Oleh : Moh. Zulham Alsyahdian, S. Hum
(Mahasiswa Sekolah Pascasarjana (SPS)
Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung)
Sesungguhnya di balik setiap hukum dan ibadah yang diwajibkan dan disyariatkan oleh Allah SWT atas hamba-Nya ada banyak hikmah, rahasia dan kemaslahatan yang bermanfaat bagi hamba itu sendiri di dunia maupun di akhirat. Termasuk puasa, sebagai salah satu ibadah yang disyariatkan Allah SWT, juga memiliki kandungan manfaat dan hikmah-hikmah medis yang mencengangkan dan luar biasa (Ash-Shawi, 2006 : viii). Hanya saja, hikmah dan manfaat besar itu mesti dikaji dan ditelaah secara mendalam. Hikmah di balik kewajiban tersebut tidak tampak begitu saja bagi setiap orang. Sebagaian kalangan yang mau berpikir dan menelaah berbagai bentuk kewajiban syariat niscaya dapat menyingkapkan dan mencerap hikmah yang ada di baliknya. Dengan ilmu dan pengetahuan kita dapat menyibak rahasia dan hikmah yang terkandung dalam ibadah. Karena itu, semakin berkembang ilmu pengetahuan manusia, semakin mudah ia menarik dan memahami hikmah yang ada di balik kewajiban yang disyariatkan oleh Allah SWT (Ali, 2012 : 191).
Manusia sebagai konstruksi bangunan yang telah didesain dan diciptakan Allah SWT dengan sistem terpadu yang sangat sempurna dan indah. Hanya Allah SWT sendirilah yang mengetahui detail hukum yang diberlakukan-Nya pada makhluk-Nya. Allah SWT berfirman : “Apakah Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan dan rahasiakan), dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Mulk (67) : 14). Dengan demikian, hanya Allah sajalah yang benar-benar mengetahui mana yang berguna dan berbahaya, mana yang cocok dan tidak bagi makhluk ciptaan-Nya (manusia). Jadi, ketika Allah mewajibkan puasa kepada kita, dan kepada umat-umat dan bangsa-bangsa sebelum kita, maka hal itu bukanlah karena puasa merupakan ritual penghambaan kepada Allah saja, akan tetapi juga karena puasa memiliki manfaat yang nyata bagi tubuh dan ruh manusia (Ash-Shawi, 2006 : 2-3).
Nah, salah satu manfaat puasa bagi manusia adalah untuk kesehatan tubuh manusia itu sendiri. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah Muhammad SAW : “Tahanlah lapar, niscaya kamu akan sehat”, atau dalam redaksi yang lain beliau bersabda : “Berpuasalah kamu, niscaya kamu akan sehat” (Zaini, tt : 55). Jadi puasa pada bulan suci Ramadhan dengan baik dan benar sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya sangat berpengaruh besar terhadap kesehatan ruhani dan kesehatan jasmani, bahkan menjadi kesehatan sosial. Dalam hal ini, Fathi Yakin menyatakan bahwa Ramadhan sebagai bulan kesehatan karena pada bulan ini terjadi pengurangan dalam menyantap makanan dan minuman, terutama sepanjang siang hari, sehingga pencernaan dapat istirahat dan tubuh menjadi bersih. Ramadhan merupakan “terapi Tuhan” yang bersifat tahunan yang tidak memerlukan terapi lainnya. Karena Islam memandang bahwa perut merupakan sarang penyakit yang penjagaannya atau penyembuhannya bila dengan mengatur makanan dan minuman. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW : “Tiada tempat yang lebih buruk daripada yang diisi penuh. Manusia cukup menyantap beberapa suap untuk sekedar menegakkan tulang punggungnya. Jika tidak dapat dihindari, maka sepertiga perut untuk diisi makanan, sepetiga untuk minuman, dan sepertiga lagi untuk bernafas (HR. Imam Ahmad).
