GURU PENGGERAK :
ANTARA HARAPAN DAN TANTANGAN
Oleh :
MOH. ZULHAM ALSYAHDIAN
(Calon Guru Penggerak SMP Negeri 1 Keritang Kabupaten Indragiri Hilir)
|
P |
rogram guru penggerak adalah salah satu dari sekian program Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, yang dikemas dalam istilah Merdeka Belajar, yang dibagi dalam beberapa episode. Episode satu penghapusan UN dan USBN, RPP satu lembar dan PPDB secara zonasi, episode dua Kampus Merdeka, episode tiga mekanisme Bos 2020, episode empat sekolah dan komunitas penggerak, dan episode lima guru penggerak. Program guru penggerak ini merupakan sebuah terobosan yang baik dari Mas Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, terlepas dari plus minusnya program ini. Bahkan dalam beberapa kesempatan, beliau mengatakan ini adalah program terpenting, katakanlah program unggulan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Segudang asa dan harapan disematkan kepada mereka. Sebagaimana yang pernah disampaikan Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Iwan Syahril, “Guru Penggerak adalah pemimpin pembelajaran yang mendorong tumbuh kembang murid secara holistik, aktif dan proaktif dalam mengembangkan pendidik lainnya untuk mengimplementasikan pembelajaran yang berpusat kepada murid, serta menjadi teladan dan agen transformasi ekosistem pendidikan untuk mewujudkan profil Pelajar Pancasila”.
Hal yang sama ditegaskan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Anwar Makarim, bahwa seorang guru penggerak tidak hanya memiliki semua karakteristik guru yang baik, akan tetapi lebih dari itu, seorang Guru Penggerak juga harus memiliki kemauan untuk melakukan perubahaan dan memberi dampak yang baik bagi guru lainnya, serta berkemauan untuk mendorong tumbuh kembang murid secara holistik sesuai dengan profil Pelajar pancasila. Mereka harus dapat menjadi agen teladan dan obor perubahan baik di dalam dan di luar unit pendidikannya.
Tantangan
Pertanyaannya kemudian yang muncul adalah, apakah memang sehebat itukah sosok seorang Calon Guru Penggerak (selanjutnya CGP) ? Dapatkan mereka nantinya akan melakukan perubahan sebagaimana yang diharapkan ? Perlu kita ingat, bahwa seorang guru penggerak bukanlah seorang yang maha dan super sakti, yang datang dan dalam waktu yang singkat bisa merubah segalanya. Bagaikan membalikkan telapak tangan. Sebab realitas di dalam dunia pendidikan sangat kompleks dan multi dimensional. Karena objek dari pendidikan adalah manusia, dengan berbagai karakternya. Sehingga antara idealitas dan realitas dalam dunia pendidikan, terkadang (justru) berbanding terbalik.
Utamanya bagi sang guru penggerak, dalam implementasinya di lapangan seyogyanya harus mampu bersinergi dan berkolaborasi dengan segenap stakeholder di sekolah (utamanya kepala sekolah), sehingga apa yang menjadi rencana dan program untuk transformasi dalam pembelajaran di sekolah bisa berjalan secara efektif dan efisien. Sebaliknyalah bagi para Kepala Sekolah dan segenap majelis guru dan peserta didik, harus mensupport apa yang menjadi agenda perubahan yang dibawa oleh sang guru penggerak. Tentunya melalui sebuah proses diskusi yang intens dan konstruktif. Sehingga agenda yang diusung bukan lagi (hanya) dipahami dan dimiliki oleh seorang guru penggerak semata, tapi menjadi agenda bersama pihak sekolah. Sehingga sekolah memiliki visi dan misi yang sama menuju proses awal transformasi dalam dunia pendidikan.
Memang sebuah perubahan (dimanapun) itu, pasti sulit diawal. Akan ada yang antipati bahkan resistensi. Apalagi bagi mereka yang sudah lama berada di zona aman dan nyaman (comfort zone). Tapi percayalah, sebagaimana yang pernah diungkapkan oleh Heraclatos, filsuf Yunani, Nothing endures but change. Tidak ada yang tidak berubah kecuali perubahan itu sendiri. Perubahan itu pasti akan datang, cepat atau lambat.
Apalagi kita hari ini berada di era Disruption (istilah Rhenald Kasali). Era di mana dunia hari ini ditandai dengan Vitality (dinamis dan cepat berubah), Uncertainty (sulit diprediksi), Complexity (rumit penuh komplikasi), dan Ambiguity (Membingungkan penuh paradoks).[1] Hidup di era disruption ini membuat kita harus terus mengupdate dan mengupgrade diri, untuk meningkatkan kompetensi. Karena angin perubahan tidak pasti, dan bisa sewaktu-waktu datang menghampiri. Pandemi Covid-19 telah mengajarkan kita, agar terus mempersiapkan diri untuk menghadapi tantangan yang datang silih berganti dan secara tiba-tiba.
