Rabu, 02 Desember 2020

Khutbah : Sombong

 

الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ ِ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ. وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. َأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ. وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ. أما بعد.

فيا عباد الله اتقواالله  حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

 

Hadirin jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah.

 

Perintah takwa

 

Hadirin jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah.

Suatu hari, Allah SWT berfirman kepada Nabi Musa AS, “Hai Musa, jika nanti kau akan bertemu dengan-Ku lagi, bawalah seseorang yang menurutmu kamu lebih baik daripada dia.” Nabi Musa, lalu pergi ke mana-mana – ke jalanan, pasar, dan tempat ibadah. Ia selalu menemukan dalam diri setiap orang itu suatu kelebihan dari dirinya. Mungkin dalam beberapa hal yang lain, orang itu lebih jelek daripada Nabi Musa, tetapi Nabi Musa selalu menemukan ada hal pada diri orang itu yang lebih baik daripada dirinya. Nabi Musa tidak mendapatkan seorangpun yang terhadapnya, Nabi Musa dapat berkata, “Aku lebih baik daripada dia.”

Ketika Nabi Musa datang untuk bermunajat lagi di hadapan Allah SWT, Allah bertanya, “Ya Musa, mana orang yang aku perintahkan kepadamu untuk kau bawa?” Nabi Musa menjawab, Ya Allah, aku tidak menemukan seorangpun yang aku lebih baik daripadanya.” Allah SWT lalu berfirman, “Demi keagungan-Ku dan kebesaran-Ku, sekiranya kamu datang kepada-Ku dengan membawa seseorang yang kamu pikir kamu lebih baik daripadanya, Aku akan hapuskan namamu dari daftar kenabian”.

Apa yang telah diceritakan di atas, merupakan sebuah peringatan tentang bahaya dan dosanya seorang muslim yang bersifat takabur atau sombong. Tak heran, Sahabat Ali bin Abi Thalib Karramallahu Wajhahu pernah berkata, “Berhati-hatilah kamu dengan takabur/sombong. Dahulu Iblis menyembah Allah ribuan tahun lamanya, akan tetapi Allah menjatuhkan Iblis karena sifat takabur/ sombongnya.”

 

Hadirin jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah.

Oleh karena bahaya dan dosanya sifat sombong tersebut, Allah SWT telah memperingatkannya secara keras dalam al Qur’an :

إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ 

“Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina"(Al Mu’min : 60)

Hal ini ditegaskan kembali oleh Rasulullah SAW dalam hadits beliau yang diriwayatkan oleh Muslim dan bersumber dari Abdullah bin Mas’ud R.A. Rasulullah bersabda :

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً قَالَ إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاس

“Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.” Ada seseorang yang bertanya, “Bagaimana dengan seorang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Alloh itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.“ (HR. Muslim)

 

Hadirin jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah.

Menurut Imam Al Ghazali, Takabur atau sombong dibagi menjadi dua bagian. Yang pertama, takabur dalam urusan agama, dan kedua, takabur dalam urusan dunia. Takabur dalam urusan agama dibagi lagi menjadi 2, 1. takabur karena ilmu dan 2. takabur karena amal. Menurut Imam Al Ghazali, yang banyak takabur karena ilmu adalah para ilmuwan, ahli filsafat, dan ulama. Lalu apa tanda-tanda orang yang takabur karena ilmunya ? ia tidak mau mendengarkan nasihat dari orang yang lebih bodoh darinya. Ia merasa dirinya paling pintar dan tidak memerlukan bantuan orang lain.

Takabur yang kedua di dalam urusan agama adalah takabur karena amal. Ada orang yang merasa amalnya sudah bagus sehingga dia merendahkan orang lain. Ada juga orang yang merasa dirinya amat saleh dan segera menganggap rendah orang lain. Orang yang demikian sesungguhnya termasuk orang yang takabur karena amalnya.

