Senin, 07 Desember 2020

Sekolah Tanpa Rangking

 

SEKOLAH TANPA RANGKING

MOH. ZULHAM ALSYAHDIAN

(Calon Guru Penggerak dari SMP Negeri 1 Keritang)

 

Penilaian Akhir Semester (PAS)  baru saja dilaksanakan, walaupun di tengah situasi pandemi Corona -19 yang belum tahu ujungnya. Selanutnya para peserta didik tinggal menunggu waktu untuk pembagian hasil laporan (Raport). Pada hakikatnya, pelaksanaan PAS adalah untuk mengetahui sejauh mana ketercapaian peserta didik terhadap kegiatan belajar mengajar (KBM) di kelas, sekaligus pemetaan terhadap kemampuan kognitif peserta didik terhadap pembelajaran. Akan tetapi kontradiksi dengan kenyataan di atas, justru paling ditunggu oleh peserta didik dan juga orang tunya, adalah pengumuman para juara kelas. Fenomena juara kelas ini semakin marak, dikarenakan antusisme ini tidak hanya bagi peserta didik, tapi juga karena faktor orang tua yang sangat suport akan tradisi ini.

Sementara fakta berbagai survey menunjukkan, bahwa anak-anak yang  menjadi juara di kelas sekolah/kuliahnya, ternyata hanya menjadi orang yang “biasa” saja di kehidupan selanjutnya. Sebaliknya, anak-anak yang selama ini dianggap gagal dan tertinggal di sekolah/kuliahnya, malah menjadi orang-orang sukses di kehidupan nyata. Apalagi tatkala dikorelasikan dengan dunia kerja, di mana faktor suksesnya seseorang tidak diukur dari seberapa tinggi nilai raport atau Indeks Prestasi (IP) yang mereka miliki. Karena kebutuhan dunia di masa yang akan datang, tidak semata-mata berdasarkan tinggi nilainya yang tertera di atas selembar ijazah/sertifikat.  

 

Cerdas Sekolah = Cerdas di Kehidupan ?

Mengutip Adi Gunawan (2012) di dalam bukunya menyatakan, tentang penelitian paling mutakhir tentang faktor yang mempengaruhi keberhasilan hidup seseorang yang dilakukan Thomas J. Stanley, Ph. D, dalam bukunya The Millionaire Mind. Hasil penelitian pakar ini menunjukkan, bahwa pendidikan formal bukan satu-satunya faktor yang menentukan keberhasilan hidup seseorang. Dari penelitian yang dilakukannya, ditemukan 100 faktor yang berpengaruh terhadap keberhasilan hidup seseorang. Sepuluh faktor sukses yang pertama adalah bersikap jujur, mempunyai disiplin yang baik, pintar bergaul, mempunyai pasangan hidup yang mendukung, bekerja lebih keras dari pada orang lain, mencintai karier/bisnis, memiliki kualitas kepemimpinan yang baik dan kuat, memiliki semangat/kepribadian yang sangat kompetitif, mengatur hidup dengan sangat baik, dan memiliki kemampuan untuk menjual ide atau produk. Sedangkan IQ menduduki urutan ke-21, masuk sekolah top/unggulan di urutan ke-23, dan lulus dengan nilai terbaik/hampir terbaik merupakan faktor sukses di urutan ke-30.

Jadi, yang menjadi faktor penentu keberhasilan seseorang justru lebih dominan pada karakter yang dimilikinya. Hal yang sama ditegaskan oleh Daniel Goleman dalam penelitiannya, yang menunjukkan bahwa “kunci sukses” seseorang tidak semata-mata ditentukan oleh faktor Intelegences Quotient (IQ), tapi juga Emotional Quotient-nya (EQ). Bahkan menurut Daniel Goleman, IQ hanya menyumbang sekitar 5 - 10 % bagi kesuksesan hidup. Sisanya adalah kombinasi beragam faktor yang salah satunya adalah EQ (Kecerdasan Emosi). Begitu juga Paul Stoltz mengatakan, bahwa IQ hanya bagian kecil dari pohon kesuksesan dalam semua hal. Stoltz menyebut kinerja, bakat dan kemauan, karakter, kesehatan, kecerdasan, faktor genetis, pendidikan, dan keyakinan sebagai kunci-kunci kesuksesan manusia.

Selanjutnya penelitian terakhir yang dilakukan oleh The Carnegie Institute (Rizal, 2012), yang pernah menganalisis catatan 10 ribu orang dan menyimpulkan bahwa 15 persen kesuksesan terkait dengan technical training. Sisanya 85 persen adalah karena kepribadian. Sementara unsur kepribadian yang paling utama adalah karakter atau sifat seseorang.