Tidak heran, banyak bangsa-bangsa kuno telah menjalankan puasa dan menganggapnya sebagai salah satu amalan baik, misalnya bangsa Persia, Romawi, India, Yunani, Babilonia, dan Mesir Kuno. Sebagai contoh misalnya, sebagian kalangan filsuf Yunani Kuno berpuasa selama beberapa hari berturut-turut dalam setahun. Bagi mereka, puasa dalam waktu tertentu seperti ini adalah cara terbaik untuk melatih dan membersihkan jiwa agar mampu menjalani pahit getir kehidupan. Phytagoras, Ahli Matematika, berpuasa selama 40 hari dan menganggap bahwa itu bisa membantu meningkatkan daya pikirnya. Sedangkan Socrates dan Plato berpuasa selama sepuluh hari (ash-Shawi, 2006 : 7-8)
Hal ini relevan dengan penemuan –penemuan di bidang ilmu pengetahuan lainnya, yang semakin menegaskan dan meneguhkan akan arti pentingnya puasa sebagai salah satu ajaran dasar dalam agama Islam, sebagaimana yang dikemukakan oleh Jamal Muhammad Elzaky dalam bukunya Fushul Fi Thibb al Rasul, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh penerbit Zaman, dengan judul Buku Induk Mukjizat Kesehatan Ibadah (2010). Sebagaimana yang ditulis Elzaky, rasa lapar telah dikenal sejak zaman dahulu sebagai sarana untuk menyembuhkan aneka penyakit. Para dokter Yunani pada masa lalu menjadikan puasa sebagai cara untuk menyembuhkan ragam penyakit yang tidak dapat disembuhkan oleh obat atau teknik penyembuhan lain. Pada abad kelima belas, Ludipipo Korina menjadikan puasa sebagai media untuk mengobati berbagai penyakit. Ia sendiri sering berpuasa untuk melatih dirinya sehingga usianya mencapai seratus tahun dan tubuhnya tetap dalam keadaan sehat, padahal sebelumnya ia menderita gangguan pencernaan akut. Pada masa-masa terakhir usianya ia menulis sebuah risalah yang berjudul, “Panjang Umur dengan Sedikit Makan”.
Puasa telah dipraktikkan oleh manusia sebagai metode penyembuhan sejak awal sejarah manusia. Naskah-naskah kuno, misalnya yang berasal dari zaman Mesir Kuno, menunjukkan bahwa mereka pada saat itu telah membiasakan diri berpuasa, begitu pula para penganut agama Hindu dan Budha, yang dalam ajaran mereka terkandung perintah untuk berpuasa. Pada abad kelima sebelum Masehi, Abu Qirath menulis sebuah buku tentang cara-cara berpuasa dan nilai pentingnya bagi kesehatan. Pada perode Bathalisah, para dokter Iskandariah menganjurkan puasa kepada pasien mereka untuk mempercepat penyembuhan penyakit.
Faedah puasa sebagai sarana untuk menyembuhkan penyakit tubuh dimungkinkan karena secara alami metabolisme tubuh manusia dan makhluk hidup lain membutuhkan masa-masa istirahat dari tugas rutinnya sehari-hari. Para ilmuwan melihat bahwa puasa merupakan fenomena kehidupan yang penting dan dialami oleh banyak makhluk hidup. Puasa memiliki peran penting untuk menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh. Mereka juga mendapati bahwa ketika makhluk-makhluk hidup itu selesai menjalankan periode puasa, mereka memiliki energi hidup yang lebih besar. Sebagaimana kita saksikan, ulat memasuki periode kepompong selama beberapa hari. Binatang itu seakan-akan bertapa dalam rumah yang dibuatnya sendiri dan setelah melewati masa kepompong, ia akan keluar dari rumahnya itu dalam bentuk baru yang lebih indah. Ada banyak binatang lain yang juga memiliki siklus puasa dalam hidup mereka. Selama beberapa hari atau bahkan beberapa bulan mereka diam di dalam sarang, tidak makan dan tidak bergerak, termasuk di antaranya beberapa burung, ikan, katak, dan serangga.
Profesor Nikoleiv Polev mengatakan dalam bukunya, Lapar untuk Sehat, yang terbit pada 1976, bahwa setiap orang, terutama yang tinggal di kota-kota besar seharusnya berpuasa makan selama tiga atau empat minggu dalam setahun agar merasakan kesehatan yang sempurna sepanjang hidupnya. Ia menyampaikan anjurannya itu dalam kapasitasnya sebagai ahli medis, bukan sebagai muslim yang dituntut melaksanakan puasa Ramadhan. Periode waktu berpuasa yang dianjurkannya kurang lebih sama dengan periode puasa Ramadhan. Jadi, jika kita berpuasa selama bulan Ramadhan, niscaya tubuh kita menjadi lebih sehat dan lebih kuat.
