesempatan pernah berkata, bahwa dalam sebuah organisasi ada 3 tipe golongan orang. Pertama, orang yang memiliki idealisme dan loyalitas untuk mengembangkan organisasi itu. Jumlah kelompok ini biasanya tidak banyak, hanya sekitar 5 %. Kedua, orang yang menolak atau tidak mau mengembangkan organisasi sama sekali. Jumlah ini pun tidak banyak, sekitar 5 % saja. Ketiga, kelompok massa mengambang (floating mass), yaitu orang-orang yang tidak ada keinginan mengembangkan organisasi atau  menolak mengembangkan. Biasanya kelompok ini akan melihat ke arah mana “angin berhembus”. Tatkala angin perubahan yang lebih kuat, mereka akan mengikutinya, sebaliknya ketika status quo yang lebih mengemuka, mereka pun akan ikut.

Apa yang terjadi dalam sosialisasi tentang Merdeka Belajar yang penulis lakukan, adalah gambaran ideal dan nyata dari petuah Bos Jawa Pos Grup di atas. Ketika penulis membuka dialog dan diskusi tentang Merdeka Belajar, serta implikasi dan upaya antisipasinya dalam kemajuan sekolah, dengan tanpa penulis prediksi sebelumnya, hampir sebagian besar mendukung, walaupun dengan gambaran yang belum utuh dan sempurna. Bahkan ruang diskusi menjadi arena tempat mereka mencurahkan keinginan, harapan, dan cita-cita ideal tentang bagaimana SMP Negeri 1 Keritang.

Sampai di sini penulis sangat berbangga hati dan semakin termotivasi, untuk secara cepat mengimplementasikan ide-ide perubahan yang pada detik ini masih dalam tataran konsep di kepala sendiri. Antusiasme yang besar, dan harapan yang menjulang tinggi dari rekan-rekan guru untuk kemajuan sekolah ini, menjadi amunisi yang siap “diledakkan” untuk menggerakkan perubahan di sekolah.

Walaupun di sisi lain, penulis sedikit prihatin karena ketidakhadiran sebagian besar majelis guru dalam pertemuan tersebut (sekitar 66 %). Mungkin kurangnya koordinasi dari penulis sendiri kepada pihak-pihak terkait, sehingga pertemuan ini menjadi minim perhatian dan partisipasi. Tentunya ini menjadi PR bagi penulis, bagaimana meyakinkan rekan-rekan guru, untuk secara kolaboratif memililki visi dan misi yang sama, untuk memajukan sekolah. Tentunya dengan semakin banyaknya yang berpartisipasi, akan semakin mudah dan cepat untuk merealisasikan segala asa dan cita-cita, untuk kemajuan sekolah. Karena kedudukan SMP Negeri 1 Keritang, sebagai salah satu sekolah menengah pertama tertua dan terbesar (bahkan) di Kabupaten Indragiri Hilir, lebih memerlukan lebih banyak lagi peran dan partisipasi dari segenap stakeholder di dalamnya. Ibarat perahu yang besar, diperlukan lebih banyak lagi orang yang ikut “mengayuh” perahu besar ini, sehingga bisa bergerak dengan cepat, menuju pulau impian.

 

E.    Dokumentasi proses dan hasil pelaksanaan berupa foto-foto atau video-video singkat berikut caption/narasi singkatnya.

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PANDEMI DAN POTRET DUNIA PENDIDIKAN

  PANDEMI DAN POTRET DUNIA PENDIDIKAN Oleh : Moh Zulham Alsyahdian, S.Hum, M.Pd   Pandemi Coronavirus Diseaese 2019 (selanjutnya Co...