 

Menjadi Juara Di Kehidupan

Dari fakta-fakta di atas dapat disimpulkan, bahwa rangking atau nilai yang tinggi bukanlah menjadi faktor penentu dan satu-satunya akan sukses tidaknya seseorang di masa yang akan datang. Tidak heran hampir semua perusahaan dewasa ini mensyaratkan adanya kombinasi yang sesuai antara pengetahuan dan kemampuan teknis (hard skills) dan kemampuan mengelola diri dan orang lain (soft skills) untuk semua posisi karyawannya. Di lingkungan praktisi sumber daya manusia saat ini, pendekatan hanya pada hard skills sudah ditinggalkan. Mereka melihat bahwa tidak ada gunanya jika seorang karyawan memiliki kemampuan hard skills yang baik, namun soft skills-nya buruk. Hal ini bisa dilihat pada iklan-iklan lowongan kerja berbagai perusahaan yang juga mensyaratkan kemampuan soft skills dalam persyaratan pekerjaannya, seperi team work, kemampuan komunikasi, dan interpersonal relationship. Saat rekruitmen karyawan, bahkan banyak perusahaan cenderung memilih calon yang memiliki kepribadian lebih baik meskipun hard skills-nya tidak terlalu tinggi dengan alasan memberikan pelatihan ketrampilan jauh lebih mudah daripada pembentukan karakter.

Tidak heran, para pendidik dan orang tua di negara-negara maju seperti Jepang misalnya, tidak terlalu khawatir ketika anaknya/muridnya yang masih kecil belum bisa membaca, menulis, atau menghitung (Calistung). Karena bagi mereka, keterampilan Calistung itu bisa dilatih dan dipelajari dengan mudah. Akan tetapi mereka lebih khawatir, ketika sang anak atau murid tidak bisa mengantri. Kelihatannya sederhana, aktivitas mengantri dalam kehidupan sang anak atau murid. Tapi ini lebih terkait dengan karakter yang akan melekat pada diri mereka di masa yang akan datang. Merubah karakter yang sudah melekat itu lebih sulit daripada hanya sekedar melatih seseorang untuk Calistung.

Oleh karenanya, ke depan perlu kiranya upaya bersama (sekolah dan orang tua) untuk meninjau lagi kebijakan tentang perangkingan di kelas pasca ujian. Hal ini menjadikan suasana psikologis yang tidak nyaman, baik bagi peserta didik yang mendapatkan juara maupun yang tidak. Bagi sang juara, akan merasa terintimidasi untuk selalu mempertahankan juara, bahkan dengan cara yang mungkin tidak fair. Sementara bagi yang tidak juara, merasa diri tidak berguna, lemah, bodoh, ketinggalan, dan segenap atribut negatif lainnya. Sehingga proses yang lahir dalam pembelajaran adalah suasana kompetisi, bukan kolaborasi, yang pada ujungnya akan melahirkan sentimen pribadi antara satu dengan yang lainnya.

Bukan bermaksud untuk mematahkan semangat belajar para peserta didik dan antusiasme orang tua. Tapi fakta menunjukkan, bahwa seorang Albert Einstein yang dianggap sebagai salah satu manusia jenius di bidang fisika modern, bukanlah pribadi yang berprestasi /juara di kelasnya. Sehingga ketika melamar pekerjaan di almamaternya, Einstein tidak diterima karena nilainya tidak memenuhi syarat. Hal yang sama dialami Thomas Alfa Edisson, sang penemu jenius, yang bahkan sekolahnya tidak tamat, dikarenakan dikeluarkan oleh sekolahnya.

Menurut ukuran sekolah hari ini, keduanya bisa jadi dikategorikan orang yang tidak terlalu pintar di kelasnya, bahkan bisa jadi dianggap produk gagal dari sekolah. Tapi siapapun hari ini, pasti mengakui kontribusi dan dedikasi keduanya terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan sains teknologi. Oleh karenanya bagi orang tua dan tenaga pendidik, yang terpenting dan perlu ditanamkan bagi para peserta didik, adalah bagaimana mereka, tidak hanya (istilah Rhenald Kasali) menjadi juara di kelas, tapi mereka bisa menjadi juara di kehidupannya di masa yang akan datang. Semoga.


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PANDEMI DAN POTRET DUNIA PENDIDIKAN

  PANDEMI DAN POTRET DUNIA PENDIDIKAN Oleh : Moh Zulham Alsyahdian, S.Hum, M.Pd   Pandemi Coronavirus Diseaese 2019 (selanjutnya Co...