Melalui telaah dan studi yang mendalam, didapatkan bahwa puasa memiliki efek penyembuhan yang luar biasa, seperti yang diungkapkan Swesser Parsilus, “Manfaat puasa sebagai obat yang dapat menyembuhkan berbagai penyakit melebihi efektivitas obat-obatan medis”. Seorang profesor di Universitas Moskow, Benyamin, mengatakan, “Seandainya kita perhatikan secara seksama sistem metabolisme tubuh manusia, kita akan mendapati bahwa pada waktu-waktu tertentu, tubuh menolak makanan. Seakan-akan mewajibkan puasa atas dirinya sendiri pada waktu tertentu sehingga terwujud keseimbangan dalam semua sistem metabolisme tubuh yang dapat menahan serangan dari luar.
Di Perancis, Dr. Helba, pada 1911 menjadikan puasa sebagai metode penyembuhan yang dipraktikkan pada waktu-waktu tertentu. Ia menganjurkan pasien-pasiennya agar menahan diri dari makanan selama beberapa hari. Pada 1928, Dr. Dartman, menyampaikan sebuah makalah dalam simposium internasional ke-8 pada dokter spesialis penyakit dalam di Amsterdam. Dalam makalahnya ia merekomendasikan puasa sebagai terapi penyembuhan yang dijalankan selama beberapa hari. Para ahli peserta simposium itu pun bersepakat mengenai faedah puasa untuk menyembuhkan berbagai penyakit berat, terutama yang berkaitan dengan sistem pencernaan, sekresi, tekanan darah tinggi, dan penyakit yang menyerang jaringan otot.
Pada 1941, terbit sebuah buku yang berjudul, “Pengobatan dengan Puasa”. Buku itu menjelaskan secara detail cara dan metode puasa sebagai terapi untuk menyembuhkan berbagai penyakit berat. Penulis buku itu menjelaskan bahwa rasa lapar akan memengaruhi struktur dan fungsi organ tubuh serta dapat mengeluarkan toksin dari dalam tubuh. Alan Saury menjelaskan faedah puasa untuk meningkatkan kekuatan tubuh dan memperbarui energi. Ia menyebutkan contoh beberapa orang yang telah berusia lebih dari 70 tahun tetapi masih memiliki jiwa yang sehat dan pantang menyerah.
Alexis Carell, peraih nobel kedokteran, mengatakan, “Proses pencernaan dan distribusi makanan ke seluruh bagian tubuh meniscayakan tugas lain yang tak kalah penting, yaitu tugas untuk berhenti memamah. Pada waktu-waktu tertentu tubuh harus menahan masuknya makanan. Karena itulah manusia dari berbagai generasi selalu mempraktekkan puasa. Bahkan agama-agama yang dikenal manusia mewajibkan puasa sebagai bagian ibadah. Mereka mengharamkan makanan pada waktu-waktu tertentu. Ketika berpuasa, seseorang merasa lapar sehingga semua bagian tubuhnya terasa lemah. Namun di balik rasa lapar itu berlangsung sebuah proses tersembunyi yang menguatkan semua sistem metablisme tubuh. Kandungan gula dalam darah bergerak bersamaan dengan kandungan lemak yang tersimpan di bawah kulit, yang kemudian menjadi sumber energi dan bahan bakar yang dibutuhkan tubuh sehingga organ-organ bagian dalam tetap sehat dan bekerja dengan baik, termasuk jantung.
Bahkan, tulisan Shelton dalam bukunya Le Jeune (Puasa), juga hasil penelitian H. Lutzner dalam bukunya Kembali Menuju Kehidupan yang Sehat Berkat Puasa secara detail menjelaskan tentang manfaat puasa bagi kesehatan, sebagaiman berikut ini :
1. Puasa memberikan masa istirahat kepada tubuh untuk memperbaiki fungsi metabolismenya dan mengembalikan zat-zat yang dibutuhkannya.