Untuk menghindari takabur jenis pertama ini, Sahabat Ali bin Abi Thalib Karramallahu Wajhahu mengajarkan dalam sebuah perkataannya, “Kalau kamu berjumpa dengan orang yang lebih muda, berpikirlah dalam hatimu, pasti dosanya lebih sedikit dari dosaku. Kalau kamu berjumpa dengan orang yang lebih tua, berpikirlah dalam hatimu, pasti amalnya lebih banyak dari amalku

 

Hadirin jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah.

Takabur bagian kedua menurut Imam Al Ghazali adalah takabur dalam urusan dunia. Takabur dalam urusan dunia ini bisa disebabkan oleh beberapa hal :

Yang Pertama, karena nasab (keturunannya). Kedua, karena harta kekayaannya. Ketiga, karena kekuasaannya. Keempat, karena kegantengan/kecantikannya. Kelima, karena banyaknya anak buah dan pengikutnya.

Dalam hal ini, Syeikh Abdul Qadir Jailani memberikan cara agar kita tidak berlaku sombong atau takabur. Yaitu dengan senantiasa mengingat dari mana kita berasal, dan ke mana kita akan kembali. Setiap kita pada dasarnya berasal dari setetes air mani yang hina dina, dan nanti pada saatnya ketika kita meninggal dunia, kita semua akan kembali ke tanah untuk dikubur, tidak peduli betapapun hebatnya kita, pada akhirnya kita hanyalah makanan bagi cacing dan belatung yang ada di dalam kubur kita masing-masing.

 

Hadirin jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah.

Iblis jatuh pada laknat Allah karena takabur satu saat saja. Bagaimana nasib kita bila seluruh perilaku dan amal perbuatan kita ditegakkan di atas sikap takabur ?

Oleh karenanya hadirin Sekalian yang dimulyakan Allah, marilah kita buang takabur dalam hati, betapapun kecilnya. Marilah kita ingat dan renungkan kecelakaan yang dialami Iblis oleh karena sikap takaburnya, sehingga dikeluarkan dari surga selamanya dan dilaknat oleh Allah selamanya. Marilah kita ingat dan renungkan kebinasaan yang dialami Fir’aun, sang Penguasa yang sangat sombong dan zalim, yang ditenggelamkan oleh Allah di lautan Merah. Marilah kita ingat dan renungkan kecelakaan yang dialami Qarun, orang kaya yang sangat sombong, yang dibenamkan oleh Allah ke dalam tanah bersama seluruh harta kekayaan miliknya. Sungguh, Allah tidak suka dan benci terhadap orang-orang yang bersikap dan bersifat takabur atau sombong.

Hadirin jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah.

Sebagai penutup, marilah kita renungkan firman Allah dalam sebuah hadits Qudsi, sebagaimana yang diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib Karramallahu Wajhahu, Rasulullah bersabda:

إِنَّ اللهَ تَعَالَى يَقُوْلُ: إِنَّ الْعِزَّ إِزَارِيْ وَالْكِبْرِيَاءَ رِدَائِيْ فَمَنْ نَازِعُنِيْ فِيْهِمَا عَذَّبْتُهُ. (رواه الطبراني

Sesunguhnya Allah Ta’ala berfirman: “Kemuliaan adalah pakaian-Ku dan sombong adalah selendang-Ku. Barangsiapa yang mengambilnya dariku, Aku Adzab dia. (HR. Thabrani)

Semoga Allah SWT menjauhkan kita dari sifat Takabur atau sombong dalam hidup kita. Baik dalam urusan dunia, lebih-lebih dalam urusan agama. Āmīn. Āmīn. Yā Rabbal ‘Ālamīn.

بسم الله الرحمن الرحييم

وَالْعَصْرِ. إِنَّ الإنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ. إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PANDEMI DAN POTRET DUNIA PENDIDIKAN

  PANDEMI DAN POTRET DUNIA PENDIDIKAN Oleh : Moh Zulham Alsyahdian, S.Hum, M.Pd   Pandemi Coronavirus Diseaese 2019 (selanjutnya Co...