Solusi Perubahan
Menjadikan sekolah sebagai rumah yang aman, nyaman dan bermakna bagi murid sepertinya sudah menjadi hal yang umum diinginkan semua pihak. Namun, dalam prakteknya, kalimat tersebut bukan kalimat yang mudah untuk diwujudkan karena diperlukan perubahan yang mendasar dan upaya yang konsisten. Walaupun sulit, reformasi budaya sekolah bukanlah hal yang tidak mungkin. Untuk melakukannya diperlukan orang-orang yang bersedia melawan arus naif tentang inovasi dan terbuka terhadap kenyataan yang bersifat manusiawi.
Perubahan yang positif dan konstruktif di sekolah biasanya membutuhkan waktu dan bersifat gradual. Oleh karena itu, sebagai pemimpin, guru penggerak hendaknya terus berlatih mengelola diri sendiri sambil terus berupaya menggerakkan orang lain yang berada di bawah pengaruhnya untuk menjalani proses bersama-sama. Hal ini perlu dilakukan dengan niatan belajar yang tulus demi mewujudkan visi sekolah.[2]
Salah satu pendekatan manajemen perubahan yang solutif di dalam upaya melakukan perubahan di sekolah adalah paradigma Inkuiri Apresiatif (selanjutnya disingkat IA), yang pertama kali dikembangkan oleh David Cooperrider. Pendekatan IA berangkat dari psikologi positif dan pendidikan positif percaya, bahwa setiap orang atau setiap organisasi memiliki inti positif yang dapat memberikan kontribusi pada keberhasilan. Inti positif ini merupakan potensi dan aset organisasi. Dengan demikian, dalam implementasinya, IA dimulai dengan menggali hal-hal positif, keberhasilan yang telah dicapai dan kekuatan yang dimiliki organisasi, sebelum organisasi menapak pada tahap selanjutnya dalam melakukan perencanaan perubahan.
Di sekolah, pendekatan IA dapat dimulai dengan mengidentifikasi hal baik yang telah ada di sekolah, mencari cara agar bagaimana hal tersebut dapat dipertahankan, sehingga kelemahan, kekurangan dan ketidak-adaan menjadi tidak relevan. Berpijak dari hal positif tersebut, sekolah kemudian menyelaraskan hal positif atau kekuatan tersebut dengan visi sekolah dan visi setiap individu dalam komunitas sekolah.[3]
Dengan perspektif IA, sang CGP memiliki amunisi yang efektif untuk memulai perubahan di lingkungan sekolahnya, minimal perubahan untuk pribadi CGP. Hal ini dimungkinkan, karena pendekatan IA ini akan minim penolakan, dikarenakan sifat dan sikapnya yang lebih mengedepankan “prasangka baik” bagi seluruh komponen yang ada di sekolah. Yakinlah, dengan fokus pada pengembangan nilai-nilai positif yang sudah ada di sekolah dan upaya pengembangannya, membuat seluruh stakeholder yang ada di sekolah, akan lebih “nyaman”. Untuk selanjutnya akan lebih memuluskan jalan bagi CGP untuk melakukan upaya perubahan budaya sekolah menuju ke arah yang lebih baik.
Inilah yang membedakan IA dengan pendekatan manajemen perubahan yang lain, apa pun itu, yang cenderung besifat defisit. Artinya, selalu melihat dari kacamata kekurangan, kesalahan, dan kelemahan. Intinya bersifat negatif. Sehingga dampak yang ditimbulkan misalnya, seperti menimbulkan rasa sakit karena orang dipaksa untuk mengingat kembali kesalahan di masa lalu, melahirkan sikap defensif seperti saling tuding, lempar tanggung jawab dan mencari kambing hitam, membuat orang tidak percaya diri untuk melakukan tindakan positif, karena apapun tindakannya akan dilihat sisi kelemahan dan kekurangannya, jrang melahirkan visi baru karena hanya terfokus pada kenyataan, jarang merefleksikan tujuannya, dan seringkali upaya menyelesaikan persoalan tidak pernah benar-benar menyelesaikan, hanya memindahkan persoalan atau justru menimbulkan persoalan baru.[4]
Terakhir, perubahan sebuah keniscayaan. Cepat atau lambat. Walaupun sulit, reformasi budaya sekolah bukanlah hal yang tidak mungkin. Untuk melakukannya diperlukan orang-orang yang bersedia melawan arus naif tentang inovasi dan terbuka terhadap kenyataan yang bersifat manusiawi. Setiap orang memiliki potensi dan kecerdasannya masing-masing. Tinggal bagaimana seorang CGP, dengan mengikuti paradigma IA bisa melakukan perubahan di lingkungan sekolahnya. Yakin dan fokuslah, maka Semesta Mendukung (istilah Yohannes Surya). Salam dan Bahagia.
[1] Rhenald Kaasli, Disruption : Tidak Ada Yang Tidak Bisa Diubah Sebelum Dihadapi. Motivasi Saja Tidak Cukup. Jakarta : PT Gramedia Pustaka utama, 2017.
[2] Modul. 1.3. Learning Managemen System Guru Penggerak. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2020
[3] Modul. 1.3. Learning Managemen System Guru Penggerak. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2020
[4] Bukik Setiawan, Appreciative Inquiry: Jalan Setiap Orang untuk Mengubah Dunia, Kompasiana. Diunduh pada 28 Nopember 2020
Tidak ada komentar:
Posting Komentar