2. Puasa menghentikan kerja sistem pencernaan dan membuang sisa-sisa metabolisme yang tidak dibutuhkan tubuh, yang jika terlalu lama berada dalam tubuh dapat berubah menjadi toksin yang berbahaya. Puasa juga merupakan satu-satunya cara paling efektif untuk mengeluarkan racun dari dalam tubuh.
3. Puasa dapat meningkatkan kinerja dan fungsi sekresi sehingga berbagai zat dan materi yang dibutuhkan tubuh tidak keluar bersama sisa-sisa metabolisme. Materi dan zat yang penting itu akan didistrisbusikan ke seluruh bagian tubuh.
4. Puasa dapat mengeluarkan berbagai materi yang berlebihan dalam tubuh dan berbagai zat lain yang mengendap pada pembuluh darah orang yang sakit.
5. Puasa dapat memperbaharui sel-sel tubuh dan berbagai sistem metabolismenya sehingga menjadi lebih kuat. Bahkan salah seorang peneliti, Morgulis, mengatakan bahwa puasa dapat menjaga seluruh anggota tubuh tetap sehat dan awet muda.
6. Puasa akan menjaga kekuatan tubuh dan melancarkan distribusi segala zat yang dibutuhkan tubuh.
7. Puasa memperbaiki fungsi pencernaan, mempermudah proses pencernaan dan distribusi makanan, serta memperbaiki fungsi sekresi.
8. Puasa akan meningkatkan kekuatan memori dan menguatkan akal.
9. Puasa dapat menyehatkan kulit, sebagaimana yang dilakukan lotion kecantikan, puasa dapat memperbagus dan memperhalus kulit.
10. Puasa memiliki efek penyembuhan yang sangat besar tanpa efek samping yang dapat membahayakan tubuh. Puasa dapat meringankan bahkan menyembuhkan berbaga penyakit yang sering kali menyerang manusia modern, terutam penyakit jantung dan tekanan darah tinggi. (Elzaky, 2010 : 241- 247)
Meminjam istilah almarhum T.M. Hasbi Ash-Shiddieqy (1974 : 354), puasa sebulan dalam setahun, terhadap jiwa, sama artinya dengan “riyadlah sanawiyah” (olahraga tahunan). Oleh karenanya, alangkah ruginya ketika kita dengan segala keistimewaan yang telah disebutkan di atas, kita masih bisa meninggalkan ibadah puasa. Di atas segalanya, ketika kita berpuasa, sesungguhnya kita beribadah kepada Allah SWT, Tuhan Sang Pencipta. Kita berpuasa untuk menjalankan perintah Allah disertai ketundukan dan ketaatan. Bahkan, seandainya tidak ada temuan dan penelitian yang dilakukan para ilmuwan yang membuktikan keistimewaan dan faedah puasa yang sangat besar, kita akan tetap menjalankan puasa karena Allah telah memerintahkannya. Semua temuan ilmiah mengenai keistimewaan puasa hanyalah bukti kecil untuk meneguhkan keimanan sehingga kita benar-benar memercayai keagungan Allah yang telah mewahyukan Syariat kepada Nabi-Nya yang mulia, Rasulullah Muhammad SAW.
Referensi :
ash-Shawi, Abdul Jawwad. Ash-Shiyam Mu’jizah ‘Ilmiah. Dialihbahasakan oleh Aan Wahyudin. (2006). Terapi Puasa : Manfaat Puasa Ditinjau dari Perspektif Sains Modern. Jakarta : Penerbit Republika.
Elzaky, Jamal Muhammad. (2010). Fushul Fi Thibb al Rasul. Kairo : Syuruq. Dialihbahasakan oleh Dedi Slamet Riyadi. (2011). Buku Induk Mukjizat Kesehatan Ibadah. Jakarta : Zaman.
Ali, Yunasir. (2012). Buku Induk Rahasia dan Makna Ibadah. Jakarta : Zaman.
Zaini, Syahminan. Bimbingan Praktis Tentang Puasa. Surabaya : Usaha Offset Printing.
Mansur, Syafi’in. (2007). Falsafah Spiritual Ramadhan. Jakarta : PT RajaGrafindo Persada.
Ash-Shiddieqy, T.M. Hasbi. (1974). Pedoman Puasa. Jakarta : Penerbit Bulan Bintang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar